Cerpen Krismarliyanti (Republika, 07 Januari 2018)

Mahar yang Tertinggal ilustrasi Da'an Yahya - Republika.jpg
Mahar yang Tertinggal ilustrasi Da’an Yahya/Republika

(HABIS)

Air mata terus mengalir seperti hujan diluar sana. Aku kecewa ketika menyadari perasaan ini tersimpan lama dan berbalas. Meskipun balasan yang terungkap sangat terlambat. Kututup telepon dan kucoba menahan sedihku. Kulangkahkan kakiku ke kamar mandi untuk mebasuh wajah dan airmataku. Aku tidak mau temna kerja memepertanyakan keadaanku atau curiga dengan airmataku.

Kilatan halilintar saling bergantian. Suara Guntur terus bergemuruh. Awan hitam semakin pekat. Bergulung dan bergerak. Hatiku hancur dan tersayat. Tiba-tiba HP-ku bergetar. SMS. Kamu tidak pernah tahu Airin, aku berusaha keras untuk mutasi ke kota ini. Hanya untuk bisa berdekatan denganmu.Wa laupun terlambat, ijinkan aku mengatakan cinta ini untukmu. Tolong simpan di hatimu semua kenangan kita.

Sebuah pesan singkat yang semakin membuat air mataku deras. Rentetan kalimat yang menghentakkan bawah sadarku bahwa aku hanya mencintai dia. Dan perasaanku terhadap Mas Hemi hanya rasa hormat terhadap semua kebaikannya. Selain itu, aku tidak mau membuat ibu dan bapak kecewa.

Tanpa rasa bersalah sedikit pun, Ardi masih berani mengunjungi kami walaupun sudah jelas aku meminta dia pergi dan tidak mengganggu kami. Tetapi dengan alasan silaturahi, dia masih saja bertandang sesekali ke rumah ibu.

Untuk menghindari kecurigaan suami dan orang tuaku, aku berusaha bersikap normal ketika Ardi masih saja berkunjung ke rumah ibu. Ibu pun sangat senang menerima kehadirannya, “Ardi itu sudah ibu anggap anak ibu sendiri. Lagi pula dulu bapaknya Ardi sangat baik sama kamu ‘Rin,” itulah alasan ibu ketika kutanyakan perihal undangan makan malam untuk Ardi.

Rupanya kejutan dari Ardi belum juga berakhir. Entah apa maksudnya, dia terus merepotkanku dengan permintaan gila dan tidak masuk akal. Dan aku sendiri seperti terkena guna-guna yang hanya mampu mengiyakan permintaannya.

“Kamu gila!”

Please ‘Rin. Aku harus minta tolong sama siapa lagi?”

“Kenapa tidak minta calon istrimu yang memilihkan?”

“Kamu satu-satunya sahabat perempuan yang aku punya ‘Rin.”

“Sahabat”, dengusku. Enak saja kamu bilang sahabat setelah dengan lantang mengatakan cinta kepadaku dan sekarang kamu meminta aku memilih baju pengantinmu. Kamu tidak punya hati Ardi, aku terus membatin dan menggerutu.

Dengan dalih tidak mau dianggap sebagai perempuan cengeng pengemis cinta, aku ikuti kemauannya. Senyumku tetap mengembang. Tidak kuijinkan sedikit Ardi mengetahui bagaiman luka hati ini menggerogoti hari-hariku.

Kebetulan pula, hari itu Mas Hemi sedang pergi keluar kota. Tidak pernah sekali pun aku pergi tanpa memberitahunya. Termasuk sore itu. Di hati kecilku, aku tetap tidak mau menyakiti perasaan suami yang telah kutitipkan mimpi dan masa depanku.

“Sebagai sahabat, Ardi. Jangan kamu berpikir aneh-aneh.”

“Ya, sebagai sahabat terbaik, Airin. Aku jemput kamu nanti sore.”

Jadilah sore itu menjadi pertarungan batin yang cukup hebat bagiku. Kuhirup napas dalam-dalam ketika Mas Hemi mengatakan untuk membantu Ardi membeli jas terbaik untuk hari istimewanya, “Aku juga dulu minta tolong ibu untuk pilih jas pernikahanku,” katanya dengan tawa yang terdengar hangat. Kurasakan dadaku tertohok cukup tajam. Aku sekali lagi tersakiti oleh kebaikan Mas Hemi yang selalu memahamiku. Bukan sekali ini saja aku menangisi ketulusan dan kebaikan laki-laki yang telah mendampingikku beberapa tahun terakhir ini.

