Cerpen Mutia Nasution (Waspada, 07 Januari 2018)

Menantu Idaman ilustrasi Denny Adil - Waspada
Menantu Idaman ilustrasi Denny Adil/Waspada

MAMAK selalu berpesan agar Fadli mencari istri yang pandai memasak. Tidak perlu molek, asalkan pintar menggule. Tidak harus sesuku Batak, yang penting mahir menyeling menu. Tidak wajib berkarir tinggi, tetapi jago memuaskan lidah suami.

Amanat yang terdengar sederhana itu rupanya belum mampu ia tunaikan. Calon pendampingnya bukan sekadar tak paham cara mengolah, melainkan nyaris tak kenal segala rempah.

Kabar baik bagi Fadli dan bakal istrinya, Mamak sudi memberi restu. Beliau menyukai pribadi Muti yang bersahaja. Apalagi, gadis pilihan anak kesayangannya tersebut semanis pewara kuis di televisi. Mamak siap melatih menantunya kelak supaya terampil berkawan dengan api.

Dalam hitungan bulan, Muti resmi menyandang status sebagai Nyonya Briptu Fadli. Mereka tinggal seatap bersama Mamak usai mereguk candra madu di salah satu kota kecil nan tenang di Padangsidimpuan.

Bulan pertama, Mamak masih maklum prioritas Muti yang berseberangan. Jika Mamak lengket dengan kompor, Muti mesra dengan komputer. Kala Mamak sibuk mengurus belanjaan, Muti khusyuk mengelola bisnis online. Bila Mamak gemar menjajal resep masakan, Muti candu menulis artikel kesehatan. Sementara Mamak dekat dengan talenan, Muti akrab dengan telepon. Meskipun bukan pegawai, pekerjaan sambilan menantunya kerap menyita banyak waktu.

Belakangan Mamak lebih blak-blakan menegur Muti, terutama saat kepergok bermain ponsel. Saking seriusnya merespons pelanggan, ia acap melalaikan tugasnya di dapur. Alhasil keluhan Mamak mulai mampir di telinga.

“Besok lagi kalau masak jangan ditinggal ya, Mut. Bisa gosong,” sentil Mamak ketika Muti lupa mematikan kompor.

“Maaf, Mak. Tadi ada pembeli komplain, jadi harus cek segala macam.” Perempuan bertampang kanak-kanak itu langsung membenamkan ponsel ke dalam saku celananya. Entah berapa lama ia menelepon, berbagai gorengan sudah matang semua. Dilihatnya Mamak sedang menumis bumbu halus.

Suatu kali saat memasak bersama Mamak meminta bantuan Muti.

“Tolong ambilkan kecap, Mut.”

Muti segera membuka lemari gantung. Kontan ia bingung melihat deretan botol berisi cairan yang nyaris sewarna, pekat. Ia membatin satu per satu nama penyedap dalam lemari itu: kecap manis, kecap asin, kecap ikan, kecap inggris, saus tiram, saus teriyaki.

“Kecap yang mana, Mak?” tanyanya kemudian.

“Kalau Mamak bilang kecap saja, berarti yang ini lho, Mut.” Mamak menghampiri Muti seraya mengambil sebotol kecap manis.

“Ingat, kecap yang paling sering dipakai.” Tegas Mamak.

“Aku tahunya cuma kecap yang di tukang bakso, Mak,” ungkap Muti santai.

Mamak hanya meringis sambil menggelengkan kepala.

“Kalau aku sih cuma tahu makan,” timpal Fadli sekeluarnya dari kamar mandi. Tangannya merangkul Muti yang tengah menata penganan. Ia mencomot sepotong martabak telur, lalu mengunyahnya penuh kenikmatan.

“Kepuasan lidah juga bisa membuat suami betah di rumah,” demikian prinsip Mamak.

“Kata orang tua dulu, kalau habis nikah suaminya tambah gemuk, berarti istrinya pintar mengurusi.” Muti terkikih seketika menyaksikan Fadli menepuk perutnya yang kian tambun. Lelaki paling tampan di rumah tersebut selalu berhasil memulihkan suasana.

***

Sepekan sekali Mamak mengajak Muti berbelanja ke pasar tradisional. Ia mesti hafal semua lapak langganan Mamak. Sebut saja Uak penjual sayur mayur murah. Daging dan ikan segar tersedia di kios Ompung. Toko sembako milik Ucok nan lengkap. Kelontong Udak yang paling ujung. Tak ketinggalan pula daftar belanja kebutuhan sehari-hari. Lumayan bisa menghemat pengeluaran. Tidak heran, Mamak lebih senang memborong di pasar ketimbang di swalayan.

