Cerpen Jones Gultom (Analisa, 31 Desember 2017)

 

Kisah Siti di Hari Natal ilustrasi Renjana Siahaan - Analisa.jpg
Kisah Siti di Hari Natal ilustrasi Renjana Siahaan/Analisa

 

ITULAH hidup. Tidak bisa diduga. Kalimat-kalimat dewasa itu tiba-tiba mengucur begitu saja. Meski sadar anakku sudah pasti tidak mampu memahaminya menasehatinya. Aku pun melanjutkan cerita yang masih setengah jalan itu. Sengaja aku memilih plot mundur dengan harapan, anakku bisa mengambil kesimpulan dari cerita itu. Juga agar kisahnya terasa semakin menarik. Meski sebenarnya cerita Siti ini bagiku adalah sebuah ironi.

Setelah kematian anaknya yang masih “merah”, Siti memutuskan mengikuti saran dari para tetangganya. Apalagi suaminya Yusuf juga sudah bisa menerima. Sebelumnya mereka sempat bersikeras. Jika disinggung-singgung, Yusuf bahkan tidak segan-segan mengancam akan membacok kepala siapa saja yang berani membicarakannya.

“Jangan kau pancing-pancing aku. Silap aku nanti, kubacok pulak kepalamu!” begitu dia sering mengancam. Biasanya kalau sudah begitu, tak ada lagi yang berani menyinggung. Orang-orang itu tahu, kalau tentang itu, Yusuf tidak mau main-main.

Meski sejak mereka tinggal di kebun itu, tak sekalipun mereka pernah melihat Yusuf berlaku kasar. Untuk urusan yang satu itu, agaknya Yusuf bisa berubah menjadi apa saja. Mereka memilih tidak melanjutkan pembicaraan. Lagipula mereka yakin, cepat atau lambat Yusuf akan berubah pikiran.

Tidak hanya mereka yang pernah menasehati Yusuf. Hal itu juga pernah disampaikan Siti di suatu malam selepas makan. Siti memberanikan diri membahas hal itu kepada Yusuf. Bukan main kemarahan Yusuf waktu itu. Berulang kali dia membentak Siti sambil mengepalkan tinju di lantai papan gubuknya. Jika bukan karena sorot mata kedua anaknya, mungkin Yusuf sudah menampar wajah perempuan yang telah 8 tahun menjadi istrinya itu.

Sejak itulah Siti tidak pernah lagi menyinggung hal itu kepada suaminya. Dia juga telah membiasakan menutup telinganya dari omongan-omongan tetangga. Dia sudah terbiasa mendengar gunjingan yang selalu dapati di warung tempat dia membeli kebutuhan dapur setiap hari.

Takdir pun berubah. Siti dan Yusuf seolah diseret ke arah itu. Menjelang akhir tahun 2000, malapetaka terjadi. Anak mereka yang masih “merah” meninggal dunia setelah menderita sakit berhari-hari. Entah mengapa Yusuf dan Siti nekad membawa serta anak mereka yang baru berbilang minggu itu, ke pesta pernikahan anak Pintauli, adik Siti, di Jambi.

Pintauli-lah yang mempekerjakan mereka di kebun sawit itu. Kebun sawit milik Pintauli sendiri. Luasnya kurang lebih 1000 hektar. Sesuai perjanjian, Siti dan Yusuf akan diberikan upah berupa 10 hektar. Termasuk kebutuhan bulanan selama mereka mengurus kebun sawit itu. Yusuf dan Siti menyambut baik tawaran itu. Mereka meninggalkan Samosir, kampung halamannya. Sebelum menuju Binjai tempat kebun itu berada, mereka menyempatkan singgah ke Medan.

“Ke rumah kita,” kataku. Anakku terlihat terpelongo. Entah mengerti atau tidak.

Yusuf lebih dulu pulang dari Jambi. Dia harus mengurus kebun sawit yang dipercayakan kepadanya itu. Apalagi tidak lama lagi panen akan tiba. Jangan sampai ninja-ninja sawit lebih dulu memanen sawitnya. Tiga hari berselang Siti menyusul. Dia menyempatkan diri ke Medan. Lebih tepatnya, terpaksa singgah ke rumah kita, karena selama dalam perjalanan, anaknya demam tinggi. Kata Siti kepada ibuku, selama dua hari di bus, dia merengek terus dan tak mau minum ASI.

