Oleh Iwan Ridwan (Lampung Post, 07 Januari 2018)

Kado Tahun Baru Niar ilustrasi Sugeng Riyadi - Lampung Post
Kado Tahun Baru Niar ilustrasi Sugeng Riyadi/Lampung Post

Tak lama lagi Tahun Baru. Tiar berkeinginan membeli video game terbaru. Alat canggih itu berisi permainan yang bermacam-macam. Ia cemburu melihat Roni yang telah memiliki benda tersebut. Sepulang ayahnya, ia berniat mengatakan keinginannya.

***

Ayah Tiar sangat terampil dalam kerja kayu. Keahlian ini pun dimiliki oleh Tiar. Sejak kecil, Tiar mulai akrab dengan palu dan kayu. Dia pun pandai membuat main-mainan dari kayu. Ia merupakan anak yang rajin dan cerdas. Sering membantu kedua orang tuanya. Bahkan, ia senang membantu ayahnya ketika membuat kursi pesanan tetangga.

Anak lelaki ini sangat suka makan emping buatan ibunya. Kini, Tiar duduk di kelas I SMP Banyusari. Mobil-mobilan dia buat dari sisa kayu pekerjaan ayahnya. Dia pun suka membuat roda-rodaan yang biasa dimainkan sambil berlari. Dia sangat suka dengan permainan kayu itu.

Sampai sekarang, Tiar masih senang jika ayahnya bekerja di rumah. Dia bangga karena ayahnya sangat andal membuat kursi. Juga lemari-lemari penghias yang sangat indah untuk dilihat. Namun, kini Tiar bosan dengan permainan miliknya itu.

Dalam hatinya, ia ingin permainan seperti teman-temannya, terutama milik Roni. Dia pun sering diolok-olok temannya karena tak punya game canggih. Awalnya, Tiar masih tak menghiraukan ejekan temannya. Lama kelamaan, dia pun jadi ingin membeli game seperti kawan-kawannya.

“Bu, Ibu sayang Tiar, Kan? Boleh gak Tiar minta sesuatu dari Ibu?” Tanya Tiar pada ibunya yang sedang masak di dapur.

“Iya tentu, Ibu sayang sama Tiar. Oh, memang mau minta apa? Ini Ibu lagi masak emping kesukaannya Tiar,” jawab Ibu dengan penuh kasih sayang.

“Tiar mau dibelikan video game terbaru, Bu. Kayak teman-teman itu loh. Game-nya seru banget, Bu. Belikan ya, ya Bu?”

Ibu terdiam sebentar. Memikirkan jawaban yang tepat untuk anak tercintanya itu.

Sambil tersenyum, Ibu pun berbicara pada Tiar.

“Iya, nanti Ibu bilang dulu ke ayah ya. Lagi pula, Tiar masih senang, Kan, dengan mainan ciptaan Tiar sendiri. Mainkan mainan kayu dulu aja, ya. Kan, Tiar anak yang cerdas,” jawab Ibu kepada Tiar dengan lembut.

Tiar pun agak kecewa. Dia khawatir permintaannya tak bisa diwujudkan oleh ayahnya. Tiar memang anak yang baik kepada siapa pun. Tak pernah menyusahkan orang tua.

Keinginan untuk punya video game terbaru masih jadi mimpi Tiar. Ibu pun telah mengatakan keinginan Tiar pada ayah. Ayah hanya bilang, “Iya”, tanpa berkata apa pun lagi.

Tiar menjalani sekolahnya dengan semangat. Minggu ini dia harus belajar tekun karena akan ulangan semester. Selama seminggu, teman-temannya terlihat asyik dengan game-nya masing-masing. Tiar tetap teguh belajar meski hatinya ingin memiliki game itu.

***

Tahun baru sudah semakin dekat. Ulangan semester sudah selesai dilaksanakan. Tinggal menghitung beberapa jam, tahun 2018 akan datang.

Tiar masih belum mendapatkan video game seperti kawan-kawannya. Dia jadi malu untuk bermain bersama kawan-kawannya. Sore hari, Tiar bertanya lagi pada Ibunya.

“Bu, Ayah jadi pulang, Kan?” Tanya Tiar menanyakan kepastian Ayahnya yang sudah seminggu bekerja di Bogor.

“Iya, kita doakan saja semoga Ayah bisa pulang cepat ya. Dan selamat sampai rumah,” jawab Ibu dengan lembut.

Memang sudah seminggu, Tiar tak bisa menemui Ayahnya. Dia hanya bisa berbicara dengan ayah saat ayahnya menelepon Ibu. Yang diingat Tiar adalah senyum Ayah ketika ia membantu pekerjaannya.

***

Tiar masih menantikan kedatangan Ayah. Dia menjadi cemas karena Ayahnya belum pulang. Keinginan Tiar untuk membeli video game hilang. Kehadiran Ayah lebih penting daripada game yang diinginkannya.

Ibu memanggil Tiar untuk masuk ke dalam rumah. Tiar masih menunggu kedatangan Ayah. Makan kali ini tidak seperti biasanya. Tiar kurang nafsu makan karena terus memikirkan ayahnya.

“Ayo makan, sayang. Ibu masak lauk kesukaannmu, nih. Ditambah emping favoritmu pasti sedap,” rayu Ibu pada Tiar yang terlihat kurang bersemangat.

“Iya Bu, terima kasih. Kurang enak rasanya jika Ayah tak makan bersama kita ya,” jawab Tiar yang matanya mulai mengeluarkan air mata.

Hati Tiar semakin tidak karuan. Makanan yang ada di depannya kurang diminatinya. Dalam hatinya, ia berdoa agar ayah bisa pulang sebelum pergantian tahun tiba.

Tak seperti pergantian tahun lalu. Tiar dan ayah menyalakan kembang api bersama. Tiar masih menantikan ayah.

Tok…tok…tok. “Assalamualaikum.”

Terdengar suara ayah di balik pintu. Seketika Tiar berlari menuju gagang pintu. Ia langsung membukakan pintu.

Dan ternyata yang datang adalah orang yang selama ini ditunggunya. Ayah yang sangat dia kagumi.

“Ayah, Ayah, Ayah.” Langkah Tiar cepat memeluk Ayah.

“Bu, Ayah datang, Bu!”

Tiar sangat gembira dengan kedatangan ayahnya. Video game yang diinginkannya sudah jauh-jauh ia lupakan. Yang terpenting dia sudah bertemu dan berkumpul bersama ayah.

Tanpa diduga, ayah membelikan jam tangan kayu. Tiar pun sangat senang dengan kado tahun baru dari ayahnya itu. Tiar pun berjanji untuk merawat kado itu baik-baik. Dan percaya diri untuk bermain lagi meski tak punya video game seperti kawan-kawannya.n

 

Cicinde, pergantian tahun 2017

Advertisements