Cerma Faris Al Faisal (Rakyat Sumbar, 06-07 Januari 2018)

Sepisau Rindu yang Terus Menusuk ilustrasi Rakyat Sumbar
Sepisau Rindu yang Terus Menusuk ilustrasi Rakyat Sumbar

ZINNIA,

Saat kaubaca tulisanku, anggaplah aku sedang bercerita padamu. Cerita lama yang telah usang yang hanya membuatmu tergelak mendengarnya. Lucu bukan? Tetapi tidak bagi diriku, Zinnia. Kisah itu menjadi derita yang tiada henti menimpaku. Ini tentang kisahku yang tertusuk sepisau rindu. Apakah kamu ingin mendengarnya?

Aku tidak tahu kenapa memilihmu sebagai tempat bercerita? Mungkin karena kamu dulu adalah pacarku. Tempat aku berkelu-kesah, meredakan resah-gelisah dan membagi gundah-gulana. Tentu kamu akan bertanya pula, kenapa tidak orang lain saja? Ah, pasti kamu tahu jawabannya, tidak mudah mencari kekasih untuk yang aku sebutkan tadi. Doi sekarang tak pernah siap untuk dibawa menderita. Padahal semua tahu, setelah kesulitan akan bertemu kemudahan dan setelah kesukaran akan bertemu kesenangan.

Gacoan kini inginnya bahagia, maunya gembira, perlunya sukacita. Untuk bertemu saja mesti di Bioskop 21, buat makan dan minum harus di kafe, jalan-jalannya shopping dari satu mall ke mall lainnya. Padahal dahulu kita pun bertemu, makan dan minum juga jalan-jalan. Akan tetapi cukup di ruang tamu atau di depan beranda rumahmu, ditemani ayahmu main catur atau mendengar kisah-kisah heroik dan patriotik zaman kemerdekaan dulu, lalu kamu datang membawakan pisang goreng serta kopi panas yang masih berasap-asap. Rasanya manis tak terperikan. Kemudian jika tanggal merah di hari minggu, aku baru dapat minta izinnya untuk membawamu ke pantai, membawa bekal makanan dalam rantang susun dan minuman dalam botol minum. Kenangan itu tak pernah hilang, Zinnia. Melekat macam permen karet yang aku tiup lalu tak sengaja menempel di rambutmu. Tetapi sedikitpun kau tak marah padaku. Apa kau masih mengingatnya?

Adapun kisahku yang tertusuk sepisau rindu itu begini, Zinnia. Tentulah itu terjadi setelah ayahmu menjodohkanmu dengan anak lelaki sahabatnya.

Seperti halnya pisau, ia adalah benda tajam yang dapat digunakan untuk mengupas kulit buah mangga. Namun, bila tidak hati-hati, sebelum hidung dan lidah dapat menikmati harum dan manisnya, tangan ini teiris. Lalu mata menangis, bibir meringis, luka sepanjang empat centimeter menganga, sakit yang terasa dengan darah bersimbah. Tetapi ini pisau rindu Zinnia! Rasanya begitu menyesakkan dada. Semilir di pagi hari, berembus di siang hari, berdesir di sore hari dan bergelora di malam hari. Engkau tentu bertanya, seperti apakah pisau rindu itu?

Pisau rindu itu aku temukan di sebuah taman bunga, Zinnia. Mungkin bekas tukang kebun yang ketinggalan sehabis memotong ranting dan daun bunga yang berebut tampil. Namun, pisau rindu itu tidak berbentuk sebagaimana lazimnya pisau. Tidak berbilah panjang dan tidak bergagang. Berbentuk hati tapi penuh darah. Mirip macam bunga bleeding heart, Zinnia, bunga hati berdarah itu.

Aku terpana lalu terpesona. Terbit keinginan di kepalaku untuk memilikinya. Kusentuh dengan tanganku, kuelus-elus macam dulu aku pernah membelai-belai rambut hitammu. Kudekap ia dengan erat. Oh tanganku bergetar, kakiku gemetar, dadaku berdebar dan hatiku menggeletar. Seperti itu mungkin rasanya dulu, jika aku berani memelukmu. Kau tak pernah kupeluk bukan? Iya kan, Zinnia?

“Hai jangan kau ambil pisau itu!”

