Cerpen Feby Syafitri (Analisa, 07 Januari 2018)

Ombak Bercerita di Pesisir Pantai ilustrasi Renjaya Siahaan - Analisa
Ombak Bercerita di Pesisir Pantai ilustrasi Renjaya Siahaan/Analisa

KERINDUAN yang hanya tersambung dengan harapan dan kenangan saja, meletakkan segala hal yang begitu kusuka. Tiga sahabat di pesisir pantai, dulu, bersamamu aku menyukai pantai. Kamu dan pantai adalah dunia kita saat ini. Kini semua berbeda. Pantai tak lagi kita. Pantai tak lagi cinta menggabungkan persaudaraan. Meski di kepalaku ombak tetap saja mengingatkan tentangmu.

Bersamanya ombak yang melambai dengan indah, aku terlahir dari anak nelayan. Vidia adalah namaku. Keluargaku mencari mata pencariannya dengan mencari ikan di pantai.

Terbitnya sinar surya membawa para nelayan untuk mencari nafkah. Sejak kecil aku memiliki sahabat bernama Nur Fiya. Dia sangat sayang padaku. Dia berasal dari keluarga yang berkecukupan. Ayahnya memiliki usaha perkebunan teh di puncak Bogor. Dia selalu mengajakku untuk tetap kuat dengan anak yang hidup di pesisir pantai. Karena di sana ombak selalu mengajak kami dengan kebahagiaan sederhana.

Fiya sangat berkecukupan hidupnya. Di usia kami yang sudah menginjak usia 17 tahun, Fiya selalu memiliki kemewahan. Jika dia bermain ke rumahku, dia begitu senang bahkan bahagia sekali pada keluargaku.

Menjemput bintang bersama malam, aku yang hidup sangat sederhana. Bahkan aku sering main di pantai sambil mencari ikan, kerang atau apa pun itu yang bisa buat keluarga kumakan.

Setiap hari setelah pulang sekolah aku selalu ke pantai mencari ikan dengan perahu kecil. Hadiah dari Fiya dan Alex sahabat baikku. Semua yang kucari di pantai pasti untuk mendapatkan uang sebagai peganganku menabung.

“Ayah… Ibu ini Vidi dapat hasil tangkapan ikan dan udang. Ini bisa buat kita makan malam hari ini.” Ucapku main nyelonong masuk rumah dengan senangnya.

“Kamu ini kebiasaannya Nak, malu ada tamu di sini,” sahut ibuku sambil menepuk pundakku.

“Eh… ada Fiya, jadi malu ni.” Ujarku dengan malu.

“Ada perlu apa Fi? Kok datangnya enggak bilang-bilang ke aku.”

“Kedatanganku di sini adalah ingin merayakan hari ulang tahunku di rumah kamu, bersama keluargamu. Karena bundaku sibuk banget. Dia ada tugasnya di Jakarta. Lagi buka cabang resto baru. Maaf ya, aku enggak bilang terlebih dahulu sama kamu.” Ucap Fiya dengan senyum.

“Oh… gitu. Ya sudah enggak jadi masalah. Maafkan aku juga ya Fiya, aku enggak bisa kasih kamu hadiah yang mahal,aku cuman bisa kasih ini,hiasan dinding dengan kerangkerang cantik terukir namamu,” kataku dengan cepat memeluk sahabatnya itu.

Tiba-tiba, setelah Fiya meniup lilin, dia dikejutkan kehadiran Alex. Datang sengaja jauh-jauh memberikan kejutan indah buat sahabatnya. Memberikan sebuah selendang putih yang dia pakaikan di atas kepalanya Fiya.

Thank you so much Alex. Kalian sahabat terbaikku.” Ucap Fiya dengan meneteskan air mata dari kedua kelopak matanya.

“Cie…so sweet banget sih…!” sahutku sambil tersenyum.

***

Weekend ini aku sengaja bangun pagi seperti biasanya. Ibu menyiapkan ubi goreng sebagai menu sarapan favoritku. Tak lupa setampan kue yang harus aku dagangkan keliling kampung. Ibuku sangat pandai membuat kue. Apalagi makanan yang dia olah pasti hasilnya enak dan lezat. Selain ibu membuat kue untuk dijual. Ibuku juga menawarkan jasa laundry di rumah. Hitung-hitung menambah perekonomian di keluargaku.

“Ya sudah. Vidi berangkat dulu ya buk, takut kesiangan nih.” Ucapku sebelum pergi dagang dan mengucap salam berkah dari ibu.

“Kue… kue… rasa enak sangat lezat… mari dibeli…!” ucapku berulang-ulang sambil berjalan.

Mobil melewatiku dan berhenti. Keluarlah seseorang dari mobil mewah ini. Aku pun terkejut. Dia menghampiriku untuk memborong semua kue-kueku. Wah, ini sungguh berkat doa ibu, daganganku habis terjual.

“Mbak saya beli kuenya semuanya, bolehkan?” ucap pria itu dengan senyum manis.

“Hah… aa.. apa di borong kue dagangan saya? Oh, iya sebentar ya saya bungkus dulu.” Ucapku dengan girang.

“Eh…e… enggak usa Mbak. Mbak langsung ikut dengan saya naik mobil dan ikut saya ke rumah. Nenek saya lagi buat cara arisan di rumah.saya di suruh membeli kue-kue tradisional. Jadi saya ingin membeli semua kuekue ini, jika kamu mau ikut denganku.

“Iya… iya saya mau ikut ke rumah nenek kamu.” Sahutku dengan muka lesu.

Sesampai di rumah neneknya yang dekat kebun teh.

Assalamualaikum Nek!” ucap sang cucu yang bernama Yuga Anggara.

