Cerpen Raflis Chaniago (Rakyat Sumbar, 06-07 Januari 2018)

Gempa dan Tsunami di Kepala Kami ilustrasi Rakyat Sumbar.jpg
Gempa dan Tsunami di Kepala Kami ilustrasi Rakyat Sumbar

HAH, gempa? Aku dan seisi rumah berhamburan ke luar rumah. Tetanggaku juga. Gempa itu membuat rumahku bergetar beberapa kali. Bergetar sekali, diam. Bergetar sekali lagi, diam. Begitu beberapa kali. Kaca jendelaku selalu bersuara “rrrrr” setiap getaran itu terjadi.

Setelah berada di luar umah, istriku berteriak, “Minyak motor penuh, Uda?”

“Penuh,” jawabku.

Ini gempa yang aneh, pikirku. Biasanya getaran gempa itu hanya terjadi sekali sampai dua kali. Sekarang, kenapa terjadi berkali-kali? Kutelepon beberapa orang teman dan familiku yang tinggal di tempat berbeda, apakah di tempat mereka juga terjadi gempa. Ada yang kutelepon temanku yang tinggal di Padang Panjang, Bukittinggi, Bayang, dan Painan.

“Halo, Sutan.”

“Ya. Halo juga Bandaro. Apa kabar?”

“Di tempat aku sedang terjadi gempa. Bagaimana keadaan Gunung Marapi? Aman-aman saja? Apakah di Padang Panjang juga terjadi gempa?”

“Gempa? Tidak. Di sini tak ada gempa. Gunung Merapi aman-aman saja. Tak ada apa-apa. Emangnya di tempat Bandaro ada gempa?”

“Ya. Malahan bukan hanya sekali, tapi berkali-kali. Gempa, berhenti. Gempa lagi, berhenti lagi. Jadi, di Padang Panjang tak ada gempa, ya?”

“Tidak.”

“Kalau begitu, terima kasih Sutan. Asalamualaikum.”

“Waalaikum salam.”

“Halo, Uni. Assalamualaikum! Apakah Uni merasakan gempa?” tanyaku kepada kakak perempuanku.

“Tidak. Memangnya di sana ada gempa?”

“Ya. Bahkan getarannya tidak hanya sekali. Berulang kali.”

“Tak ada. Di sini aman-aman saja. Tidak ada gempa.”

“Kalau begitu, assalamulaikum, Ni.”

Kutelepon pula temanku di Painan. Dia juga mengatakan tidak ada gempa. Padahal jarak Painan dari tempat tinggalku hanya sekitar 4 km. Aneh.

Berbicara masalah gempa, semenjak terjadinya gempa 26 Desember 2004 berkekuatan 9 SR, aku bahkan banyak orang mengalami trauma. Trauma itu disebabkan oleh dua hal, yaitu banyaknya bangunan yang runtuh dan terjadinya tsunami di Aceh yang memorak-porandakan Aceh dan menelan korban sekitar 115.229 jiwa. Di Padang ketika itu banyak pula bangunan termasuk hotel ambruk. Ada orang yang bisa menyelamatkan diri ada pula yang tidak. Dan cara menyelamatkan diri itu ada dengan cara wajar, ada pula yang tidak.

Menyelamatkan diri dengan cara wajar, misalnya berlari ke luar rumah dan berdiri di tempat yang lapang. Ada pula yang memacu kendaraannya ke kawasan yang lebih tinggi seperti ke arah Indarung untuk menghindari tsunami. Namun, karena banyak yang berbuat begitu, jalan menjadi macet. Boro-boro menyelamatkan diri, bergerak pun tak bisa. Itu terjadi baik waktu gempa di siang hari maupun di malam hari. Yang menyelamatkan diri dengan cara tak wajar karena kaki terjepit dalam sebuah bangunan dilakukan seorang buruh yang sedang menggergaji kayu, terpaksa memotong kakinya sendiri dengan gergaji yang sedang dipergunakannya itu.

Bagi masyarakat desa seperti aku dan keluargaku mulai saat itu setiap terjadi gempa selalu menyelamatkan diri ke luar rumah sampai lari ke puncak bukit atau ke tempat-tempat tinggi lainnya sampai anak anggota masyakat ada yang meninggal dalam kandungan. Pemerintah membantu masyarakat dengan menyediakan berbagai macam tempat evakuasi yang merata di berbagai tempat dan selter di tempat-tempat tertentu. Alarm tsunami di tempat-tempat tertentu dipasang. Tenda-tenda dan dana disediakan. Jalan-jalan menuju lokasi evakuasi itu masih dapat dilihat sampai sekarang.