Aku mengengok ke belakang, ke arah suara itu. Seorang lelaki tua menyeruku. Aku seperti pernah mengenalnya. Dekat sekali sedekat dua lubang hidung. Tapi bukan hidungku yang macam buah jambu air ini, hidungmu Zinnia, karena hidungmu bagus itu mirip sekali dengan lelaki itu. Tetapi aku tak cukup waktu untuk mengamati lebih lanjut lagi. Mungkin biji matanya juga mirip denganmu? Entah bagian tubuh mana lagi yang hampir sama denganmu, karena aku buru-buru menyembunyikan pisau rindu itu ke dalam saku bajuku. Rasa ingin memiliki pisau rindu itu membuatku ingin mengambilnya dari pemiliknya. Aku berlari kabur. Lintang-pukang, terpontal-pontal, tergopoh-gopoh menghindari kejarannya.

Kejar-kejaran aku dan lelaki itu sampai ke jalan raya. Aku mulai takut, merasa was-was sesuatu hal yang buruk terjadi padaku. Bukankah sering terjadi seorang pencuri menjadi bulan-bulanan masa? Atau dihakimi di jalanan sampai mati mengenaskan? Aku bergidik membayangkannya. Tangan lelaki itu mengacung-acung seperti tengah mengancamku dari jauh. Namun, tak satu pun orang-orang yang berada di jalan membantu lelaki tua itu untuk menangkap pencuri pisau rindunya. Padahal teriakan lelaki itu mengisyaratkan siapa pun untuk ikut membatunya menangkapku.

“Tangkap pencuri sepisau rinduku!” seru lelaki tua itu.

“Biar sajalah pemuda itu. Toh bukan pisau sungguhan, hanya sepisau rindu,” ucap penggendara motor kepada pejalan kaki, lalu melewati pejalan kaki lainnya juga mengucapkan kalimat itu.

“Kenapa kalian tak satu pun menangkap pencuri itu!” Lelaki itu menghardik pejalan kaki setiap kali ia melewatinya.

“Berikan saja sepisau rindu untuk pemuda itu!” Salah seorang pengendara mobil ikut-ikutan mendukung pejalan kaki.

Aku tak tahu kenapa orangorang itu seperti mendukungku? Mirip kisah kita bukan? Lalu bagaimana bisa sepisau rindu yang kutaruh di saku baju bisa menusukku? Ini yang ingin aku kisahkan sebenarnya padamu.

Nah, sepisau rindu itu lantas mengajakku bicara. Zinnia, kamu boleh percaya, boleh tidak! “Lepaskan aku! Kasihan lelaki tua itu! jangan kau curi aku dari pemiliknya!”

Aku terkejut. Lariku tersangkut. Padahal tak ada akar belukar atau sangkut paut. Lelaki tua itu berhasil mengejarku. Napasnya tersengal-sengal, karena dadanya menahan kesal. Hampir saja ia mau memukulku tetapi sepisau rindu itu mencegahnya.

“Jangan pukul lelaki ini,” katanya memelas.

“Tapi ia sudah kurang ajar!” kilah lelaki itu emosi.

“Biarkan aku saja yang menghukumnya,” ucap sepisau rindu itu.

Aku tak mengerti mengapa ia mau menghukumku. Bukankah aku telah terpesona kepadanya? Hanya ingin memilikinya? Bukan untuk menyakiti akan tetapi buat mencintai? Sepisau rindu itu keluar sendiri dari saku kantong bajuku. Melayang-layang di depanku. Lantas seperti sebuah senjata rahasia ninja, shuriken, sepisau rindu berbentuk hati itu melesat ke dadaku, menusuk ke jantung hati.

Aku menggelepar lalu terkapar. Dalam keadaan antara setengah sadar, kulihat sepisau rindu itu bersarang di dadaku. Lelaki tua itu mendekatiku, lalu tesenyum, tangannya mencoba mencabutnya. Berkali dicoba, tenaganya dikerahkan lebih besar lagi, tak tercabut. Ia putus asa dan meninggalkan sepisau rindu itu di dadaku.

Aku memandangi terus lelaki tua itu. Kembalia aku terkejut, Zinnia. Kini aku mulai mengenali lelaki itu. Tidak salah lagi, hanya satu-satunya. Ayahmu Zinnia, itu ayahmu. Tetapi kegelapan merasuki alam pikiranku.

***

Aku tersadar seutuhnya. Mataku remang, lalu berangsur-angsur tampak semuanya terang. Plafon putih yang pertama aku lihat, lalu kudapatkan tubuhku telah ada di atas pembaringan. Namun, selang-selang centang perenang di wajah dan tanganku.

