Cerpen Teguh Affandi (Tribun Jabar, 31 Desember 2017)

Melodrama Superhero ilustrasi Yudixtag - Tribun Jabar
Melodrama Superhero ilustrasi Yudixtag/Tribun Jabar

MIMPIKU? Sama. Sejak kecil aku bermimpi menjadi superhero dengan kostum paling gagah yang bisa kubayangkan. Tubuh terjiplak ketat dengan simbol kebanggaan di tengah dada. Aku ingin menjadi superhero. Hingga bisa terbang menyelamatkan gadis yang tergantung di beranda apartemen, membantu kasir toko emas saat ditodong perampok, atau sekadar membunyikan lonceng tahun baru atas undangan khusus wali kota.

Impian itu menjadi kenyataan ketika aku sedang terpuruk akibat persoalan asmara. Kekasihku menikah dan tanpa mengirim pesan pernyataan berpisah. Aku merasa seperti sebentuk bayangan yang tanpa pernah dikehendaki kehadiran. Dia kekasihku yang selalu kukirimi pesan pengingat makan, ternyata lebih memilih orang lain. Aku memutuskan untuk mengakhiri hidup saja. Tidak ada lagi orang yang akan kukirimi pesan pengingat makan siang.

Aku pergi ke Bukit Golgota. Aku ingat, di sana ada pohon yang lekuk tajuknya mirip bentuk kepala Kumbakarna. Di sanalah salah seorang kawanku menggantungkan diri. Aku ingin mengikuti dia. Meski aku tahu, Bukit Golgota itu sekarang tak lagi sama dengan sepuluh atau lima belas tahun lalu. Lantaran seorang pebisnis batu bara berhasil menemukan kandungan timah yang cukup banyak 300 meter di bawah Bukit Golgota. Akibatnya, mobil pengeruk, kemah penambang, bangunan kantor menutup sebagian Bukit Golgota. Walaupun pohon yang mirip kepala Kumbakama itu masih ada, aku tetap harus memutar jauh agar tidak harus melewati pengamanan tambang timah.

Setelah berjalan lebih dari setengah jam, kakiku kesemutan. Aku duduk di atas batu besar, pohon yang mirip kepala Kumbakarna masih jauh di ujung pandangan. Dua hasta di depan saya, jurang yang menjadi penanda penambangan menganga. Tak dalam. Mungkin 10 atau 15 meter. Napasku satu-dua, keluar seperti seorang kakek yang diminta mengangkut sekarung beras. Mungkin aku akan mengakhiri hidup di sini saja. Bila kehidupan sudah terlalu perih, lantas mengapa harus membiarkan hidup merasakan kesakitan lebih.

Aku tidak membawa pisau, racun serangga, atau senjata tajam. Tali tambang untuk menggantung tubuhku di pohon yang mirip kepala Kumbakarna saja. Sebaiknya aku tali saja sebongkah batu dan aku pukul-pukulkan ke batok kepala. Kalaupun aku tidak mati, pastilah aku kehabisan darah, payah, akibat luka bentur yang aku ciptakan sendiri. Kemudian mati oleh dingin atau ikut tergerus akibat Bukit Golgota yang hancur oleh tambang.

Dalam masa pencarian itulah mataku menangkap sebuah kerlip yang sedikit berbeda. Warnanya hitam mengilat, seperti adonan dodol yang pekat bila terkena sorot matahari. Ukuran batunya tidak besar. Hanya sebesar genggaman tangan. Posisi ada di bawah bongkahan besar yang kuniatkan sebagai senjata untuk melukai diri sendiri. Batu apa gerangan? Mungkinkah itu bagian dari batu bara yang mencelat dari jurang tambang? Kupungut. Kutimang-timang. Debu-debu kuusap dengan kaus bagian dalam. Kemudian kilatnya semakin cerlang.

Batu apa gerangan? Tekstur permukaannya sehalus batu akik yang sudah diasah sekian ratus kali. Begitu jernih seperti kolam ikan yang baru saja dibersihkan. Mataku mengintip sesuatu bentuk yang tersimpan di dalam batu itu. Seranggakah itu? Atau fosil nyamuk purbakala? Andai ini benar-benar fosil seekor nyamuk zaman purbakala, aku akan bahagia karena menjadi kaya meski cintaku tak menghadirkan bahagia.