Menurut Mamak, supermarket lebih cocok untuk jalan dan jajan. Selanjutnya, mereka menyambangi kios penjual ayam yang tampak padat punya Pak Haji. Muti memerhatikan papan nama yang terpasang tepat di atasnya, “H. Thoyib: Jual Ayam Potong Halal”.

Para pembeli bersahutan sembari mendesak agar buru-buru dilayani. Pak Haji beserta istrinya malah menimpali dengan lelucon. Barangkali sebab keramahan itulah kaum Mamak rela menunggu lama dan mengabaikan bau anyir yang terus menyengat hidung.

Padahal, Pak Haji bukan satu-satunya bakul ayam potong di pasar itu. Bu, tukang ayam sebelah nggak antre panjang,” Muti mengusulkan. Kalau lazimnya ia manut saja tiap Mamak memilih tempat, kali ini sedikit berpendapat.

“Lebih terjamin beli di sini. Makanya selalu ramai,” sanggah Mamak. Alasannya karena Pak Haji senantiasa merapal doa sebelum mendebah ayam-ayamnya.

“Zaman sekarang mesti teliti kalau belanja. Halal haram itu penting.” Muti mengangguk sambil melengkungkan bibirnya pertanda setuju.

Seperempat jam kemudian, giliran Mamak mendapat satu ekor ayam kampung yang telah disembelih serta dicabuti bulunya. Pedagang bergelar haji tersebut dengan terampilnya mengayun pisau, merobek dan memotong ayam hingga sepuluh bagian. Seluruh jeroan dipisah ke dalam kantong plastik kecil. Mamak kerap menambahkan ceker dan kepala ayam favorit anak lanangnya.

“Kamu capek, Mut?” Tanya Mamak.

“Nggak apa-apa, Bu. Sekalian olahraga.” Jawab Muti.

“Kalau mau dimasakin atau masak sendiri bilang saja. Nggak usah malu.”

“Iya, Bu.” Tegas Muti.

Fadli itu doyan makan seperti almarhum Ayahnya. Kesukaannya gulai ikan mas. Nanti Mamak ajarkan cara bikinnya yang enak, ya.” Mamak tersenyum bak meminta Muti untuk segera pandai memasak.

Keduanya lekas beranjak dari satu kios ke kios lain tanpa lelah. Sesekali Mamak membisikkan wejangan pada mantu semata wayangnya: cara meladeni suami supaya makin cinta serta manajemen rumah tangga. Tidak terasa, empat kantong kresek besar penuh dengan aneka belanjaan.

***

Bila musim kawin tiba, Mamak sering menerima pesanan jasa boga. Masakan beliau terkenal lezat nan pas dengan selera si empunya hajat. Mamak biasa mengupahi beberapa tetangga untuk membantunya. Seharian meninggalkan rumah, terlebih jika ada undangan saudara, Mamak bisa menginap berhari-hari. Otomatis urusan pangan dipercayakan Muti sepenuhnya.

Dapur menjelma medan peperangan bagi Muti. Tergores pisau seakan jadi langganan. Menggoreng ikan sampai terciprat minyak panas pun pernah. Namun, berkat itu jua ia semakin lihai mengolah sajian sederhana. Menu andalannya tumisan. Kendati soal rasa tidak jauh-jauh dari hambar atau keasinan, Fadli tetap setia melahap masakan istrinya.

Muti selalu sukses menyiapkan sarapan dalam sekejap, sebelum Fadli berangkat kerja. Pagi ini Mamak tidak bisa membantunya karena kelelahan setelah masak besar di kampung sebelah. Ia sedikit ragu saat Mamak menengok pekerjaannya, sebab kondisi dapur masih berantakan. Beruntung ia telah rampung menata meja makan. Suaminya yang masih mengenakan seragam polisi kebanggaan keluarga mertuanya itu takjub serta merta menghadiahi tepukan tangan.

“Masak apa, Mut?” tanya Mamak seraya membenahi posisi kacamata.

“Nasi goreng, Bu,” jawab Muti sembari mengangkut peralatan kotor ke wastafel.

“Mamak langsung sarapan ya, kan mau minum obat.”

“Mamak sudah sembuh kok, cuma kecapekan. Ayo makan dulu. Nanti saja beresberesnya.”

