Puisi-puisi Mustafa Ismail (Media Indonesia, 07 Januari 2018)

Batang, Alas Roban, Terompet, dan Lainnya ilustrasi Pata Areadi - Media Indonesia.jpg
Batang, Alas Roban, Terompet, dan Lainnya ilustrasi Pata Areadi/Media Indonesia

Batang

 

di alun-alun kota, kita membentangkan kisah usang:

Kalisalak mendadak jadi kampung yang riang

jalan-jalan berbatu menjadi ruang untuk bermain layang-layang

dari pemuda dusun hingga Sultan Mataram

 

orang-orang membuat janur di rumah masing-masing

lalu memasangnya di mulut jalan-jalan desa

mereka merakit bukit menjadi kebun-kebun bercahaya

seperti merawat kasih sayang pada semesta

 

“Dewi Rantan Sari, namaku,” katamu pada batang-batang padi

yang sebentar lagi menguning, pada pohon-pohon kelapa

yang tak henti menggerak-gerakkan nyiurnya

“Aku adalah daun-daun yang tumbuh di alis matamu.”

 

“Bhahurekso julukanku,” ujar lelaki itu,

sambil melepaskan seribu anak panah ke tengah sawah

“Akulah hujan yang turun di batang-batang padi

Sekaligus payung untuk rambut panjang Dewi Rantan Sari.”

 

Kalisalak mendadak jadi kamar pengantin

bagi sepasang pohon yang kasmaran

mereka menari diam-diam, dalam diam, sambil menyusun

ranting menjadi batang-batang kayu di Alas Roban.

 

Dan di pendopo Sultan Mataram, daun pintu dan jendela berderak

seperti petir terus berkilatan, seperti orkestra brutal

menyambar-nyambar gelas dan piring-piring makan

merobohkan tembok-tembok di halaman

 

Batang, 26 Juni 2017

 

Alas Roban

 

Akhirnya tiba juga titah itu: “kau harus menumbangkan

Pohon-pohon, juga jin dan siluman, yang membekab

bukit itu.”

 

“Siap baginda,” katamu, sambil melecut sepasang kuda

dan membunyikan lonceng di pojok-pojok desa

 

Batang-batang kayu rebah, beberapa tubuh rubuh,

tanda takzim kepadamu, kepada Ki Ageng Cempalek,

Kepada Sultan Mataram yang mengirim petir hingga

ke hilir

 

Sebab rambutmu telah keriting dan harus diluruskan

 

Akhirnya kelar juga titah itu, batang-batang kayu

menjelma rumah-rumah, kebun, palawija, jalan setapak,

 

juga bentangan sawah dengan biji-biji padi

yang terus melafalkan bait-bait doa kepada Yang Maha

 

Akulah lelaki itu, Bhahurekso itu, katamu.

 

Batang, 26 Juni 2017

 

Terompet

 

aku telah membuang bunyi-bunyian itu

jauh sebelum kau menulis daftar menu untuk tahun baru:

 

tusuk sate, pentas dangdut, suite room, sepatu, dasi

kupu-kupu juga kekasih baru.

 

namamu ada di balik dompet

terlipat bersama uang lecek kembalian dari tukang ikan:

 

saling berbalas senyum dengan para pahlawan

yang kau kenal tadi siang

 

dari jauh sepasukan berkuda menyerbu ke utara

seperti mengejar musuh yang celaka:

 

darah menetes dari puisi-puisi yang kesepian

memerahkan sepanjang jalan.

 

Depok, 1-2 Januari 2017

 

Cerita di Taman Topi

 

sepasang burung tua, segerombolan hujan, dan

mata sore yang muram menulis riwayatmu:

topi-topi seperti rumah-rumah yang tak pernah

dicintai, ramai namun sunyi

 

kita menulis sajak di Stasiun Bogor

lalu melempar diksi-diksi tak terpakai

ke luar jendela: mengapung di genangan hujan,

tergilas roda kereta

 

mata sore tetap basah meski bibirmu sebeku salju

kau bertanya tentang pagi yang riang

awan berarak mengikuti matahari yang menari

di bangku-bangku taman, di jalanan berpaving block

 

aha, kita telah menjadi penyair kesiangan

membasuh diri setelah kamar mandi dipatok ayam

kau menjelma burung dara yang tak lelah melompat

dari dahan ke dahan

 

adakah yang lebih sejuk dari hujan di kakimu

dibuai nyanyian pohon dan angin dari pebukitan

kau mengunci matahari agar tak beranjak dari timur

agar puisi-puisimu menjadi lebih panjang

 

tapi di stasion kereta berkali-kali meniupkan sangkala

sambil berkata: wahai burung-burung tua

telah kusiapkan sepetak lahan basah dan tahi angsa

tempat kau menanam padi dan palawija

pohon-pohon itu masih menyisakan jeritan-jeritan

orang dengan leher menggantung di tangan kompeni

karena mereka membakar rambut para biduan.

 

Bogor, 23 September 2017

 

Menulis di Pohon

 

aku menulis di pohon tentang mangga tua

baunya ke mana-mana.

 

ubanmu tak lagi menyanyikan lagu-lagu dari aksara biru

ia kini jadi batu. beku. pilu.

jadi etalase yang membuat kepalamu ditumbuhi lumut

dan pohon-pohon palma

 

kau berjalan seperti siput

menyusuri huruf-huruf bunting di gang becek itu

bak pelacur rindu ciuman

 

aku menulis di daun-daun

tapi jangan sebut aku penyair ranting

yang segera luruh diterpa angin

 

aku adalah mata rencong

yang siap mencukur ubanmu yang cemong,

 

melesap sampai di matamu

yang selalu menghijau di depan selembar daun

dan membiru di lautan

 

di pohon, aku mengamini

cericit burung dan cahaya senja

yang memerah setiap kau alpa

 

kau terus mengasah pisau berkarat

untuk memangkas akar-akar yang makin kekar

menjalari perut bukit dan kampung-kampung

 

kau membayangkan tentang pulau-pulau

dengan para penyair yang risau

puisi-puisi menjadi kayu api untuk memanaskan kopi

 

o, pohon tua yang tak lagi tumbuh

dengan ranting yang mulai patah

segeralah berjalan ke barat bersama sore yang lindap

 

dan di sini, meskipun bukan ruang berpendingin

dengan gelas-gelas kopi yang berdenting,

puisi tetap tumbuh dan abadi

 

seperti daun, seperti pohon

 

Depok, 23 April 2017

 

 

Mustafa Ismail lahir di Aceh pada 1971. Ia hijrah ke Jakarta pada 1996 ketika mengikuti Mimbar Penyair Abad 21. Buku puisinya Tarian Cermin (2007 & 2012), Menggambar Pengantin (2013 & 2014), dan Tuhan, Kunang-Kunang & 45 Kesunyian (Agustus 2016). Buku cerpen tunggalnya Cermin (2009).

Advertisements