Saat mata masih mengamat. Mendadak Bukit Golgota diguncang gempa. Aku bisa merasakan skalanya cukup besar. Batu besar menggelinding dan jatuh ke jurang. Kemudian dahan-dahan berguncang. Tubuhku pun ikut limbung. Batu kusakui dan kuikuti goyangan gempa. Tubuh saya jatuh ke dalam jurang.

***

“SELAMAT datang Jason!” suara itu membangunkanku.

Mataku sayup-sayup. Kesadaran belum optimal 100%. Ketika mata sudah terbuka sempurna, aku menangkap sebuah robot kecil dengan bentuk kepala ceper mirip piring terbang dengan lampu-lampu merah berkelap-kelip. Kakinya berbentuk roda dan dua tangan berbentuk supit. Aku terkesiap. Aku berdiri dan kemudian melangkah dua tiga langkah mundur. Mengambil ancang-ancang. Aku lebih memilih untuk mengakhiri hidup sendiri daripada harus mati di tangan robot yang tak punya hati.

“Jason! Selamat datang di Kapal Rangers,” suaranya tersendat-sendat serupa pita kaset yang tergores ujung pena.

“Kalian makhluk apa?” suaraku terbata.

“Tenang Jason! Aku tidak akan membu nuhmu!”

“Bagaimana aku bisa masuk ruangan ini?” tanyaku.

“Kristal Merah yang telah kamu temukan. Bukan. Kristal Merah yang menemukanmu. Kamu terpilih! Kamu terpilih! Kamu yang kedua setelah Zack!”

Kemudian robot itu berkisah dengan bantuan muka seseorang yang terpahat di dinding kapal. Robot itu bemama Alpha 5 dan muka yang terjiplak dalam kapal adalah Zoron. Mereka berdua sedang mengumpulkan satu demi satu Ranger. Sekawanan superhero yang dipilih Zoron untuk mengembalikan Kristal Aurora miliknya, yang apabila tidak, bumi bisa hancur.

Dadaku seketika terkesiap. Aku menjadi superhero. Aku menjadi pahlawan.

“Benar!” sahut Alpha 5.

“Tapi kita harus menunggu tiga kawan lagi. Aku ranger hitam dan kamu ranger merah,” Zack lelaki yang sejak pertama kali kutemui tak sekali pun mau mengenakan kaus itu.

“Sudah berapa lama kamu di sini?” tanyaku kepada Zack.

“Mungkin dua minggu,” jawabnya.

Dua minggu sampai aku datang bergabung. Kepada Zack, aku takkan menceritakan alasan ke Bukit Golgota, hingga menemukan batu merah yang kemudian terpilih secara acak menjadi ranger merah.

Selama masa penantian, Zoron dan Alpha 5 bergantian melatih kami berdua. Zack dan aku diajar bagaimana berubah menjadi ranger. Kami dibekali kekuatan membangkitkan kekuatan dan memanggil robot sebagai bala bantuan. Robot itu adalah potongan-potongan dari bagian pesawat tempat Zoron dan Alpha 5 berdiam.

Ternyata menjadi superhero sama saja dengan menang undian. Aku sendiri tak pernah membayangkan menjadi superhero akan semudah ini. Tanpa sengaja menemukan batu merah, terjerembap dalam kapal, kemudian dilatih mempergu nakan kekuatan dan aneka robot buatan Zoron dan Alpha 5. Bahkan bila kelak dalam pertempuran kami hampir saja mati, Zoron memberitahukan bahwa ada satu tombol yang berfungsi untuk memanggil Zoron, sumber segala kedigdayaan kami. Kemudian Zoron melawan dan memberi jurus paripurna penghabisan musuh. Ah, ternyata begitu gampang menjadi superhero dan pahlawan.

“Zoron baru akan melepaskan kita sebagai pahlawan bila kita sudah genap lima. Power Rangers harus lima,” Zack menegaskan suatu kali seusai latihan.

“Sekarang kita sudah satu bulan di kapal ini,” jawabku.

“Kamu bosan? Menyerah jadi pahlawan?” kalimat Zack penuh sindiran.

“Tidak. Menjadi pahlawan dan superhero adalah impianku. Dan di luar sana, akan banyak orang yang menanti pertolongan Power Ranger.”

