Cerpen Mashdar Zaenal (Lampung Post, 07 Januari 2018)

Malam Sebuah Rumah Sakit ilustrasi Sugeng Riyadi - Lampung Post.jpg
Malam Sebuah Rumah Sakit ilustrasi Sugeng Riyadi/Lampung Post

Malam ini, saya terbaring lemas di sebuah sal rumah sakit. Hawa dingin bagai mengupas tiap inci pori kulit. Begitu hening. Begitu ganjil. Seakan-akan kehidupan menjadi sebuah ruang kosong yang telah lama ditinggalkan penghuninya. Tak ada tawa. Tak ada tangis. Tak ada tujuan. Dan sesuatu yang ada di balik yang nyata, tampak begitu dekat. Bagai menggeliat-geliat. Hingga putaran bumi terasa kian melamban, menampilkan adegan-adegan kehidupan yang tidak menarik sama sekali. Dan pada detik itu, satu-satunya hal yang menjadikan segalanya lebih baik adalah menyebut nama Tuhan.

***

Karena ruangan ini bukanlah ruangan berkelas, maka ranjang pasien yang satu dengan yang lain terserak begitu saja tanpa dinding pembatas. Tampak beberapa pasien mengerang lirih dan panjang, beberapa yang lain terbaring lunglai dengan mata rapat, sementara helaan napasnya terdengar sangat mengganggu, ngik… ngiiik. Bagai tambang kematian yang ditarik-ulur dari sebuah tempat yang tak kasat mata.

Beberapa keluarga pasien yang menunggui turut terlelap di sembarang tempat: tersandar di dinding dan meja, terkapar di bawah ranjang, beberapa terkantuk-kantuk di atas kursi plastik di samping ranjang pasien, kepalanya menunduk lunglai di bibir ranjang.

Aku menghela napas. Berat. Saat terbaring di rumah sakit begini, rasanya, hawa kematian telah begitu dekat. Bagai mengintai. Bila kematian itu terdapat dalam sebuah ruang tak terbatas dengan sebuah pintu, maka kami telah berjalan sampai di ambang pintu itu. Kemudian, sebuah tangan akan membukakan pintu itu, lantas mempersilahkan kami masuk. Dan ketika itulah, ketika kami menyeberangi pintu itu, sebenarnya kami tengah sekarat.

***

Di jantung sebuah dinding, jarum jam terus bergerak, menunjuk angka dua, dini hari. Dingin bertambah dingin. Hening bertambah hening. Ganjil semakin ganjil. Sayup-sayup, entah dari ruangan mana, terdengar suara seseorang menyiram air ke dalam kloset. Seorang pasien—perempuan tua—yang menggigil di sudut ruang tengah dibantu bangun oleh keluarganya untuk meneguk sebotol air putih. Lantas perlahan ia berbaring lagi. Berselimut lagi.

Entah musabab apa, malam ini rasanya begitu dingin, begitu hening, begitu ganjil. Tadi pagi seorang pasien—lelaki paruh baya—yang terkapar di ranjang tepat sebelah kiri saya dikabarkan telah meninggal dunia. Padahal sehari yang lalu, ia masih bercakap-cakap dengan saya. Ia mengaku demam biasa, tapi sudah dua hari demamnya tak juga reda. Kemudia ia periksa ke puskesmas. Kata perawat di puskesmas, ia terkena gejala tifus, sudah stadium mengkhawatirkan, hingga ia disarankan untuk periksa ke rumah sakit saja.

Setelah sampai rumah sakit, ia diperiksa kembali berdasarkan gejala-gejala yang ia rasakan. Dan dokter mengatakan, bahwa itu bukanlah tifus, tapi demam berdarah. Sebagai orang awam yang tak pernah meneliti jenis penyakit, ia pasrah saja.

Ketika saya masuk rumah sakit, hari pertama, lelaki paruh baya itu bercerita, bahwa ia sudah menginap hampir seminggu. Dan ia sama sekali tidak betah. Maka, pada hari itu pula—hari perkenalannya dengan saya—ia bersikeras untuk pulang. Katanya, di rumah atau di rumah sakit sama saja, sama-sama sakit. Sama-sama sakitnya mending ia sakit di rumah, tidak perlu bayar, katanya. Saya sempat tertawa simpul menyimak ceritanya.

