Cerpen Yetti A.KA (Tribun Jabar, 14 Januari 2018)

Menjadi Tua ilustrasi Yudixtag - Tribun Jabar.jpg
Menjadi Tua ilustrasi Yudixtag/Tribun Jabar

MIKI tidak menduga akan tua bersama ayah dan ibunya. Mereka bertiga duduk di kursi masing-masing dan membicarakan rajutan yang belum selesai dan menyesalkan kenapa tetangga tidak segera memperbaiki gcnting rumahnya yang nyaris berjatuhan ke halaman rumah mereka. Ayahnya tidak terlalu suka bergosip—menurut ibunya, ayahnya itu hanya ingin tampak bertentangan dengan mereka— dan memilih mempermasalahkan kuku kaki yang cepat sekali panjang dan ia susah payah berdiri untuk mengambil gunting kuku di laci lemari di ruang tengah. “Lihatlah, ia berpikir hidup ini hanya soal memotong kuku,” sindir ibunya. Meski mereka berusaha keras untuk tidak saling menyakiti, tetap saja ada saat-saat yang membuat kebersamaan mereka diisi dengan perselisihan kecil. Ibunya lebih rewel di antara mereka. Ayahnya tampak tidak ingin mempermasalahkan apa pun, tapi sebenarnya semua adalah masalah baginya. Miki sendiri—dan sungguh ia terkejut menyadari ini—berubah menjadi perempuan kikir dan suka menyembunyikan makanan di petak lemari dalam kamar dan itu membuat ibunya berpikir bahwa mereka akan segera mati kelaparan saat menunggu makanan itu keluar dari persembunyiannya.

“Seharusnya kau menggunakan benang yang merah untuk topi itu,” kata ibunya. Miki menepuk seekor nyamuk dan darahnya (bersama bangkai nyamuk itu) menempel di betisnya. “Apa Ibu bilang?” tanya Miki sambil menggosok-gosok bekas darah yang mulai samar. Ibunya sudah tidak berminat membahasnya dan beralih ke masalah genting tetangga mereka lagi. Ayahnya telah kembali dan membawa gunting kuku. Sebelah kakinya bengkok, tapi ia tidak mau menyerah di kursi roda. Ayahnya tak bisa menjadikan tangan sebagai pengganti kaki. Maksud ayahnya tentu saja bila ia berada di kursi roda, maka tangannyalah yang akan bekerja keras menggerakkan kursi itu dan membawanya ke mana-mana. Tangan itu sudah bekerja terlalu keras sewaktu ia muda—sama juga seperti anggota tubuh lain sesuai fungsinya. Cara ayahnya berpikir itu menggambarkan sepenuhnya bagaimana wataknya selama itu.

Tetangga mereka, sepasang orang tua yang sudah lama tidak bisa lagi bepergian ke mana-mana—sama seperti mereka bertiga. Untuk pertama kali, ibunya merasa beruntung memiliki Miki yang mau menjadi tua bersama-sama dan tinggal di rumah untuk saling menjaga satu sama lain. Anak-anak pasangan tetangga mereka itu menetap di kota lain, sibuk dengan keluarga sendiri, dan hanya sesekali menengok kedua orang tuanya yang salah satu di antaranya nyaris buta. Bila mereka datang, rumah sebelah akan ramai sekali dengan suara anak-anak—ibunya sempat mencela, seharusnya mereka tidak hanya bisa ribut saja, melainkan juga membawa oleh-oleh yang banyak dan memberi sedikit kepada tetangga dekat. Untuk sementara, ibunya akan melupakan masalah genting yang nyaris berjatuhan ke halaman rumah mereka dan menunjukkan rasa iri terhadap tetangga yang sedang berbahagia itu. Ibunya bilang, “Semestinya kita punya beberapa bocah di rumah ini.” Ia kembali mengungkit rencana pernikahan Miki yang gagal tiga puluh tahun lalu dan kakaknya yang tidak pernah kembali lagi setelah membuat masalah yang mengubah banyak hal dalam keluarga mereka. Miki bilang, “Hentikan, Ibu.” Ayahnya menggeram. Biasanya ia selalu begitu bila terjadi ketegangan antara Miki dan ibunya. Mungkin ia berpikir, Miki dan ibunya dua ekor anak anjing yang sama-sama nakal.

