Cerpen Dedy Kurniawan (Waspada, 07 Januari 2018)

Restu ilustrasi Denny Adil - Waspada
Restu ilustrasi Denny Adil/Waspada

DENTUMAN kembang api meledakkan ingatanku bahwa ayah sudah lama mengetahui kalau kami—aku dan Zul— memiliki hubungan khusus. Beberapa kali pula aku sadar akan siasat ayah untuk membelah cinta kami. Tapi aku tegar. Menunggu. Mengharap. Tentu aku tak ingin melanjutkan ke jenjang pernikahan dengan Zul tanpa restu ayah.

Untuk situasi seperti ini, aku menjadi lebih sering terkenang dengan ibu. Ya, perempuan yang selalu meneduhkan seluruh penghuni rumah ini. Ayah yang jika dilihat sekarang sangat galak dan tanpa am-pun, ketika ada ibu adalah sosok pria yang bersahaja. Tentu, kehilangan ibu sangat menyesakkan dada. Semua berubah ketika ibu telah pulang kepangkuan ilahi.

Zul paham betul, semenjak ibu mendadak pergi, pernikahan yang direncanakan harus mengubah jadwal. Semenjak itu pula malapetaka hadir. Restu ayah! Aku tentu tak ingin mengabaikan itu. Pernah beberapa kali Zul mencoba meraba hati ayah tanpa sepengetahuanku. Barangkali pula ia akan mendapat kunci untuk membuka gembok restu ayah.

Suatu pagi, Zul datang. Ketika baru memasuki halaman, Zul melihat sepeda motor tua yang sudah lama tak dikencani. Kursi goyang kosong tak berpenghuni persis di depan pintu agak menjorok ke kanan. Sementara dari ujung dapur aku menghirup aroma kopi.

Memang pagi itu udara sangat dingin. Matahari terus berusaha untuk menampakkan diri, menggeser lindungan awan. Zul sadar, ayah suka membaca koran. Suasana hatinya akan baik apabila tim sepak bola kesayangannya menang.

Pagi itu keadaannya demikian. Maka, waktu yang pas rasa Zul untuk mencoba meminta restu. Tapi apa yang didapatnya, hanya ledakan kemarahan ayah. Membuat Zul mundur dan pulang pagi itu. Meski Zul menjelaskan kepadaku bahwa ia melihat kesedihan di balik kemarahan ayah. Beberapa kali matanya tertumbuk ke tangan ayah seperti memegang tangan seseorang dan Zul yakin itu adalah ibu.

Kejadian itu bukan membuat surut semangat Zul. Ia malah semakin menggebu. Ombak-ombak di lautan hatinya kian bergelombang. Kapalkapal di kepalanya terus berlayar mencari tepian surga. Aku tak tinggal diam. Aku tak menyiakan semangat Zul.

Akhirnya suatu malam kujumpai ayah yang sedang duduk di sofa panjang sambil membaca buku. Kususun letak hatiku yang gemetar sambil mengatur kata-kata. Tapi setiap kali kususun kata-kata untuk memulai percakapan, kata-kata itu runtuh. Aku hanya duduk dan terdiam.

“Kenapa?” Ayah memulai. Tetap dangan mata mengarah ke buku yang dibaca.

Aku terdiam. Lidahku kelu. Seperti kata-kata yang sudah ditenggorokan tapi susah untuk dikeluarkan.

“Restu?” Sambung ayah sembil menoleh ke wajahku.

Aku makin terpaku dan termangu. Kenapa pula ayah yang memulai hal yang ingin kusampaikan. Debar. Hatiku berdebar.

“Kau tahu, daun yang gugur itu tak pernah sia-sia. Ada makna yang dapat dari situ. Ayah sudah kehilangan cinta. Dari ibumu. Ayah tak ingin pula anak satu-satunya meninggalkan ayah sebatangkara. Teronggok lalu membusuk di sudut rumah ini.” Ayah menutup buku. Kulihat matanya mulai basah. Rindu tak bisa dibendungnya kini.

“Itukah yang membuat restu ayah tertahan?” Jawabku sambil mengernyitkan dahi.

“Kalau kau menikah. Tentu kau akan ikut dengan suamimu?”

“Lantas, apa masalahnya, yah?”

“Zul…”

“Kenapa dengan Zul.”

“Dia bekerja di luar negeri. Tentu kau akan ke sana nanti.”

Astaga! Aku lupa perihal ini. Aku tersentak mendengar sebab muasal perkara restu tak tunai. Aku sadar kini, seberapa takutnya ayah kehilangan cintanya lagi. Aku menyesal atas pertengkaran-pertengkaran yang lalu dengan ayah. Semua karena cinta.

Pembicaraan itu terputus sampai di situ. Ketika ingin masuk ke kamar. Tangis ayah semakin menjadi. Tak bersuara memang, tapi aku merasakan sakit yang mendalam. Kuambil telepon genggamku. Kucari nama Zul di kontak. Kutelepon ia. Kuceritakan segala perbincangan tadi serta beberapa bulan sebelumnya. Semua. Tak ada yang luput diketahui Zul. Aku menyarankan Zul untuk dipindahkan ke Indonesia. Kalau bisa dekat dengan rumah ayah. Agar bisa setiap hari aku mengunjungi ayah. Sehingga restu ayah bisa diraih.

Zul mencoba melobi-lobi atasannya di sana. Memohon dan mengharap. Akhirnya setelah proses panjang dan melelahkan. Zul diizinkan pindah ke Indonesia. Tapi dengan posisi yang lebih rendah. Gaji yang tiga kali lipat turun dari gajinya di luar negeri.

Hal itu sedikit mengganggu, mengingat posisi Zul di luar negeri sangat bagus untuk karirnya. Tapi ia rela. Demi restu. Dan sekarang ia sudah berada di Indonesia dan bekerja di sini, tak jauh dari rumah.

Ia pun memberitahu aku tentang hal ini. Restu ayah sudah kukantongi beberapa menit sebelum ia memberi tahu aku. Aku terkejut dan girang. Ia terkejut dan pingsan setelah aku sampaikan ayah mengizinkan aku tinggal bersamanya di luar negeri.

 

Penulis adalah alumnus UMSU. Pegiat literasi di FOKUS UMSU.

Advertisements