Duduk bersebelahan dengannya mengingat kanku pagi terakhir ketika aku mengantarnya ke stasiun. Yang berbeda adalah rasaku. Saat itu aku sedih dengan seribu harapan sedangkan saat ini adalah nestapa yang diliputi rasa perih dan sesal. Perjalanan singkat sore itu terasa sangat perih dan sunyi. Kulirik Ardi diam-diam. Tidak ada yang berubah dari dirinya. Masih berkulit bersih dan bermata coklat.

Hujan masih deras. Aku memilih diam dan menatap rintik hujan yang berjatuhan tanpa lelah. Sore yang kelabu seperti hatiku yang digelayuti awan hitam masa lalu. Tibalah kami di sebuah mall terbesar di kota Bandung. Dulu mall ini belum ada ketika kami mengukir kenangan, beberapa tahun lalu. Gedung yang begitu megah dan semarak. Keriangan perayaan natal dan tahun baru menambah suasana semakin meriah.

Tetapi buatku, lantai yang aku pijak adalah medan pertempuran batinku. Aku harus berperan sebagai sahabat Ardi. Dan tugasku memilihkan baju pengantinnya. Terpaksa senyum kusunggingkan ketika Ardi sibuk bertanya tentan pilihannya. Dan akhirnya penderitaanku berakhir ketika dia berkata, “Aku ambil yang ini saja.”

Buru-buru aku seret langkahnya untuk segera pulang. “Biyan menungguku ‘Di,” lalu kemudian, Ardi tiba-tiba berhenti dan menahanku. Dia menunjuk sebuah toko perhiasan yang terlihat cukup mewah.

“Rin, ini permohonan terakhirku. Setelah itu, aku tidak akan memintamu lagi.”

“Apalagi Ardi?” Sungguh aku tidak mengerti apa yang ada dikepalanya. Tidakkah dia mengerti bahwa saat ini dadaku bergemuruh menahan sedih dan kecewa.

“Lihat toko disana, aku mau beli cincin.”

“Kamu, kenapa lakukan semua ini kepadaku?” Airmata mengalir deras membasahi pipiku. Sungguh tidak punya perasaan, setelah jas lalu sekarang dia memintaku memilih mas kawin.

“Terakhir Rin. Janji. Setelah itu akan pergi.” Tidak kupedulikan lagi hati yang terluka. Kuseret langkahku megikutinya. Kepalang semua sudah terjadi dan aku kuat,gumamku.

Cincin dengan ukiran berbentuk kelopak melati yang sangat cantik dengan berlian di tengahnya. Semakin megah dengan warna rose gold, warna kesukaanku. Tanpa aku sadari, senyum bahagia tersunging di wajahku. Rose gold, warna yang selalu membuatkku tersenyum. Entah kapan dan bagaiman awalnya, aku hanya mencintai warna ini.

Sore ini, seminggu sebelum pernikahannya. Dia tiba-tiba saja menelponku dan panik. Mas kawinnya tertinggal sementara dia sudah terbang jauh ke Medan sana. Dia memintaku untuk mengambilnya. Begitu saja, terdengar tanpa beban.

Aku masih terpaku sejak kututup telepon dari Ardi. Tuhan, apalagi ini? Drama apalagi yang harus aku perankan. Dadaku terhimpit sembilu yang tidak pernah aku sangka. Bawa dia pergi jauh dariku Tuhan. Aku hanya ingin bahagia, biarkan kami bahagia dengan jalan kami.

Doa pun terus aku gumamkan sepanjang perjalanan menuju apartmennya. Aku ambil dan besok aku kirim lalu selesai sudah kisah konyol ini, batinku. Perlahan kubuka pintu apartemn dengan kunci yang telah Ardi titipkan di resepsionis.

Ruangan yang tidak begitu besar itu tampak sangat rapih dan kosong. Hanya furniture seperlunya saja yang tersisa. Tidak ada yang mencuri perhatian sama sekali di ruangan ini. Sungguh berbeda dengan selera Ardi yang suka sekali dengan lukisan dan pernak-pernik unik.

