Cerpen Afrizal Malna (Koran Tempo, 13-14 Januari 2018)

Papan Tulis Tak Berwarna ilustrasi Imam Yunni - Koran Tempo.jpg
Papan Tulis Tak Berwarna ilustrasi Imam Yunni/Koran Tempo

Bangkai ayam yang pernah diciptakan Sutardji Calzoum Bachri, dalam sebuah cerpennya, masih teronggok, abadi, dalam ruang rapat Dewan Kesenian Jakarta. Ruang itu usianya hampir 50 tahun, usang, memanjang, muram. Lembaga kesenian yang selangkah lagi masuk ke dalam tragiknya sendiri, bangkrut.

Sejak sore hari, sejumlah seniman sedang rapat di ruang itu, dengan bangkai ayam abadi teronggok di meja rapat yang memanjang. Sudah berantakan di antara gelas-gelas kopi, kertas, laptop, proyektor, HP, dan makanan kecil. 75% kegiatan kesenian masa kini adalah sejumlah rapat. Para seniman seperti sedang beralih peran menjadi manager-manager perusahaan; 25% lagi estetika. Istilah yang rasanya terdengar kian aneh di tengah teknologi penggandaan supercepat media digital.

Hari sudah menjelang pukul 11 malam. Hujan sebentar lagi akan turun. Aku menghembuskan asap rokok, berdiri di jendela ruang rapat. Menatap whiteboard: ruwet dalam alur agenda kesenian yang sedang disusun. Beberapa cahaya bintang masih tampak di balik awan tebal. Bangunan Institut Kesenian Jakarta, yang mirip sebuah kapal terdampar, masih hidup oleh beberapa mahasiswa yang masih beraktivitas.Terlihat dari jendela ruang rapat, di antara pohon tua yang rimbun dan purba.

Beberapa seniman peserta rapat, tampak sudah lelah. Beberapa tatapan gundah: bayangan menempuh jalan panjang untuk bisa mewujudkan program. Bau bangkai ayam menyelusup ke dalam angka-angka anggaran: “Seni dan ekonomi kreatif,” kata generasi masa kini. Setiap kami berhadapan dengan angka-angka, rasanya selalu berbau busuk.

“Beri aku parfum untuk anggaran kesenian dan bau busuk,” kataku memancing opini di sekitar politik anggaran untuk kesenian.

“Aku tidak rela negara mengeluarkan dana hampir 1 miliar untuk karya-karya sampah,” kata salah seorang peserta rapat dengan wajah gelisah, mulai terpancing.

“Itu sebuah tema,” kata yang lain. “Sebuah tema: Sampah dan Negara,” ulangnya. “Kita bawa program ini ke dalam tema itu,” lanjutnya serius.

Rasanya bau busuk bangkai ayam abadi itu kian keras tercium. Sebuah masalah sudah selesai di ujung rapat menjelang berakhir: Sampah dan Negara.

Hujan turun. Lembut. Malam yang berair.

Hari sudah menjelang jam 12 malam ketika aku sudah berada dalam taksi. Aku ingin tidur, istirahat dari kesenian. Tapi supir taksi terus bercerita mengenai dirinya.

“Nama saya ‘Aman’. Tapi hidup saya tidak aman,” kata supir taksi dalam ceritanya. “Beberapa kali usaha saya bangkrut. Pindah-pindah kerja, akhirnya hidup sebagai supir taksi. Padahal bapak saya memberi nama ‘Aman’ kepada saya, agar hidup saya aman. Ternyata tidak aman.”

Sisa-sisa rintik hujan masih menetes pada kaca jendela taksi. Supir taksi terus bercerita, seolah-olah aku adalah tamu yang dipesan untuk mendengar kisah-kisahnya yang berbau bangkai busuk. Mungkin bau bangkai ayam itu juga yang telah merancang dan menyusun hingga pertemuan dalam taksi ini terjadi.

Di perempatan Blok M menuju Jalan Fatmawati, langit seperti disayat-sayat oleh bangunan jalan layang untuk kereta yang hampir selesai. Lampu merah. Taksi berhenti. Beton-beton jalan, melayang di udara, mengubah garis kota.