Kurang lebih seminggu Siti tinggal di rumah kita. Sampai anaknya benar-benar pulih, barulah dia pamit mau pulang.

“Ompungmu, tidak bisa ngantar. Bapak yang disuruh. Waktu itu umur bapak sekitar 11 tahun,” kataku.

Memang sejak dulu, Siti seperti memberi perhatian berlebih kepadaku. Berselang beberapa tahun dinikahi Yusuf, mereka meminta agar aku dibawa mereka ke kampung. Mereka bermaksud mengadopsi aku. Niat itu ditolak ibuku. Pantang, katanya. Meski begitu, setiap libur sekolah aku selalu dijemput dari Medan. Tinggal bersama mereka selama berbulan-bulan. Tak heran bila rasa sayang terus mengakar dari hati kami masing-masing.

***

Kami pun berangkat dengan menumpang bus tua. Kukira perjalanan itu akan sangat mengasyikkan. Aku keliru. Sesampai di terminal, kami kehabisan angkot menuju desa itu. Aku tidak ingat apa nama desanya. Kata Siti dari terminal itu kurang lebih 1 jam perjalanan lagi. Mengingat waktu semakin sore, Siti pun menyuruhku untuk balik saja ke Medan. Dia akan menumpang ojek meski dengan harus membayar ongkos 3 kali lipat besarnya.

Hanya sampai di situlah yang aku tahu. Aku tidak tahu apa dan bagaimana sebenarnya kehidupan mereka di sana. Juga sama sekali tidak terbayang kalau kehidupan mereka begitu susah. Apalagi samar-samar kudengar, orang yang kerja di kebun sawit itu biasanya orang kaya. Pastinya, jika ibuku bertanya, aku mengaku mengantar mereka sampai ke rumah.

Berselang dua hari terdengar kabar bahwa anak yang masih “merah” itu meninggal dunia. Kabar itu tiba di malam hari. Pintauli yang memberitahukan.

“Bapak dan ompungmu malam itu juga berangkat ke sana,” lanjutku. Dengan bermodalkan keterangan lewat seluler, kami berangkat dengan debar-debar di dada.

Kami tiba di terminal, nyaris subuh. Kemudian melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki kurang lebih dua jam untuk sampai di ujung desa itu. Setelah bertanya dengan seorang penduduk, kami diarahkan ke sebuah perkebunan sawit yang masih tanggung ukurannya.

Kurang lebih 1 jam perjalanan, akhirnya kami tiba di sebuah gubuk kecil di tengah kebun sawit. Dari dalam gubuk yang remang-remang, terdengar suara isak perempuan. Tangis itu meledak ketika Siti melihat kedatangan kami. Begitu juga dengan Yusuf. Dia tak kuasa menahan sedih melihat mayat anaknya terbujur begitu saja di hadapan mereka. Ito, hanya itu kata yang keluar dari bibirnya. Tidak ada siapa-siapa di dalam gubuk itu. Hanya mereka sekeluarga. Yusuf, Siti dan kedua anaknya yang masih kecil-kecil.

Gubuk itu berbentuk panggung. Ukurannya hanya muat untuk empat orang. Tidak bersekat. Tidak ada dapur dan kamar mandi. Listrik juga belum masuk. Hanya ada tivi kecil hitam putih yang sumber dayanya berasal dari baterai dengan kapasitas 3 jam. Setiap malam mereka tidur bersama dengan menggunakan kelambu lusuh. Sepanjang malam api di luar menyala agar tidak ada ular, serangga maupun binatang buas yang mendekat.

Bila malam harinya turun hujan, keesokannya tanah menjadi lumpur. Lintah, pacet dan keong berlomba-lomba memanjati dinding gubuk. Sering juga, dua tiga ekor ular air tercecer di bawah tangga. Sebaliknya bila kemarau tiba, mereka harus waspada dengan kedatangan ular-ular berbisa di sekitar gubuk mereka.

Keesokan harinya, orang-orang dari perbatasan kampung datang melayat. Jumlahnya tidak sampai sepuluh orang. Mereka membantu persiapan menguburkan mayat anak yang masih “merah” itu. Tidak ada acara khusus untuk penguburan. Peti mati juga dibuat seadanya dari bilah-bilah papan bekas.

Aku diminta Siti untuk membuat nisan berbentuk salib lengkap dengan tanggal lahir dan kematiannya.

