Cerpen Muhammad Daffa (Radar Banjarmasin, 14 Januari 2018)

Tasbih Mujarobat ilustrasi Radar Banjarmasinw.jpg
Tasbih Mujarobat ilustrasi Radar Banjarmasin

Kyai Hasan memutar-mutar bebulir tasbih di tangannya seraya terus membaca ayat kursi di sebelah tubuh Tinah yang terbaring sekarat. Mata wanita paruh baya itu terus mendelik ke arah Marni, lalu terdengar ia berkata, “bakar kalung ekor monyet di lemariku! Hancurkan kalungnya, atau kalian akan celaka!”

                                                    ***

Sebagai seorang yang disegani di seantero kampungnya, Tinah juga kerap dianggap sinting oleh anak sulungnya, Marni. Karena setiap malam jumat, ia melihat Tinah berbincang pada lukisan perempuan tua berambut tergerai di tengah rumah. Melihat kelakuan ibunya yang terus-menerus dalam keanehan, Marni mendatangi Kyai Hasan, guru ngajinya sejak belasan tahun.

“Ibumu dipengaruhi kekuatan setan, segera ajak dia bertaubat. Dan suruh untuk datang ke surau. Jangan ditunda-tunda, dan ingat, setan yang ada di tubuh ibumu adalah ilmu yang dipelajarinya dari hutan larangan!”

“Bagaimana Pak Kyai bisa yakin demikian adanya?”

“Ibumu adalah kawan seperguruan guruku di pesantren dulu. Seharusnya ibumu, Tinah, sudah tewas dalam pertarungan tak seimbang dengan beberapa orang perampok yang dulu menyamunnya di tengah jalan layang.”

Marni tersentak kaget. Karena ujaran Kyai Hasan memang benar adanya. Ibunya memang pernah dibegal lima orang perampok ketika pulang dari suatu tempat, dan waktu itu tengah malam. Menurut Marto, supir keluarga mereka, seorang perampok membacok tubuh ibu dengan celurit, tapi tak terluka sedikit pun.

“Lalu bagaimana caranya agar saya bisa menolong ibu?”

“Lekaslah kau suruh ibumu untuk datang kemari. Jangan lupa suruh ia salat dua rakaat terlebih dulu, karena aku akan mengusir kekuatan setan yang ada di tubuhnya.”

***

“Apa aku tidak salah dengar, Marni? Apa kau sudah gila karena nasihat kyai kampungan itu?”

“Tapi Kyai Hasan berniat untuk membantu ibu. Dia ingin ibu terlepas dari pengaruh jahat ilmu setan terlaknat itu.”

Advertisements