Cerpen Basuki Fitrianto (Lampung Post,  14 Januari 2018)

Mawar di atas Bangkai ilustrasi Sugeng Riyadi - Lampung Post.jpg
Mawar di atas Bangkai ilustrasi Sugeng Riyadi/Lampung Post

Banyak orang menganggap, bunga mawar adalah lambang cinta. Kelopak-kelopak berwarna merah merangsang jari-jemari untuk membelainya. Aroma yang keluar memancing hidung menghirupnya. Tapi bagaimana jika mawar yang menggoda itu ada di atas bangkai? Masih adakah yang ingin mengambil lalu menghirup aroma wanginya? Jika ada yang menginginkan lalu mencumbui wanginya, pastilah orang tidak waras.

Itulah wejangan Haji Dulah untuk anaknya, Kadir. Haji Dulah merasa perlu memberi wejangan untuk Kadir, sebab Kadir sudah pada titik mengkhawatirkan, menjerumuskannya pada kehancuran harga dirinya sebagai seorang Haji. Kadir bergaul dengan anak pelacur! Dan pergaulannya itu semakin erat menyebabkan cinta tumbuh di hati Kadir.

Belingsatan. Tentu saja itu yang dirasakan Haji Dulah. Orang tua mana yang sudi anaknya jatuh cinta dengan anak pelacur? Orang tua mana? Haji Dulah harus bergerak cepat menutup aliran cinta di lubang hati Kadir.

Dia harus menyumpal lubang itu dengan nasihat, wejangan-wejangan, dan jika sumpalan itu belum mampu menutupnya, rembesan-rembesan cinta masih keluar, maka Haji Dulah akan menambalnya dengan ancaman: tak mendengar nasihat ayahnya sama saja dengan anak durhaka. Lebih baik dia kehilangan anak daripada kehilangan harga diri.

Cinta kadang membuat hidup terasa aneh, itu dirasakan Kadir. Dia tak menyangka, sungguh tak menyangka jatuh cinta pada Gayatri. Sebelumnya Kadir tak tahu jika ibu Gayatri seorang pelacur. Dan setelah terang benderang Kadir mengetahui ibu Gayatri pelacur, Kadir sudah terjebak pada pusaran cinta dan tak mampu keluar dari pusaran itu.

Bermula dari seringnya Kadir bertemu Gayatri di tempat kursus bahasa Inggris. Saling pandang, saling senyum, berbasa-basi, dan akhirnya saling mengungkap hati. Ikrar pun disematkan: mereka menjadi sepasang kekasih sehidup-semati. Hanya binasa yang bisa memisahkan cinta mereka.

Tantangan besar yang harus dihadapi Kadir tentu saja ayahnya. Dia bagai benteng dilingkari ribuan tentara yang siap melepaskan peluru harga diri. Jalan terjal? Tentu saja. Apakah dia sanggup menghancurkan benteng angkuh itu? Kadir selalu memegang nasihat ayahnya, bekerja keraslah jika kau menginginkan sesuatu. Ya, Kadir akan bekerja keras memeluk cinta Gayatri dalam dekapannya.

***

Lagu berirama kasidah melatarbelakangi wajah muram Haji Dulah. Di hadapan Haji Dulah, Kadir duduk kepala tertunduk. Hampir setengah jam Kadir mendengar wejangan ayahnya.

Kali ini suara ayahnya terdengar lebih galak, itu disebabkan Kadir masih saja berhubungan dengan Gayatri. Sesekali sumpah serapah keluar dari mulut Haji Dulah. Anak durhaka! Anak tak tahu malu! Mau taruh di mana mukaku?!

Haji Dulah seakan lupa dengan nasihatnya dulu, bahwa semua ciptaan Tuhan sama di hadapan-Nya, yang membedakan hanya amal ibadahnya. Kadir mencoba mengingatkan nasihat itu pada ayahnya. Ayahnya makin murka dan menganggap Kadir lancang dan meremehkan dirinya.

Lagu berirama kasidah masih terdengar, ya Allah, ya Allah, ya Nabi, ya Nabi…

Kadir murung terkurung dalam tatap marah ayahnya. Cara apa yang bisa melunakkan batu keras di hati ayahnya? Ah, seandainya ibunya masih ada, pastilah dia akan membelanya.

Keakraban Kadir dengan Gayatri rupanya sudah didengar pula kakak lelakinya yang tak lagi serumah dengannya. Persis seperti ayahnya, kakaknya pun tak setuju dia berhubungan dengan Gayatri. Nasihat yang dia ujarkan pun hampir sama dengan ayahnya.

“Mawar memang indah dan harum baunya, tetapi jika mawar itu ada di atas bangkai, orang waras tak sudi mengambilnya. Carilah pasangan yang seiman dengan kita. Bobot, bibit, bebet, itu perlu jika ingin mencari istri.”

Kini dua benteng ada di depan Kadir dan kedua benteng itu sama angkuhnya.

Satu hal yang diinginkan Kadir saat ini adalah ingin bersanding dengan Gayatri. Bersamanya dia ingin memuntahkan keruwetan di hatinya. Bagi remaja cinta memang selalu rumit dan sepertinya dunia akan hancur bila dua cinta tak dapat menyatu.

Dan pada satu sore yang cerah, di bangku taman kota, Kadir dan Gayatri duduk bersanding dengan wajah dilipat. Tak ada senyum. Muram mengurung nasib mereka. Bahkan gadis manis berkerudung itu menitik air mata ketika Kadir menumpahkan segala keluh-kesahnya. Sepertinya tak ada jalan keluar lagi untuk menyatukan cinta mereka.

