Cerpen Azizi Sulung (Radar Surabaya, 07 Januari 2018)

Pocang ilustrasi Fajar - Radar Surabaya.jpg
Pocang ilustrasi Fajar /Radar Surabaya

Maria memilih berhenti bersolek. Dan melepas segala perhiasan yang menghiasi tubuhnya. Karena ia selalu dikejutkan dengan kesangsian perasaannya; cantik dan kaya hanya akan mendekatkannya pada maut. Sebagaimana keyakinan turun-temurun penduduk kampung Pocang.

***

Maria terbilang perempuan rupawan di kampungnya. Bahkan, seribu banding satu. Usianya belum terlalu dewasa, masih berkisar tujuh belas tahun. Tapi, orang-orang sudah begitu ramai membicarakan perihal kecantikannya. Karena boleh jadi, sepanjang usia kampung Pocang, masih Maria satu-satunya penduduk yang lahir dengan paras cantik lagi sempurna, tanpa ada cela sedikit pun.

Maria sangat jarang keluar rumah. Kedua orang tuanya sangat melarangnya. Tapi, Maria juga belum tahu, apa alasan kedua orang tuanya. Sesekali Maria mencoba memberanikan diri, nekat keluar rumah diam-diam. Namun, setelah kembali ia harus bersiap-siap melahap caci-maki.

“Bukannya ibu sudah ingatkan, kenapa masih keluar rumah?”

Bentak ibu Maria, geram.

“Apa salah Maria, kalau hanya keluar rumah, Bu?”

“Tidak ada alasan. Titik.” Ketus ibu Maria.

***

Di usianya yang masih tujuh belas tahun. Maklum, Maria hidup di pedalaman. Ia sudah memasuki dua tahun usia pernikahannya. Karena bagi penduduk kampung Pocang, menikah di atas usia lima belas tahun adalah menyalahi adat setempat. Bahkan, akan menjadi bahan gunjingan orang-orang di sekitar.

Itu terbukti terjadi pada Fatimah, tetangga dekat Maria. Hingga di usianya genap memasuki tiga puluh tahun, ia juga belum mendapatkan pendamping hidup. Boleh jadi, ia selamanya akan menjadi perawan. Bahkan, orang-orang menjuluki Fatimah sebagai perawan tua kampung Pocang.

Maria dan suaminya tak lagi hidup tinggal bersama kedua orang tuanya. Mereka memilih memisahkan diri. Walau sebenarnya apa yang dilakukan mereka tidak sesuai dengan kebiasaan turun-temurun keluarganya. Karena dalam tradisi keluarga Maria, anak cucu hingga tujuh turunan tidak boleh keluar dari pekarangan di mana ia dilahirkan. Sehingga kelak ia adalah pewaris satu-satunya tanah tempat kelahirannya.

Karena suami Maria adalah orang Jawa, ia berpatokan kepada tradisi yang berlaku dalam keluarganya. Di Jawa tidak ada ceritanya anak yang sudah menikah masih berkumpul dan hidup tinggal bersama orang tuanya.

“Umi menurut saja, bagaimana baiknya menurut Abi…,” putus Maria ketika suaminya menawarkan akan hidup tidak lagi bersama keluarga Maria.

***

Penduduk kampung Pocang secara ekonomi penduduknya bisa digolongkan pada tingkatan menengah ke bawah. Teramat sulit dijumpai warga dengan kekayaan yang melimpah. Apalagi dengan kekayaan semacam perhiasan, hewan piaraan, kendaraan, atau segala macam kekayaan lain yang bersifat harta. Paling tidak, kita hanya akan berjumpa dengan kebanyakan warga yang kondisinya sangat memprihatinkan. Rumah mereka yang terdiri dari bambu, tidak sedikit yang sudah sangat lapuk dan reot. Terkadang ada juga sebagaian warga yang menjadikan dapur sekaligus menjadi tempat tidur mereka.

Tapi, bagi penduduk kampung Pocang, kondisi menengah ke bawah secara ekonomi bukanlah suatu yang menjadi persoalan. Bahkan, bisa jadi itu adalah ciri penduduk kampung Pocang. Entahlah….

