Cerpen Lastry Monika (Padang Ekspres, 07 Januari 2018)

Bus Tua Misterius ilustrasi Padang Ekspres
Bus Tua Misterius ilustrasi Padang Ekspres

HARI ini aku memilih ikut kakak berbelanja keperluan sekolahnya. Libur akhir pekan tanpa bepergian itu sedikit membosankan. Ayah sedang di luar kota dan ibu harus menjaga adikku yang masih balita.

Juga ada beberapa orang teman kakak ternyata. Mereka ramah-ramah. Tidak ada yang mengabaikanku di tengah kesibukan mereka berbelanja. Mereka selalu menawariku untuk membeli sesuatu yang aku suka. Tetapi dari rumah aku telah berjanji pada kakak untuk tak membeli apa-apa.

“Kamu nggak mau beli buku atau kotak pensil baru?” tawar kakak. Aku menggeleng.

“Yang lama masih bisa dipakai Kak,” sahutku.

“Adik yang baik,” ujar salah seorang teman kakak sambil mencubit pipiku. Aku memang tak menginginkan apa-apa. Bagiku, pergi dengan kakak hanya untuk menghilangkan kebosanan terus-terusan berada di rumah.

Hari telah sore, kakak belanjanya belum juga kelar. Memilih buku tulis saja memakan waktu hingga belasan menit. Itu masih belum memilih alat-alat tulis lain. Aku sudah mulai lelah dan bosan berkeliling-keliling. Kakak menyuruhku istirahat saja. Tetapi aku memilih pulang lebih dulu. Sambil berjalan gontai aku menuju halte terdekat. Teman-teman kakak memuji keberanianku untuk pulang sendiri. Hehe, katanya aku adik yang mandiri.

Sore itu halte lumayan lengang. Hanya ada aku dan seorang anak laki-laki yang duduknya berjauhan dariku. Ia terlihat berpakaian sedikit kumal dan memiliki wajah yang kusam. Ia menatapku dingin dan aku berusaha menghindari tatapan itu. Aku merasa sedikit gelisah, namun berusaha tenang. Bus akhirnya datang. Tetapi ada yang aneh dengan bus itu. Busnya mengeluarkan bunyi yang sangat bising, sedikit reot, dan mengeluarkan kepulan asap hitam. Dari pada menunggu bus lain, aku memilih naik saja, toh sudah sangat lelah. Aku duduk di bangku belakang pak supir. Anak laki-laki kumal itu juga menaiki bus yang sama denganku. Syukurlah ia duduk di bangku paling belakang.

Di dalam bus begitu sunyi. Tidak ada obrolan sama sekali. Bagaimana tidak, hanya beberapa orang yang tak saling kenal berada dalam bus itu. Ada aku, sopir bus, kondektur bus, dan seorang anak laki-laki kumal. Pandangan matanya masih tertuju padaku. Dan untunglah dudukku berjauhan dengannya.

Di perjalanan tidak ada penumpang lain yang naik. Meski di beberapa halte kulihat beberapa orang duduk-duduk. Tapi mereka tak menyetop bus dan malah lengah mengobrol dengan teman-teman di sebelahnya.

Bus sampai juga di halte dekat rumahku. Aku mengucapkan terima kasih pada kondektur bus yang hanya membalasnya dengan anggukan. Tanpa senyum bahkan tidak melihatku. Tatapannya lurus saja. Kulihat bangku belakang sudah kosong. Tak ada anak laki-laki berpakaian kumal itu. Secepat itukah dia turun? Padahal pintu tempat penumpang turun hanya satu. Aku bergidik, ngeri.

“Atikah,” ujar seseorang menegur dan membuyarkan lamunanku. Aku menoleh, ternyata Kak Santi, teman sekolah kakakku. Bertemu kak Santi aku menjadi lumayan lega.

“Kamu sedang apa dan hendak ke mana?” ia bertanya.

“Aku dari toko alat tulis dekat supermarket Kak. Tadi aku ikut kak Fini. Kakak sendiri sedang apa di sini?” tanyaku kembali.

“Kakak lagi nunggu bus, mau ke tempat nenek,” ucapnya.

Loh, kenapa kakak nggak naik bus tadi?”

“Bus yang mana Atikah?”

“Bus barusan yang aku tumpangi Kak.”

“Kamu bercanda? Sudah setengah jam kakak menunggu, tidak ada bus yang lewat,” jelas Kak Santi membuat bulu kudukku berdiri. Lalu apa yang barusan kutumpangi? Dan ke mana perginya anak laki-laki kumal tadi? Itukah bus tua misterius yang pernah diceritakan kak Fini? Aku mendadak ngeri setengah mati.

Setibanya kakak di rumah, aku menceritakan hal ngeri yang kujumpai sore tadi. Aku berkata tak berani pulang sendiri lagi.

“Makanya jangan sok berani,” imbuhnya.

“Jadi, apa benar bus tua misterius itu ada kak?” tanyaku penasaran.

Tiba-tiba, kriiinggg kriiinggg. Bunyi telepon mengagetkan kami berdua. Kak Fini segera mengangkatnya dan meninggalkanku begitu saja. Aku mengikutinya karena masih merasa takut.

“Adikmu tadi kelihatan ketakutan sekali,” ujar suara di telepon.

“Iya, katanya dia naik bus tua misterius,” jawab Kak Fini.

“Hahaha, mana ada bus tua misterius. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, ia menaiki bus tua reot, bukan bus tua misterius. Apa dia sampai di rumah dengan selamat?” ucap suara di telepon.

“Kenapa memangnya?” tanya Kak Fini.

“Sampaikan maafku padanya, ya? Aku membual dan membuatnya tambah takut.”

Aku dan kakak saling tatap. Ngeriku berubah geram melihat kakak menahan tawa. (*)

Advertisements