Cerpen Zainul Muttaqin (Padang Ekspres, 14 Januari 2018)

Pelajaran di dalam Penjara ilustrasi Orta - Padang Ekspres.jpg
Pelajaran di dalam Penjara ilustrasi Orta/Padang Ekspres

MENJELANG sore Kasno terkulai. Tubuhnya dipenuhi luka sekujurnya. Ia mengerang kesakitan memohon ampun pada orang-orang kampung yang melampiaskan kemurkaan. Terserak potongan kayu, batu-batu, dan senjata tajam di dekat Kasno tergeletak. Kebencian masih terbungkus sumpah serapah dalam remang sore hari. Ingin dihabisi Kasno, laki-laki yang dituduh mencuri seekor sapi milik Kasdiman.

“Sumpah! Aku tidak mencuri,” terdengar suara Kasno diantara tarikan napasnya yang berat. Pengakuan Kasno semakin membuat orang-orang berniat menghabisi laki-laki paruh baya itu. Luka-luka menganga di sekujur tubuhnya, mengalirkan darah kental. Desah napas Kasno terdengar lambat dan matanya kabur melihat wajah orang- orang kampung yang beringas.

Kecipak air sungai mengalir deras di dekat Kasno yang masih terlentang. Ditemukannya sapi milik Kasdiman berada tak jauh dari tempat Kasno kini terbaring lemah. Terkaget dan tercengang Kasno ketika orang-orang berbondong menuju pada laki-laki setengah baya itu yang tengah mencuci muka. Tak perlu Kasno membuka katup mulutnya pada warga, ia langsung dihantam tanpa jeda dengan batu, kayu dan senjata tajam.

Pemilik sapi diam-diam meninggalkan pinggir sungai, membiarkan Kasno terus dicerca pertanyaan oleh lelaki-lelaki beringas yang “membantainya”. Lambat laun gelap membungkus langit. Tubuh Kasno dipenuhi darah sekujurnya, mengalir bercampur dengan aliran sungai di dekatnya. Orang-orang membawa langkahnya dalam gelap malam hari, lepas magrib, menuju rumah masing-masing.

Tinggal tubuh Kasno yang senantiasa menahan nyeri merambat dari ujung kaki hingga ubun-ubun kepalanya. Kasno meraba-raba tubuhnya yang dirasa telah ringsek. Dendam menyemak-membelukar dalam dadanya. Ia berjanji untuk membalas sakit hati sekaligus perih tubuh yang tak berhenti menyiksa menjelang malam dini hari.

Setelah susah payah Kasno bangkit, menumpukan tubuhnya pada sepotong kayu yang dipegang tangan kanan. Ia sudah membersihkan lumuran darah yang membalur baju, juga bagian-bagian tubuh yang luka. Berjalan terpincang-pincang, melintasi sawah penduduk, ia mengetuk-ngetukkan tongkanya pada tanah, mencari jalan setapak untuk pulang.

Laki-laki paruh baya itu dijemput polisi keesokan harinya. Kasdiman membuang muka dari kejauhan, memandangi Kasno yang diseret polisi dari dalam rumah. Dalam sekejap, laki-perempuan silih berganti berkerumun guna menyaksikan Kasno digelandang polisi. Tatapan Kasno nanar, memendam amarah. Tatapan laki-laki paruh baya yang teraniaya.

Dengan sorot mata meradang, Kasdiman berjalan ke arah Kasno yang tengah berdiri di dekat pintu mobil polisi. Dua polisi yang memegang tubuh Kasno membiarkan Kasdiman menyampaikan sepatah dua patah kata sebelum akhirnya Kasno dijebloskan ke dalam penjara. Kasdiman isap sebatang rokok yang dijepit kedua jari-jari tangannya.

“Kenapa kau mencuri sapiku? Berikan aku alasan agar kau tak mendekam di penjara.” Pertanyaan itu ia lepas bersama dengan embusan asap rokok yang keluar dari mulutnya. Beberapa jenak, Kasno terdiam. Ia tersenyum kecut, seakan mengejek.

“Apakah kau masih percaya apa yang kukatakan?” Pertanyaan yang diajukan Kasno dijawab dengan desah napas panjang oleh Kasdiman.