“Ya, Bu.” Jawab Muti.

“Wah, mantap. Aku jadi lapar.” Fadli melongok sepinggan nasi goreng hangat bertabur irisan sosis dan ayam suwir.

“Kalau rasanya aneh, maklum ya, Bu,” tutur Muti sembari menarik kursi. Mamak mengamati satu demi satu hasil kreasi Muti.

“Ini sudah bagus tampilannya.”

“Siapa dulu kokinya,” sanjung Fadli. Tangannya mencentong nasi berikut telur dadar ke piring Mamak. Muti turut menambahkan acar dan kerupuk udang.

Suapan pertama berlangsung sekejap. Mamak bukanlah orang yang gampang memuji suatu hidangan sampai lidahnya merasa mapan. Fadli dan Muti saling berbalas lirikan mata. Mereka mulai deg-degan. Mamak tampak menahan komentar. Mulut beliau masih asyik mengunyah, sementara menantunya makin gelisah. Muti teringat ajang perlombaan di televisi, Mamak tak ubahnya juri yang siap menilai masakan peserta. Ia berharap komentar mertuanya kali ini tidak sepedas sambal tuk-tuk khas Mandailing kampung halamannya.

“Aromanya agak lain, tapi lumayan sedap.” Mamak memonten bak pembawa acara kuliner.

“Hmm… maknyus!” Kedua jempol Fadli malah ikut bergoyang, membuat Muti lantas memamerkan senyum polosnya. Hatinya lega luar biasa. Tidak sia-sia ia mempelajari bermacam varian nasi goreng lewat internet semalam suntuk.

Muti menuntaskan acara makannya lebih dulu. Ia seolah kenyang menyaksikan dua orang tersayangnya menyantap masakannya dengan begitu lahap. Tak biasanya ia seceria  itu ketika duduk satu meja bersama mertua.

“Nanti siang aku mau masak tumis daging paprika, Bu. Kebetulan masih ada stok daging di kulkas. Saking niat ngikutin resep, aku sampai keliling pasar cari kecap versi oriental.”

“Kecap oriental?” Tanya Mamak lalu balik menebak.

“Saus teriyaki?” Tanya Mamak menebak.

“Aku lupa namanya, Mak. Botolnya mirip kecap manis. Kata penjualnya bisa buat bumbu daging biar empuk. Nasi goreng juga tambah gurih dikasih itu.”

“Coba ambilkan, Sayang. Biar Mamak lihat,” pinta Fadli yang sejak tadi hanya menyimak obrolan kedua wanitanya.

“Sebentar.” Muti bangkit, kemudian mengambil sesuatu dari lemari gantung. Ia meletakkan sebotol kecap yang dimaksud di atas meja. Fadli dan Mamak serentak terbelalak saat mendapati label huruf Tiongkok yang melekat di botol beling bertutup merah tersebut.

Mamak berhenti menyendok nasi. Beliau refleks meletakkan sendok dan garpu. Kedua tangan kisutnya mengatup mulut yang hendak berdeham.

“Oh, ang ciu,” baca Muti lambat.

“Nama lainnya saus sari tapai. Di dapur belum ada kan, Bu?”

Dengan berat Fadli terpaksa menelan sisa makanan yang kadung melesat ke dalam kerongkongan. Muti menoleh bergantian pada Fadli serta Mamak yang langsung beranjak dari meja makan. Muti tampak bingung, tapi Fadli lebih bingung mencari alibi untuk membelanya.

“Kenapa sih, sayang? Apa yang salah?” Muti menagih jawaban sambil mengguncang lengan Fadli. Dahinya mengerut. Perasaannya kembali resah. Entah bagaimana ia menafsirkan raut Mamak yang mendadak berubah. Ia harap ada penjelasan usai segelas air putih tandas diteguk suaminya.

Fadli menggaruk kepala. Ia menilik hasil fermentasi beras ketan di hadapannya. Masih lekat dalam ingatan, betapa cerewetnya Mamak sewaktu batal makan di salah satu restaurant asing di plaza Padangsidimpuan. Lantaran tanpa sengaja melihat si tukang masak membubuhkan penyedap masakan itu, Mamak mengajaknya pulang.

“Ini arak merah, Sayang,” terang Fadli seraya mengusap kepala istrinya

***

 

Penulis adalah Mahasiswa Pasca Sarjana Semester 3, Ltbi Unimed.

Advertisements