Puisi-puisi Wayan Jengki Sunarta dan A Muttaqin (Kompas, 07 Januari 2017)

Valley Working ilustrasi Cuauhtemoc Velazquez - Kompas.jpg
Valley Working ilustrasi Cuauhtemoc Velazquez/Kompas

Setrika Arang

 

ayam jago itu masih bertengger di situ

menunggu tanganmu memasukkan bara

hidup membosankan dimulai

mondar-mandir dari pakaian satu ke pakaian lain

dari kenangan satu ke kenangan lain

 

mungkin suatu waktu

tanganmu akan berhenti

pada lipatan saku baju

memeriksa rahasia

yang sembunyi

 

di ujung setrika arang

yang setia hanya ayam jago

begitu sabar menunggu tanganmu

ia berkukuruyuk dari masa lalu

berharap dunia tidak sekelam

abu dalam setrika

 

2017

 

Kamera

 

tak ada yang lebih indah

selain matamu, kamera

gambar-gambar tak kukenal

membentang bagai fatamorgana

 

pohon-pohon bercahaya

seakan dilahirkan matahari pagi

seorang bocah duduk

di atas bongkah batu

menatap sungai

yang mengalir ke dalam dirinya

 

aku tak mengenali mataku lagi

semua muncul begitu saja

serupa bayang-bayang

di penghabisan siang

 

tak ada yang lebih indah

selain matamu, kamera

 

kucipta gambar dari kelam

agar mereka paham

apa yang semayam

di kedalaman jiwa

 

2017

 

Mesin Tik

 

mesin tik karatan bergumam:

sungguh letih menjadi tua

jari-jari gemetar, suara parau,

napas tersengal

 

seperti mesin tik lainnya

ia mengenang suatu masa

puisi-puisi lahir seirama

nyanyian tombol-tombol huruf

surat-surat pun bertaburan

dari negeri-negeri jauh

 

kini, ia hanya membisu dan makin renta

tak ada lagi mata kagum melihatnya

tak ada tangan rindu menyentuhnya

 

ia tahu sebentar lagi tuan rumah

membawanya ke tukang loak

berkumpul bersama besi-besi tua lainnya

menatap hampa pada atap seng gudang kumuh

berhimpitan dengan sepi dan dingin malam

 

tentu ia telah siap dilebur dalam tungku api

lahir kembali menjadi bentuk berbeda

tapi, hanya satu pintanya:

tak ingin menjadi mesin tik lagi

 

2017

 

Telepon

 

kuangkat gagang telepon

“hallo, ini siapa?”

tak ada suara di seberang

jam dinding berdetak lambat

gerimis bernyanyi lirih

bersama daun-daun

 

“hallo, hallo…”

tak ada suara menyahut

kutaruh gagang telepon

dingin malam membekas

di meja kayu

 

telepon kembali berdering

“halloo, siapa di sana?”

tak ada suara. hening

malam sedingin pualam

 

gagang telepon menempel di kupingku

berdebar aku menunggu suara di seberang

hanya gemerisik angin terdengar

 

2017

 

Jam Dinding

 

sebelum malam usai

dalam halusinasi

jantung jam dinding itu

berdetik berkali-kali

ia tahu kau akan pergi

 

ketika kau buka pintu

dan melangkah ke beranda

mata jam dinding itu

menatap lekat tengkukmu

ia mengasihi denyut nadimu

 

terdengar bunyi pagar dikunci

mendadak jam dinding itu

berhenti menghitung waktu

yang meleleh di lantai

 

tak jadi pergi

kau termangu

menatap jam dinding

berdetik-detik seirama

debar hatimu

 

2017

 

Wayan Jengki Sunarta lahir di Denpasar, Bali, 22 Juni 1975. Di antara sejumlah kumpulan puisinya adalah Pekarangan Tubuhku (2010) dan Montase (2016). Ia tinggal di kota kelahirannya.

 

Nasi Goreng untuk Abban

 

Minyak dan telur adalah saudara seiman. Mereka saling memandang

dengan cinta yang cepat matang, tak gampang iri pada teri dan kentang.

 

Sosis dan udang adalah saudara seperjuangan. Sosis meminjam gurih

dari udang sementara si udang meminjam kulit sosis agar kau tenang.