Hari masih siang. Saya baru saja menghabiskan waktu tiga jam membawa taksi. Tapi tiba-tiba saya memutuskan untuk pulang ke rumah, walau seharusnya saya masih bekerja sampai jam 12 malam sebagai supir taksi. Hari itu, hati saya merasa tidak enak.

Sampai di rumah, suasana sepi. Pintu pagar tidak terkunci. Anak-anak sekolah. Istri masih di kantor. Rampok? Hati saya waswas.

Saya membuka pintu rumah yang juga tidak terkunci, dan terkejut. Di ruang tamu, saya melihat istri saya sedang bersetubuh dengan pacar lamanya. Saya panik. Segera menutup pintu, menguncinya dari luar. Saya tergopoh-gopoh meninggalkan rumah dengan hati gusar, melapor ke pak RT. Semuanya seperti sedang runtuh, diri saya juga sedang runtuh. Pak RT dan beberapa warga kemudian datang menyerbu rumah saya. Memukuli lelaki yang menyelingkuhi istri saya.Rumah berantakan. Benda apa saja yang ada di ruang tamu, digunakan warga untuk memukuli lelaki itu. Kaca jendela pecah. Pikiran saya juga pecah dan runtuh. Gelap. Getir. Tidak mengerti.

Stop.

Kami akhirnya bercerai. Anak-anak mengancam ibunya, mereka akan memutus tali kekeluargaan kalau ibunya menikah lagi.

Sejak peristiwa itu, rumah celaka itu saya jual. Saya tidak bisa menanggung ruang yang telah merekam tubuh istri saya bersama lelaki lain. Saya tidak menikah lagi, bekas istri saya juga tidak menikah lagi. Saya kemudian berinisiatif untuk rujuk kembali dengan istri saya demi kepentingan masa depan anak-anak kami. Tapi sejak peristiwa kekerasan itu, istri saya yang sudah kembali ke rumah orang tuanya, tidak pernah bicara sedikit pun. Bisu. Seseorang telah pergi meninggalkan bahasa. Seolah-olah, setiap kata hanya akan kembali melukai dirinya. Dia telah jadi bagian dari massa diam yang personal, internal, masuk ke lorong gelap dirinya sendiri.

Pak Aman, sang supir taksi, mengakhiri ceritanya. Aku tidak mengerti, kenapa harus menerima cerita seperti ini dalam sebuah taksi. Terperangkap dalam sebuah cerita yang tidak aku pesan.

Papan Tulis Tak Berwarna—begitu judul cerpen ini.

Kisah muram itu, secara sewenang-wenang, tanpa minta izin kepada supir taksi, aku pindahkan ke dalam cerpen ini. “Apa hakku mengambil kisah orang lain, dan menjadikannya sebagai konsumsi publik? Tetapi aku juga tidak pernah memesan kisah muram itu kepada supir taksi. Aku hanya memesan mengantarku untuk pulang.”

Kami menghirup red whine manis dalam sebuah makan malam para sahabat di rumah seorang sahabat, Hanafi. Merayakan awal tahun baru. Ge’eng, Utuy, Acep, Adinda, Heru, dan Hanafi bergantian menyanyikan berbagai lagu dangdut koplo, sekali-kali memainkan lagu beberapa band indie, Payung Teduh, Efek Rumah Kaca, bahkan Doel Sumbang, di antara celotehan untuk saling menghibur.

“Apakah keluarga supir taksi itu merupakan korban dari praktik ruang sejarah yang tunggal?” kataku, melempar kisah ini kepada mereka. Aku berharap mereka bisa memberikan opini.

“Lihat,” kata Heru, serius. “Dari sudut pandangan sang suami: sang istri hanyalah seorang istri, tidak ada sub-subyek yang lain. Begitu pula dari sudut pandangan anak-anak mereka: sang ibu hanyalah seorang ibu, tidak ada sub-subyek yang lain. Gila! Lihat itu. Kita tidak pernah tunggal. Keluarga, negara, lembaga apa pun tidak punya hak untuk membuat kita semata sebagai individu tunggal yang terkunci dalam peran yang tunggal.”