“Bicaralah baik-baik padaku, akan kuberikan apa yang kamu butuhkan. Tak perlu mencuri seperti ini. Sekarang, jujur apa kau juga yang mencuri sapi-sapi penduduk selama sepekan ini?” Kasdiman memandangi raut muka Kasno, dengan kerut-kerut membentuk garis berliuk terombang-ambing di dahinya.

“Kejujuran macam apa yang kau harapkan dariku? Kalau kamu tak mau percaya dengan apa yang kukatakan. Aku bukan pencuri. Biarpun hidupku melarat, tapi aku masih bisa makan dengan cara baik-baik,” ujar Kasno menekan suara di depan wajah Kasdiman. Luapan amarah di dada Kasdiman meledak sampai laki-laki itu menampar Kasno di depan orang banyak. Dengan kedua tangan terborgol, Kasno tak dapat berbuat apa-apa, kecuali meludah ke muka Kasdiman.

“Suatu waktu kau akan menyesal. Tak akan kuampuni kesalahan kalian sebelum mencium kakiku!” Kasno mengatakan dengan api menyala-nyala di kedua bola matanya. Ia memandangi wajah Kasdiman, termasuk wajah orang-orang yang menatapnya penuh kebencian.

Kasdiman tersenyum mengejek. Sesaat kemudian, dua polisi menarik tubuh Kasno, memasukkannya ke dalam mobil. Kerumunan orang-orang bubar setelah Kasno berada dalam perut mobil polisi dan meninggalkan bau asap knalpot.

Matahari merangkak pelan-pelan di permukaan langit ketika Kasno dijebloskan ke dalam penjara. Ia memasuki sel tahanan dengan mengenakan seragam, serupa penjahat yang meringkuk di balik jeruji. Kasno disambut tiga orang tahanan, para lelaki berewok, bertubuh gempal, dengan rambut panjang diurai sebahu. Bergidik Kasno melihat cara mereka menatap dirinya yang ringkih, penuh tulang-tulang serupa batang lidi di sebidang dadanya.

Mendengar mereka berdehem-dehem Kasno berusaha menenteramkan dirinya melalui senyum. Lelaki berewok menghampiri Kasno yang mengkeret di pojokan. Diajaknya Kasno berkumpul bersama mereka. Tiga lelaki itu tersenyum melihat sikap Kasno. Ketakutan dalam dada Kasno pun mencair, darahnya mengalir sebagaimana biasa setelah beberap menit sebelumnya dirasa menggumpal darahnya dalam tempurung kepala Kasno.

“Bagaimana kau sampai kesini?” tanya lelaki bertubuh gemuk. Terdengar berkarakter suaranya di dalam sel tahanan yang pengap.

“Warga kampung menuduhku mencuri,” jawab Kasno agak terbata-bata suaranya. Ia menundukkan kepala. Tiga lelaki itu saling tatap. Tangan Kasno gemetar. Keringat membasuh bajunya.

“Kau memang mencurinya?” Angin susah menyelinap masuk ke dalam penjara. Mereka mengipasi dirinya dengan sobekan kardus bekas yang biasanya dibuat alas tidur.

“Tidak. Sama sekali tidak. Sungguh.” Kasno menitikkan air mata. Tiga lelaki itu tertawa terbahak-bahak sampai kedua bahunya berguncang-guncang.

“Kalau begitu, ketika keluar dari penjara mencuri saja.” Lelaki gemuk itu menepuk pundak Kasno yang tengah mengelap air mata di pipinya.

“Ah, tidak. Aku bukan pencuri.” Kasno menggelengkan kepala.

“Jadi orang itu ya jangan tanggung-tanggung. Dituduh mencuri, ya mencuri aja sekalian, apa bedanya dituduh dan mencuri sungguhan, toh sama-sama meringkuk di penjara.”

“Mungkin sama di hadapan manusia, tapi beda di mata Tuhan,” kata Kasno lirih. Tiga lelaki itu kembali mengurai derai tawanya.

“Terserah kau sajalah! Hanya saja, jika kamu ingin berbuat apapun, berbuat nekadlah. Jangan tanggungtanggung, karena yang setengah-setengah tak jadi apa-apa. Mau jadi maling, ya jadi maling besar sekalian, korupsi misalnya, lumayan uangnya lebih gede dari pada yang curi ayam. Hukumannya pun sama, bahkan lebih lama yang curi ayam ketimbang koruptor.”

