Cerpen Aminullah (Waspada, 14 Januari 2018)

Bulan Mari Kita Pulang ilustrasi Denny Adil - Waspada.jpg
Bulan Mari Kita Pulang ilustrasi Denny Adil/Waspada

ADA apa dengan angin malam ini, rimbunan pohon diam berdiri seperti tanpa nyawa, hembusan nafas terdengar begitu jelas, berjalan di kerumunan manusia namun tetap begitu sunyi, awan berkumpul sambil berdiskusi, ada apa dengan malam.

Nyanyian terompet bocah kecil terdengar merdu di persimpangan jalan, kaleng kecil menjadi teman hidup perjalanannya.

“Siapa aku?” Tanyaku pada diriku.

“Malam apa ini?” Tanya kembali padaku.

Jalan beraspal aku melangkah, bayang tak terlihat oleh pantulan rembulan, kemana dia, apakah dia sepertiku. Gemerlapan lampu kota tetap berdiri bekerja untuk malam, aku sadar namun aku seperti tidak sadar.

Wanita malam terlihat sedang asik bersandar pada tiang lampu jalan, bermahkota indah, tercium pula harum semerbak dari tubuhnya. Jam kota berdentang tiga kali, kedua jarum saling bercumbu pada angka 00.00 wib, kemana rembulan malam ini, apakah rembulan masih tertidur.

“Raga….!” Terdengar seorang memanggilku.

“Kau kenapa raga?” Tanyanya padaku kembali.

Aku mendengar dan aku melihat Diborry memanggilku, ia terlihat sedang menikmati malam bersama wanita berparas cantik penunggu kota.

“Kau kenapa?” Tanyanya mendatangiku.

“Hei Bor, ada apa?” Tanyaku padanya.

“Kau kenapa, seperti orang lingung.”

“Tidak ada Bor. Cuma ini mencari keramaian.”

“Kau berbicara keramaian? Lihat gak, apa ini kurang ramai?”

Asing bagiku saat ini, aku seperti baru terlahir, manusia seperti hanya bayang yang terlihat. Ragaku ingin memaksa jiwaku yang tertahan kebingungan, awan masih saja berkumpul, apakah ada sesuatu yang direncanakan.

“Kau bukan Raga yang kukenal.” Ujar Borry.

“Iya aku sendiri masih bertanya pada diriku siapa aku.” Ujarku.

“Kau kenapa, aku bertanya dari tadi.” Tanyanya kembali.

“Ibuku meninggal.” Jawabku.

“Kau memang… Ah. Kenapa kau tidak bilang?” Tanyanya padaku.

“Sudahlah, aku berterima kasih kau masih mengingatku.”

“Ga.. ragaa….!”

Aku berjalan dengan tatapan kosong, mengejar bayang namun seperti menangkap angin, akankah ada yang meninggalkanku lagi setelah kejadian dua hari yang lalu ibuku telah meninggalkanku.

“Tayaaa….!” Panggilku untuk adikku.

“Tayaaa… apa yang kau lakukan!”

“Kau tidak usah lagi memanggilku, kau bukan abangku lagi, kau telah membunuh ibu.” Ujarnya padaku.

Terdengar begitu keras suara langanku memukul pipinya, seketika tubuhku bergetar, aku tidak sadar, aku tidak membunuh ibuku, bulan keluarlah ceritakan yang sebenarnya.

Bunga trotoar melihat kejadian itu, kejadian dimana adikku menangis merasakan tamparan dariku, aku malu, Tuhan cabut nyawaku sekarang.

Tetesan hujan malam menyadariku, terlihat sebuah ayunan tua berada di sebuah taman, mungkin malam ini aku akan tidur di ayunan tua itu. Tak terasa rintik menjadi guyuran deras, angin seketika hadir tanpa arah, dingin mulai berdatangan di sekitarku, pohon-pohon beradu dahan menciptakan suara gemuruh, hanya sehelai selendang almarhum ibuku yang menjadi penghangat malam ini.

“Raga, kenapa sendirian?” Ujar ibuku.

“Iya bu, raga pingin sendiri akhir-akhir ini.” Jawabku.

“Kenapa pingin sendiri, gak mau nyari pacar, hahaha.” Tanyanya kembali.

“Ah ibu, raga pingin temani ibu sama taya aja semenjak ayah meninggal.” Ujarku kembali.

