Cerpen Ahmad Afandi (Waspada, 07 Januari 2018)

Kuburan yang Basah ilustrasi Denny Adil - Waspada.jpg
Kuburan yang Basah ilustrasi Denny Adil/Waspada

SUDAH lama Ayah tak bersuara. Mulutnya terkunci tapi tiada satupun yang tahu cara membujuknya untuk bicara. Ayah selalu bungkam jika di tanya Ibu. Aku pun begitu, jika aku coba mengajak Ayah bicara, Ayah malah tersenyum dan mengelus kepalaku.

Dokter dan teman-temannya sudah kehabisan akal untuk membuat Ayah bicara. Seluruh obat-obatan sudah kubeli. Aku sangat menyayangi Ayah. Ibu juga begitu, dia selalu menyayangi dan mengurus Ayah dengan baik.

Sebenarnya dulu Ayah hanya mengidap penyakit diabetes ringan kata dokter. Namun semakin usianya yang bertambah Ayah tak lagi kuat menahan serangan penyakitnya. Akhirnya ayah masuk tingkat yang sudah parah, tidak bisa bicara lagi. Ibu dan aku yang hidup di dalam rumah reot ini tak punya banyak pilihan kecuali mengandalkan kartu jaminan kesehatan dari Pak Lurah, untuk mengobati Ayah. Alhamdulillah, selalu kuucapkan syukur di tengah cobaan yang menerpa keluarga kami.

“Yah, ini aku bawakan bubur, aku suapin ya?” Aku membujuk Ayah agar mau makan.

Ayah hanya mengangguk. Pertanda beliau ingin aku suapi hingga buburnya habis. Tubuh ayah sudah layu, kurus sekali. Aku sampai kasihan jika harus menggantikan pakaiannya, benar-benar kesusahan. Aku sangat yakin ayah di dalam hatinya juga berbicara, mengucap terima kasihnya kepada Ibu dan aku. Memohonkan maaf atas ketidakmampuannya menafkahi kami. Ayah sangatlah kuat, buktinya sudah satu tahun penuh ayah seperti ini, dan ayah tak pernah murung wajahnya. Seperti semangat yang tak pernah pudar tergambar jelas dari matanya.

“Bu, aku pamit pergi sekolah, aku titip ayah ya bu?”

“Iya nak, hati-hati ya sayang di jalan. Naik angkotnya jangan ugal-ugalan,” sahut Ibu dari kamar mandi sedang mencuci pakaian.

“Baik bu!”

Sesungguhnya aku selalu khawatir jika aku pergi ke sekolah, karena Ibu sudah aku pastikan tidak menjaga ayah sebaik aku yang menjaga. Karena ibu terlalu sibuk mengurus dapur dan bekerja untuk makan sehari-hari kami.

Aku tahu apa yang dirasakan Ayah ketika aku pergi, sepi dan sendiri. Beliau sering kulihat menghela nafas panjang ketika aku ingin melangkahkan kaki ke luar rumah. “Ayah sabarlah sebentar, biarkan anakmu menuntut ilmu dulu,” fikirku sambil melangkah menuju ke luar rumah.

Hari ini ulangan mata pelajaran fisika, salah satu bidang yang sangat aku sukai. Banyak rumus dan beberapa latihan soal sudah aku jawab di buku latihanku. Meskipun aku tidak bisa les privat seperti teman yang lain, aku cukup berprestasi. Semuanya adalah teruntuk Ayah, membuat Ayah selalu bangga dengan prestasi yang aku raih.

“Sebelum kita ujian, kalian isi surat perjanjian kehadiran orangtua dahulu!” Seru bu guru!

“Surat ini berisi mengenai panggilan kepada orangtua untuk membahas perkara biaya kelulusan tahun ini.” Sambungnya.

“Bu, bagaimana dengan aku? Pasti Ibu belum punya uang untuk berkas kelulusan yang tinggal 2 bulan lagi,” aku menjelaskan sembari mengacungkan tangan.