Sementara Maria dikaruniai jalan hidup yang sangat berbeda dari kebanyakan warga di kampung Pocang. Maria memiliki paras rupawan. Bahkan, seribu banding satu. Suaminya juga pengusaha sukses cabai jamu di kampung Pocang. Itu pun satu-satunya.

Masih setahun lebih Maria dan suaminya hidup memisahkan diri dari orang tuanya. Mereka sudah cukup dibilang sukses. Mereka sudah mampu membangun rumah. Punya beberapa mobil. Tentu saja Maria sebagai istri pengusaha, di tubuhnya juga dipenuhi dengan berbagai macam perhiasan. Maka apabila ditanya penduduk paling kaya kampung Pocang, tentu saja keluarga Maria jawabannya.

Pada suatu malam, tepatnya Selasa legi, suami Maria sedang memasok cabai jamu. Di rumah hanya Maria seorang diri. Beberapa hari itu, Maria memang kerap dihantui perasaan tidak sedap. Akibat mimpinya beberapa waktu lalu. Dalam mimpinya, Maria melihat seorang nenek yang sudah sangat tua. Tapi, parasnya seakan nyaris sama dengan paras Maria. Sangat cantiklah dalam ukuran penduduk kampung Pocang. Nenek tua itu juga mengenakan perhiasan sebagaimana saat itu Maria kenakan. Tapi, anehnya, nenek tua itu juga terlihat memegang sehelai kain kafan yang berlumuran darah. Maria tersentak, terbangun dari tidurnya.

Di luar terdengar derit pintu depan. Pertanda suami Maria sudah tiba di rumah. Maria melirik jam dinding, tepat pukul 04.00 dini hari. Rupanya sebentar lagi subuh akan segera bertandang.

Hingga pada perjamuan sarapan pagi suatu hari, Maria belum sempat menceritakan mimpinya pada suaminya. Apalagi kebetulan pagi itu, Maria terlalu hanyut terbawa dalam suasana cerita suaminya. Yang dalam perjalanan pulang suaminya kala itu hampir saja menabrak penjual bakso keliling saat mau melintas.

“Apa mungkin ada hubungannya dengan mimpi itu…?” firasat Maria.

Maria masih saja merahasiakan mimpi yang kerap menghantui perasaannya. Hingga tepat sebulan setelah kejadian itu, Maria kembali didatangi mimpi yang itu pun sama persis dengan mimpi yang sebelumnya.

“Berhati-hatilah Maria, maut sedang mengincarmu….”

Bicara nenek tua itu dalam mimpi Maria.

“Pergi, pergi, pergi!” igau Maria. Lantang.

Maria terbangun. Ia hanya menyudutkan diri ke tepi ranjang. Dalam pandangannya yang masih sedikit kabur, Maria berupaya memelototi jarum jam. Masih pukul 02.00 dini hari. Maria menghampirkan pandangannya ke sekitar. Pintu kamar Maria juga belum tertutup rapat, berarti suaminya juga belum datang. Maria hanya termangu, memanggul lutut, pikirannya masih pongah. Belum bisa ia kembali pejamkan mata. Masih sangat terbayang suara nenek tua itu dalam mimpi Maria.

Terdengar ketuk pintu begitu gegabah. Maria masih menyangsikan pendengarannya. Ketukan itu kembali lebih keras terdengar. Maria membuka pintu. Tidak ada orang. Maria mencoba mengitarkan pandangannya hingga ke pojok halaman. Tidak ada siapa-siapa. Maria kembali teringat perkataan nenek tua dalam mimpi Maria. “Berhati-hatilah Maria, maut sedang mengincarmu….”

“Apa mungkin ini ada hubungannya dengan mimpi itu…?” Maria masih mematung di pintu depan.

Terdengar dering ponsel Maria dari dalam kamar. Ternyata ada panggilan masuk. “Apa, bagaimana mungkin?”

