Cerpen Nurdiani Latifah (Pikiran Rakyat, 14 Januari 2018)

Last Blossom Egg ilustrasi Alanwari Spasi - Pikiran Rakyat.jpg
Last Blossom Egg ilustrasi Alanwari Spasi/Pikiran Rakyat

KAMU tahu, apa yang disebut dengan bayang-bayang? Bagaimana kita bisa menemukan bayang-bayang? Mudah, kita hanya tinggal diam di bawah terik matahari atau cahaya. Maka lihatlah ke bawah tanah, ada warna hitam yang membentuk seperti tubuh kita.

KARENA cahaya merambat lurus, lalu apabila cahaya terhalang sesuatu. Maka bayang-bayang itu akan terjadi. Tapi kalau cahayanya lemah, bayang-bayang itu akan sangat kuat. Tapi, bagaimana pun juga, bayang-bayang sesuatu yang tidak pernah bisa digapai dan didapatkan. Mereka memang ada, tapi mereka maya.

Ponsel saya berdering. Ternyata wanita itu menelpon saya.

“Kamu di mana?” tanyanya.

“Saya sudah di rumah.”

“Kapan kamu pulang? Kenapa nggak kasih kabar?”

“Saya lupa, tadi langsung buat berita.”

Percakapan semakin berlanjut dan saya terbawa bersamanya. Ini tidak mungkin, tapi memang begitu. Saya tidak tahu kapan ini akan berakhir, tapi yang pasti saya tidak ingin ini berakhir saat ini. Satu jam berlalu, percakapan yang ringan dan menyenangkan telah berakhir.

Ternyata satu jam masih belum bisa menyelesaikan rindu terhadap wanita itu. Masih banyakcerita yang ingin saya ceritakan padanya. Tapi, memang harus selasai begitu saja saat langkah saya belum menemukan puncaknya.

“Sudah dulu ya.”

“Iya,” saya mematikan ponsel, lalu membaringkan tubuh saya di kasur.

Saya menatap langit-langit kamar dan mulai menemukan wajah wanita itu sana. Otak saua mulai memutar kenangan bersamanya saat kita berada di bangku kuliah 10 tahun yang lalu. Wanita itu pernah saya marahi ketika ospek kampus, wajah ketakutannya lucu sekali hingga saya tidak berani membentaknya.

Setelah saat itu, saya tidak lagi bertemu dengan wanita itu, baru empat tahun yang lalu saya bertemu dengannya di lapangan, ketika kami sama-sama menjadi wartawan dan saya satu jobdesk dengannya.

Saya baru empat tahun yang lalu menjadi wartawan. Sementara wanita itu, sudah enam tahun. Dia lebih dulu menjadi wartawan, saya juniornya. Dia banyak berubah. Saya cukup pangling saat pertama kali bertemu dengannya di lapangan. Dia tidak lagi pemalu seperti dulu.

Bagi saya, dulu dan sekarang masih tetap sama. Saya masih menjadi pengagumnya. Tapi, saat ini pengagumnya adalah bayang-bayangnya.

***

UNTUNG saja, telefon dengan lelaki itu sudah saya matikan. Tepat pukul delapan malam, bel rumah berbunyi pertanda ada seseorang yang datang ke rumah.

“Hai,” senyumnya masih tetap lebar metapa saya.

Dalam hitungan detik, tubuh saya dipeluk dan mencium kening saya. Pelukan yang sedikit hambar, saya tak merasakan getaran saat pertama kali dulu.

“Gimana hari ini, liputan kamu lancar?”

“Biasa aja, Mas. Cuma tadi kehujanan.”

Matanya seakan ingin tahu apa yang saya lakukan dalam seharian ini. Tapi cerita saya sudah saya ceritakan pada lelaki itu.

“Tapi kamu nggak apa-apa, kan?” dia sedikit cemas.

Saya menggelengkan kepala.

“Syukurlah. Anak kita sudah tidur?”

Aku mengangguk. Dia kembali memeluk saya. Cukup hangat, tapi memang ada yang hambar. Entah apa itu, saya masih mencarinya. Dia menatap saya, tiba-tiba saya menangkap bibirnya jatuh di bibirku. Lembab.

***

VOLUME hujan tidak berkurang sedikit pun sejak tadi siang. Bahkan, hujan membuat kafe di tengah Kota Bandung ini semakin padat dengan manusia. Rata-rata mereka hanya ingin menunggu hujan sedikit reda untuk bisa meneruskan perjalanan mereka.