Tiba-tiba perhatianku teralih ke atas meja kerja yang sangat rapih. Ada satu bungkusan berwarna merah hati dengan pita berwarna emas. Hanya benda ini satu-satunya ayang mencuri perhatianku. Di sampingnya tergeletak surat tanpa amplop dengan warna kesukaanku. Dengan tulisan yang besar, tertera UNTUK AIRIN.

Airin. Maaflan aku yang tidak pernah mampu mengucapkan ini. Bertahun aku simpan rasa cinta dan rindu ini hanya untukmu. Hatiku hancur ketika aku mendengar ijab kabul pagi itu. Ya, aku datang ke pernikahanmu dan bersembunyi di antara kerumun undangan. Cincin ini adalah maharku untukmu. Mahar yang tertinggal, tetapi melalui mahar ini aku serahkan cinta suciku untukmu, walaupun terlambat. Aku mencintaimu Airin, seperti malam mencintai rembulan. Simpanlah rose gold kesukaanmu di mana pun kamu mau, tetapi tolong ukirlah kenangan kita dalam hatimu.

Kutasbihkan selalu namamu dalam doaku. Maaafkan aku yang telah mencintaimu. Dan bisikkan maafku pada suamimu karena telah memujamu. Bahagia selalu, Airin. Dan terima kasih untuk empat minggu yang indah ini.

O ya satu lagi Airin, maafkan aku. Karena pernikahan itu tidak ada. Aku hanya ingin menikmati waktu bersamamu. Sekarang aku tahu, aku sangat bahagia ketika kita memilih baju dan mas kawin ini. Semua ini untuk pernikahan kita. Pernikahan kita dalam alam khayal dan harapku.

Memang gila. Tetapi cinta ini telah membuatku hilang akal. Seperti janjiku, aku tidak akan mengganggumu lagi. Aku akan pergi dengan mebawa semua kenangan kita. Airin, istri impianku, saat kau baca surat ini aku sudah pergi jauh ke tempat yang selalu kamu inginkan. Mencintaimu adalah sebuah episode tersuci yang telah aku bekukan. Bahkan matahari pun tidak mampu mencurinya.

Kuremas kertas berwarna biru muda itu layaknya aku meremas mimpi tentangnya. Hujan semakin deras, begitu pun airmataku. Suara rintik hujan yang menjatuhi kaca jendela pun seperti ribuan pisau yang menghujam jantungku. Tubuhku menggeletar menahan semua sesak dan sakit yang telah merasuki pembuluh darahku. Cinta yang selama ini aku simpan rapih telah terluka tanpa pernah mekar dan berkembang. Tidak ada yang tersisa dalam kisah kami berdua, hanya cincin berukir melati berbungkus kain beludru merah hati.

Episode singkat kisah hidupku yang telah membuatku sadar tentang cinta dan takdir. Potongan puzzle kehidupan yang menggiringku kepada arti sebuah perjuangan dan ketulusan.

Aku memang tidak ditakdirkan untuk bersamanya, tetapi Tuhan mengirimkan Mas Hemi sebagai suami yang penuh pengertian. Terima kasih Tuhan, Engkau berika aku cinta tanpa syarat dan menguat kan hatiku untuk tetap bertahan dalam bahtera rumah tanggaku. Cinta tidak selalu tentang kebersamaan. Tetapi cinta adalah melepaskan kenangan dalam diam. Lalu mengukir rasa dalam doa.

 

KRISMARLIYANTI

adalah seorang penulis yang lahir di Rangkasbitung, Banten. Hobi membaca dimulai sejak sekolah dasar dan mulai menulis dari tahun 2000. Dunia seni sudah dikenalnya sejak usia remaja dan menjalani serius dunia teater ketika kuliah di Yogyakarta. Mulai menulis dengan naskah drama lalu kemudian tertarik menulis puisi. Salah satunya puisinya sudah dimuat di buku Medan Puisi, antologi puisi Sempena the 1st International poetry Gathering yang diadakan di Medan pada tahun 2007. Buku kumpulan puisinya yang berjudul Poetry Anthology Lentera, telah terbit pada tahun 2016. Selain menulis, Krismarliyanti pun seorang perupa. Hasil karyanya telah dijadikan sebagai cover dan ilustrasi di buku antologi pertamanya. Beberapa karya tulis dan lukisan serta drawing art dapat dinikmati di Fb : htttps://www.facebook.com/krisdonaldson; https://thelantern07.blogspot.co.id atau Instagram KrisDonaldson.

Advertisements