“Ayah!” teriak Miki. Ia lihat ayahnya memotong kuku terlalu pendek dan ujung jempol kaki itu berdarah. Ibunya tiba-tiba ingin melanjutkan rajutannya dan meminta Miki mengambilkan peralatannya di atas meja di ruang belakang. “Kuku Ayah berdarah,” kata Miki sebelum masuk ke dalam rumah untuk mengambil kotak obat. Ibunya merajuk dan memutar-mutar kursi karena tidak mendapat perhatian.

Tahun ini, Miki berusia 61. Ayah dan ibunya masine-masing menuju umur 90 dan 87 tahun. Mereka sudah lama tidak merayakan ulang tahun. Namun, ibunya punya kebiasaan menambah satu garis merah di bawah nama yang ditulis di dinding lemari pakaian bila salah seorang dari mereka berulang tahun. Tahun ini, Miki sudah memiliki 61 garis di bulan Januari lalu. Garis-garis di bawah nama kakaknya berhenti di hitungan 35—dan itu pun ditutup oleh garis yang seolah ditulis dengan tangan gemetar. Keluarga mereka belum pernah berurusan dengan polisi sebelum kakaknya dinyatakan terlibat kasus penipuan besar-besaran dan ia melarikan diri ke luar kota tanpa memberi kabar apa pun hingga hari ini. Kehilangan anak lelaki, bagi orang tuanya, merupakan pukulan yang membawa kehancuran luar biasa dalam hati mereka. Ibunya tidak terlalu mengharapkan Miki akan tinggal bersamanya di hari tua ketika setiap pagi ia masih menemukan anak lelakinya di dalam kamar. “Kau terlalu berpikiran bebas,” kata ibunya dulu tentang Miki, “kau menghabiskan waktumu untuk menentang apa pun.” Ayahnya tidak terlalu menunjukkan kepada siapa ia berharap menghabiskan masa tua, tapi Miki tahu sekali bagi ayahnya hidup bersama anak lelaki—seperti kebanyakan harapan keluarga patriarki lain—merupakan hal yang paling diinginkannya dalam hidup ini.

“Kau tidak mendengar keributan di sebelah?” tanya ibunya berhenti memutar-mutar kursinya begitu Miki kembali. Miki memperhatikan kuku jempol kaki ayahnya vang berdarah. Ayahnya tidak membiarkan Miki melakukan sesuatu atas kuku jempol kakinya itu. Ia justru senang memandangi darahnya. “Ayah terluka dan harus diobati,” kata Miki. “Mereka sedang berkunjung dan membuat keributan,” kata ibunya. “Siapa?” tanya Miki tanpa mengalihkan mala dari luka di jempol kaki ayahnya. “Bocah-bocah itu,” jawab ibunya. “Kita semua sudah tahu apa yang biasa mereka lakukan,” ujar Miki. “Genting itu sebaiknya mereka perbaiki,” kata ibunya. Maret ini angin sering berembus kencang, ditambah guyuran hujan sangat lebat. Ibunya benar. Bila tidak segera dibongkar, atap itu sungguh-sungguh akan runtuh. “Kau tidak mendengar suara bocah-bocah itu?” tanya ibunya lagi. Ayahnya mulai mengeluh. Mungkin luka di ujung jempolnya pelan-pelan terasa sakit. “Sebaiknya diobati,” kata Miki kembali membujuk. “Jangan menulis surat kepada Miki,” kata ayahnya sambil merintih. “Ini aku, Ayah,” kata Miki. Ayahnya mulai meributkan bahwa ia akan segera mati dan ia tidak mau ada orang yang menulis surat kepada Miki sebelum anak itu selesai ujian. Miki sekarang persis berjongkok di depan ayahnya yang sama sekali tidak mengerti akan hal itu. Ayahnya sedang mengalami kekacauan ingatan. Ia kembali ke masa Miki masih tinggal jauh dari mereka dan sibuk dengan kuliah-kuliahnya dan ayahnya sekarat selama satu bulan tanpa tanda-tanda kesembuhan dan terus-menerus berkata: Aku akan mati, jangan beri tahu Miki sebelum dia selesai ujian.

