Cerpen Mawaddah Maririma (Waspada, 14 Januari 2018)

Nama Pena ilustrasi Denny Adil - Waspada.jpg
Nama Pena ilustrasi Denny Adil/Waspada

ENTAH harus dari mana aku memulainya. Aku juga tidak tahu bagaimana cara menceritakannya. Sejak dulu aku tidak pernah bercita-cita menjadi seorang penulis, meskipun sekarang aku belum bisa dikatakan benar-benar seorang penulis.

Dulu, aku hanya menulis untuk mengingat momen-momen penting dalam hidupku, semacam memori tertulis. Tapi seorang yang datang dari masa lalu, meyakinkanku dan membuatku percaya bahwa aku bisa menulis dengan baik, dan paling tidak aku punya pembaca yang senang dengan apa yang kutulis. Hingga akhirnya aku mengirim beberapa karyaku.

Lalu, sebuah nama terngiang di kepalaku. Dan nama itu sekarang menjadi nama penaku. Beberapa pertanyaan kemudian bermunculan, kenapa harus pakai nama pena? Sekarang pakai nama pena itu jadul, semua penulis ingin dikenal. Apa sih artinya? Kenapa harus nama itu? Kenapa tidak nama lain saja? Pertanyaan-pertanyaan itu selalu muncul mulai dari keluarga, sahabat, bahkan teman-teman.

Seorang sutradara sekaligus pendiri sebuah komunitas seni di kota ini, pernah membaca beberapa karyaku dan dia menyayangkan keputusanku membuat nama pena di setiap karya-karyaku. Menurutnya, di zaman sekarang, sudah tidak banyak lagi penulis yang memakai nama pena.

Bahkan mereka menulis namanya lengkap-lengkap, agar dikenali. Dan paling sulit lagi jika sudah terkenal, mereka tidak akan mudah percaya kalau kamu adalah nama penamu itu. Meski begitu, aku tidak pernah berpikir akan seterkenal penulis-penulis lain.

Suatu hari aku bercerita kepada sahabatku. Oh tidaktidak, dia bukan sahabatku melainkan sudah kuanggap keluarga. Dia bertanya tentang arti nama pena itu. Dan dia adalah orang pertama yang kukenalkan pada nama baru itu. Dia pula orang pertama yang tahu arti nama itu. Sejujurnya, aku tidak bisa memberitahu filosofi nama itu kepada orang lain secara sembarangan, hanya orang tertentu yang tahu makna mendalam dari nama itu. Tapi, kebanyakan hanya tahu bahwa nama pena itu berarti ‘mari menulis’.

Di beberapa kesempatan, aku juga pernah bertemu dengan seorang penulis hebat di kota ini. Beliau banyak cerita tentang pengalamannya menjadi seorang penulis. Bahkan aku belajar banyak darinya. Penulis laki-laki berambut panjang yang bekerja sebagai pegawai negeri itu juga memiliki karismatik yang kuat, dan beliau sangat pantas dikatakan sebagai penulis ulung. Aku banyak belajar dari beliau dan karya-karyanya.

Bahkan beberapa waktu yang lalu, aku bertemu seorang seniman di sebuah kantin di sekolah PB. Aku ke sana bersama sahabat yang sudah kuanggap keluarga. Aku menemaninya melatih anak-anak SD di sekolah tersebut.

“Nggak pernah nulis lagi ya?” Seniman berkumis itu meraih sebatang rokok sambil sibuk di depan laptopnya. Entah apa yang dilakukannya, tapi sepengakuan beliau, ia sedang sibuk mengerjakan nilai siswa-siswanya. Selain menjadi seniman, dia juga menjadi guru di beberapa sekolah.

“Justru namanya sering ‘nongkrong’ di koran A, kak.” Sahabatku itu menjawab.

“Jangan ke koran A aja dong, kirim juga ke koran B, koran C, atau koran-koran lain.”