“Bukannya, ayah baik-baik saja?” Ponsel Maria terjatuh dari genggamannya. Mendengar kabar kematian ayahnya yang begitu tiba-tiba. Bahkan tanpa penyebab yang jelas sebelumnya, tangis Maria pecah. Sembari dalam ingatannya begitu terbayang perkataan nenek tua itu dalam mimpinya. “Berhati-hatilah Maria, maut sedang mengincarmu…”

***

Suami Maria masih dalam perjalanan. Satu minggu itu, suami Maria belum bisa pulang ke rumah. Maria masih merahasiakan perihal mimpinya dan segala kejadian yang menimpa keluarganya pada suami Maria. Bahkan, satu minggu itu, Maria ditimpa dua musibah besar. Baru memasuki hari ketujuh dari kematian ibunya, ayah Maria juga menyusul dengan kematian yang kurang jelas penyebabnya.

Maria memasuki lima tahun usia pernikahannya. Ia belum juga dikaruniai buah hati. Kala itu Maria benar-benar dalam puncak kejayaan. Suaminya sudah bukan lagi dengan profesi pemasok. Tapi, ia sudah menjadi bos besar perusahan cabai jamu. Maria juga sudah dengan pola hidup bukan lagi ala penduduk kampung Pocang. Pada tubuhnya begitu terlihat berbagai perhiasan menghiasinya.

Tapi, lagi-lagi Maria selalu dikejutkan dengan mimpi yang sudah berulang kali mendatanginya. Maria mencoba berterus terang menceritakan perihal mimpi itu pada suami Maria. Tapi, suami Maria hanya mengiyakan dan mengangguk seakan dengan gestur tidak memercayainya.

“Apa semua kejadian yang menimpa keluarga kami ada hubungannya dengan mimpi itu, Kiai?”

Maria memaksa suaminya menemui salah satu tokoh kampung Pocang, dan menceritakan mimpi yang kerap mendatangi Maria.

“Bisa jadi. Kampung kita kena kutuk, Nak! Maka siapa yang terlahir dengan paras rupawan dan kaya raya, maut akan selalu mengincarnya….”

Menyimak pekataan kiai itu, Maria begitu ringis. Sesekali ucapan nenek tua dalam mimpinya menyelinap, “Berhati-hatilah Maria, karena maut sedang mengincarmu….”

Kiai itu mulai berkisah….

“Dulu, Nak. Di kampung Pocang ini, ada perempuan yang sangat cantik, dan suaminya seorang saudagar besar yang sering menjajakan jualannya hingga ke tanah Jawa. Ia bisa dibilang sukses, keluarga mereka kaya raya. Suatu hari, saat suaminya pulang dari perjalanan, suaminya menemukan puntung rokok berserakan di beranda depan rumahnya.”

“Semalam siapa bertamu ke rumah?”

Selidik suami itu pada istrinya. Dalam pikiran suaminya, pasti sudah ada lelaki yang bertamu ke rumahnya karena ada puntung rokok yang berserakan.

“Demi Allah, tidak ada siapa-siapa, Mas!”

Istrinya berupaya meyakinkan. Tapi, suaminya tetap tidak percaya.

“Kalau Mas belum percaya, silakan penggal leher saya, Mas. Jika darahnya harum, berarti saya tidak bersalah. Jika sebaliknya, maka saya doakan semua warga kampung ini yang terlahir dengan paras cantik dan kaya, maut akan mengincarnya….”

Suaminya sudah pada puncak kemarahannya. Ia melayangkan belati tepat di bagian dada istrinya yang kiri. Istrinya pun menghembuskan napas terakhir. Aroma darah istrinya semerbak beraroma melati, menyeruak hingga ruang terkecil kampung Pocang.

Mendengar kisah itu, Maria hanya menatap suaminya dengan pandangan kosong. Maria memutuskan memilih berhenti bersolek. Dan melepas segala perhiasan yang menghiasi tubuhnya. Karena ia selalu dikejutkan dengan kesangsian perasaannya; cantik dan kaya hanya akan mendekatkannya pada maut. Sebagaimana keyakinan turun-temurun penduduk kampung Pocang. (*)

 

Rumah Belimbing, 2017

 

Catatan:

Pocang, adalah nama salah satu kampung di desa Cangkreng, Lenteng, Sumenep Madura. Di kampung ini, sangat sulit menemukan penduduk kaya dan berparas cantik, karena keyakinan penduduk setempat, bagi yang kaya dan cantik akan didekatkan dengan kematian.

 

Penulis lahir di Sumenep, kini sedang menjalani proses di Pondok Pesantren Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep, Madura.

Advertisements