Cerpen Bambang Purnomo (Bali Post, 07 Januari 2018)

Keluarga Abdi ilustrasi Citra Sasmito - Bali Post.jpg
Keluarga Abdi ilustrasi Citra Sasmito/Bali Post 

Pagi ini ada yang berbeda di rumah Pak Untoro, seorang pensiunan PNS baru itu. Rumah berwarna putih bertiang kayu jati, berlantai semen dan cenderung menjorok ke belakang, menyisakan halaman beberapa langkah dari aspal itu tidak lagi seperti rumah kosong seperti biasanya. Jendela dan 4 pintunya dibiarkan terbuka, seakan baru saja selesai renovasi. Sedangkan di beranda, Pak Untoro duduk-duduk senderan membiarkan kopinya mengepul di atas meja mahoni. Sesekali ia menghembuskan asap kretek dari mulut bebarengan dengan napas resahnya.

Ini adalah hari pertama Pak Untoro menganggur, setelah 30 tahun lebih ia menguras pikiran dan tenaganya untuk diabdikannya di sekolah-sekolah. Antara bingung dan aneh, apa yang harus dilakukannya setiap hari ke depan untuk menghabiskan kesehariannya. Hari ini ia membunuh waktu dengan menyibukan diri membersihkan setiap jengkal sudut rumah yang biasanya tak tersentuh oleh istrinya setiap minggu saat bersih-bersih. Mungkin besok ia akan menyapu daun-daun kelengkeng di halaman depan atau mencuci motor GL 100 tua yang telah menemaninya belasan tahun, yang kini diparkirkannya di samping pagar. Ia terus memandanginya semenjak ia duduk di teras, seakan ingin menaikinya namun tak tahu untuk apa.

Dulu motor tua itu selalu menimbulkan suara berisik setiap pagi. Pak Untoro musti memanaskannya agar mesinnya segera dibanjiri oli. Suara khas yang membuat setengah kampung hafal dengan bunyi knalpot cempreng itu. Mungkin beberapa orang ada yang heran mengapa pagi ini mereka tidak dibangunkan oleh suara tersebut. Biasanya setiap pukul setengah 6, orang-orang baru rada lega karena suara itu dibawa pergi oleh Pak Untoro yang begitu rapi, dengan setelah coklat PNS-nya, rambutnya yang begitu klimis beraroma nyong-nyong, sepatu pantofel hitam juga tak lupa tas samping berbahan kulit, dibawanya menyusuri buritan gang menuju SMP negeri tempatnya menghabiskan hari.

Namun pagi ini sepi, ia belum menyentuh motor itu sama sekali. Ia menawari istrinya untuk diantar pagi tadi, seperti biasa selalu ditolaknya. Istrinya tak pernah ingin dibonceng dengan motor karena takut, ia lebih suka jalan kaki atau naik bejak menuju SD negeri yang tak jauh dari rumah.

Pak Untoro nampak mulai dirundung kebosanan, ia meletakan korannya di kolong meja lalu mengeluarkan sesuatu dari sakunya, memencet-mencetnya seakan mencari sesuatu. Wajahnya tampak mendadak pasi seakan ia menemukan kenangan-kenangan yang masih tersimpan di ponsel itu. Kehidupan anak-anaknya di luar sana. Wirya, Windu, Wisnu. Ia berhenti disalah satu nama anaknya. Ia memilih nama Wisnu. Dulu, Wisnu adalah anak yang paling gamang dengan masa depannya sendiri. Ia selalu bimbang untuk memilih jalan hidupnya, pekerjaan seperti apa yang ingin didapatkannya kelak untuk menghidupi keluarganya. Baginya memilih fakultas selepas SMA adalah hal yang sakral dan menentukan. Ia takut memijakkan kakinya di tempat yang salah dan jauh dari passion-nya.

Sebenarnya tak ada wejangan tertulis maupun pernah terucap di keluarga Pak Untoro yang menganjurkan agar anakanaknya menjadi seorang pahlawan. Hanya saja semua anak lelaki Pak Untoro sewaktu kecil terbiasa mendengar kisah kepahlawanan dari kakek mereka. Meski namanya tak terdaftar di buku pahlawan yang disebar ke sekolah-sekolah, mereka percaya jika kakeknya juga seorang pahlawan, dengan cerita-cerita nyata pra-kemerdekaan. Kakek bukan hanya seorang pencerita, ia juga ikut di dalam kisah yang ia ceritakan. Tentang bagaimana ia pernah dikurung selama 55 bulan, tentang bagaimana ia kehilangan istri dan kedua anaknya karena kolera, tentang bagaimana istri keduanya yang berakhir menjadi seorang Nyai, juga tentang surat kenegaraan yang masih disimpannya di kamar yang tak ditukarnya sebagai syarat pengajuan uang pensiunan.

