Oleh Hetti Restianti (Pikiran Rakyat, 07 Januari 2018)

Asal British ilustrasi Google
Asal British ilustrasi Google

SAAT saya menunggu di bengkel mobil terbaca kalimat di spanduk. “Melayani service, tune up, dan ganti oil”. Bahasa perbengkelan seperti itu dianggap sebagai sesuatu yang lazim, sah, dan wajar. Hampir setiap bengkel mencantumkan kalimat penawaran semacam itu.

Hal tersebut sungguh menarik untuk dicermati karena bahasa perbengkelan termasuk ke dalam satu ragam bahasa yang akrab dengan para pengguna kendaraan. Akan tetapi, saya kira bahasa perbengkelan yang sudah akrab itu lama-kelamaan akan berpengaruh pada pemerolehan diksi pengguna kendaraan dan khalayak umum.

Diam-diam saya mencermati kekhasan bahasa perbengkelan, yaitu pencampur- adukan bahasa Inggris dan bahasa Indonesia dalam suatu kalimat di spanduk. Sebagai contoh adalah kalimat yang saya jumpai di tempat servis kendaraan. “Melayani service, tune up, dan ganti oil”.

Kata “melayani” serta kata sambung “dan” merupakan kosakata bahasa Indonesia, sedangkan service, tune up, dan oil merupakan kosakata bahasa Inggris. Bagaimana seharusnya menggunakan kosakata asing dalam bahasa Indonesia?

Dalam buku yang terkait dengan pedoman kebahasaan, para penyuluh bahasa sudah sering memberi pembaca/pengguna bahasa petunjuk penggunaan kosakata. Misalnya, jika padanan kosakata asing dalam bahasa Indonesia belum ada, kosakata itu tetap digunakan dalam kalimat dan ditulis dengan menggunakan huruf italik atau diberi garis bawah.

Seperti diketahui, jika kosakata asing itu sudah memiliki padanan dalam bahasa Indonesia baik yang melalui penyerapan langsung maupun yang mengalami penyesuaian, kosakata yang dipakai adalah bahasa Indonesia.

Jika mengacu pada petunjuk tersebut, kata service, tune up, dan oil seharusnya tidak digunakan (apalagi untuk spanduk) sebab dalam bahasa Indonesia telah terdapat kosakata padanan service (servis atau perbaikan), tune up (penyetelan mesin), dan oil (oli/pelumas mesin). Lucunya, di samping kosakata asing tersebut, juga diawali kosakata “melayani”. Bukankah konteks kosakata “melayani” itu berkaitan dengan kegiatan suami dan istri? Ehm….

Dengan memakai bahasa asing dalam spanduk di bengkel itu, siapa pun yang datang ke tempat itu akan menganggap pemilik bengkel itu orang intelek, wawasan luas, dan gaul. Kata ahli bahasa, bahasa itu memang mencerminkan identitas. Misalnya, Sigmund Freud pernah berujar, “Tanpa bahasa, manusia tidak pantas disebut manusia.” Akan tetapi, kegemaran berbahasa asing ini akan jadi persoalan serius jika akhirnya merusakkan bahasa Indonesia.

Memang sulit menghindarkan diri dari perkembangan/perubahan zaman. Kalau kebiasaan “asal British” atau mencampur-adukkan bahasa Inggris dengan bahasa Indonesia menjadi mode, kapan giliran bahasa Indonesia menjadi mode? ***

Advertisements