Cerpen Ahimsa Marga (Kompas, 07 Januari 2018)

Biyung ilustrasi Sunaryo - Kompas
Biyung ilustrasi Sunaryo/Kompas 

Semalam Biyung datang lagi dalam mimpinya. Seperti waktu-waktu lalu, kali ini pun Biyung hanya tersenyum, memandangnya dengan mata yang pendarnya seperti cahaya timur. Sekar kangen, Biyung…

Tapi Sekar tak mampu menatap Biyung lama-lama. Matanya terhalang silau cahaya. Dia ingin memeluk Biyung erat-erat seperti di masa kanak-kanak, saat dia merasa takut kehilangan Biyung. Dia ingin menaruh kepalanya di pangkuan Biyung seperti dulu, kalau sedang sedih.

Biyung seperti tahu apa pun yang terjadi pada Sekar, sejak Sekar kecil. Dia tak pernah mengusiknya dengan pertanyaan.

Sepanjang hidupnya, Sekar tak pernah bicara tentang apa pun yang sedang dihadapinya. Tetapi, anehnya Biyung selalu tahu. Dalam surat pendek yang dituliskan tetangga setiap bulan setelah Sekar mengirim wesel, kadang tertulis antara lain, “… Biyung melihat kamu sedang ndak keruan Ndhuk. Kemarin Biyung caos dahar, nyala menyannya mobat-mabit ndak karuan…”

Kali lain, Biyung hanya menanyakan, “Kamu sedang sedih ya Ndhuk?”

Caos dahar adalah ritual yang dilakukan Biyung seminggu sekali, kadang dua kali, lengkap dengan sesajian. Begitu cara Biyung berhubungan dengan leluhurnya. “Ndak boleh lupa leluhur, Ndhuk, ndak boleh lupa asal-usul,” begitu pesan Biyung,

Kalau memasuki kompleks pemakaman, Biyung selalu membuka kasutnya dari mulut jalan masuk, dan membersihkan setiap makam dengan khidmat.

Nyekar. Itu yang diikuti Sekar sampai hari ini.…

Advertisements