Puisi-puisi Nur Wahida Idris (Jawa Pos, 14 Januari 2018)

Rumah yang Mengasuhku, Dunia yang Rawan dan Penyedih ilustrasi Google.jpg
Rumah yang Mengasuhku, Dunia yang Rawan dan Penyedih ilustrasi Google

Rumah yang Mengasuhku

kepada: tsabit, tahya, nahya

 

1.

kefakiran,

serahkan pada jalan-jalan

apakah diinginkannya kakiku untuk berlalu atau singgah

ke rumah-rumah yang mengasuhku

 

di warung-warung penggembira

di setiap hati rawan yang menginginkan bualan

bagi pertemuan dan perpisahan

jalan-jalan kebebasan menyambut para tawanan

hatiku yang ditololkan mengingat rumah

tempat aku mengaji dan melatih tungkai kaki

 

2.

kubawa pulang kelemahan hatiku

ke loloan, rumah yang tegak dalam ucapan

dan keteguhan hati nenek-moyang

menggenggam bara api

ini kelemahan hatiku, ibu

serupa tepung yang getas

buatlah jadi adonan kue ladram jinten hitam

harumnya kemuliaan takbir dan hari lebaran

menjadi hidangan di meja setiap rumah

menyambut orang-orang datang untuk bersalaman

salamun alaikum…

aku mensyukuri kue ladram yang terhidang

di hadapan jiwa-jiwa gembira

mensyukuri setiap gigitan dan kunyahan orang-orang

yang terlerai

dari kebencian dan sakit hati

bahagia membayangkan tangan anak-anak

memasukkannya ke kantong baju mereka

yang selalu berharap fi trah

dalam setiap genggaman dan ucapan

salamun alaikum…

 

19 Oktober 2015

 

Dunia yang Rawan dan Penyedih

 

aku teringat tatapan tiap pasang mata yang jatuh cinta padaku

yang menyakiti dirinya karena mengingkari derita itu

 

apakah aku punya harapan untukmu,

untuk dunia yang rawan dan penyedih ini?

dunia tidak akan membantuku memahamimu

ia hanya bisa mengganguk atau menggeleng

untuk kebodohan, ketergesaan, kekikiran dan keluhankeluhanku

 

apa yang kuinginkan darimu?

Sungguh, tak ada yang benar-benar kuinginkan darimu

matahari, bulan, dan guguran daun

tahu ke mana mereka harus pergi

dan burung-burung pulang dengan perut kenyang di

setiap senja *)

 

apa lalu yang kupunya untukmu?

tak ada sesungguhnya yang kupunya untukmu

duh, mataku

anganan mungkin bisa kubangun dalam sekejap

tapi harapan-harapan itu tidak akan menjadi penjaga

yang baik

bagi kandang ternak kecemasanmu

 

aku teringat nyala api yang bergolak di tepi jurang itu

aku teringat ketakutanku di bawah langit penuh huruf

yang tak terbaca, tak menjadi kalimat di lidahku

aku teringat pada sang kekasih yang menuntunku

untuk menjauh dari keramain itu

aku tak ingin cemas

tidak kuinginkan harapan merenggutku

dari terik matahari, cahaya bulan

dan kemuliaan daun-daun yang berguguran

 

November 2017

 

 

Catatan:

*) HR Tirmidzi

 

 

NUR WAHIDA IDRIS, lahir di Ketugtug, Loloan Timur, Negara, 28 April 1976. Buku puisinya Mata Air Akar Pohon. Sekarang tinggal di Bantul, Jogjakarta, mengelola Akar Indonesia dan Komunitas Rumahlebah.

Advertisements