Entah bagaimana cara ia meyakinkan dokter, kemarin malam, sekitar pukul tujuh, lelaki paruh baya itu berpamitan pada saya. Cepat sembuh, tuturnya sambil mengusap pundak saya. Saya hanya mengucapkan terima kasih. Setelah ia enyah dari hadapan saya, beberapa jam kemudian, seorang perawat menyampaikan kabar yang sekadarnya, bahwa lelaki paruh baya itu sekarang tengah dibawa ke UGD, katanya, ia ambruk di ruang administrasi saat hendak pulang. Dan tadi pagi, tiba-tiba ia sudah dikabarkan tidak ada.

Kematian memang begitu misterius, sama misteriusnya dengan kehidupan. Tak bisa ditebak ataupun direka-reka.

***

Malam masih utuh dalam heningnya. Mata saya masih menyala, menerawang langit-langit kamar yang berwarna putih bersih. Tiba-tiba warna langit-langit itu mengingatkan saya pada warna kafan. Warna yang selalu tulus. Mata saya terus saja mengerjap-ngerjap. Tak kuasa dipejamkan.

Siang tadi, seorang pasien baru datang dan menempati ranjang di sebelah kiri saya—ranjang yang semula ditempati lelaki paruh baya yang meninggal tadi pagi. Oh, di dunia ini kian banyak saja orang sakit. Pasien baru yang menempati ranjang di sebelah kiri saya adalah seorang pemuda yang sangat pemalu. Pertama kali bersitatap, ia hanya mengangguk dengan sedikit senyum. Selepas itu ia terbaring dan menutup mukannya dengan syal.

Melihat kondisinya tampaknya ia mengalami cedera yang parah di kaki sebelah kanan. Kaki sebelah kanannya penuh balutan perban. Ketika saya tanyakan, ia mengaku baru saja mengalami kecelakaan, dan kakinya dinyatakan patah. Entah musabab apa, sorenya ia digotong ke UGD, dan sampai detik ini tak ada kabar. Ranjang di sebelah kiri saya kembali kosong.

Mata saya terus melata, menelanjangi seisi ruang. Dalam ruangan ini ada sepuluh ranjang. Delapan terisi, dan dua (tepat di sebelah kiri dan kanan saya) kosong. Tiba-tiba saya kembali berpikir tentang kuasa Tuhan, bahwa manusia, ternyata, adalah sesosok makhluk yang sangat kecil dan rapuh. Sebentar-sebentar sakit, kepala pusing, tak bisa berjalan, tak enak makan. Sedikit-sedikit terluka, tersayat pisau, terantuk batu, tertubruk mobil. Dan tentu saja, selain kecil dan rapuh, manusia adalah makhluk paling lalai. Lalai menjaga kesehatan yang dianugerahkan sehingga ia terserang sakit. Lalai pada kehati-hatian hingga ia mudah sekali terluka. Begitulah tabiat manusia.

***

Malam kian hening, dan mata saya masih nanar menatap apa saja. Pikiran saya masih berpijar memikirkan apa saja. Di sudut ruang, tiba-tiba, seorang pasien—perempuan tua, menjerit-jerit, membangunkan seisi rumah sakit. Ia terus menjerit, ketakutan, matanya menengadah ke langit-langit, bagai menyaksikan sosok yang sangat besar. Keluarganya terus menerus-mengelus kepalanya dan beristigfar. Namun, perempuan tua itu masih saja menjerit-jerit, hingga seorang perawat datang, menyuntik lengannya perlahan. Beberapa saat kemudian, perempuan tua itu terbaring lunglai di atas ranjangnya.

Beberapa pasien yang turut terbangun kembali merebahkan badan mereka. Suasana kamar kembali menjadi tenang. Dingin. Hening. Dan ganjil. Beberapa jam berlalu, masih hening, hingga suara tangisan itu muncul dari sudut ruang. Pasien perempuan—yang beberapa jam lalu menjerit-jerit, kini sudah tiada. Beberapa perawat datang dengan ranjang beroda, beberapa orang membopong jasad perempuan itu ke atas ranjang dan menutupinya dengan kafan. Suara tangisan dari keluarganya masih saja membahana, bagai mata pisau yang mencacah keheningan.

Ranjang jenazah itu melintas di hadapan saya. Suara rodanya berdecit-decit bagai jeritan tertahan. Selintas, kafan yang menutupi jasad perempuan itu tersingkap diterpa angin. Dari balik kain yang tersingkap itu, sepasang mata mendelik menatap saya. Seketika itu saya terdiam. ***

 

Malang, 2012

Advertisements