Cerpen Abdullah Salim Dalimunthe (Koran Tempo, 07-08 Januari 2018)

Menunggu Salju Turun di Jakarta ilustrasi Munzir Fadly.jpg
Menunggu Salju Turun di Jakarta ilustrasi Munzir Fadly/Koran Tempo

Mereka tentu tidak mengerti tentang perasaan saya sekarang ini, Paul. Di mata mereka, barangkali, saya hanyalah seorang janda tua yang belum cukup menjadi dewasa. Seorang perempuan cengeng yang menolak kenyataan bahwa suaminya telah mati berbulan-bulan kemarin. Atau, mungkin saja, mereka sudah menganggap saya gila—sebab, tadi saya mengatakan pada mereka, saya akan menunggu salju turun di kursi bambu di pekarangan rumah. Dan saya yakin sekali, tadi itu, telinga mereka bagai tersengat tawon-tawon raksasa. Tapi, sudahlah, Paul, biarkan mereka menganggap saya demikian. Toh, mereka juga tidak salah sepenuhnya. Lagi pula, mana mungkin salju turun di kota ini. Di Jakarta? Rasa-rasanya itu mustahil, Paul Rainer. Kau jangan gila.

Meski saya berharap, salju akan turun di kota ini sekali saja, paling tidak untuk malam ini. Menemani saya mengenangmu kembali pada masa-masa itu. Masa-masa di mana saya baru saja mengenalmu di kota itu, empat puluh tahun yang lalu, kau ingat? Ketika itu, saya bersama kawan-kawan mahasiswa yang berkuliah di Wina—yang juga berasal dari Indonesia—datang menyaksikan pertunjukan opera di Wiener Staatsoper. Malam itu adalah malam yang paling menakjubkan dalam hidup saya. Menikmati keindahan penampilan para seniman panggung di Wiener Staatsoper? Oh, Paul, itu seperti mimpi. Mimpi yang sangat menyejukkan. Ya, walaupun itu semua saya nikmati dari sudut pandang yang terbatas. Seperti sama-sama kita ketahui, butuh keberuntungan lebih untuk mendapatkan kursi terbaik pada balkon yang tepat di Wiener Staatsoper, bukankah begitu, Paul? Atau, uang lebih tentunya, biar bisa merebutnya dari para calo tiket yang berjalan-jalan dengan jubah mereka di luar sana. Atau, bisa juga dengan tidak menggunakan kursi sama sekali; menyaksikan pertunjukan sambil berdiri agar lebih leluasa—ah, seandainya kami tahu di mana loket standing class itu dibuka pada waktu itu. Tapi, tidak mengapa, karena dengan begitu saya bisa berkenalan denganmu pada malam itu. Perkenalan yang mengesankan. Kau yang kerap melemparkan senyum kepada saya.

Empat puluh tahun sudah berlalu, Paul, dan saya masih mengingatnya. Dan, saya yakin, kau pun masih dapat mengingatnya: kencan pertama kita. Kau tentu ingat, seminggu setelah perkenalan kita di Wiener Staatsoper, kau memberanikan diri untuk datang ke kediaman Tuan dan Nyonya Ebner; tempat di mana saya menyewa sebuah kamar di rumah mereka. Kau berniat mengajak saya menemanimu menyaksikan kembali pertunjukan opera di gedung megah itu. Oh, Paul, betapa senangnya perasaan saya. Terlebih, demi mendapatkan izin dari Tuan dan Nyonya Ebner agar bisa membawa saya pergi, kau harus rela menerima tatapan garang dan penuh selidik dari pasangan suami-istri itu terlebih dahulu. Dan kau begitu gugup. Kau tampak manis sekali pada saat itu, Paul. Maaf, saya tidak bermaksud menertawakanmu. Hanya saja, kala itu, saya melihat Tuan dan Nyonya Ebner begitu mirip dengan kedua orangtua saya. Mereka begitu khawatir. Sebab mereka memang telah menganggap saya seperti putri mereka sendiri. Dan, kita mesti menghargai dan memaklumi hal itu, Paul. Karena mereka belum mendapatkan anugerah itu meski usia mereka hampir terbilang senja. Ya, saya tahu, kau sedikit kesal ketika Tuan Ebner memperingatkanmu tatkala kita hendak memasuki mobil—sesaat sebelum pergi—dia sempat berkata: “Jadi, Paul Rainer, jika memang benar itu namamu, perlu saya tegaskan sekali lagi di sini: saya kenal semua bajingan yang ada di setiap sudut kota ini, dan mereka bersedia melakukan apa saja untuk saya agar saya tersenyum. Kau mengerti, kan, maksud dari perkataan saya ini, anak muda?”

Beruntunglah kata-kata Tuan Ebner tidak membuatmu murung terlalu lama. Karena suasana kegembiraan yang tampak dari orang-orang yang akan menyaksikan pertunjukan opera di Wiener Staatsoper turut meluruhkan kekesalanmu pada Tuan dan Nyonya Ebner. Ya, segala aura negatif seharusnya memang tidak boleh ada, biar bagaimanapun, malam itu adalah kencan pertama kita. Ya, kencan pertama kita, yang tiba-tiba saja berubah dari rencana semula.

