Cerpen Alimin Suprayitno (Suara Merdeka, 07 Januari 2018)

Pesona Farida ilustrasi Suara Merdeka.jpg
Pesona Farida ilustrasi Suara Merdeka

Surya tampak lelah di ufuk senja. Awan hitam berarak lambat penuh nestapa. Hati Farida gundah teringat pesan Whatsapp sang mertua ke telepon sang suami yang tak sengaja ia baca. “Cerai saja istrimu. Kamu anak tunggal kami. Kami rindu cucu. Mana ada wanita mandul pantas kaupertahankan!” Tak kuasa ia menahan air mata. Ya, wanita mana tak merindukan kehadiran buah cinta? Wanita mana rela jadi objek penderita jika penantian bersama tak kunjung tiba? Hatinya menjerit atas ketidakadilan dan vonis sepihak sang mertua.

Sungguh tidak adil jika semua menumpahkan kekecewaan pada dia dan memvonis dia wanita mandul tanpa pemeriksaan medis sedikit pun. Apakah mereka takut menerima kenyataan jika hasil analisis medis justru menohok Mas Jaka, sang suami, yang jelas anak tunggal?

“Apakah aku harus membuktikan dengan cara tersendiri pada mereka bahwa aku normal. Tidak mandul seperti tuduhan menyakitkan dari orang-orang yang kucintai dan kuhormati selama ini?” batin dia.

“Hei, Cantik, belum pulang ta?” sergapan sang sahabat di kantor mengenyakkan dia dari lamunan.

“Ah, Yuni, biasa deh, bikin kaget. Kucubit kamu. Ha-haha.”

Mereka pun larut dalam canda. Begitulah setiap hari ulah mereka sebagai sahabat.

Yuni Aura sahabat yang selalu menjadi bara semangat dia, baik di kantor maupun saat menumpahkan rasa. Jika sudah bersama, tak ada yang tak bisa mereka lakukan. Apa pun itu dan sebahaya apa pun.

“Mbak Yuni dan Mbak Farida ditunggu teman-teman dan atasan. Meeting akhir bulan segera dimulai,” suara datar Pak Agung menghentikan canda tawa mereka.

Keseriusan dan wajah tegang terpampang saat pemimpin menegaskan kalimat imperatif. “Capaian kinerja pendapatan kita triwulan pertama sangat mengecewakan, sangat jauh dari target. Kita malu pada UPPD lain yang berhasil mencapai, bahkan melampaui target. Saya sudah membuat konsep strategi. Silakan bawa pulang, pelajari dengan cermat dan beri masukan. Besok sore kita bahas usai waktu pelayanan.”

Sebagian besar personel galau dan bingung. Namun tidak bagi Farida. Itu kesempatan bagi dia berkreasi selagi pemimpin bersikap demokratis dan selalu terbuka menerima saran bawahan.

“Akan kutunjukan potensiku. Bagiku, dedikasi adalah harga diri dan aktualisasi diri!” Farida menyemangati diri sendiri.

Malam makin larut. Masukan dan saran sudah dia tulis dan siap dia ajukan besok. Itulah tiga langkah brilian yang cukup strategis. Begitu mudah dia membuat konsep dan memasukkan dalam tas kerja. Namun itu tak semudah dia memejamkan mata. Rasa kecewa pada mertua dan sikap dingin sang suami menghantarkan ingatan dia pada sosok lama yang pernah singgah di hati.

“Mas Resky, tunggu aku. Kaulah harapanku satu-satunya. Akan kubuktikan aku tidak mandul. Aku wanita sempurna.”

***

Resky agak gugup menerima Farida yang datang dengan binar mata yang sama ketika SMA. Mereka sama-sama membisu. Malam merayap. Perasaan lama terpendam. Resky pun terpana ketika akhirnya mendengarkan permintaan Farida.

“Mas Resky hanya kamu yang kupercaya. Aku yakin kamu bisa membantu aku membuktikan sebagai wanita normal dan tidak mandul. Ayolah, Mas. Meski cinta tak harus memiliki, bantulah aku,” pinta Farida.

