Puisi Bresman Marpaung (Koran Tempo, 13-14 Januari 2018)

Pekan-pekan Terbetik Mati Terasing ilustrasi Imam Yunni - Koran Tempo.jpg
Pekan-pekan Terbetik Mati Terasing ilustrasi Imam Yunni/Koran Tempo

Pekan-pekan Terbetik Mati Terasing

: Onan na Marpatik [1]

 

tiga parsinggungan, onan parsaoran

antaran na bidang, lobuan na godang

pardomuan ni raja, parsaoran ni akka dongan [2]

 

aku mengais tanda-tanda kisah lama

dari sepuhan masa ini

yang terlukis sempat tabah

dan pernah membubung niat bulat raja-raja

 

kuusik sebiji asam jungga

tak kukira masih menyimpan asam-pahit petaka

kumat dari mati suri, memercik nyeri

di lahir anak-anak raja terkucil

 

di pekan-pekan, kisah tua bertuah

sejak dikebiri

kini dihayati hanya tersisa

satu hari yang setia

tersiksa menampung hiruk-pikuk

dalam kerumunan simpang-siur harga

 

patik tak lagi marka ditohok menjorok

sedalam jari-jemari beringin

tak ada sumpah yang kepingin tumbuh bercagak

merelakan urat menjuntai berurai dari tungkai

martir menopang patik tiga [3]

ikatan mata seksama hari lepas ari

 

penyerbu ganjil menumpang di celah sakal

telah menang bertaji akal

 

ikatan gigih temali jerami

terkikis dipantik jemari pengusik

bersama singgasana raja

sungguh hangus dilucuti bara

 

muncul penyaru hitam dari debu kematian

senyap keliling sebagai cara berganti faham

berlagak bertaruh sekukuh pengaruh baginda

cuma disepuh sembarang datu

duduk tak setenung raja meramu rambu dari bambu

 

tapi saudagar-saudagar lekas mengira

bisik-bisik separuh diam tanda tenang pemenang

yang pantas memetik upeti

upah perang yang damai

makhluk terutus dimenangkan bermain patuk api

 

ada pula nasehat tuan Padri ikut menyudahi,

“segara niat ramai

mesti dicuci di bejana suci

dicicil di satu per satu hari terpuji

 

walau menalak hantu derita

dipantang di onan bercanang perjamuan

sebab segala bekal bukan umpan berkah

mendinginkan amarah hari membara

jika berkurung jampi-jampi”

 

maka sekumpulan penunggu

yang sesungguhnya tak bernafsu pengganggu

lintang pukang dari seluas rindang hariara [4]

sebab tengah menjulang dirongrong

dipaksa kurban dijatuhkan doa bersekutu

 

bersama ruh pengasuh

yang tertuding mengasah dosa-dosa

lekas menggelinding dari sanubari onan

meninggalkan irama derap gaduh

tanda mati tak sudi

dicaci-caci di hari suci

 

warisan pelik perih dan ricuh peluh

dipicu mendidih

setumpah hawa nafsu di hari ketujuh

di luar batasan tanpa palungan keluh

 

beringin berhati dingin

kini hanya berakar di makam-makam tua

berangan mempertahankan setia

meninggikan harkat paduka

empat yang terjengkang dari pekan

sejak hilang singgasana

 

Balige 2017

 

Keterangan:

[1] Onan na Marpatik adalah salah satu dari dua jenis pekan di tanah Batak yang merupakan pusat perdagangan dan hubungan lain di antara sesama orang yang tergabung di daerah cakupannya.

[2] Adalah salah ungkapan Batak Toba terkait dengan onan (pekan).

[3] Patik tiga adalah peraturan pasar (Rule of the market).

[4] Hariara adalah sejenis pohon yang menjadi ciri khas dalam budaya Batak. Sebelum masuknya agama samawi di Tanah Batak, masyarakat mempercayai pohon ini sebagai penentu kehidupan dan pengambil keputusan.

 

 

Bresman Marpaung dilahirkan di Pematang Siantar pada 15 April 1968. Puisinya dipublikasikan di berbagai media massa dan antologi bersama. Ia bergiat di Komunitas Omong-Omong Sastra Medan.

 

Untuk artikel Sastra dan Puisi Koran Tempo Akhir Pekan bisa dikirim ke email: sastra@tempo.co.id

Advertisements