“Butet Nainggolan” begitu tulisku dengan sisa-sisa arang kayu. Yah, anak yang masih “merah” itu belum punya nama resmi. Seperti kebiasaan orang Batak Toba, setiap anak perempuan yang belum punya nama dipanggil Butet. Untuk anak laki-laki disebut Ucok. Pemakaman berlangsung singkat dan sederhana. Tak ada tangis. Tak ada airmata. Juga tak ada pendeta.

Acara diteruskan dengan makan siang bersama. Ibuku sudah mempersiapkan makan siang yang juga tak kalah sederhananya. Saat acara makan itulah kulihat dua orang laki-laki mendekati Yusuf. Mereka tampak menasehati Yusuf dengan wajah yang serius.

***

Setahun setelah peristiwa itu. Tepat di akhir tahun menjelang Natal dan tahun baru, seperti sekarang ini, mereka datang ke Medan. Seperti biasa, kami menyambut momen Natal dan tahun baru dengan suka cita. Sudah menjadi kebiasaan di keluarga kami, di momen itu setiap hari kami menggelar “makan besar”.

Ada yang aneh. Tidak seperti sebelumnya, saat jamuan makan berlangsung, Siti dan Yusuf kelihatan canggung. Mereka menolak sejumlah menu yang biasanya sangat mereka minati. Mereka hanya mencicipi sayur dan ikan asam manis sekenanya. Awalnya kami mengira mereka sedang tak selera makan.

Keheranan kami pun terjawab. Setelah selesai makan, mereka menjelaskan bahwa mereka telah menjadi muslim. Mereka juga telah berganti nama. Kristian menjadi Yusuf. Rosmauli menjadi Siti. Begitu juga dengan kedua anaknya. Tadinya Johannes, kini menjadi Muhammad Riduan dan Natalina berubah menjadi Nur Aminah.

Banyak alasan yang mereka ceritakan. Paling kuingat adalah ucapan Yusuf di akhir-akhir pembicaraan, “Kalau kita di ladang singa, kita harus siap jadi singa!” kataku meniru Yusuf.

Tentu saja, di awal-awal kami sempat kecewa. Lama-lama perasaan itu perlahan hilang. Apalagi ketika Yusuf menceritakan pengalaman pertamanya salat, kami jadi terpingkal-pingkal. Yusuf yang biasa kami panggil tulang itu, dulunya begitu garang. Kini kelihatan sangat alim. Yusuf yang tadinya tidak pernah gereja, kini telah menjadi ustaz di kampungnya.

Tahun-tahun kemudian kami tidak lagi menyediakan menu khas akhir tahun. Sebaliknya mereka juga tidak menunjukkan sikap fanatik. Mereka tetap menganggap kami saudaranya, sama seperti kami yang tidak pernah merasa kehilangan mereka.

“Ah, tidak terasa, sudah 20 tahun,” kataku kepada anakku. Tak kuduga anakku nyelutuk.

“Ompung itu nanti datang, aku mau minta sepeda,” lanjutnya.

Aku tidak menjawab. Mulai dari anakku yang pertama lahir, Yusuf, Siti dan Muhammad Riduan tidak pernah lagi datang. Terakhir mereka datang saat pembaptisan kembali Nur Aminah menjadi Natalina. Bahkan mereka juga tidak hadir di pesta pernikahan kami. Samar-samar kami dengar Yusuf telah menjadi pemuka agama. Sekaligus tokoh masyarakat yang begitu berpengaruh di kampung itu. Ya, cerita sedih telah lama berlalu. Tidak ada lagi gubuk kecil dua-tiga ular air di bawah tangga gubuknya.

***

Hari ini aku seharian menonton berita di televisi. Ribut-ribut soal Yerusalem. Di dapur, istriku sibuk menyiapkan makan malam. Lengkap dengan menu warisan nenek moyang.

Ketika baru akan meneguk kopiku, sontak jantungku berdegup kencang. Tak sengaja, aku mendapati sebuah nama di running teks tentang para peserta demo dari Indonesia yang menjadi korban di Palestina. Ada nama yang sangat kukenal. Satu marga dengan istriku.

“Ma… ma…. teriakku!” Natalina tergopoh-gopoh. Darah yang sudah mengering masih menempel di tangannya. Pohon Natal di sudut ruangan terus saja berkedip. Aku teringat Siti, ibu Natalina!

Advertisements