Terlihat ibuku sengaja tidak menjawab kalimatku, pagi yang indah untuk burung-burung kecil, tarian dan nyanyian yang sangat indah untuk dilihat dan didengar. Aku masih bingung dengan kata ibuku barusan yang menyuruhku mencari pasangan.

“Bang, ngelamun ajasih, Taya kekampus dulu ya.” Ujar Taya padaku.

“Apa, iya iya.” Jawabku.

Taya adikku satu-satunya, ialah harta yang kupunya sama seperti ibuku, ayahku pernah berpesan sebelum ia meninggal, bahwasanya aku harus menjadi laki-laki yang mandiri, harus bisa menjadi imam di rumah. Ya, kalimat itu sampai sekarang masih saja kuingat, walau ibuku dan adikku tidak mengetahuinya.

Tepat di sore hari, terdengar sebuah gedoran pintu rumah dengan begitu deras, aku tidak tau siapa yang datang, aku terbangun kala mendengar suara itu, namun ketika aku membuka pintu, sebuah mobil ambulan berada di halaman rumahku.

“Raga tolong bantu bapak.” Ujar tetangga rumahku.

“Ada apa pak, kenapa?” Tanyaku.

“Ibumu, ibumu meninggal akibat kecelakaan siang tadi.” Jawabnya.

Rasa emosional keluar begitu saja, cacian terlontar keluar dari mulutku, aku tidak percaya, hingga aku mencoba menelfon ibuku, tetapi aku mulai menyadari itu semua, tubuhku lemas, aku terjatuh dan hanya diam diri membiarkan tetesan air mataku terus keluar.

“Raga…!”

Diam yang aku lakukan, melihat sosok tubuh ibuku yang mengeluarkan darah di bagian wajahnya, mulutku tak bisa berucap sepatah kata. Mataku menjadi saksi sore ini. Adikku belum juga pulang ke rumah, apa yang sebenarnya terjadi.

Sore itu angin begitu kencang hingga terasa masuk kedalam rumah, ya, hujan deras mengguyur seketika, dentuman petir sesekali bersuara, yang bisa kulakukan hanya melihat dan terduduk.

“Abang.. abang…” Terdengar suara Taya.

“Abanggg bangunnn…” Ujarnya kembali.

Aku tersentak terbangun hingga kepalaku terbentur tiang ayunan, jantungku berdetak kencang, aku tersadar dan aku merasakan apa yang terjadi pada ibuku terulang kembali.

Lolongan anjing liar merubah suasana malam menjadi berisik, hujan tak lagi turun, genangan air terlihat mengaliri sekeliling ayunanku, apakah aku bermimpi, apakah aku tidak bermimpi. Dingin malam semakin mencekam, kesunyian menjadi momok pada diriku, aku mulai takut saat ini.

Tak terlihat lagi gerombolan awan yang tadinya berkumpul, kini semua telah memisah diri, lirikan cahaya mata rembulan terlihat dari sela-sela dahan beringin tua. Ada apa ini, apa yang terjadi padaku, berhentilah menyiksaku.

“Ahhhh….” Teriakku.

“Heiii rembulan jangan melirik aku seperti itu.” Ujarku kembali pada bulan.

“Tampakan keseluruhan sosokmu di hadapanku.”

Lolongan anjing semakin terdengar begitu kencang, angin kini mulai hadir kembali dengan menghanyutkan lembaran-lembaran daun tua yang telah hilang nyawanya. Awan kembali mulai bersatu, rembulan mulai bergerak seiring waktu, kini terlihat jelas bulan dengan paras bundar, begitu terang untuk gelapnya suasanaku, aku terdiam dari amarahku barusan.

“Terima kasih kau mendengarkanku, aku ingin bertanya sekali lagi padamu, siapa aku ini sekarang?” Tanyaku pada rembulan.

“Jika kau tidak menjawab, marilah kita pulang, temani aku setiap malam.” Ujarku.

Kini sepi tak terasa, bayangku terlihat kembali, anganangan berterbangan di hadapanku, apakah aku bisa menggenggamnya. Bulan mari kita pulang.

 

Penulis mahasiswa UMSU. Fakultas ilmu sosial ilmu politik. Penulis aktif di UKM Teater Sisi UMSU

Advertisements