Zack berdiri, tangan kirinya menyambar sebotol minuman khusus yang dibuat Alpha 5. Kita tak pernah tahu bahannya apa. Tapi berhubung rasanya nikmat dan membuat badan terasa ringan dan lebih kuat, aku dan Zack tak mengajukan protes.

Meskipun kami disibukkan latihan dan strategi perang, menunggu tiga kristal lain (biru, kuning, dan merah muda) ditemukan adalah pekerjaan yang sangat tidak kusukai. Aku sudah berulang kali bertanya kepada Zack apakah sudah ada tanda akan ada penemu batu lagi. Zack hanya menggeleng.

Apakah di luar sana orang sudah tidak membutuhkan pahlawan? Apakah dunia sudah begitu aman-damai-sentosa sehingga pahlawan dihapus dari kamus besar mereka. Aku takut, impianku menjadi pahlawan justru akan mengurungku di kapal ini dan membuatku mati tua karena menunggu.

“Zack? Apakah superhero dan pahlawan harus menunggu sebegini lama?”

“Seharusnya tidak! Zoron dan Alpha 5 saja yang sepertinya salah perhitungan dan mendarat di Bukit Golgota,” kalimat Zack membuat badanku tegak.

Bukit Golgota pasti sekarang telah hancur oleh penambangan? Batu-batu kecil pastilah sudah lumat atau terendam lebih dalam. Bagaimana tiga batu berwarna lainnya akan ditemukan kalau Bukit Golgota saja sudah raib oleh penambangan. Lantas bagaimana nasib Power Rangers yang aku dan Zack impikan.

“Nasib kita akan semakin tua di sini,” kataku.

“Aku akan protes kepada Zoron dan Alpha 5,” Zack seketika berdiri dan menuju ruang utama di mana Zoron dan Alpha 5 berada.

Protes Zack ternyata hanya ditanggapi untuk menunggu. Aku mengumpat sekali. Zack menyumpahi kemudian menendang meja dan membanting tubuh Alpha 5.

Aku dan Zack menyingkir dari ruang utama. Pertengkaran bukan tabiat seorang superhero. Kami berdua duduk di dapur, tempat kami makan. Zack memilih anggur putih meski siang belum menandakan turun.

“Bajingan mereka berdua!”

“Aku juga bisa merasakan, usaha menjadi superhero ini sia-sia saja. Tidak ada yang butuh superhero.”

“Apalagi kalau semua orang sudah menjadi bandit, tak butuh pengusir bandit,” Zack menenggak segelas anggur sekaligus.

Aku biarkan Zack menghabiskan satu botol anggur putih. Hanya dua gelas yang berhasil aku teguk, itu pun sekadar menemani Zack yang benar-benar kalut. Pikiranku sudah kalut sejak lama. Aku lebih ingin mengingat kembali bagaimana hidupku bisa sedemikian tak beruntung. Semua ini lantaran keinginan mati dan melupakan luka akibat patah hati. Benar kata orang, patah hati adalah luka yang dalam dan terbawa sampai mati.

Sekarang nasib akan kuhabiskan di kapal ranger ini dengan impian menjadi Ranger Merah terwujud. Yang itu entah kapan. Dalam hitunganku sekarang sudah masuk bulan kedelapan. Menjadi pahlawan ternyata melelahkan.

“Jason, apa pernah terpikir mengapa aku bisa terjerembap di kapal ini?” Zack mulai terpengaruh alkohol. Kujawab dengan gelengan.

“Pacarku selingkuh di depan mataku sendiri.”

“Kita sama, Zack!”

“Ternyata superhero orang terpapa dalam asmara,” Zack meniriskan botol anggur putih. Tak ada setetes pun yang tersisa.

“Mengapa tidak kita selesaikan saja persoalan itu sekarang?” Zack mulai mengibul.

Mataku kemudian menatap bibir Zack yang begitu merah oleh sapuan anggur. Kemudian ada sesuatu yang hidup dalam diriku ketika menyaksikan tubuh Zack. Mimpi? Sekarang aku bisa menggenapi mimpi. Bukan superhero, memang. Ini perihal asmara.

 

* Untuk film “Power Ranger” (2017).

 

TEGUH AFFANDI, lahir di Blora, Jawa Tengah. Menulis cerpen, esai, ulasan buku di berbagai media massa. Memenangi sayembara cerpen menulis Femina, Green Pen Award Perhutani, Pena Emas PPSDMS Nurul Fikri.

Advertisements