 

Nasi dan piring adalah saudara sejalan. Nasi melipur piring agar tidak

terbang. Piring menampung kerumunan nasi agar tentram terpahamkan.

 

Lapar dan lahap adalah saudara sekamar. Lapar meminta lahap agar

makan pelan-pelan. Lahap meminta lapar agar sabar menunda kenyang.

 

(2017)

 

Tasawuf Buta Huruf

membaca kitab Raja Ali Haji

 

Ha, hamba berlindung dari duri yang membuat si mawar dimungkiri

Na, nasihat adalah ulat yang membuat daun cacat dan burung terjerat

 

Ca, camar dan mawar bertukar lapar di kiri candi, o duri, jadilah saksi

Ra, rawat ranting ini, supaya si kaki pandai mencari sulur sumber diri

 

Ka, kalaulah kau tak percaya dengan jalan tafsir-gathuk-matuk begini

Da, datangi orang alim untuk belajar kumur atau sekadar tali tawasul

 

Ta, tawasul adalah taat yang memberkati dua utusan dalam carakan ini

Sa, sahih tidak sahih tentu bukan tujuan inti bagi si pencari jalan sejati

 

Wa, walau La kuteruskan dengan tafsir dan tadabur dari kitab-kitab suwur

Pa, Dha, Ja, Ya, Nya, Ma, Ga, Ba, Tha, Nga-ku tak bisa melipur semua jumhur.

 

(2017)

 

Moto Seorang Santri saat Bertandang ke Warung Kopi

 

Kopi adalah kopiah yang debunya menyala menyigi malam dan mimpi.

Rokok adalah ruh yang disesap harap supaya sepi murup dan meragi.

 

(2017)

 

Perjuangan Mencintai Pagi Hari

 

05:30. Anakku berjuang membuka mata. Aku berjibaku melepas mimpi.

Istriku menggoreng kantuk hingga kriuk. Mertuaku merenungi gelap kopi.

 

06:30. Anakku berperang di kamar mandi. Istriku mengaduk tuwung sepi.

Aku memeluk kantuk. Mertuaku membungkuk, membujuk kicau manuk.

 

07:00. Handuk mengelap kantukku. Salam teruluk dari manuk mertuaku.

Kulempar dadar agar si manuk diam. Anakku geram digenggam seragam.

 

07:30. Istriku dikejar kerja. Mertuaku siap istighasah. Kugandeng anakku ke

madrasah: “Aku mau jadi sapi perah!” katanya, sambil nyesap susu kotaknya.

 

(2017)

 

Drama Satu Babak

 

Panggung dibuka. Seorang lelaki bungkring menunggang kuda kayu.

Seorang perempuan gendut menunggang sapu. Keduanya berputar tiga kali.

 

“Apa yang kaucari Sinuhun, ke latu permaisurimu telah terjun?”

“Aku mencari panas pada api. Aku mencari alun pada unggun!”

 

Perempuan itu menghentikan sapunya, membuka kembennya, lalu melepas

jariknya. Lelaki itu melonjak-lonjak seolah kuda kayunya memberontak.

 

“Mendekatlah, wahai Sinuhun. Panas telah kuringkas ke puncak pahaku.

Unggun telah kutuntun ke dadaku. Mendekatlah, Sinuhunku yang pikun.”

 

Lelaki itu membuang kuda kayunya, membuang pakaiannya. Kedua

tangannya ia rentangkan lalu berputar dan menari ia seperti sufi pemula.

 

“Sesaplah unggunku Sinuhun, supaya kau tangkas melibas sisa sunyi.

Jilati panasku Sinuhun, supaya kau lepas dari letih dan kelatahan ini.”

 

Lelaki itu mendekat. Panggung murup redup. Seorang perempuan pemirsa

membekap mata anaknya. Dua muda-mudi berkecap-kecup. Layar ditutup.

 

(2017)

 

A Muttaqin lahir di Gresik, Jawa Timur, 11 Maret 1983. Buku puisinya adalah Pembuangan Phoenix (2010), Tetralogi Kerucut (2014), dan Tarekat Lembu (2016). Ia tinggal di Surabaya.

Advertisements