Cerpen Sari Rahmadani Hasibuan (Waspada, 14 Januari 2018)

Ku Kubur Semburat Jingga ilustrasi Denny Adil - Waspada.jpg
Ku Kubur Semburat Jingga ilustrasi Denny Adil/Waspada

Jangan khawatir, meski sekarang kita berjauhan. Kau tetap menjadi seseorang yang selalu kudoakan baik. Tak perduli berapa banyak hujan kesedihan menggenangi pelupuk mataku. Tak perduli berapa banyak kenangan yang kuterbangkan bersama angin. Kau tetaplah kau yang selalu menjadi harapan yang tak semestinya kugantungkan. Sebab, ternyata aku terlanjur ceroboh karena menjadi luluh saat sesungguhnya kau begitu manis ke semua.

***

SUBUH menjelang, sekitar pukul 04.30 WIB. Aku terbangun dari mimpiku. Ada perasaan sedih yang ikut bersama mata yang membuka. Hawa dingin masih memelukku erat, memanjakan tubuh agar tetap terbaring mesra dalam kasurku. Aku membereskan kasur kemudian beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuh, kemudian melaksanakan kewajiban sebagai seorang wanita muslim.

Pukul 07.30, sepeda motorku mendarat tepat di parkiran fakultas. Setengah jam lagi perkuliahan dimulai. Aku datang ke kampus bukan untuk mengikuti perkuliahan, melainkan mencari dosen pembimbing skripsi untuk konsultasi. Maklum, mahasiswa semester akhir. Benar kata orang-orang, di semester akhir kita akan disibukkan dengan rutinitas yang hampir gak penting. Datang nungguin pembimbing dari pagi hingga petang. Setelah petang, beliau tidak dapat ditemui.

Parkiran, kantin, serta lobby kampus masih sepi. Wajar saja, ini minggu terakhir perkuliahan sebelum libur panjang hadir membenamkan diri dalam kebosanan. Banyak mahasiswa yang sudah libur dan balik ke kampung halaman.

Kubuka layar handphone, kemudian mencari kontak Hamid. Beberapa menit, suara Hamid terdengar di seberang telepon.

“Hamid kamu dimana?!”

Wa’alaikumussalam..,” teriak Hamid memekakkan telingaku.

“Sial lu! Oke, Assalamualaikum. Hamid kamu sekarang dimana?”

“Jangan marah-marah dong Nona. Nona cantik kalau tidak marah. Di rumah, kenapa?”

“Makan yuk.”

“Ah kebetulan, pucuk dicinta ulam pun tiba. Jumpa dimana kita? Tunggu di tempat ya, aku Ashar dulu.”

“Di warung Bang Udin aja. Oke. Jangan lama!”

“Siap Nona…,” jawab Hamid. Sambungan terputus.

Kulajukan sepeda motorku tepat di halaman warung Bang Udin. Di kejauhan, senyum Mamad merekah, salah satu karyawan Bang Udin. Kabar burung, Mamad menyimpan rasa untukku. Wajahnya akan selalu tampak bahagia jika aku berkunjung ke warung itu. Meskipun dengan pria, ia tak perduli. Pernah suatu ketika, Mamad memberikan pelayanan dan hidangan secara gratis ‘hanya untukku’, sementara teman-teman yang kubawa harus membayar biaya makannya sendiri.

“Hei, melamun aja!” Suara Hamid membuyarkan lamunanku.

“Hmm.”

“Kenapa lagi ham hem ham hemm? Hemm pasti judulmu ditolak lagi kan? Haha sudah kuduga.”

“Pesan makan dulu gih, kasian tuh Mamad udah nungguin,” kataku pada Hamid. Sedikit membela Mamad yang telah menunggu di samping meja. Kemudian Hamid memesan makanan, begitu pula aku.

Beberapa menit kemudian makanan tersaji di hadapan kami.

“Ini kamu yang bayar kan, Ri?” Tanya Hamid saat seluruh makanan dan minuman telah terhidang di meja.