“Mau berbuat baik, ya jangan tanggung-tanggung, jangan setengah-setengah. Hidup penuh resiko. Tinggal kau pilih jalan mana yang mau kau tempuh. Jika ingin nekad, nekadlah senekad-nekadnya dalam kejahatan maupun kebaikan. Pilih saja diantara keduanya. Kau sendiri yang akan memetik dari apa yang kau tanam,” laki-laki berewok itu berujar panjang sekali. Kasno mengangguk-anggukkan kepala.

Setelah Kasno keluar dari penjara, ia berjalan menuruti langkah kakinya. Terngiang dalam pikirannya, pelajaran yang didapat dari dalam penjara, bahwa untuk berbuat harus nekad. Dengan terus membawa langkahnya, Kasno sungguh mengupayakan kenekatan belajar agama di pesantren terpencil, jauh dari hiruk pikuk perkotaan wajib dicapai.

Lima tahun setelah Kasno menimba ilmu pada Kiai Mashurat, ia diperkenankan pulang sekadar menengok rumahnya yang lama ditinggal. Terlebih dulu Kasno menjenguk tiga kawannya di dalam penjara. Mereka merangkul tubuh Kasno yang tengah mengenakan sarung, peci, dan bulir-bulir air jatuh dari mata tiga lelaki itu.

“Terimakasih atas pelajaran yang kalian berikan padaku selama di penjara. Bahwa untuk menjadi apapun harus berbuat nekad dan tak boleh tanggung-tanggung,” kata Kasno. Pelajaran di dalam penjara bagi Kasno amat berarti sampai-sampai Kasno menyebut tiga lelaki di balik jeruji itu dengan sebutan guru. Begitu Kasno menyebut nama “guru” tawa mereka langsung meledak.

Satu hari setelah kepulangannya ke Tang-Batang, Kasno dikunjungi Kasdiman secara tiba-tiba. Beberapa warga berkerumun di luar rumah. Kasno terkesiap dan berpikir macam-macam. Jangan-jangan mereka mau menjebloskan ke balik jeruji lagi. Kasdiman bersimpuh di bawah lutut Kasno. Ingin ia mencium telapak kaki Kasno sebagaimana ucapan Kasno, bahwa untuk mendapatkan maaf darinya harus terlebih dulu mencium telapak kaki laki-laki yang kini disebut ustadz oleh orang-orang.

“Kamu benar, Kas. Kamu memang bukan pencuri,” ucap Kasdiman diantara isak tangisnya yang meratapratap. Diangkatnya bahu Kasdiman oleh Kasno. Dua lelaki itu saling rangkul. Kasno mengangguk memaafkan.

“Kau berubah, Kas. Benar-benar berubah.”

“Itu semua karena guruku, Kiai Mashurat dan tiga guru di dalam penjara. Kepada mereka aku belajar menjadi manusia yang tidak setengah-setengah,” kata Kasno memandang wajah Kasdiman yang sembab.

Berdiam sesaat, Kasno kemudian mengatakan, “Untuk berhasil menggapai apapun yang kita impikan, jangan tanggung-tanggung berbuat, nekadlah! Nekad berbuat baik atau jahat, terserah kau, karena keduanya kita sendiri yang akan memetik hasilnya.” Dan mata Kasno berkaca-kaca, melintas dalam benaknya yang sempit ujaran tiga lelaki itu sewaktu di dalam penjara. Diam-diam rasa sesal menyelinap di lubuk hati Kasdiman. Kenapa aku terburu-buru menuduh Kasno pencuri sapi? Kasdiman mengutuk kesalahannya.

 

Pulau Garam, Maret 2017

Zainul Muttaqin Lahir di Garincang, Batangbatang Laok. Batang-Batang, Sumenep Madura 18 November 1991. Cerpen dan Puisinya dimuat di pelbagai media nasional dan lokal. Salah satu penulis dalam antologi cerpen; Dari Jendela yang Terbuka (2013) Cinta dan Sungai-sungai Kecil Sepanjang Usia (2013) Perempuan dan Bunga-bunga (2014).Gisaeng (2015). Tinggal di Madura. Email; lelakipulaugaram@ gmail.com

Advertisements