Oleh Bandung Mawardi (Koran Tempo, 13-14 Januari 2018)

Catatan Pinggir 11 dan 12 ilustrasi Koran Tempo.png
Catatan Pinggir 11 dan 12 ilustrasi Koran Tempo

Pada 1982, buku perdana Catatan Pinggir terbit. Isinya kumpulan esai-esai Goenawan Mohamad yang tersaji rutin di majalah Tempo. Kini, 35 tahun sesudah kelahirannya, keluarga buku kumpulan tulisan itu telah genap selusin dengan kehadiran Catatan Pinggir 11 dan Catatan Pinggir 12. Si penulis menua, tapi tulisan-tulisannya terus dipersembahkan kepada pembaca Tempo. Pada 2017, tulisan-tulisan Goenawan sudah melebihi seribu.

Th Sumartana menulis pengantar dalam edisi perdana yang berjudul “Sebuah Refleksi, Dengan Jarak”. Dia mengatakan, Goenawan, melalui kolom Catatan Pinggir di majalah Tempo, sengaja mengadakan refleksi bersama pembaca. Adapun penerbitnya menyebutkan Goenawan berusaha menulis refleksi tentang kemanusiaan, kemasyarakatan, politik, sejarah, masa depan, dan lain-lain. Harga buku setebal 628 halaman itu ditetapkan Rp 7.500.

Sebelum diterbitkan dalam bentuk buku oleh Grafitipers, banyak pembaca yang mengumpulkan kolom Catatan Pinggir dari majalah Tempo, lalu dijual. Lucunya, penawaran penjualan bundel Catatan Pinggir ada yang ditampilkan di rubrik Surat, majalah Tempo. Misalnya, pengumuman Danurdono asal Solo pada edisi 24 Maret 1979. Tertulis: “Tersedia bundel Catatan Pinggir, Tempo. Diketik rapi, bersampul tebal, dilapisi plastik kaca. Tiap bundel 20 Catatan Pinggir. Harga tiap bundel Rp 1.250 termasuk ongkos kirim.”

Puluhan tahun berlalu, pada 2017 terbitlah Catatan Pinggir 11 dan Catatan Pinggir 12. Tiap jilid dihargai Rp 100 ribu. Dua buku tebal itu adalah sebuah penegasan bahwa Goenawan belum lelah menulis. Dia boleh semakin tua, tapi keranjingannya mempersembahkan esai tak jua surut.

Intan Paramaditha memberi pengantar berjudul “Catatan Si Pejalan”. Ia mengartikan catatan pinggir sebagai perjalanan menelusuri rekaman sejarah. Esai-esai Goenawan, kata Intan, membawa kita turut serta dalam penjelajahannya sebagai seorang pejalan yang mengunjungi serta merenungi beragam pengalaman dan wacana.

Pejalan itu mungkin memiliki sekoper bahasa dan tema, tak lelah dan habis dituliskan menjadi Catatan Pinggir, menempuh tahun demi tahun. Coba lihat tulisan berjudul “Koper” dalam Catatan Pinggir 11. Goenawan menceritakan dan menafsir ulang novel Jejak Langkah dan Rumah Kaca karya Pramoedya Ananta Toer. Pilihan jatuh pada adegan Minke membawa koper tua saat ditahan polisi dan kembali dari pengasingan. Adegan mengacu pada buku Situated Testimonies garapan Laurie Sears. Polisi mengira Minke bakal memiliki bawaan selain koper. Minke menjawab singkat: “Semua sudah kubawa dalam kepalaku.” Si polisi kolonial tak usah membantu untuk membawa “milik” Minke.

Pada Catatan Pinggir 12, Hamid Basyaib memberi pengantar yang dimulai dengan usul agar Catatan Pinggir mendapat Guinness World Records. Tumpukan pujian disajikan Hamid, mengacu pada ketekunan Goenawan selama 40 tahun menulis Catatan Pinggir.

“Ia terutama menyumbang besar dalam bentuk presentasi ide dengan warna sastra yang kuat, dan menjadikan pemaparan gagasan dalam bahasa Indonesia terasa modern, cerdas, dan memenuhi persyaratan kompleksitas yang selayaknya ada pada pemaparan ide yang berkualitas,” katanya. Pujian itu terasa “sah” jika pembaca sempat mengamati foto Goenawan Mohamad di sampul belakang: lelaki berwajah tua mengenakan kacamata dan jam tangan. Ia tampak bijak di sana.

Kita simak saja tulisan berjudul “Nostalgia” dalam Catatan Pinggir 12. Pada pembuka tulisan yang diambil dari majalah Tempo edisi 14 Februari 2016 itu, Goenawan membuat pengakuan: “Pada umur 75, masa depan saya jauh makin sedikit ketimbang masa lalu saya. Pada umur ini orang lazimnya akan gugup dengan masa kini, karena di abad ke-21 masa kini kian didera masa depan.”

Kalimat-kalimat yang mengandung resah, tapi Goenawan tetap pemilik masa lalu dan masa depan. Ia pun seperti mengutuk pembaca untuk merampungkan selusin buku yang berasal dari masa lalu sampai sekarang.

 

Catatan Pinggir 11 dan 12

Penulis : Goenawan Mohamad

Penerbit : Pusat Data dan Analisa Tempo

Cetakan : I, 2017

Tebal : 442 halaman dan 438 halaman

 

 

Bandung Mawardi, Kuncen Bilik Literasi.

Advertisements