“Iya kak. Tapi beberapa koran bahkan menolak penulis yang pakai nama pena. Makanya saya kirim ke koran A aja.”

“Waduh salah itu. Kamu juga sih, kenapa harus pakai nama pena? Udah jadul! Sekarang penulis-penulis malah pengen dikenal.”

Aku hanya tertawa kecil mendengar kata-kata beliau. Jujur saja, aku tidak ingin pembaca mengenalku. Aku hanya ingin mereka menikmati cerita yang kubuat, dan mungkin bisa mengambil pesan dari cerita-cerita itu. Atau mungkin dapat menghibur mereka di sela-sela kesibukan.

Pernah juga, ketika aku menghadiri sebuah acara yang diadakan komunitas seni di sebuah kafe, orang-orang baru sadar kalau aku adalah anggota dari organisasi kampus. Ketika itu, ada yang membawakan puisiku dan mengungkapkan keberadaanku yang duduk di dekat panggung kecil bersama teman-teman yang lain. Sontak aku kaget, dan sepenglihatanku beberapa orang mengangguk-ngangguk sambil menatapku.

“Nama pena itu sebenarnya singkatan atau ada artinya?” Seorang temanku bertanya ketika kami baru saja keluar dari kafe.

“Oh, itu. Punya arti, artinya ‘mari menulis’.” Sahabat yang sudah kuanggap keluarga langsung tersenyum manis dan menggelengkan kepalanya ketika mendengar jawabanku.

Aku tahu dia mengetahui semuanya. Dia satu-satunya orang yang kupercaya menyimpan semua rahasia dalam hidupku. Aku tidak pernah tidak menceritakan semuanya, begitupun dia. Bahkan secuil hal yang dianggap beberapa orang tidak penting pun, kami berdua harus membagikannya satu sama lain. Termasuk nama pena itu.

“Kenapa sih harus dirahasiakan?”

Dia bertanya padaku ketika kami pulang dari kafe. Malam itu, dia memilih tidur di rumahku mengingat malam sudah terlalu larut dan sangat rawan untuk dia pulang ke rumahnya sendirian.

“Entahlah, aku hanya ingin menyimpannya.”

Dia lagi-lagi tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Kelakuannya itu mengingatkanku pada sebuah kejadian ketika aku mengajar di sebuah sekolah kejuruan. Secara iseng, teman-temanku memberitahu guru-guru yang mengajar di sana kalau aku sering menulis di koran A, yang juga menjadi yayasan di sekolah kejuruan itu.

Bahkan berita itu sampai ke telinga murid-muridku lalu memintaku menunjukkan beberapa karyaku dan mereka ingin membacanya. Aku tidak bisa mengelak dan membagikan beberapa karyaku.

“Bu, kenapa pakai nama pena?” Pertanyaan itu lagi-lagi muncul, dan aku hanya meng-hela nafas panjang.

“Ibu suka nama itu.”

“Memang artinya apa, Buk?” Tanya siswi lain, yang duduk di pojok kanan dekat jendela.

“Artinya… ‘mari menulis’. Ibu pengen orang-orang yang ingin menuliskan cerita-ceritanya untuk tetap menulis dan mengajak mereka untuk menulis cerita, termasuk kalian. Seperti kata Pramodya Ananta Toer, ‘orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.’ Jadi boleh kalau hari ini kalian berbagi cerita kepada ibu?”

“Boleh dong, Buk.”

Dari depan kelas, aku melihat mereka menulis berbagai cerita di kertas. Dan kembali mengingat betapa mahir aku menyimpan arti nama itu. Di sisi lain, arti nama itu memang benar mengajak orang untuk ikut menulis. Tapi ada arti lain di balik nama itu, arti yang begitu penting untukku dan seseorang dari masa lalu tentunya, yang membuatku yakin bahwa aku punya cerita untuk kubagi ke pembaca. Kelak, ketika dia pulang dari kota antah berantah, aku akan memberitahunya.

***

Advertisements