Senyum manis dan binar mata Farida mendobrak hati Resky yang pada masa lalu ditolak ayah Farida. Kafe resto dengan lampu temaram dan pesona suasana kota di bawah kejauhan sana akhirnya membuat Resky meneguhkan rasa. “Baiklah, akan kupertimbangkan kapan dan di mana bisa kita lakukan. Saat suamimu dinas luar kota, nanti kuhubungi,” ujar Resky.

Farida tersenyum. Harapannya mengembang, menutup perjumpaan rahasia itu.

***

Kepala UPPD optimistis setelah membaca konsep Farida dan beberapa peserta rapat lain. “Dengan konsep Saudara, terutama Mbak Farida, soal apa yang akan kita jalankan selama tiga bulan ke depan, saya yakin kita akan mencapai target”, tegas dia.

Farida harap-harap cemas konsepnya bisa dijalankan dan mencapai tujuan.

***

Hari ketiga Jaka tugas luar kota tanpa kabar. Farida menatap sayu awan hitam. “Apa Mas Jaka mematuhi saran Ibu untuk mencari penggantiku?”

Dia terkesiap, seolah ada bayangan menakutkan di balik hujan. Hati Farida memanas. Dia menulis pesan via Whatsapp bagai tuntutan. “Mas Jaka, aku istrimu, aku mencintai dan menyayangimu. Kuserahkan kehidupanku untukmu. Ingat, Mas, aku bukan pemuas hasrat keluargamu, keinginan orangtuamu, bahkan dirimu. Kehadiran anak sebagai kebanggaan dan harga diri jangan kaubebankan hanya padaku. Terimalah aku sebagaimana janjimu untuk mencintaiku selamanya sebelum nikah dulu. Mas, jangan berpaling, jangan mengelak, jangan mendustai hanya karena kita belum mendapat anak. Sadarlah, Mas, jangan berlindung di balik tugasmu hingga tak pulang untuk menyembunyikan kekecewaanmu.”

Jaka terpenjara membaca pesan sang istri. Dia merasakan betapa berat beban hati istrinya. Di kota ini ada satu dokter ahli yang bisa membantu. Namun Jaka mengurungkan niat meminta bantuan, karena dialah pesaing utama saat memperebutkan Farida.

Jaka bergegas. Laporan akhir tugas luar kota dia selesaikan bagai kilat. Ingin dia mempersingkat perjalanan. Dia sangat paham tabiat sang istri. Tiada kata bisa meredam. Hanya pelukan yang bisa menenteramkan.

Jaka bertemu di peraduan dengan Farida. Tiada kata, tiada tanya. Kerinduan akan pelukan dan kemesraan membuat dia menutup pintu kamar. Sepasang burung lovebird yang biasa bercengkerama penuh cinta, malam itu tertunduk malu mendengar kegaduhan di kamar utama. Pagi berlalu. Kokok ayam membangunkan Jaka dan Farida yang tertidur berpelukan.

Dari balik tirai, embun fajar menyapa sempurna, seolah tiada sengketa.

Dua purnama sebelumnya, Resky memenuhi permintaan Farida. Semua berjalan sesuai dengan rencana. Di rumah besar dan mewah di kota itu, sangat besar dan kedap suara serasa dalam istana, Farida menikmati semuanya. Meski hanya semalam, kenikmatan itu semanis madu. Itulah pelepas dahaga dari Resky untuk sang pujaan hati.

***

Suasana di kantor pagi itu sangat berbeda dari tiga bulan sebelumnya. Dengan wajah berbinar, Kepala UPPD membuka rapat evaluasi triwulan. “Saudara-saudara, berkat kerja sama kita menerapkan strategi dan konsep Mbak Farida. Kita melampui target triwulan ini secara akumulatif. Saya mengapresiasi khususnya pada Mbak Farida. Ini kerja tim yang andal. Kita harus pertahankan dan tingkatkan lagi bulan depan.”

Mereka bangga. Yuni merangkul Farida dengan erat. Mereka mengangkat kedua tangan tanda bahagia.

Tujuh tahun berlalu. Namun kenangan itu meninggalkan tanda tanya bagi Farida. Ketiga anaknya kini menjadi perekat harmoni keluarga dan hubungan dengan mertua. Binar mata anak pertama selalu menghadirkan sosok Resky. Namun hanya Farida yang tahu dan merasakan. Bukan Jaka atau sang mertua. (44)

 

Alimin Suprayitno, pegawai negeri.

Advertisements