Wisnu sering diiming-imingi kakaknya, Wirya, yang telah resmi menjadi anggota di Detasemen Jala Mangkara, setelah menyelesaikan pendidikan PTAL-nya. Pasukan tersebut dikhususkan untuk satuan antiteror aspek laut. Kini kakaknya cukup sukses dan berkecukupan meskipun ia jarang di rumah “hidup itu harus dijalani dengan sebuah tantangan. Menolong orang, menjaga perbatasan negara, ini adalah pekerjaan pahlawan”.

Sedangkan kakaknya, Windu, sering pula memberi masukan padanya agar tidak mengecewakan orang tuanya dan tetap menjaga profesi yang telah orang tuanya abdi. “Bang Wirya dulu yang mengajari baca tulis sebelum ia bisa seperti sekarang siapa Dik? Mendidik anak bangsa untuk bisa menjaga bangsa, siapa pahlawan yang sesungguhnya?” Ia tak mau kalah ketika Wisnu berkunjung ke kosannya. Seakan ia tak malu dan tetap bangga meski ia lebih banyak menganggur dan pontang sana sini mencari jam kerja di sekolahan. Menjadi guru honorer adalah perjuangan, dan menjadi seperti kedua orang tuanya adalah kehormatan paling tinggi dari segala profesi, pikirnya.

Wisnu bukanlah orang yang mudah dibujuk, ia sering gamang karena ia terlalu banyak berpikir. Terakhir ia menyaksikan di TV yang mempertontonkan para guru honorer berunjuk rasa di Ibu Kota. Mereka menuntut kesejahteraan, cukup masuk akal dan umum, sama seperti buruh yang sering mengajukannya. Hari buruh Internasional selalu dimanfaatkan untuk berkumpul menjadi satu di masing-masing gedung pemerintahan daerah. “Apa sekarang juga ada hari khusus guru demo, aku tidak mau berjubel seperti mereka di tengah jalan,” pikirnya.

Saat itu Wisnu masih tinggal di rumah dengan bapak dan ibunya sebelum tinggal di mess di kampus pilihannya. Ia juga sesekali meminta pendapat bapaknya. Mungkin ikut Bang Wirya lebih sejahtera, tidak pernah sekalipun mereka berdemo menuntut hak-haknya. Mereka bekerja tanpa perlu lagi mencemaskan uang untuk hidup. Karena hidup mereka dijaga oleh negara, timbal balik setelah mereka menjaga negara.

“Lalu para guru, mereka mendidik anak bangsa, yang kini setelah duduk di kursi yang tinggi, berganti mendidik mereka untuk bertahan hidup?” sambung bapaknya.

“Gimana kalo dokter, Pak?” Bukan tanpa alasan ia menyampaikan idenya itu. Ia sendiri melihat bagaimana sejahteranya mereka. Mereka menolong orang yang sakit, bahkan menyelamatkan nyawa mereka. Bukankah itu lebih dari jasa seorang pahlawan?

Ia mengantar pertanyaan tersebut pula ke kakaknya, “yang mengajari mereka baca tulis sebelum mereka bisa menjadi dokter siapa dik?” kakaknya mengulang nasihatnya kemarin.

“Tapi satu suntikan saja sama dengan gaji seharimu Bang.”

“Lalu kau sebut itu pahlawan?” ia menimpali.

“Kalau semua orang sakit, siapa yang akan mendidik anak bangsa dan siapa yang akan , Bang?”

“Kalau kamu mendidik mereka bagaimana menjaga kesehatan, dan menjauhi apa pun yang berbahaya bagi kesehatan, mereka tidak akan sakit.”

Wisnu semakin ditohok kegamangan saat itu, seharusnya ia tak mengunjungi abangnya setelah ia mendapat wejangan dari Bapaknya tadi siang. Kebulatannya kini ompong sebelah. Meninggalkan celah yang bisa dimasukan ide apa saja sebelum menjadi bulat benar.