“Ayah,” kata Miki, “berikan kakinya kepadaku.” Ayahnya tetap tidak mau. Kini ia berguling di lantai. Ibunya menganggap bocah-bocah di rumah sebelah baru saja memecahkan sebuah mangkuk. “Semua anak kecil begitu,” kata Miki. Miki ingat cerita ibunya tentang ia dan kakaknya yang membuat gelas dan piring di dalam rak berkurang setiap harinya. “Jangan beri tahu Miki,” kata ayahnya lagi. “Ini aku, Ayah,” kata Miki putus asa. “Mereka akan membuat pecah semuanya,” ibunya berkata gelisah. Ayahnya tetap saja berada dalam pengaruh ingatan puluhan tahun lalu dan waktu itu ibunya memang sama sekali tidak menulis surat kepada Miki. Ayahnya dirawat di rumah sakit, berminggu-minggu, dan ibunya berhasil menyembunyikan semua itu dari Miki dengan sangat sempurna. Lalu, karena ayahnya tidak sembuh-sembuh juga, sementara uang sudah habis karena kakak lelaki Miki terus pula menggerogoti harta mereka, ditambah biaya rawat rumah sakit dan dokter dan cek laboratorium dan segala macamnya yang tak kunjung menemukan penyakit ayahnya itu, maka tidak ada pilihan lain, mereka harus berhenti. Dalam keadaan sekarat ayahnya dibawa pulang. Ya, ayahnya sekarat. Itu bukan lelucon. Dan sedikit pun Miki tidak tahu. Barangkali saat itu ia baru pulang dari kuliah umum feminisme atau sedang nonton film Amerika di bioskop.

Jika kemudian ayahnya masih ada hari ini dan selamat dari sekarat, itu berkat percikan air suci yang diberi doa-doa dari sepupu jauhnya. Miki tidak pernah mempertanyakan soal air itu, juga soal doa apa yang diucapkan sepupunya yang paling taat beragama ketimbang mereka semua. Namun, menurut ibunya, kesembuhan ayahnya itu berkat keinginan kuatnya untuk tetap hidup. Ibunya bisa jadi benar. Kalau saja ayahnya—termasuk ibunya dan mungkin juga nanti Miki—bukan orang yang bersemangat atas kehidupan, ia tak mungkin masih ada di dunia ini di saat kebanyakan teman-teman sebayanya sudah menyerah sebelum usia tujuh puluh tahun.

“Seharusnya kau menggunakan benang merah untuk topi itu,” kata ibunya. “Topi?” tanya Miki. Ibunya mengingatkan bahwa Miki sudah memilih benang yang salah dan sebaiknya ia membongkar dan merajut ulang. “Jempol kaki Ayah luka,” kata Miki tidak mau membahas masalah topi yang ia buat enam bulan lalu itu dan sekarang ia sudah lupa di mana menyimpannya. Ayahnya sudah berhenti berguling di lantai. Ia bangkit dan duduk di kursi seolah sudah melupakan semuanya. “Kaki Ayah tetap harus diobati,” kata Miki. Ibunya tampak tidak puas. “Kau harus mengatakan kepada mereka soal genting itu,” kata ibunya setengah menjerit. “Kemarin sudah, Ibu,” balas Miki. Ayahnya mengulurkan kakinya dan Miki cepat-cepat mengoleskan obat merah. Obat merah di jempol kaki itu perlahan mengering dan tampak berkilau. Miki memandanginya dengan takjub seolah tengah melihat cahaya emas matahari sore hari di musim panas. “Lukanya akan segera sembuh, Ayah, jangan cemas ya.”

Miki duduk kembali di kursinya, tepat di antara ayail dan ibunya. Mereka bertiga memandangi jalan. Ibunya terkantuk-kantuk— kepalanya yang tampak kecil dengan siss rambut di beberapa bagian membuatnya mirip bayi seekor burung. Mata ayahnya terbuka lebar, tapi ia seperti tengah tidur. Miki mendengar seorang bocah menangis dan suara-suara lain di rumah sebelah. Awan makin tebal di langit. Kalau saja sore ini hujan turun lebat disertai serangan badai, maka genting-genting itu pasti akan berjatuhan di halaman rumah mereka. “Seharusnya kau menggunakan benang merah untuk topi itu,” kata ibunya dengan suara yang lemah.

 

Rumah Kinoli, 2017

Yetti A. KA kumpulan cerpen terbarunya Pantai Jalan Terdekat ke Rumahmu (2017).

Advertisements