Puisi-puisi Kurnia Effendi (Padang Ekspres, 07 Januari 2018)

Bahnhof Brackwede ilustrasi Google.jpg
Bahnhof Brackwede ilustrasi Google

Pakhuis

 

1

Sejak 2013, gudang itu menjelma restoran

Ruang dengan lampu temaram

atau teras belakang dengan flora rambatan

 

Sebagian ilmuwan mampir untuk makan

Sepiring salad dengan ayam bakar

atau burger tebal berlapis keju kambing

Bir dingin dalam botol langsing

menggusah angin yang meragi matahari

 

Di depanku: Joss dan Frieda berbaku cakap

perihal pahlawan, dengan tafsir beragam

Aku tetap bersiteguh mencari Raden Saleh

dengan cara yang kutempuh

 

2

Pakhuis tentu berbeda dengan Pak Kumis

Ia tidak membakar sate atau meracik bakso

 

3

Kukunyah tebaran kacang: mete dan almond

Dari piring tembikar yang kini kosong

 

Leiden, 13 Juli 2017

 

Waterleidingduinen

 

Kepadamu, Amsterdam

Kusiapkan berjuta liter air minum

Sepanjang hari, bertahun-tahun

 

Bukit pasir ini telah rimbun menghijau

Ratusan kijang tamasya dan bebas bercanda

Beranak cucu tanpa ancaman

 

Kepadamu, Amsterdam

Kukirimkan berjuta liter air minum

Aman sungguh, tidak beracun

 

Membiarkan pohon tumbang di hutan

Agar kelak tumbuh banyak cendawan

Tapi belum saatnya menaruh induk macan

Agar seimbang mata rantai kehidupan

 

Zandvoort, 26 Juli 2017

 

Hoi

 

Para petani tak perlu menghitung hari

Zomer sudah berangkat setengah musim

Saatnya menggulung rumput kering

Untuk kudapan ternak kesayangan

Sepanjang winter nanti

 

Kini kuda lepas dari istal

Menikmati surya dan air tepi perigi

Sapi mewarnai kulit mereka

dengan khayalan pulau di seberang negeri

 

Tubuh sungai yang tenang

Telentang telanjang bagai siap bercinta

Lekas menumbuhkan aneka flora

Bagi peternak desa yang merindu kota

 

Hoi sudah disusun dan ditimbun

Serupa harta karun

Domba yang berbulu tebal

Tak hanya memerlukan bantal

 

Para petani menabung jalinan jerami

Di bawah cuaca dan tangkas jemari

 

Bergen op Zoom, 10 Agustus 2017

 

Sepanjang Witte de Withestraat

 

Akhirnya tiba di sini: sebuah jalan

yang tak kenal sunyi. Malam berdiang

pada api yang memenuhi mata.

Menari-nari

 

Sepasang kaki perlu diluruskan

dalam restoran yang sibuk

Menyeduh teh Cina di poci porselen

Warna kuning tak kunjung jadi cokelat

 

Setelah memesan menu nomor lima belas,

pembicaraan semakin berkelas

Tentang sejarah dua bangsa dan

kenangan yang tersisa

 

Empat mangkuk bakmi bebek terhidang

Kami seperti petani menghadapi ladang

Penat itu perlahan terlucut dari badan

Kesumat itu membuat mangkuk kembali perawan

 

Akan kuingat namamu, Hung Kee

Sebab serat lidahku menyimpan bumbu

Masakan yang mengobati rindu

pada tanah airku

 

Rotterdam, 22 Agustus 2017

 

Stasiun Brakwede

 

Kumasuki Jerman: kusentuh

dingin logam. Centrum menjadi

Zentrum sejak di perbatasan

 

Bis yang melata dari jauh

tak berkeringat setetes pun

Tiba tepat waktu: pukul 18.45

Dan udara sepakat menurunkan suhu

 

Disambut dua kafetaria: di halte

dan stasiun. Masing-masing memiliki

kopi di bawah citarasa sejati

 

Masih lima jam tempat yang kutuju

Setelah seluruh kilau langit redup

Ditukar sejumlah lampu

Roda besi kereta sesekali menderu

Bielefeld, 23 Agustus 2017

 

VOC – 1

 

Lambung kapal ini terbagi dua kasta

Para juragan dan bangsawan penggemar

kalkun panggang dan pekerja kasar dengan

keringat berikut debu yang melekat

 

Haluan membelah samudra berhari-hari

Nyanyian ombak membersitkan nada tualang,

Memperbesar nyala lampu yang ditangkap

puncak mercu suar

 

Roti terus dibikin, perapian selalu membara

Di gudang bertumpuk peti-peti lada, cengkih,

kayu manis, pala, dan kopi. Tong-tong bir

berlimpah untuk pelayaran yang panjang

 

Para mualim hanya tahu kapan layar digulung

atau dikembangkan. Mereka tuli terhadap

pembicaraan calon pengantin di kabin buritan

Sementara bulan cemerlang dan laut pasang

 

Dasar lambung kapal itu menghimpun hasil

jarahan. Berlayar dalam pesta pemburu harta

Suatu saat, bendera dagang itu berganti warna

Mereka datang angkat senjata

Den Haag, 27 Agustus 2017

 

Kurnia Effendi lahir di Tegal, 20 Oktober 1960. Menulis cerpen dan puisi di media massa sejak 1978. Telah menerbitkan 21 buku (puisi, cerpen, esai, novel, memoar). Kumpulan puisi tunggalnya: Kartunama Putih (1997), Mendaras Cahaya (2012), Senarai Persinggahan (2016), Hujan Kopi dan Ciuman (2017). Pada bulan Juli-Agustus 2017 mengikuti program residensi penulis dari Kemendikbud RI, memilih negeri Belanda untuk riset penggarapan novel tentang Raden Saleh.

Advertisements