Wirya kembali memberi masukan pada Wisnu seminggu sebelum ia mendaftar di salah satu universitas pilihannya, namun kini bukan iming-iming, tapi lebih untuk menakuti. “Kamu mau berakhir seperti Bang Wijoyo?” Bang Wijoyo, lebih tepatnya Almarhum Bang Wijoyo. Anak pertama Bapak, anak tertua, abang mereka semua. Ia hilang saat masih semester 3 saat tragedi Trisakti. Ia mengambil Fakultas Hukum, ingin belajar politik dan menjadi politikus suatu hari nanti, menggantikan politikus ngawur yang berkuasa pada saat itu. Hingga kini, keberadaannya masih menjadi misteri. Tak ada kuburan atas namanya di pemakaman kampung.

“Jangan buat Bapak sedih, buatlah Bapak bangga.” Wejangan Bang Wirya melekat erat di sela telinga Wisnu sebelum ia mengisi kolom fakultas yang ingin ia ambil pada saat itu.

***

“Hallo, Assalamualaikum..”

“Walaikumsalam Pak”

“Di sana sehat?” Pak Untoro menguatkan suaranya, memastikan anaknya yang beberapa bulan belum memberikan kabar itu mendengar suara berat Bapaknya yang telah menginjak kepala enam itu.

“Alhamdulillah sehat pak, Bapak bagaimana?” Kini beranda rumah Pak Untoro tak lagi nampak sepi, ada obrolan di sana, meskipun sebenarnya hanya ada satu orang yang duduk di kursi.

Pak Untoro bermaksud menelpon satu per satu anaknya, untuk membunuh sepi juga untuk mengetahui kabar mereka semua.

Dua tahun lalu Bang Wirya dihadiahi lencana kehormatan langsung oleh kolonel marinir dalam acara pemakaman 2 rekannya yang juga dihadiri oleh Menteri Kelautan dan Menteri Dalam Negeri. Rekannya meninggal saat bertugas membebaskan tawanan awak kapal yang dibajak di laut Philipina. Sementara ia harus merelakan tangan kirinya tertembak oleh penyandera. Meskipun kini ia tidak dapat lagi aktif, ia masih diberi jaminan pekerjaan yang ringan. Menurut janji, keluarganya ditanggung oleh negara, termasuk jaminan pendidikan ketiga anaknya dan masa tua dirinya dan istrinya. Namun, Bang Wirya memutuskan untuk berhenti, ia merasa tak berguna lagi karena tak dapat ikut membela langsung negara dengan tubuhnya. Menurutnya hanya duduk di meja, mengurus calon pendaftar baru sesekali mengadakan seminar untuk memberi motivasi anggota juniornya di detasemen bukanlah pekerjaan pahlawan. Ia malu setiap melakukannya, juga dengan tunjangan yang diterimanya. Seperti senjata yang sudah bekarat namun masih tetap dijaga meskipun tidak diasah ataupun digunakan.

Sedangkan Bang Windu kini lebih aktif ikut turun ke jalan, ikut kawannya yang setiap tahun mengkoordinasi seluruh guru honorer dari penjuru kota, menuntut berbagai hak yang sudah seperti lagu lama. Tentu beda dengan kakaknya. Ia tak pernah mendapatkan lencana kehormatan, bahkan 5 kawannya yang meninggal di jalanan pun tak dijenguk satupun pegawai pemerintahan. Saat itu selama 3 hari ribuan guru honorer dari seluruh penjuru daerah berdemonstrasi di depan Istana negara.

Wisnu memilih pergi dari kekalutan, ia memutuskan bekerja di luar negeri berbekal ijazah sarjananya, ia bekerja menjadi sopir bus di sebuah travel di Madinnah, mengantar para jamaah umrah dan haji. “Jika Bang Wirya menjadi pahlawan negara, almarhum Bang Wijoyo menjadi pahlawan yang terlupa, bapak ibu dan Bang Windu menjadi pahlawan tanpa tanda jasa, aku ingin menjadi pahlawan devisa.” Ia meninggalkan surat itu di meja bapaknya, meja yang kini menjadi cengkraman bapaknya di teras rumah, menikmati masa tua dan titelnya sebagai pensiunan PNS.

Ibu masih memiliki waktu 7 tahun sebelum masa pensiunnya. Ia bersikeras ingin menuntaskan pengabdiannya hingga di usia 60. Menemani bapak di masa tuanya dengan gelar pahlawan tanpa tanda apa-apa. Bapaknya mengikhlaskan Wisnu untuk pergi merantau ke negeri orang, sebab di negeri ini sudah terlalu banyak pahlawan. Ia tidak akan kebagian dan tahan untuk menjadikanya sebagai sebuah kehormatan.

Advertisements