Cerpen Krismarliyanti  (Republika, 31 Desember 2017)

Mahar yang Tertinggal (Bagian 2) ilustrasi Rendra Purnama - Republika.jpg
Mahar yang Tertinggal (Bagian II) ilustrasi Rendra Purnama/Republika

(Bagian II)

Dengan alasan ingin mandiri, kami pun memutuskan untuk membangun rumah di sebelah kediaman ibu dan bapak. Keputusan yang kami rasa cukup adil karena rumah kami hanya terpisah tembok. “Nanti ibu dan bapak kan bisa tiap hari mengunjungi Biyan. Tinggal buka pintu pagar saja kok, Bu,” senyumku berusaha membuat ibu mengerti. “Iya, Bu, cuman dipisah tembok saja kok. Airin sudah besar sekarang, biarkan mereka menikmati rumah sendiri,” timpal bapak. Dan sepertinya ibu pun tidak punya alasan lain untuk menolak rencana kami.

Tahun berlalu, aku pun menjalani kehidupan rumah tanggaku dengan bahagia. Tidak lagi aku mengenang Ardi, mungkin dia sudah menemukan pujaan hatinya, batinku. Dan aku sadar bahwa aku sekarang telah menjadi istri Mas Hemi. Apalagi dengan kehadiran Biyan, hidupku semakin bahagia.

Mas Hemi suami yang baik. Dengan kesabarannya menghadapi ibu yang terkadang berusaha mengatur kehidupan kami. “Turuti saja ibu, Rin, namanya juga sudah sepuh,” kata Mas Hemi ketika ibu mengutarakan keinginannya untuk membuat pintu tembus ke halaman belakang kami.

Hingga sekitar empat pekan lalu, ibu dikejutkan oleh seorang tamu yang tidak kami sangka sama sekali. Sore hari, seperti biasa ibu selalu meminta pengasuh anakku membawa Biyan ke rumahnya. Aku yang masih bekerja pun dengan senang hati meluluskan permintaan ibu.

“Assalamualaikum.” Ibu yang tengah bersenda gurau dengan cucunya pun dikagetkan suara laki-laki muda yang pernah dikenalnya. Laki-laki muda yang tampak gagah dengan kemeja berwarna biru langit dan celana katun berwarna abu-abu. Kulitnya bersih terawat, rambutnya yang hanya bersisa 5 cm, serta mata coklat yang berbinar.

Butuh beberapa saat buat ibu mengenali tamu itu, sampai akhirnya ibu teringat mata coklat yang selalu dilontarkan ibu kepadaku.

“Walaikumsalam … sebentar-sebentar, ibu tidak salah lihat kan?” Dengan mata tuanya ibu berusaha keras memastikan siapa laki-laki muda yang berdiri tersenyum di depannya.

“Tidak, Bu, saya Ardi. Ibu masih ingat saya?” katanya sambil tersenyum lalu meraih dan mencium tangan ibu.

“Tentu saja. Ya ampun, kamu sekarang ganteng … mari masuk.” Semburat bahagia pun tampak jelas di wajah ibu. Terlihat jelas kerinduan seorang ibu terhadap anak laki-lakinya.

“Bukannya saya ganteng dari dulu, Bu?” Ardi selalu berhasil membuat orang lain tertawa, termasuk ibuku. Ardi memang sangat dekat dengan ibu dan bapak. Maklum saja kami berteman dari kecil dan Ardi memang tidak pernah mengenal sosok ibu sejak bayi. Menurut bapaknya, ibu Ardi meninggal ketika melahirkan Ardi.

Sebetulnya ibu sudah menggodaku tentang Ardi. Teringat pembicaraan ibu beberapa tahun lalu, “Rin, kamu pacaran sama Ardi?” Entah kenapa sepertinya ibu tahu perasaanku. “Ah! Enggak kok, Bu, kami hanya berteman.” Dan ibu hanya tersenyum.

“Ardi itu baik ya, sopan, pintar, ganteng pula. Kulitnya saja bersih terawat. Sama itu loh, ibu suka matanya Ardi coklat.” Aku pun hanya melongo ketika ibu menggambarkan Ardi secara rinci. Ternyata bukan aku yang menyukai mata coklat Ardi, ibu diam-diam memuja matanya.

Seperti biasa, pulang kerja aku selalu mampir ke rumah ibu untuk menjemput Biyan. Dan sore itu sungguh tidak akan pernah aku lupakan dalam hidupku. Senja ketika Ardi kembali hadir di dekatku. Aku sangat yakin, aku tertegun cukup lama di depan pintu pagar ibu ketika kulihat sosok bertubuh bidang yang telah merebut perhatianku bertahun-tahun. Wajahku pucat pasi, kukucek mataku berulang kali. Lututku rasanya tidak mampu lagi menopang tubuhku . Aku betul-betul tidak memercayai apa yang aku lihat di depan mataku.

Ya, laki-laki yang sedang memangku anakku dan bersenda gurau dengan ibuku itu adalah Ardi. Tidak, aku harus bersikap biasa saja. Ayo, Airin. Dia hanya temanmu, Airin. Tuhan, please, tolong aku.

Kubulatkan tekadku untuk terus melangkah dan bersikap sewajarnya. Kutenangkan degupan jantungku yang semakin kencang. Dan kuatur napasku yang semakin memburu.

“Apa kabar Airin?” sapa Ardi dengan senyum yang sama sekali tidak berubah.

“Baik, kamu ke mana saja, Di? Lama menghilang. Aku kira kamu sudah lupa sama kami,” kataku dengan wajah yang terasa kaku dan tegang. Aku sadari sepenuhnya ada nada kecewa ketika kuucapkan kalimat itu. Dan sore itu menjadi senja yang dipenuhi gemuruh rasa kecewa, bahagia, dan canggung.