Mungkin karena tadi terlalu gugup, atau karena kecerobohan yang tidak perlu, kedua tiket itu hilang; terjatuh dari saku mantel, katamu. Kau buru-buru berlari ke sisi kanan, berharap masih ada tiket yang tersisa. Tapi, sia-sia. Kemudian, kau teringat, “Standing class!” Lalu kau bergegas ke loket standing class itu berada. Tapi, Paul, percuma saja, tiga puluh menit lagi pertunjukan ini akan segera dimulai, mustahil, kata saya tersengal-sengal—mencoba menyejajarkan langkah dengan langkah kakimu yang begitu cepat. Maaf, bahkan loket itu pun sudah ditutup, ucapmu dengan sangat menyesal. Oh, Paul, saya tidak menyalahkanmu. Kau tak usah sekecewa itu. “Pria berjubah!” pekikmu tiba-tiba. “Paul, hentikan!”

Tidak ada pertunjukan opera bagi kita pada malam itu. Tapi, bukankah kota itu adalah Wina, Paul? Ada banyak keajaiban yang disuguhkan di kotamu itu. Dan, lagi pula, malam itu adalah kencan pertama kita. Saya lega kau segera menyadarinya. Kau mengajak saya untuk menikmati suasana jalanan di kota itu. Menikmati suasana musim dingin di jalanan kota Wina. Menurut saya, itu suatu hal yang sangat menggembirakan. Seperti yang dulu pernah saya katakan padamu, saat malam itu: “Mari kita nikmati Wina malam ini! Fantastis!” Kau tahu kenapa saya begitu bersemangat, Paul? Oh, Paul, delapan bulan sudah saya berada di sana, tetapi, sekali pun belum pernah saya dengan sengaja meluangkan waktu untuk benar-benar menikmati suasana jalanan di kota Wina pada malam hari. Ya, me-nik-ma-ti Wina, Paul! Musim dingin! Desember! Apalagi cuaca cukup bersahabat ketika itu. “Siapa tahu, salju pertama akan turun malam ini!” betapa bahagianya saya membayangkannya kala itu, Paul.

Lantas kita menuju Jalan Operngasse dan menyusuri jalanan tersebut dengan berjalan kaki. Di sepanjang jalan itu pula kita melihat banyak orang mulai menghiasi tempat-tempat mereka: toko-toko, kantor-kantor, penginapan-penginapan, dan bahkan tiang-tiang penerang jalan juga turut bersiap-siap dengan kemeriahan. Ornamen-ornamen Natal mulai tampak jelas di sepanjang Jalan Operngasse. Dua minggu lagi hari istimewa itu akan datang, katamu bersemangat. Oh, Paul, sungguh kau keliru. Bagi saya, hari istimewa itu bahkan datang lebih cepat dari waktu yang semestinya. Dan kau adalah hadiahnya.

Dan kita menikmati suasana itu dengan saling bercerita. Saling mengutarakan. Saling menjajaki satu sama lain agar lebih saling mengenal. Dan, Paul, saya terkejut saat mendengar kau mengatakan ingin menjadi chef terbaik di Wina, bahkan di Austria. Oh, Paul, saya benar-benar tidak menyangka kau sangat mencintai dapur dan segala tetek-bengeknya. Jujur, tadinya saya mengira, kau bercita-cita menjadi seorang pemain opera di Wiener Staatsoper. Sebab, di mata saya, kau terlihat bagai seorang pangeran yang digandrungi oleh banyak putri dari berbagai kerajaan. Dan tentu saja itu bukan gombal, Paul. Saya berkata jujur. Apakah saya terlihat seperti sedang merayumu, Paul? Oh, Paul, kenapa pipimu tiba-tiba bersemu merah? Ya! Itu adalah balasan untukmu, Paul Rainer. Kau sempat membuat saya kesal waktu itu. Saat kau menanyakan makanan apa yang paling saya sukai di Indonesia. Dan saya menjawab, nasi goreng dan rendang. Lalu kau menanyakan kebisaan saya membuat kedua masakan tersebut. Tentu saja saya bisa membuat nasi goreng. “Bagaimana dengan rendang?”

