Cerpen Alfian Dippahatang (Bali Post, 14 Januari 2018)

Prajurit yang Sakit Hati ilustrasi Citra Sasmito - Bali Post.jpg
Prajurit yang Sakit Hati ilustrasi Citra Sasmito/Bali Post

Jauh sebelum ia menawarkan kebebasan, aku sudah menolaknya. Aku tak ingin jadi boneka. Ia datang memuji prestasiku yang pernah jadi prajurit komando Belanda di akhir Perang Dunia II di Eropa. Di balik pujiannya, aku diminta menjadi pengawal keselamatan pemimpin besar revolusi tanah air. Tawaran menarik perwira itu terdengar di telingaku—hal yang malah menambah sakit hatiku, terpaksa menjauh dari kampung halaman.

“Jika semuanya membaik. Pulanglah. Pikirkan Andi Sahi.”

Perkataan Ayahku ini dipertegas lagi dengan permohonan istriku, agar aku pulang membimbing darah bangsawan Sahi. Namun, waktu sehari berleha-leha tak mudah kuperoleh. Harapan untuk balik ke rumah selalu terkendala, terkubur bertahun-tahun. Membayangkan pipi keriput dan mata Ayahku, sakit hati ini terus tertumpuk. Ditambah perkataan istriku yang memelas. Pesan Ayah terus kugenggam, harapan istriku terus berdengung di telingaku, tapi langkahku tak henti diintai.

Memasuki tahun 1963 ini. Aku diperhadapkan kenyataan baru dan mengejutkan. Pemerintah semakin menganggapku indisipliner. Sejak tertangkap, utusan demi utusan terus berdatangan menemuiku, meminta untuk berunding, tapi sakit hati terlanjur menjalar di tubuhku. Mereka juga enggan membunuhku—sebab otot dan otakku masih bisa mereka pakai sebagai alat negara. Dalam keadaan seperti ini, lebih baik mati ketimbang memperoleh siksaan bertubi-tubi. Tapi, aku akan jadi manusia celaka jika mati sebelum bertemu Ayah, Sahi, dan istriku.

Memang sakit hati dituduh sebagai pemicu terjadinya pemberontakan mantan serdadu Koninklijk Nederlands Indisch Leger di Makassar. Padahal, aku tak tahu apa-apa tentang persoalan itu. Pemerintah telah bertindak sesuka hati menilaiku seperti penjahat bertangan dingin dalam peperangan. Aku hanya bisa menahan berang dengan semua keadaan ini. Sama sekali tak ada waktu menemui Sahi, aku dibuat tak mengenalnya, sebaliknya juga Sahi tak bisa mengenal siapa aku.

“Angin segar menantimu untuk kau hirup hari ini.”

Ia tak jauh berdiri di hadapanku. Di belakangnya ada tiga orang pengawal. Wajar, ia perwira penting yang diutus untuk merekrut. Seolah bibirku dijahit, sakit hatiku bertambah jika memberi tanggapan. Aku tetap duduk malas bersandar di tembok yang tak jelas lagi warna cat dasarnya.

“Aku kemari bukan untuk mendengar penolakanmu.”

Ucapannya menjijikkan. Memualkan. Aku ingin muntah.

Advertisements