“Apa yang terjadi?” ucapku. Tapi pertanyaan itu ditujukan entah kepada siapa. Yang jelas ada seorang perempuan duduk di dekat jendela dan memandangi pohon-pohon tua yang ditanam entah sudah berapa lamanya.

“Oh, kamu sudah sadar?” Perempuan itu bangkit dari kursinya, berbalik mendekat ke arahku.

“Ibu.”

“Kamu di rumah sakit,” ucapnya lembut. Damai sekali mendengarnya.

Aku menghela napas, lantas teringat sesuatu. Kuraba dadaku, kubuka kancing-kancing bajuku. Sepisau rindu itu masih berada di dadaku.

“Kapan operasinya, bu?”

“Operasi apa? Tak ada operasi, kamu hanya pingsan beberapa hari.”

“Pisau rindu ini masih di dadaku, bu.”

“Pisau? Pisau apa tadi? Tak ada apa-apa di dadamu.”

Aneh sekali, Zinnia. Ibuku tak melihat sepisau rindu ini, padahal kedua biji mataku masih menemukannya bersarang di dadaku. Pada saat yang bersamaan, seorang dokter ditemani dua perawatnya memeriksaku. Pun tak menemukan sepisau rindu yang menikamku.

“Semuanya seperti yang diinginkan. Hari ini boleh pulang.” Titah dokter itu disambut rona gembira di wajah ibu.

Berhari, berbulan dan berganti tahun. Aku merasakan sepisau rindu itu masih bersembunyi di pedalaman hatiku. Suatu ketika, ibu menceritakan padaku kisah cintanya dengan ayahku. Kisah yang penuh romansa perjuangan yang panjang. Sekalipun anak seorang petani, ayah mencintai ibu yang seorang anak wedana. Pada awal kisah asmaranya, seakan direstui. Ibu bahagia karena merasa ayah diterima di keluarganya. Tetapi itu kemudian berubah, ibu dijodohkan dengan anak seorang wedana teman ayahnya.

“Ayahmu dipukuli tukang pukul bayaran,” ucap ibu sambil terisak, “tetapi ayahmu tak gentar sedikit pun.”

“Lalu bu?”

“Ia tetap mencintai ibu. Sampai ibu dinikahkan dengan anak wedana itu. Namun, karena ketidakcocokan satu dengan lainnya, ibu bercerai.”

Hening, aku dengan khidmat menyimaknya.

“Tak lama setelah habis masa idah, ayahmu datang melamar ibu. Lalu ayah dan ibu menikah tinggal di rumah ini. Setahun kemudian kau pun lahir. Ayahmu tetap bekerja sebagai petani. Hingga musibah datang saat hujan, ayahmu tak pulang dari sawah hingga malam.”

Seperti tengah menggali ingatannya, butiran air menetes di wajahnya. Bukan, itu bukan keringat melainkan air mata.

“Ibu berniat menyusulnya, sedang kau ibu titipkan pada tetangga. Saat tiba di pematang sawah, ibu terkejut mendapatkan ayahmu terkapar tak bernyawa. Petir sore tadi telah menyambar ayahmu.”

Aku merinding mendengarnya. Ayah yang begitu gigih dengan cintanya dan sikap ibu yang betapa menghormatinya. Aku tertegun mendapatkan diriku yang ternyata begitu lemah memperjuangkan cinta ini sehingga sepisau rindu itu terus menusukku, menyiksaku dan bersarang di dadaku.

“Kau selalu menyebut pisau rindu?”

“Itu adalah rindu yang masih ada di dadamu. Kamu masih rindu Zinnia?”

Aku tertunduk malu.

“Katakan padanya rindu itu atau lupakan. Tidak ada pilihan lain.”

Zinnia, kamu tentu tergelak dan mulai mentertawakanku. Tak apalah, karena memang demikan keadaannya. Rindu itu masih ada dengan siksa yang lebih menggila. Apakah di hatimu tidak terbesit sedikitpun rasa belas kasihan itu untuk melepas sepisau rindu yang terus menusuk di hatiku? Karena hanya pemiliknya saja yang dapat menariknya dari ruang dadaku.

Sebelum tawamu benar-benar terhenti, aku ingin menambah lelucon lagi agar kau makin tergelak. Dengan surat ini, aku ingin menyampaikan pula ajakan untuk meneruskan cerita lama kita. (*)

 

 

Anonim, tidak ada nama pengarang pada laman epaper “Rakyat Sumbar”.

Advertisements