Waktu menyelamatkan diri ke luar rumah pun terjadi berbagai macam hal. Biasanya kalau gempa terjadi, lampu listrik langsung mati. Di malam hari ada yang menyimpan kunci rumah di bawah bantal dengan rencana begitu goncangan terasa, kunci di bawah bantal langsung bisa diambil. Tahu-tahunya begitu goncangan tiba, lupa di mana kunci diletakkan. Ada pula kunci sudah di tangan, tidak kunjung menemukan lubang kunci karena gelap. Kadang-kadang setelah kunci masuk ke dalam lubangnya, memutar pun tidak sanggup karena tangan gemetar. Ada pula yang sudah sampai di luar, tapi tak sadar bahwa dia sedang memeluk bantal guling. Di samping itu, yang tragisnya ada wanita baik masih gadis maupun yang sudah bersuami hanya keluar dengan memakai bra dan celana hawai. Bila gempa terjadi waktu siang atau sore, ada yang lari ke luar rumah hanya dengan memakai handuk karena sedang mandi. Yang lebih lucu lagi ada pula yang lari dengan memakai handuk dan kepala penuh dilumuri busa shampoo.

Di samping peristiwa-peristiwa biasa, aku juga mendengar berita misteri tentang stunami Aceh. Ada sebuah keluarga Aceh yang tinggal di desa tetanggaku. Menurut pengakuan tetangganya, pagi mereka menyaksikan pohon kuini di halaman depan rumah keluarga Aceh itu terguncang-guncang sendiri. Angin tidak, gempa pun tidak. Sorenya menurut pengakuan kerluarga Aceh itu, mereka dapati kuini mereka melayu. Besoknya baru mereka dapat berita bahwa Aceh diluluhlantakkan stunami. Hal itu itu membuat mereka ingin terbang ke Aceh, tapi tak bisa. Mereka hanya bisa terbang sampai Medan. Dari Medan mereka berangkat dengan taksi dan mereka saksikan seluruh keluarganya menghilang ditelan tsunami. Anehnya katanya, sekian banyak mereka melangkahi dan menyingkapkan mayat dalam rangka mencari mayat-mayat keluarganya, tak semiang pun bau busuk singgah di hidung mereka. Aneh, mayat-mayat yang bergelimpangan sudah beberapa hari, tak satu pun yang berbau.

Tentang upaya menyelatkan diri, aku teringat pada suatu ketika. Waktu itu tahun 2007. Aku sedang menunggu istriku yang sedang sakit di rumah sakit. Dia ditempatkan di atas ranjang beroda. Waktu itu gempa besar mengguncang bumi. Para pengunjung rumah sakit baik yang sedang berobat maupun yang sedang menunggu pasien dengan bayangan stunami di kepala masing-masing berlari tak tentu arah. Para perawat menghilang. Pesien diselamatkan keluarga masing-masing seperti yang terjadi pada diriku. Aku mendorong ranjang istriku ke luar kamar rumah sakit sendirian. Kudorong ke kiri, yang di depan nyelonong ke kanan. Kutarik dari depan, yang di belakang nyelonong ke kiri. Dengan perjuangan yang luar biasa, alhamdulillah akhirnya sampai juga istriku di luar. Istriku sampai di luar kamar, gempa reda dan setelah itu, para perawat baru kelihatan puncak hidungnya mencari pasien yang menjadi tanggung jawabnya masing-masing. Rupanya waktu gempa terjadi tadi, masing-masing mereka pun menyelamatkan diri mereka.

Akhirnya tiba perintah agar semua pasien dibawa kembali ke kamar masing-masing. Besoknya gempa susulan terjadi. Aku kembali mendorong ranjang istriku ke luar. Kali ini aku sudah dibantu oleh salah seorang saudaraku. Sayang, ranjang itu tak mau beringsut sedikit pun. Dengan bantuan saudaraku, istriku terpaksa digotong dan infus dipegang mertuaku. Setelah gempa reda, istriku kukembalikan ke ranjangnya. Tak lama kemudian, perawat masuk. Dia perintahkan agar istriku dibawa ke tenda yang sudah disiapkan di halaman rumah sakit. Kulaporkan kepadanya bahwa ranjang tak bisa didorong. Dia membantu. Dia tekan sesuatu pada roda dengan kakinya. Rupanya ketika didorong tadi rem roda sedang terpasang.

Besoknya helikopter kelihatan mondar-mandir di atas udara kampung kami. Ada yang berputar-putar kemudian menghilang. Ada pula yang menuju ke arah Bengkulu. Rupanya menurut informasi itu adalah helikopter kepresidenan yang membawa Presiden SBY setelah meninjau Padang dan Mentawai menuju Bengkulu.

Kali ini aku dan keluargaku takut kalau-kalau peristiwa itu terjadi lagi. Karena getarannya tiada henti-hentinya, aku naik ke atas balkonku. Kuintip keadaan sekeliling komplek belakang rumahku melalui jendela. Ibarat pepatah Minang “ditukiakkan pandangan nan dakek, dilayangkan pandangan nan jauah” (ditukikkan pandangan yang dekat, dilayangkan pandangan yang jauh). Begitu kuedarkan, pandanganku langsung tertumbuk pada sebuah mesin giling yang mondar-mandir sedang mengaspal jalan. (*)

Advertisements