Cerpen Adi Zamzam (Banjarmasin Post, 07 Januari 2018)

Kepergian Hujan ilustrasi Rizali Rahman - Banjarmasin Post Group.jpg
Kepergian Hujan ilustrasi Rizali Rahman/Banjarmasin Post Group

Pagi itu hujan datang lagi. Langit mengantarkannya dengan keredupan yang merata. Suasana sempurna untuk membangunkan kesedihan-kesedihan yang hampir terlupa.

Dingin membuatnya terpaku sejenak. Kedua matanya menemukan tumpukan buku yang semalaman telah membuatnya terjaga. Ia atur pernapasan, hingga hangat mulai menjalar dari dada. Kedua matanya memejam saat ia merasa ada yang memeluknya dari belakang. Menebarkan hangat yang lebih ke sekujur tubuh. Namun ia harus lekas-lekas mengusir bayangan itu. Ia tak mau harinya dimulai dengan rasa sakit dipermainkan kenangan.

Ketukan pintu terdengar lagi. Seorang hujan ia dapatl telah menggigil di sana.

“Kau, dari mana saja?” tanyanya ketika melihat hujan yang mulai bisa mengalahkan gigil. Suasana ruang tamu terlihat remang.

“Dari keliling kota.”

“Oya?”

“Seperti permintaanmu kemarin. Aku bawakan banyak catatan untukmu. Dari jalan-jalan beceknya, perumahan kumuhnya, tempat-tempat hiburannya, anak-anak jalanannya, dari orang-orang yang kesepian, dari orang-orang pentingnya…”

Hujan terus saja riuh bercerita di sela-sela ia mencuci baju, menanak nasi, dan lalu membereskan dapur. Sampai cerita-cerita itu penuh menggenangi kepala, membuatnya tak betah lagi menyelesaikan pekerjaan. Ingin segera mengurung diri dalam kamar. Hingga ia bisa dengan khusyuk membaui semua yang telah dibawakan hujan ke dalam kamar.

Dulu, ia takkan rela kesenangan yang seperti ini diganggu.

“Kenapa? Bukankah sekarang aku telah memiliki hak atas sebagian waktumu?” ujar perempuan itu, dengan nada manja.

Ia pun menjelaskan bahwa dia boleh saja menculiknya, pada saat makan bersama, cuci baju, mendengarkan radio (ia tak punya televisi lantaran tak suka), atau terutama saat di atas pembaringan. Tapi perempuan itu justru semakin tak paham dan mulai membanding-bandingkan dirinya dengan lelaki lain.

Padahal sudah sejak awal perkenalan ia pernah bilang, bahwa dirinya tidaklah seperti kebanyakan orang. Bahkan lantaran sifat itulah ia lebih senang memilih tinggal di rumah ini, rumah paklik yang ditinggal merantau ke Kalimantan, yang letaknya jauh dari keluarga besar. Jauh dari jangkauan mulut orang-orang.

“Mengapa kau memilih sesuatu yang hasilnya bahkan tak cukup untuk membuatmu hidup layak?” perempuan itu mendadak ingin masuk ke dalam dadanya. Melihat apa yang tersimpan di sana.

“Mengapa pula kau memilihku?” ia membalik pertanyaan itu.

“Karena aku mencintamu.” Sebuah jawaban yang sempat membuatnya melambung sejenak.

“Begitu pula aku. Aku mencintai apa-apa yang telah aku kerjakan, meskipun hasilnya tak berujung kekayaan. Aku menyukai bau kertas, aku menyukai kesunyian yang selama ini memberiku kesenangan tersendiri, aku menyukai petualanganku dalam alam imajinasi.”

“Kau mencintai sesuatu yang membuatmu terpuruk dalam kemiskinan. Dapat apa kau selama ini?”

Ia tersenyum mendengar pertanyaan itu. Merasa iba.

Perempuan itu mulai tak betah berlama-lama menemui mata yang hanya menyimpan sepi. Memang tak ada yang mampu membuat mata itu memancarkan gairah selain hanya buku-buku. Kadang ada terselip belas kasihan saat memikirkan mengapa perempuan itu dulu mau saja menerima pernyataan cintanya. Mereka berdua memaklumkan itu sebagai jodoh yang sudah diatur Tuhan. Sebuah dogma yang ia pergunakan untuk menyelamatkan perkawinan yang mulai terasa hambar. Pikiran semacam inilah yang kadang kemudian menyeretnya pada pikiran, mengapa ia tak mengasihani dirinya sendiri saja? Berapa lama ia sanggup bertahan?

***

Hujan masih berada di dalam kamarnya yang sepi. Menatap kosong lelangit kamar.

“Bagaimana kabarnya?” hujan menoleh, memulai percakapan.

Ia memijit-mijit pelipis. Merasai kesepian yang juga dirasai hujan.

“Bukankah seharusnya ia sudah pulang?” tanya hujan lagi.

Tak ada jawab. Ia malas menjawab pertanyaan yang sudah diketahui jawabannya. Ia tahu, bahwa ada yang sedang menertawakan nasibnya. Sejak kepergian perempuan itu, kedatangan hujan selalu berakhir dengan nyeri yang memusar dada.

“Jadi, kedatanganmu hanya ingin bilang, bahwa aku telah salah pilih jalan?” tanyanya, setelah jeda sepi yang lumayan panjang.

Sementara hujan beranjak pelan menyentuh semua penghuni kamar; beberapa kliping koran berpigura yang memenuhi dinding kamar, kalender, jam dinding, lemari kusam, beberapa pakaian yang tergantung pasrah di sisi lemari, tumpukan koran, meja yang serupa altar persembahan kepada sepi, dan terakhir jendela.

“Sesekali kau juga harus berpikir tentang dirimu sendiri. Dapat apa kau selama ini?” serang hujan lagi.

Ia merasa hujan tengah melemparkan jarum-jarum kecil ke dadanya. Nyeri. Meski kemudian ia bisa menyembuhkannya sendiri.

“Aku selalu merasa bahwa ide-ide dan gagasanku telah dibaca banyak orang dan sedikit banyak telah memengaruhi cara pikir mereka, memberikan banyak alternatif pandangan baru atas kehidupan. Aku ingin menjadi mulut kompleksitas kebenaran.”

“Meskipun kau masih saja teronggok sendirian di dalam kamar seperti ini?” Hujan tersenyum mendengar pengakuan itu. Sebelum kemudian ia membalikkan tubuh berjalan ke arah jendela, menembus kacanya, dan mengucapkan; “Selamat berjuang melawan sepi.”

Lelaki itu kemudian mendapati tubuh hujan yang terserak di jendela. Meleleh. Membentuk peta absurd. Meninggalkan jejak dalam kamar dan hati. Gigil dan sepi. Seperti sudah mati. (*)

 

Adi Zamzam alias Nur Hadi, kelahiran Jepara, 1 Januaii 1982. Publikasi cerpen, cerbung, puisi, dan resensi. Kumpulan cerpennya Laba-laba yang Terus Merajut Sarangnya (2016), antologi bersama dari banyak media, a.l. Kompas, Jawa Pos, Media Indonesia, Republika, Femina, dan Nova. Pernah menjuarai berbagai lomba penulisan fiksi. Aktif di sekolah penulisan Akademi Menulis Jepara. Domisili di Jepara.

Advertisements