“Ya, jelas, dong, itu produk pandangan sejarah yang tunggal. Mari kita tinggalkan sejarah yang gelap,” celetuk Ge’eng dengan ekspresinya yang lucu. “Jangan lihat sejarahnya, dong, tapi lihat, siapa yang telah menciptakan sejarah itu.” Ge’eng kemudian menyanyikan sebuah lagu Sunda klasik: Bubuy Bulan. Kami semua bernyanyi, menikmati syairnya yang indah: bulan … laut … dan air yang telah kering dalam panci mendidih.

21 Januari 2018, Nurjana, nama istri sang supir taksi, akan merayakan ulang tahun ke-37. Pak Aman sudah menunggu hari ini. Dia menyiapkan pakaian pengantin yang pernah dikenakan istrinya pada pesta pernikahan mereka, 17 tahun yang lalu.

Dengan langkah pasti, Pak Aman memasuki rumah bekas mertuanya untuk bertemu dengan bekas istrinya. Nurjana tampak masih cantik, seolah-olah tidak ada masa lalu yang pernah melukainya. Pak Aman memberikan bekas pakaian pengantin itu sebagai kado ulang tahun. Kado itu diterimanya, Nurjana membuka isinya. Namun perempuan itu tetap bisu, masuk ke dalam kamar dengan pakaian bekas pengantin yang dipeluk ke dadanya. Tampak Nurjana berusaha menahan emosinya, meredam desakan gelap dan padat yang hampir meledak dalam dirinya.

Dengan gundah, Pak Aman menunggu Nurjana keluar dari kamarnya. Dia tidak bisa menduga-duga, apa yang akan terjadi selanjutnya. Nurjana kini seperti berada dalam sebuah alam yang tidak bisa dijangkaunya, bahkan tidak ada kendaraan yang bisa membawanya kembali untuk bertemu dengan bekas istrinya … air yang telah kering dalam panci mendidih.

Tidak beberapa lama, Nurjana keluar dengan pakaian pengantin yang sudah kembali membungkus tubuhnya. Sang pengantin. 17 Tahun telah berlalu. “Orang seperti aku, rasanya tidak pantas untuk berpikir tentang arti waktu,” pikir Pak Aman. Istrinya, yang kini telah berdiri dengan pakaian pengantin 17 tahun yang lalu, bukanlah waktu, pikirnya. Tidak ada bekas waktu pada tubuh istrinya.

“Maafkan aku, Nurjana,” kata Aman memandangi istrinya. “Waktu tidak akan pernah bisa menyentuh kecantikanmu,” katanya. Dia tak mengerti, bagaimana tiba-tiba dia bisa memiliki kalimat seperti ini. Kalimat indah yang menyembunyikan tragedi dalam keindahannya.

Tiba-tiba Nurjana berbicara dalam bahasa Minang kepada bekas suaminya. Bahasa yang tidak dimengerti oleh Pak Aman. Nurjana merasa nyaman, kembali berada dalam pelukan bahasa ibunya. Bahasa yang hanya diciptakan untuk para perempuan.

Aku menghabiskan sisa red whine. Acep, entah mengapa, tiba-tiba menyanyikan lagu Kepada Paduka Yang Mulia. Sebuah lagu politik yang indah, pernah dinyanyikan Lilis Suryani, untuk Manipol Usdek yang menggelegar dalam pidato Sukarno. Merayakan Proklamasi Kemerdekaan, 17 Agustus 1959. Apakah artinya waktu? 59 tahun telah berlalu.

 

 

Afrizal Malna menulis puisi, cerita pendek, novel, kritik sastra dan teater, skenario dan naskah teater, di samping menyunting sejumlah buku. Kini ia tinggal dan bekerja di Yogyakarta.

 

Untuk artikel Sastra dan Puisi Koran Tempo Akhir Pekan bisa dikirim ke email: sastra@tempo.co.id

Advertisements