Masuklah aku ke dalam rumah pria misterius ini.

Waalaikumsalam Yuga, kamu sudah ketemu sama penjual kue tradisional keliling yang terkenal itu?”

Aku heran dengan kehadiranku diterima baik dengan kali-laki yang belum pernah ku kenal sebelumnya. Di sana aku disuruh bantu-bantu neneknya yang punya acara arisan di rumah. Neneknya ingin sekali menikmati hasil masakanku tadi. Ternyata neneknya sangat menyukai masakanku. Hati senang sekali dapat pujian seperti itu.

“Oh ya Nak,kamu tinggal dimana?” tanya nenek yang mengejutkan hatiku.

“Saya Vidi ,dan saya tinggal di pesisir pantai bersama keluarga kecil saya. Kedua orang tua saya bekerja sebagai nelayan kampung. Keluarga kami sangat sederhana dan kami juga berasal dari keluarga perekonomian ke bawah.” Jawabku sambil tersenyum.

“Oh iya. Ini bayaran kamu karena sudah membantu nenekku dan ini bayar kue-kue yang sudah kami beli.” Kata pria yang telah menenangkan hatiku.

Terima kasih aku ucapkan dan aku pun permisi pulang. Hasil yang sangat cukup banyak buat hari ini, setidaknya aku bisa menabung untuk membuka usaha setelah aku lulus sekolah.

“Alhamdulillah ya Allah, sungguh ini berkah sangat luar biasa.” Ucap ibuku setelah aku menceritakan kejadian dari pagi hingga senja.

***

Kelulusanku, Fiya dan Alex dibangku SMA membuat perpisahan teramat menyakitkan hatiku. Fiya dan Alex mengajakku ke pesisir pantai dan dia berkata padaku: “Vidi, sungguh aku bahagia telah mengenal kalian sejak lama. Bahkan aku tak ingin mengatakan hal ini kepada kamu Vi. Vidi, sebenarnya hati telah membawaku bersama ombak di pantai ini hingga sampai di pelabuhan.

Pasti kamu tidak mengerti apa yang aku ucapkan padamu. Aku telah mendapatkan kabar, mama dan papaku mengambil keputusan agar aku tinggal di Bogor bersama mama dan papaku. Bisnis orang tuaku ada masalah naik-turunnya dan tidak stabil hasil keuangannya. Dari itu, mereka menyuruhku untuk menyelidikinya. Tak ada pilihan lain, selain membahagiakan kedua orang tuaku. Kkeputusan yang sudah kuambil, aku harus berangkat ke Bogor membantu mereka.” kata Fiya sahabatku.

“Apa? Kenapa secepat ini Fiya?” sahutku dan Alex yang kaget mendengarnya.

“Maafkan aku Vidi, Alex. Aku sayang kalian. Aku harap kalian bisa menerima keputusanku. Mungkin ini adalah pertemuan terakhir kita, sahabatku. Ombak akan kembali bersama kita, hingga terlempar ke pesisir pantai terdekap di genggaman. Waktu membawakan senja, hingga datanglah pertemukan antara kita.” Sahut Fiya menangis teramat dalam dan memegang erat tangannya.

“Jika itu keputusanmu, aku dan Alex sudah siap menerima keputusanmu. Aku harap kamu tidak melupakan kami dan sering-sering main ke marinya Fi.” Ucap Alex yang sambil menuliskan nama di atas pasir putih,.

“Aku juga berharap masalah perekomonian kami dan Alex menjadi lebih baik lagi, setelah usaha papaku sudah stabil. Aku pasti akan sering main ke tempat ini. Aku pasti akau membantu kamu Vidi. Kita samasama bergenggaman tangan membuka usaha cake dan bakery di dekat pesisir pantai ini. Aku tak akan pernah melupakan sahabat terbaikku.” Sahut Fiya memeluk erat dan meninggalkan aku dan Alex.

***

Semenjak kepergian Fiya ke Bogor, Alex pun dapat panggilan kerja di kantor milik sahabat ayahnya di Yogyakarta. Sungguh beruntung sekali kedua sahabatku itu.

Aku harus berjuang dengan usaha laundry dan kue-kue yang aku jual di pesisir pantai. Alhamdulillah, aku bertemu dengan Yuga, pria yang kuanggap misterius telah mengajakku kerja sama membuka sebuah toko cemilan. Yuga benar-benar baik terhadapku dan keluargaku.

Ibuku yang telah mengajari masak, kini aku ada modal sangat cukup untuk membuka warung makan di dekat pesisir pantai. Tak berasa waktu telah berputar. Sampai kini aku masih sering berhadapan dengan pantai yang selalu membawakan cerita.

Kenangan tak dapat aku pungkiri. Sahabat-sabahatku sudah lama tidak datang ke tempat ini. Setiap senja,aku selalu menunggu di pesisir pantai kehadiran sahabatku. Kuharap suatu hati nanti mereka datang dengan membawa kebahagian di pesisir pantai ini yang mempunyai kenangan.

***

Di malam penuh berkah, aku berdiri menunggu senja. Menyambut hari kemenangan umat islam untuk merayakan hari idul fitri.

“Hm… sudah berujung waktu mereka tak datang menemuiku. Aku sangat merindukan kalian sahabatku.” Ucapku dengn teriak keras.

“Vidi… kami datang bersama senja yang membawakan kebahagiaan,” sahut mereka dengan jelas dari arah belakang tubuhku.

Sungguh pertemuan itu datang yang membawa ombak sampai ke pesisir pantai. Fiya dan Alex datang menemuiku. Kami merayakan malam kemenangan bersama.

“Aku sayang kalian sahabat terbaikku.” Kataku dalam hati.

Advertisements