Oleh Bandung Mawardi (Lampung Post, 07 Januari 2018)

Titik dan Koma ilustrasi Sugeng Riyadi - Lampung Post
Titik dan Koma ilustrasi Sugeng Riyadi/Lampung Post

Cerita tanda baca membuat kita terpana. Cerita itu mungkin mustahil dan lelucon peradaban aksara. Cerita telanjur diwariskan selama ribuan tahun, bersebaran ke pelbagai negeri tanpa sangkalan atau fitnah menghasilkan dosa-dosa pengetahuan atau kekuasaan. Cerita itu bermula di Yunani, negeri para filsuf menabur benih-benih pikiran di dunia. Kita turut menerima cerita meski sudah mulai jarang disampaikan ke bocah-bocah pemilik ketakjuban pada bahasa dan dunia.

Ribuan tahun silam, Pehriad menghirup udara pemikiran di Yunani. Ia diceritakan penemu dan pengguna awal tanda baca paling berjasa dalam peradaban aksara: titik (.) dan koma (,). Dua tanda itu digunakan dalam tulisan. Sejak mula, titik dan koma berfaedah bagi orang saat membaca tulisan.

Dua tanda untuk berhenti dan bernapas bagi pembaca saat menekuni kalimat-kalimat. Dua tanda itu memberi berkah bagi gairah menulis dan membaca tanpa menimbulkan letih dan kematian mendadak akibat gangguan pernapasan.

Pehriad memiliki ahli waris bernama Apullus. Keramaian ide dan penemuan di Yunani ditinggalkan Apullus. Pada masa berbeda, ia memilih tinggal di Roma. Jasa sang bapak mendapat pengakuan dari penguasa di Roma. Apullus berhak menjadi penerima keuntungan dan mewarisi hak cipta.

JCT Simorangkir di buku berjudul Hak Tjipta Atas Semua Hasil Tjiptaan (1961) mengisahkan: “Hak tjipta daripada Apullus sebagai ahli waris daripada bapanja diakui, didaftarkan, dan diberi penghargaan.” Konsekuensi dari pengakuan oleh penguasa dan hukum: “Maka untuk tiap perbanjakan, untuk tiap pemakaian, untuk tiap pengumuman daripada titik dan koma itu, Apullus mendapatkan honorarium sebagai akibat daripada pengakuan hak tjiptanja.”

Kita terpana dan menganggap cerita itu kemustahilan dari ribuan tahun silam. Titik dan koma menghasilkan kemonceran dan duit berkelimpahan. Semua bersumber ke pengakuan hak cipta. Penemuan dua tanda baca saja sudah mengubah tata kehidupan di dunia dan menempatkan tokoh di kehormatan tertinggi. Bermula dari Yunani dan Roma, kemustahilan itu mendapat pembenaran rasional.

Apullus tak termasuk rakus duit. Ia memutuskan mengadakan balas budi. Pendapatan dari honorarium titik diterima, tetapi honorarium untuk koma diberikan pada pemerintah di Roma. Cerita itu pernah diadakan dan tersebar selama ribuan demi penguatan hak cipta.

Kita tak ingin berpusing dengan hak cipta. Urusan titik dan koma tak melulu duit. Di kalangan pengarang, titik dan koma adalah tanda baca mustahil dihindari dalam kebahasaan modern. Tulisan-tulisan selalu bertitik dan berkoma dengan maksud gampang mendapatkan kepahaman dari pembaca.

Titik dan koma pun permainan makna di tulisan jika diselenggarakan oleh pujangga. Penulisan dan penempatan titik dan koma berhak membelok dari pembakuan tata bahasa atau kepatutan dalam ilmu tulisan modern. Titik dan koma adalah penglihatan, estetika, ideologi, nalar, dan keisengan.

Dulu, titik ingin diwajibkan adalah tanda baca. Di Kitab Arti Logat Melajoe (1914) susunan D Iken dan E Harahap, titik mendapatkan imbuhan pengertian. Titik berarti noktah. Bertitik adalah bertitis. Sekian ungkapan mengandung titik dimunculkan ke pembaca. Titik emboen berarti emboen bertitis. Titik lidah mengandung arti perkataan jang baik dan beroentoeng dari orang besar. Titik selera adalah air jang keloear dari moeloet sambil melihat (mentjioem) makanan jang disoekai. Kitab itu tak pernah mencantumkan penjelasan bahwa titik itu tanda baca ditaruh di akhir kalimat.

Pada abad XX, titik dan koma malah mendapatkan godaan dalam permainan sastra oleh para pengarang ampuh. Di kesusastraan Amerika Latin, Gabriel Garcia Marquez mencipta kepusingan kolosal melalui novel berjudul Tumbangnya Seorang Diktator.

Novel itu berpesta koma ketimbang titik. Pembaca dipaksa letih dan terkejut. Napas pembaca digoda dengan kalimat unik dalam mempermainkan tanda baca: koma dan titik. Pada satu kalimat dicetak puluhan halaman, Gabriel Garcia Marquez sengaja menggunakan ratusan koma dan titik cuma satu. Pembaca dituntun melintasi koma demi koma sambil bernapas teratur menghindari mampus mendadak, sebelum sampai ke titik.

Ia menjadi raja koma. Penguasa koma membiarkan pembaca menabrak, melabrak, melompati, atau memeluk ratusan koma. Cerita ada di koma-koma, tak ingin mutlak bergantung pada titik.

Di Indonesia, novel Gabriel Garcia Marquez itu memiliki kemiripan dengan tata cara menulis Romo Mangun. Pengarang bekerja dengan koma dan titik, tak selalu sama jumlah. Ia termasuk pengarang paling boros koma dan menerima tuduhan pembuat kalimat beranak-cucu.

Novel demi novel digubah untuk disodorkan ke pembaca. Sodoran bergelimang koma ketimbang titik. Koma mengesahkan kepemilikan “anak-cucu” dalam mengadakan kalimat mengacu perasaan dan selebrasi imajinasi ketimbang mematuhi tata bahasa baku bahasa Indonesia dan ejaan disempurnakan. Tanda baca (titik dan koma) diloloskan dari pematuhan negara saat bernafsu mengurusi bahasa dan tanda baca untuk penciptaan seribu muslihat demi kekuasaan.

Di Indonesia, koma tak selalu berkencan dengan titik untuk menghasilkan kalimat-kalimat apik. Dua tanda baca itu kadang saling ejek atau diganggu kemesraan oleh para pujangga saat bertaruh pada larik dan bait. Puisi agak terhindar dari pemaksaan penggunaan secara baik dan benar untuk titik dan koma. Pembaca pun diharapkan maklum. Di luar tata bahasa baku dan puisi, koma adalah teater dan kesanggupan menghadapi penguasa. Kita mengenali Koma adalah kelompok teater, bukan pemuja tanda baca koma dalam pembuatan kalimat-kalimat tertib.

Kita diajak berkoma mengandung maksud hidup, bergerak, dan bergairah. Kita menunda, memperlambat, atau enggan ke titik berdalih estetika, iman, politik, adat, dan industri. Koma melanda dan titik menanti mendapatkan pemuja. Bermula dari Yunani, titik dan koma pada abad XXI masih ada meski memiliki perbedaan jumlah jemaah dan pemberian makna berlatar kebahasaan dan teknologi komunikasi mutakhir. Titik dan koma menolak sirna meski sempat menjadi cerita kemustahilan, ribuan tahun silam. Begitu. n

 

Bandung Mawardi, Kuncen Bilik Literasi.

Advertisements