Malam itu pun aku dan suamiku mengundang Ardi untuk makan malam di rumah kami. Beruntunglah, suami dan sahabatku menemukan bahan pembicaraan yang membuat mereka cepat akrab. Ditambah dengan bapak yang selalu mengenang masa kecil kami dulu. Sehingga rasa rikuhku pun terobati.

“Rin, aku mau menikah,” katanya suatu siang saat dia mengajakku makan siang. Kebetulan kantor di mana dia bekerja hanya beberapa blok dari gedung di mana aku bekerja. Sungguh, aku merasa sangat bodoh sampai tidak mengetahui kalau selama ini dia begitu dekat.

“Oh … Selamat ya. Akhirnya kamu laku juga,” jawabku sambil tertawa hambar.

Entah apa yang aku rasakan, sejak kedatangannya kembali, hatiku seperti sakit dan hampa. Ada rasa menyesal dengan perjodohan orang tuaku, walaupun aku sendiri tidak tahu apa yang Ardi rasakan kepadaku setelah lama berpisah.

“Ya mau gimana lagi, masa iya aku harus menunggu jandamu,” jawabnya sambil menyeruput minuman dingin yang dipesannya. Wajahnya terlihat tidak peduli sama sekali.

“Maksudmu? Gak lucu tahu, sama saja kamu mendoakan aku cerai kalau begitu. Sembarangan!”

Aku cukup terbelalak dengan ucapannya hingga nada jawabannku sedikit tinggi dengan tampang yang jengkel. Sedangkan dia hanya senyum-senyum tidak peduli dan dengan mudahnya mengganti topik pembicaraan. Apa maumu, Ardi? batinku sembari terus memeperhatikan sikapnya yang terlihat acuh.

Hari pun berlalu, dan Ardi semakin rajin menyapaku lewat telepon ataupun pesan singkat. Pikiranku dipenuhi tentang teka-teki perasaan antara aku dan ardi. Aku terlihat sering banyak melamun dan kosong. Bahkan, pernah satu kali Mas Hemi menegurku saat aku melamun cukup lama di depan komputer. Bahkan, sering kali aku tidak fokus ketika diajak bicara suamiku.

Ada rasa takut menyusup, takut Mas Hemi mengetahui perasaanku terhadap Ardi. Dan aku selalu berusaha bersikap wajar ketika di rumah. Bagaimanapun aku harus menjaga keutuhan rumah tangga kami. Aku tidak akan rela jika Biyan harus tumbuh dalam keluarga yang tidak utuh.

Sore itu, dua minggu setelah kedatangannya, dia meneleponku dengan nada yang sangat serius. Pembicaraan yang membuka lebar perasaan yang telah terkubur dalam, syahdu dan membiru. Dadaku selalu sesak dan anganku melayang setiap kali Ardi menelponku.

“Rin, aku bicara penting sama kamu.”

“Ada apa, Di?”

“Tentang kita.”

Aku semakin gelisah. Badanku bergetar, mecoba menebak apa yang akan dia utarakan. Lagi, dia membuatku terhenyak. Diri ini pun masih belum percaya dengan kehadirannya yang tiba-tiba. Lalu sekarang dia telah menyeretku pada kotak masa lalu yang telah aku kunci rapat.

Aku menjauh dari meja kerjaku dan menghindari kesenyapan agar leluasa bicara dengan Ardi. Tidak mampu kusembunyikan debaran jantungku yang semakin cepat. Aku gelisah dan keringat dingin pun membasahi tubuhku.

“Rin, aku mencintaimu … ”

“Apa maksudmu?”

“Aku mencintaimu sejak di bangku sekolah.”

“Ardi, aku sudah menikah. Kamu jangan konyol.”

“Aku serius. Aku hanya ingin jujur sebelum aku mengakhiri masa lajangku. Aku tidak mau menyesal dan menyimpan ini sendiri.”

“Kamu egois! Kamu pikir kamu siapa? Sekian tahun tidak ada kabar lalu sekarang kamu dengan seenaknya mengganggu hidupku!”

“Maafkan aku, Airin. Aku Hanya ingin jujur.”

“Aku menunggumu tetapi tak satu pun kabar yang aku terima. Dan kamu tahu, aku tidak mampu menyakiti ibu dan bapak. Aku bahagia dengan kehadiran Biyan.”

“Kamu mencintai Mas Hemi kan, Rin? Dia suami yang baik.”

“Jangan pernah tanyakan tentang perasaan kepadaku, Di. Kamu tidak tahu apa pun tentang cinta. Kamu pengecut!”

 

Krismarliyanti adalah seorang penulis yang lahir di Rangkasbitung, Banten. Hobi membaca dimulai sejak sekolah dasar dan mulai menulis dari tahun 2000. Dunia seni sudah dikenalnya sejak usia remaja dan menjalani serius dunia teater ketika kuliah di Yogyakarta. Mulai menulis dengan naskah drama lalu kemudian tertarik menulis puisi. Salah satunya puisinya sudah dimuat di buku Medan Puisi, antologi puisi Sempena the 1st International Poetry Gathering yang diadakan di Medan pada tahun 2007. Buku kumpulan puisinya yang berjudul Poetry Anthology Lentera telah terbit pada tahun 2016. Selain menulis, Krismarliyanti pun seorang perupa. Hasil karyanya telah dijadikan sebagai cover dan ilustrasi di buku antologi pertamanya. Beberapa karya tulis dan lukisan serta drawing art dapat dinikmati di FB: htttps://www.facebook.com/krisdonaldson; https://thelantern07.blogspot.co.id atau Instagram @KrisDonaldson.

Advertisements