Bersyukurlah Wina juga mempunyai para musisi jalanan. Berkat mereka, saya tidak perlu menjawab pertanyaanmu itu, Paul. Karena perhatian kita kala itu langsung tertuju pada tiga laki-laki dewasa yang sedang memainkan dua buah biola dan sebuah harmonika, serta sebuah drum bekas penyimpanan minyak yang telah dipotong setengahnya dan dijadikan sebagai perapian. Di situ-di dekat persimpangan jalan yang saya sudah agak lupa namanya—berkumpul orang-orang menyaksikan pertunjukan tiga musisi jalanan tersebut sambil bertepuk tangan dengan riangnya. Dan, di tengah-tengah mereka, tampak sepasang kekasih sedang berdansa penuh keceriaan. Kau pun meminta saya untuk menemanimu berdansa. Tapi, Paul, saya tidak bisa berdansa. Lagi pula, iramanya terlalu cepat—bisa-bisa saya mengacaukan semuanya. Kau bergegas membisiki salah seorang dari tiga musisi jalanan itu. Dan, kemudian, mereka memainkan musik dengan irama lambat. Oh, Paul, saya tidak memiliki alasan lain untuk menolaknya. “Viennese Waltz,” bisikmu lembut di telinga saya. Terbata-bata saya mengikuti gerak kakimu itu. Tapi saya senang, meski berulang-kali tanpa sengaja saya menginjak kakimu. Dan, terkadang, saya merasa malu bila mengingatnya lagi, Paul. Betapa konyolnya dansa saya waktu itu.

Lalu kita kembali ke Operngasse dan menyusuri jalan itu lagi. Kau membawa saya ke sebuah kafe: Café Museum. “Opera, musik, dansa, dan kopi. Itu artinya, kau benar-benar sedang berada di Wina,” ujarmu, lantas membantu melepaskan mantel saya dan menggantungkannya di sebuah kapstok yang terletak tidak jauh dari meja. Di tempat ini, rotinya enak-enak, katamu. Kemudian, kita duduk pada sebuah meja yang berada di dekat dinding kaca. Dari situ kita dapat melihat keadaan di luar sana. Dan, dari situ pula kita menyaksikan salju pertama itu akhirnya turun. Salju pertama yang tipis-tipis pada kencan pertama kita. Betapa indah.

Namun semua itu tidak lebih indah dari sebuah kebohongan yang telah kaulakukan, Paul. Saya tahu, sebenarnya kedua tiket pertunjukan opera itu tidak hilang. Kau sengaja berpura-pura menghilangkannya agar dapat mengajak saya berjalan kaki dari Wiener Staatsoper ke kafe itu, bukan? Kau sengaja melakukan itu supaya mempunyai banyak waktu untuk dapat mengenal saya, kan? Oh, Paul, kau sangat manis. Saya tahu tentang kebohongan yang romantis ini bahkan sejak malam itu. Kau ingat? Ketika hendak kembali ke area parkir di Wiener Staatsoper, kau mengenakan mantelmu pada saya. Dan, tanpa sengaja saya merogoh sakunya. Saya menemukan kedua tiket itu masih berada di sana. Kau ceroboh, Paul Rainer. Kau hampir saja membuat saya menangis haru pada malam itu. Bisa kaubayangkan apa yang akan terjadi bila Tuan Ebner melihat mata saya jadi sembap? Dia pasti mencarimu.

Oh, Paul, saya tak mampu menahannya lagi. Sekarang saya menangis. Saya merindukan kenangan kita pada malam itu. Dan, salju. Saya merindukan salju yang tipis-tipis itu. Seandainya saja perampok terkutuk itu tidak pernah beraksi di dekat rumahmu. Dan kau tak berlagak pahlawan yang ingin menyelamatkan nyonya kaya yang kesepian itu. Mungkin saat ini kau masih hidup. Dan, kita sama-sama bisa menunggu salju turun di Jakarta. Seperti janjimu dulu. Oh, Paul, sekarang saya benar-benar menangis. Mereka pasti tengah memperhatikan saya. Mereka jelas tidak mengerti tentang perasaan saya sekarang ini, Paul.

“Nyonya Herlambang, kemarilah. Kedua cucumu ini telah membuatkan ikan bakar yang lezat untukmu. Kemarilah, sebentar lagi kembang-kembang api itu akan dinyalakan. Kau tentu tidak ingin mengawali tahun dengan perut kosong, bukan? Lupakan saja tentang salju itu, dia tidak akan turun di sini. Di Jakarta? Tidak akan.”

Kau dengar, Paul? Tetangga saya itu begitu cerewet. Berani-beraninya dia bersekutu dengan cucu-cucu saya untuk memperolok-olok saya. Dasar, laki-laki peyot. Menyebalkan. Oh, Paul, sepertinya saya sudah harus menyudahinya sekarang. Saya tidak ingin mereka melaporkan saya pada kedua anak dan menantu-menantu saya. Mereka jauh lebih cerewet daripada laki-laki tua peyot itu. Terima kasih telah berbaik hati menemani saya, meski hanya dalam pikiran saya belaka. Dan, Paul, jika kau bertemu dengan suami saya di sana, tolong sampaikan padanya: “Terima kasih telah menjadi laki-laki dewasa untuk diri saya selama ini. Saya berutang banyak kebaikan kepadamu.” Sebagaimana kau, Paul, dia juga laki-laki yang sangat baik.

 

Abdullah Salim Dalimunthe lahir di Medan, November 1982. Alumnus Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran. Kini ia tinggal di Bandung.

Advertisements