“Ya enggaklah.”

“Lho? Jadi?”

“Ya bayar masing-masing. Siapa suruh kamu pesan banyak-banyak. Nasi gorenglah, jus pokat, pisang bakar cokelat keju dan ini? Kentang goreng. Gila lu ya..”

“Petaka. Balikin aja deh semua ini. Aku pesan air putih aja.”

“Apaan balikin. Kamu kira ini warung punya Bapakmu? Makan aja udah, ntar kalau uangku kurang. Aku tinggal ngutang sama Mamad.” Jawabku kesal.

Hamid malah tertawa mendengar aku menyebut nama Mamad. Kasihan Mamad, terkadang rasa sukanya padaku, kumanfaatkan untuk urusan perut sejengkalnya Hamid.

“Mid, judulku ditolak.” Kataku membuka pembicaraan di sela-sela makanan yang masih terkunyah dalam rongga mulut. Hamid menghentikan prosesi sendok dan garpu yang beradu di piringnya. Ia menungguku melanjutkan cerita. Tapi aku bungkam. Seolah kesedihan benar-benar menyelimuti seluruh hatiku.

“Sudahlah, Bu Guru.. Jangan patah semangat. Baru juga ditolak sekali. Ingat, Allah selalu bersama orang yang sabar.” Jawab Hamid dengan bijaksana. Aku mengangguk. Kemudian kami saling diam. Bergelayut dalam angan masing-masing. Hingga makanan yang tersaji ludes. Kedekatan jarak dan emosional telah menyatukan hati kami dan rasa nyaman di dalamnya. Terbiasa bersama Hamid membuatku lupa bahwa hatiku pernah patah. Aku pernah rapuh.

Malam menjelang, ditemani rembulan dan bintang-bintang yang memenuhi seluruh sisi langit. Aku merindukan Hamid, sudah dua hari tanpa kabar. Namun rasanya sudah seperti dua tahun. Ia seperti menghilang ditelan bumi. Akun whatsapp yang ia miliki aktif namun tak pernah lagi sekalipun mengirimkan pesan singkatnya padaku. Begitu pula denganku, rasa kecewa yang teramat besar membuat egoku semakin membuncah. Aku tak ingin memberi kabar untuknya sebelum ia terlebih dulu memberi kabar padaku. Meski rasa rindu sering kali membuat dadaku sesak.

Sejak Hamid bercerita bahwa ia tertarik dengan seorang gadis bercadar, teman sekolahnya sewaktu duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama. Bahkan Hamid berencana akan melamar gadis itu selambatnya dua tahun lagi.

Hal ini sudah dibicarakan dengan gadis itu, beruntungnya gadis tersebut menerima niat baik Hamid. Tanpa sepengetahuannya, Hamid mematahkan hatiku. Merusak segenap harapan yang ingin kubangun bersamanya. Salahkah jika aku mencintainya? Sebab ini bukan keinginanku. Ini adalah guratan takdir Tuhan dalam menyusun skenario kisah cintaku.

Jika cinta harus diungkapkan, waktu takkan lagi berpihak padaku. Aku terlambat. Aku kalah, oleh wanita yang lebih sholeha dariku. Jika aku tidak sholeha, tidak pantaskah aku mendapatkan pria sebaik Hamid? Pertanyaan yang selalu terngiang dalam benakku. Ah sudahlah, Hamid bukanlah lelaki baik. Jika ia baik, ia tak akan memberikan perhatian lebih padaku, sebab aku bukanlah perempuan spesial untuknya. Jika hanya untuk beramah tamah, Hamid tak perlu sampai membuatku jatuh cinta. Intinya, ia bukan pria baik.

Kembali aku mengatakan pada diriku sendiri. Berusaha menyalurkan energi positif untuk selalu berpikiran positif pada siapa pun yang membuatku kecewa. Berusaha membangun diriku kembali untuk menjalani sepenggal kisah yang telah tertulis oleh-Nya.

Advertisements