“Saya tidak mau tau, kamu harus melunasinya dan bawa orangtua kamu ke sekolah,” tegas Bu Guru.

Aku terdiam, tak bisa melawan karena Ibu selalu mengajarkan mengalah dengan orang yang lebih tua. Haruslah taat jika guru menjelaskan. Aku hanya termangu, berfikir dengan cara apa ibu membayarnya. Dan bagaimana Ibu datang ke sekolah sementara Ayah di rumah sendirian sedang sakit. Tidak ada sanak saudara di sekitar rumahku. Aku anak laki-laki satu-satunya, walaupun aku masih SMA kelas 3 aku ngerasa harus bertanggung jawab. Tidak mau meminta bantuan kakak kandungku di luar kota.

Waktu ujian tiba, semuanya duduk di dalam kelas. Aku sudah tak sabar menjawab soal fisika yang kugemari. Tiba-tiba Bu Risma, guru bahasa Indonesia mengatakan kami seluruh siswa harus melunasi semua biaya kelulusan dan membawa orang-tua pada hari itu juga.

Aku tersentak dan tak bisa berbuat apa-apa. Aku hanya berbicara pada Bu Risma untuk memberikan dispensasi kepadaku dikarenakan Ayahku yang sedang sakit. Namun beliau marah-marah malah, seperti Bu Darmi, wali kelasku. Sejujurnya hati ini sangatlah pedih menjadi orang miskin. Selalu dijengkali orang lain. Belum habis omelan Bu Risma kepadaku, terlihat Bu Darmi berdiri di depan pintu kelas.

“Assalamualaikum, Bu Risma, sini sebentar!” Bu Darmi memanggil.

“Iya bu, ada apa?”

“Oh, iya, iya baik bu,” Bu Risma nyeletuk lagi.

Entah apa isi percakapan mereka yang jelas setelah Bu Risma dipanggil Bu Darmi, mendadak aku disuruh membawa tas dan pulang. Bu Risma hanya mengatakan bahwa ada yang menjemputku dan aku disuruh untuk senantiasa semangat belajar. Aku jadi bingung mengapa aku disuruh pulang, padahal semua murid juga sudah berkumpul kembali di kelas.

Aku melihat Bang Wahyu, tetanggaku berdiri di pagar sekolah. Aku menanyakan sebenarnya ada apa sehingga aku harus dijemput.

“Sudah ikut saja,” ucap Bang Wahyu.

Aku menuruti kemauannya. Aku dan Bang Wahyu melewati rumahku. Aku sempat berteriak dan menyadarkan Bang Wahyu karena kami kelewatan. Namun dia hanya bersuara “kita mau ke sana”. Aku terus bertanyatanya dalam hati. Padahal aku harus ujian, aku juga belum makan siang. Aku terlelap di tubuh Bang Wahyu.

Sampai aku bangun aku sudah berada di sebuah rumah mewah yang tidak asing bagiku. Ternyata itu rumah Kak Dita, kakak kandungku. Aku sudah melihat sebuah jenazah dibalut kain kafan. Aku tak bisa bicara. Aku terpaku dalam pijakanku. Sedikitpun tiada bergerak. Kuhampiri dan kupastikan itu bukan Ayah, ternyata aku salah. Jenazah itu Ayah. Aku memandangi senyum wajahnya bersama raungan Ibu. Ibu meminta maaf padaku. Aku menangis sejadi-jadinya. Air mataku luruh bersama kepedihanku yang semakin tak terbendung.

“Sudahlah, jangan terus kau tangisi, ayo pulang! Sudah 3 jam kau menangisi Ayah di kuburan itu. Ibumu juga masih pingsan di rumah Kak Dita. Apa kau tega terus-terusan begini?” Ucap Bang Wahyu menepukku.

Aku tersadar tiba-tiba dari kuburan yang basah akibat air mataku. Ya, benar! Ayah memang sudah tidak ada. Aku pulang meninggalkan kuburan itu.

 

* Penulis adalah mahasiswa, pegiat literasi di komunitas Fokus UMSU.

Advertisements