Puisi-puisi Isbedy Stiawan ZS (Lampung Post, 07 Januari 2018)

Kota Asing ilustrasi Google
Ingin Melepasmu, Matahari Berdiam di Mataku, Kota Asing, dan Lainnya ilustrasi Google

Ingin Melepasmu

 

aku ingin melepasmu sejauh-jauhnya

atau setinggi-tinggi langit

dan tak kurindu lagi agar tak kucari

atau menanti pulangmu

seperti asap rokok ini

setelah kuhempas ke udara

tak kuingin kembali

untuk kunikmati nikotinnya

aku selalu lupa

setiap sudah kulepas

 

KA, 5 Sept 2017

 

Matahari Berdiam di Mataku

 

saat terbangun, matahari

sudah berdiam di mataku:

tak ada kopi hangat di meja

aku begitu rindu

tak ada kicau murai

aku sangat berharap

 

fajar lesap cepat

 

tamu-tamu sudah pergi

di dapur kuhidupkan api

merebus kopi:

untuk kita

pahit?

kecup bibir gelas itu

sisa manisku kekal

 

10 September 2017

 

Kota Asing

 

aku asing di kota ini

tak tahu situasi apa-apa

karena aku belum pernah

pesiar, kecuali merasakan

kabut luruh di jendela

maka aku hanya diam

ketika kau berdendang

tentang keriangan

sepasang angsa

di kolam

 

11-13 Setember 2017

 

Esok, Aku akan Jemputmu

 

aku datang

malam lengang

dan jika kau bimbang

kubawakan kidung

lelaplah lelap

sebelum kau pejam

mari kita jalan-jalan

mengantongi kota

demi kota kenangan

di kedai segelas minuman

esok, aku akan jemputmu

kuletakkan bunga

yang basah

oleh embun

karena ciuman

 

2017

 

Jalan Buntu

 

jalanmu sudah buntu, katamu

lalu tak ada lagikah perjalanan

menuju rumahmu? aku tak

pernah kehilangan alamat,

arah, ataupun tanda—bahkan

di kota asing yang tengah

dihantam gigil, salju luruh

di kepalaku. kanal ramai

air, dan orang-orang berjaket

tebal ke stasiun, pasar,

atau kampus—maka aku

jauh dari tersasar; berputar

di kota tak kukenal ini

sebelumnya. sebuah kota

dalam mimpi pun belum

pernah

kini aku mencari alamat

rumahmu, dalam kartu nama,

brosur pariwisata, dan menu

di kafe berasap mariyuana; aku

hampir mabuk ya mabuk

hanya pada rumah dan dirimu

yang begitu senyap demikian

tak terkata-kata

wajah yang suci

tubuh yang lancip

 

14-16 September 2017

 

Ini Kopi Seduhlah

 

sekiranya kau sendu

ini kopi seduhlah

sambil memandangi

sisa embun luruh

dari daun di taman

kenanglah perjumpaan

dan pelan-pelan cinta

akan kembali tiba

untuk mengucap:

“adakah yang hilang

dari ini perjalanan?”

 

13.09.2017

 

Aku Ingin Kabarkan

 

aku ingin kabarkan padamu

tentang pagi tanpa embun di sini

juga segelas kopi tiada gula;

kunikmati pahit hidupku, cinta

yang runtuh di halaman rumah

matahari yang dulu biru

kini serasa warna darah ada yang

dibantai, pisau di tangannya itu

lalu hilang di balik punggung

 

pagi tanpa gorengan, kopi tak lagi

pakai gula. kunikmati pahit hidup

kota-kota hanya mengirimkan kemilau

jalan-jalan padat sepagi ini, kata kawanku

lewat pesan pendek. ia tak bergerak

selama 45 menit, panjang kemacetan

lebih dari 5 kilometer menuju pusat kota

beginilah. setiap pagi ingin kukabarkan

tentang hidup—saling mengisap—yang

tak bisa kutulis sebagai catatan harian

 

20 September 2017

 

 

Isbedy Stiawan ZS, Sastrawan, pengampu Lamban Sastra dan aktif di Komunitas Gedung Meneng (KGM).

Advertisements