Gayatri menyesali kenapa dia keluar dari rahim seorang pelacur? Anak pelacur tetap anak pelacur, dia tak akan berbeda meski berhijab, rajin sembahyang. Orang-orang itu tak akan pernah tahu isi hatinya. Mereka hanya melihat dan menilai dirinya hanya dari luar tubuhnya. Anak pelacur tetap anak pelacur. Demikianlah, selalu mentok pada kenyataan itu.

***

Karena menganggap sudah tak bisa lagi meluluhkan hati ayahnya, Kadir merasa perlu menemui buliknya yang tinggal di luar kota. Satu jam perjalanan untuk sampai ke rumah buliknya. Siapa tahu buliknya mempunyai jalan keluar untuk keruwetan yang Kadir alami. Maka pagi hari sebelum matahari terbit, dengan sepeda motornya, Kadir menuju rumah buliknya.

Buliknya sedang menyapu halaman depan rumah ketika sepeda motor Kadir hendak masuk halaman. Bulik berhenti menyapu dan menatap bertanya, siapa gerangan yang datang? Kadir menaruh sepeda motornya di bawah pohon melinjo. Kadir membuka helm. Barulah bulik mengerti siapa yang datang.

Bulik menyandarkan sapu lidi pada dinding kayu teras depan. Kadir mendekati bulik, sungkem sambil berucap salam. Bukan kejadian biasa sepagi itu Kadir mengunjunginya, maka bulik mengajak Kadir masuk. Membuatkan kopi. Bertanya kabar ayahnya, kabar kakaknya, dan kabar Kadir sendiri. Setelah berbasa-basi, bulik bertanya tentang maksud Kadir mengunjunginya.

Berlinang air mata Kadir. Kadir seperti duduk di depan almarhumah ibunya. Tutur kata bulik, wajah bulik, bahkan saat bulik tersenyum pun sangat persis dengan mendiang ibunya. Maka keluarlah semua gumpalan masalah yang ada di hati Kadir. Seperti bendungan ambrol, semua keluar tanpa ada sisa masalah di hati Kadir.

Bulik mendengarkan setiap kalimat Kadir. Mencernanya agar tak keliru ketika memberi nasihat dan jalan keluar untuk masalah yang dihadapi Kadir. Bulik masih ingat pesan mendiang kakaknya, ibu Kadir, untuk ikut menjaga serta menasihati Kadir dan kakak Kadir.

***

Sepanjang perjalanan menuju rumah, Kadir berkeyakinan akan mampu menaklukkan hati batu ayahnya setelah dia mendengar cerita bulik tentang riwayat ayah dan ibunya sebelum mereka hidup berumah tangga. Di hadapan ayahnya, Kadir akan membuka semua cerita yang dia dengar dari bulik.

Kadir melaju kencangkan sepeda motornya, menerobos gerimis tipis, ingin lekas menemui ayahnya.

***

Lagu berirama kasidah kesukaan ayahnya mengalun ketika Kadir berhadapan dengan ayahnya. Tak ada senyum di wajah ayahnya. Tubuh ayahnya bersender pada kursi goyang, diam meresapi alunan lagu kasidah. Ya Allah, ya Allah, ya Nabi, ya Nabi…

Melihat ketidakpedulian ayahnya, keyakinannya sepanjang perjalanan tadi yang sudah dia bungkus dalam hatinya sedikit memudar. Berkali Kadir sudah ingin bersuara menceritakan semua cerita buliknya, berkali pula suara itu berhenti di tenggorokan.

Ragu. Apakah cerita itu, riwayat ayah dan ibunya sebelum mereka menikah bisa menaklukkan hati batu ayahnya? Dia harus berani, dia harus bicara, dia harus ambil risiko. Maka Kadir pun berbicara, “Aku baru saja berkunjung ke rumah bulik dan bulik sudah cerita banyak tentang riwayat Ayah dan Ibu. Ketika masih bujang, ternyata ayah adalah bajingan, suka bikin onar, mencuri barang orang.” Haji Dulah berdiri dari kursi goyang. Berjalan mendekati Kadir dan menanyakan apa maksud Kadir berbicara seperti itu.

Dua telapak tangan Kadir saling peluk erat di atas meja. Menahan keraguan. Kadir kembali bercerita, “Ternyata Kadir tak jauh beda dengan Gayatri. Kadir juga mawar di atas bangkai. Ayah tak perlu berbicara soal harga diri. Tak perlu merendahkan ibu Gayatri, sebab, sebelum ibu menikah dengan Ayah, Ibu dulu juga pelacur.”

Mendengar itu, Haji Dulah gemetar. Bergemuruh dadanya. Tangannya mengepal menahan amarah. Sumpah serapah ketika masih jadi bajingan pun keluar dari mulut Haji Dulah.

“Bajingan! Anak setan!” Dan tangan Haji Dulah menggebrak meja. Braak!!! Haji Dulah tak terima dia direndahkan seperti itu. Dia lebih baik kehilangan anak daripada dipermalukan seperti itu. Dengan suara lantang, Haji Dulah mengusir Kadir dari rumahnya. “Minggat kau!”

Lagu berirama kasidah masih mengalun di antara ketidaktahuan Kadir tentang harga diri milik ayahnya. Ya Allah, ya Allah, ya Nabi, ya Nabi…

 

Solo, Rumah Mimpi 2017.

Advertisements