Cerpen Eva Riyanti Lubis (Analisa, 14 Januari 2018)

Lokot Tak Kembali ilustrasi Renjaya Siahaan - Analisa.jpg
Lokot Tak Kembali ilustrasi Renjaya Siahaan/Analisa

KETIKA bersamamu, waktu terkikis begitu cepat. Apa benar kebersamaan sering melenakan? Ya, mungkin saja. Yang harus kamu tahu, seberapa besar aku percaya padamu, adalah seberapa besar kutitipkan cinta pada hatimu. Maka, jangan pernah kecewakan aku. Jangan sia-siakan hati yang telah kuberi.

Lokot namanya. Lelaki yang berhasil menyentuh hatiku, dari sekian banyak lelaki yang mencoba mendapatkan cinta dariku. Benar kata sebagian orang. Cinta itu buta. Ya, aku telah dibutakan oleh cinta. Karena dia, aku rela meninggalkan keluargaku—bapak, emak beserta saudaraku tak pernah menyetujui hubungan kami. Kata mereka, Lokot tidak berpendidikan, tidak mempunyai pekerjaan tetap dan tidak terlahir dari keluarga terpandang. Aku seharusnya bisa mendapatkan lelaki yang jauh lebih baik darinya.

Aku benarkan apa yang dikatakan orang tentangnya. Sayangnya, aku sudah terlanjur jatuh cinta pada lelaki itu. Aku tak perduli apa pendapat orang tentangnya, juga tentangku.

Mengapa aku bisa jatuh cinta padanya? Hmmm. Tentu setiap orang memiliki jawaban berbeda. Bagiku, Lokot mampu menghangatkan pagi, sekaligus menyalakan hari. Bersamanya, aku tak pernah takut pada apapun. Di sampingnya, semua terasa mudah dan tak ada masalah. Lantas, mengapa aku harus ragu?

Kami memutuskan untuk menyatukan cinta. Berbekal tabungan masing-masing seadanya. Dari Medan, kami menuju salah satu kota kecil yang masih berada di Sumatera Utara, Kota Padangsidimpuan.

Aku pikir dengan cinta, semua akan berjalan dengan sempurna. Ternyata pemikiranku salah. Setelah lima tahun pernikahan kami, Lokot mulai menunjukkan perubahan sikap dan perilaku. Malas bekerja, sering keluyuran tak jelas dan pulang ke rumah selalu tengah malam. Kamu tahu apa yang paling menyakitkan?

Tak ada lagi sorot cinta dari matanya untukku. Aku dan dia tak lagi menjadi satu.

Kamu tahu apa yang lebih menyakitkan daripada sebuah kehilangan? Menyangka bahwa hal itu tak akan pernah terjadi, namun akhirnya hal itu tiba-tiba saja terjadi padamu. Tanpa pertanda. Tanpa peringatan. Tanpa aba-aba. Tanpa petunjuk bahwa sesaat lagi kamu akan ditinggalkan oleh orang yang kamu cintai. Ironis, bukan?

Aku sungguh mencintainya. Sangat mencintainya. Aku ingin dia berbahagia denganku. Hanya denganku. Aku tak ingin cintanya meninggalkanku. Aku ingin mendapatkan cinta itu kembali. Tidak ada yang salah dengan itu, kan?

Sekeras apapun aku berusaha, ternyata cinta tak lagi bisa disatukan. Semakin aku ingin mempertahankan cinta, semakin dia menyakiti seluruh tubuh dan relung hatiku.

Aku takut. Kenangan-kenangan itu terus menghantuiku. Aku bersumpah, jika ada tombol untuk mematikan otak secara mudah, tentu hidupku tidak akan semenyedihkan ini.

***

Ketika memikirkan suamiku, aku selalu teringat pada jantung dan otaknya. Kubayangkan membelah dadanya yang bidang. Mengambil jantungnya dan bertanya mengapa dia tak lagi berdetak untukku.

Kubayangkan memecah kepalanya dengan penuh kelembutan, lalu kuambil otaknya. Mencari jawaban atas semua pertanyaan yang membelenggu.

“Apa yang tengah kamu pikirkan?”

“Bagaimana perasaanmu saat ini?”

“Mengapa kamu melakukan semua ini padaku?”

“Sebenarnya apa yang kamu cari dari pernikahan kita?”

***

Sepuluh hari sejak Lokot pergi dari hadapanku. Aku gamang, takut, cemas dan penuh kekhawatiran dalam menjalani hidup. Aku tak memiliki teman untuk berbagi. Aku tak memiliki anak untuk mencurahkan isi hati. Aku tak memiliki uang untuk bisa meringankan sedikit sedih di hati. Aku… tak memiliki apa-apa.