Bagi saya hujan merupakan salah satu yang indah. Karena dari keadaan itu saya bisa memutar kenangan. “Musik, hujan dan kamu. Indah bukan?” wanita itu menatap saya.

Sepertinya, wanita itu mengulang kisah lama kita. Dulu. saya pernah mencium wanita itu di tengah hujan, satu kenangan yang tidak bisa saya hilangkan. Apa wanita itu mengingatnya?

“Kamu tahu, dulu saya meng….” tangannya memegang tangan saya.

“Itu dulu!” saya melepaskan genggamannya.

“Tapi…” wajahnya sedikit murung.

Tiba-tiba saja wanita itu mengambil ponselnya. Mimik wajahnya tiba-tiba berubah, senyum sekaligus gelisah. Mungkin dari lelakinya. Cukup lama, saya tidak ingin tahu apa yang sedang mereka bicarakan.

“Dari suamimu?” aku memberanikan diri menanyakan itu.

“Sudahlah!”

“Nggak bisa!”

Seketika kami terdiam. Wanita itu menunduk, menatap makanan di piringnya. Sedih, entahlah. “Mau sampai kapan kita kaya gini terus?”

Kepalanya menggeleng, tanda tidak tahu. “Kamu nyaman kita kaya gini?”

Wajahnya menatap saya, seperti ingin mengeluarkan sebuah kalimat. Tapi, masih tertelan di tenggorokannya. Lalu berubah menjadi gelisah.

“Kamu bisa menanyakan hal lain?”

Ini giliran saya meminta kejelaskan dari wanita itu. Hubungan ini tidak wajar. Saya memang masih mencintai wanita itu, kebodohan saya di masa dulu adalah mencintanya dalam diam. Saya tidak pernah mampu menyatakan perasaan saya kepadanya.

Hingga dirinya lulus perguruan tinggi, saya tidak mampu menyatakan cinta kepadanya. Wanita itu menghilang. Saya mencarinya melalui sosial media, tapi semuanya nihil. Tidak ada akunnya.

Melalui internet saya bisa melacak tulisannya. Misi saya menjadi wartawan hanya untuk mencarinya dan menceritakan kisah kita yang saya rasa belum selesai.

“Bisa kita perjelas hubungan kita?” aku memaksa.

Kembali wanita itu menatap saya, dia ketakutan.

“Saya akui, saya menjadi wartawan hanya untuk kamu. Saya ingin bertemu kamu,” aku menatap sekitar. Semuanya terasa beku. Berhenti, hanya rintikan air hujan yang terus saja deras.

“Kita sudah bertemu, tak usah berbicara yang lain.”

“Tapi, kali ini kamu tidak seperti dulu, kamu sudah bersama dengan lelaki itu dan memiliki satu orang anak.”

Semuanya sunyi. Saya bisa menghirup aroma kopi yang semakin kuat.

“Saya mencintai kamu, bukan berarti saya mau menjadi bayang-bayang lelaki itu!” nada suara saya sedikit meninggi.

“Tapi saya tidak benar-benar bahagia dengannya!”

“Bahagia atau tidak bukan urusan saya, kamu tetap tidak bisa meninggalkan lelaki itu, bukan?”

Saya mengambil napas dalam-dalam. Satu menit lagi saya akan meninggalkan tempat ini. Saya sudah memikirkan semuanya. Hari ini atau bukan. Saya mulai pemandangan lain di sudut ruangan yang lainnya. Ada sebuah senyuman manja yang menyapa saya, mengalihkan pembicaraan dengan wanita di hadapanku.

“Siapa?” tanyanya.

Saya melambaikan tangan, menandakan agar si pemilik senyum itu mendekati saya.

“Nanti juga kamu tahu.” Saya meneguk sedikit kopi arabika yang tadi dipesan.

Dalam hitungan menit, dia datang menghampiri meja saya. Saya langsung menggenggam tangannya, wanita di hadapan saya menatap seakan tidak percaya.

“Saya harap kamu bisa mengerti,” saya meninggalkan perempuan itu dengan kopi yang sudah sedikit dingin.

Aku berhenti menjadi bayang-bayang lelakinya. Saya ingin menjadi cahaya juga, tapi bukan untuk wanita itu, untuk wanita lainnya yang sudah saya pilih. Saya berjanji, akan selalu menjadi cahaya untuk perempuan yang sedang saya genggam tangannya. Perempuan yang selalu membuat wanita itu cemburu. Nadya. ***

Advertisements