Lokot tidak hanya meninggalkan aku. Dia juga meninggalkan tanggung jawab dan hutang yang jumlahnya bahkan tidak pernah terpikirkan olehku.

Kamu tahu apa yang membuatku semakin sakit? Dia meninggalkan perempuan hamil yang terus-menerus mendatangiku dan bertanya di mana keberadaanmu.

Gila!

Kamu benar-benar lelaki gila. Atau aku yang lebih gila karena tidak menyadari tingkah busukmu selama ini?

Lokot… Lokot…

Sungguh luar biasa permainanmu. Seharusnya kamu bisa mendapat penghargaan aktor terbaik di Indonesia. Bagaimana menurutmu? Kamu menyukai itu, kan?

Aku ingat percakapan kita kala itu. Percakapan yang menimbulkan pertengkaran. Untuk pertama kalinya kita bertengkar sejak bertemu dan menikah. Tepat pada hari jadi empat tahun pernikahan kita.

“Bang, sepertinya ini waktu yang tepat.”

“Maksudmu?”

“Waktu yang tepat untuk kita memiliki anak.”

“Anak tidak akan membuat pernikahan menjadi lebih baik, Sri!”

“Sampai kapan aku harus menanti, Bang? Dari dulu kamu selalu bilang nanti… nanti… nanti. Nanti sampai kapan, bang? Kalau dari awal abang tidak ingin memiliki anak, jangan beri aku janji! Kamu benar-benar lelaki pengecut!”

Kamu tahu apa yang dia lakukan? Dia mendorongku. Mendorongku, hingga terjatuh. Untuk pertama kalinya dia berhasil menyakitiku.

Untuk pertama kalinya dia berhasil membuatku takut padanya. Hal seperti itu terus berlanjut. Terkadang hanya masalah sepele yang tidak perlu dibesar-besarkan.

Lokot benar-benar berhasil menyiksa hati dan tubuhku. Dia meminta maaf, kembali menghujani cinta, lalu menyakiti aku. Terus terjadi, hingga hari jadi pernikahan kami yang kelima.

Setelah itu, dia semakin gila. Semakin terobsesi menyakiti. Aku berusaha memahaminya. Berusaha memaafkannya. Ah! Ternyata, lagi-lagi aku lebih gila darinya.

***

Hari demi hari kulalui dengan berpikir. Mencari jawaban atas semua hal yang tengah kulalui. Sebenarnya aku bisa kembali pada bapak dan emak. Menangis dan mengadu akan nasib hidupku yang malang. Meminta maaf atas semua sakit hati yang kutorehkan pada mereka. Bersimpuh dan memohon ampun. Aku tahu, sebesar apapun kesalahanku pada mereka, mereka pasti menerimaku kembali.

Inikah jalan yang kuingankan? Lari, menangis dan mengadu layaknya anak kecil? Tidak. Ini tidak bisa selesai begitu saja.

Lokot harus dihukum. Lokot harus merasakan semua sakit yang kurasa. Dia sudah merenggut martabatku, harga diriku, uangku dan juga harapanku. Dia jadikan aku istri yang dia inginkan. Dia jadikan aku boneka, hingga aku tak lagi mengenal diriku sendiri.

Aku mencari tahu keberadaannya. Sayangnya, aku tak menemukan jejak apapun.

Dia menghilang seperti ditelan bumi. Satu sisi, aku bahagia. Sebab dia tidak akan menyakitiku lagi. Satu sisi, aku sedih. Karena dia menghancurkan cinta yang kuberi. Selayaknya dia mendapat hukuman setimpal dariku. Aku benar-benar menginginkan kesempatan itu tiba.

Dua bulan Lokot meninggalkanku. Hidup terus berjalan, ada tidaknya dirinya. Meski kusadari hidup ini juga tidak lebih mudah tanpa dirinya.

“Sriiii… Sriiii… Sriii…” panggil seseorang dari balik pintu rumahku.

“Ohhh Kak Erni. Ada apa, kak?” tanyaku setelah membuka pintu. Kak Erni, tetanggaku.

“Kamu sudah lihat berita?”

“Tidak. Memangnya ada apa, Kak?”

“Suamimu, Sri. Lokot merampok dan membunuh. Polisi berhasil menangkapnya dan dia telah sah menjadi tersangka.”

Aku berdiri, kaku. Mungkinkah ini jawaban atas doa-doaku?

“Apa hukumuman yang dia dapatkan, Kak?”

“Engak tau. Aku bukan ahli hukum.”

Fantastis! Luar biasa!

Aku bisa merasakan air mata menetes di wajahku. Bukan… bukan… ini bukan tangisan kesedihan. Ini sebuah tangisan kemenangan. Lokot… Lokot… Kamu memang Lokot yang tak lokot. Selamat menikmati kehidupan baru.

 

Padangsidimpuan, November 2017

Advertisements