Cerpen Ferry Fansuri (Radar Surabaya, 31 Desember 2017)

Cewek Cabe-cabean yang Ingin Mengangkat Roknya ilustrasi Fajar Radar Surabaya.jpg
Cewek Cabe-cabean yang Ingin Mengangkat Roknya ilustrasi Fajar/Radar Surabaya

Kuyu keringat membasahi ketiak ini. Panas yang begitu menyengat membakar kotak besi yang kutumpangi. Laksana diriku dioven dalam microwave, dipanggang tanpa angin sepoi-sepoi sedikitpun. Bis ekonomi dari Umbulharjo ke Purabaya penuk sesak hingga membuatku terjepit di pojok, tapi apalah daya. Apalagi aku terhimpit perempuan tambun dengan daster berkibar membawa begitu banyak barang. Baunya menusuk. Rembesan keringat di ketiaknya terasa seperti ikan pindang busuk. Aku berusaha menutupi hidungku dengan leher kaos yang kuangkat. Sabar, Sarmin, dalam hati ini. Ini risiko petualangan yang kulakukan.

Kucoba menenangkan diri dengan meneguk air mineral yang kubawa, biarpun sebatas isi ulang untuk menghemat biaya. Kaos oblong usang, celana kain kusam, sandal jempit hampir putus, tas ransel kusut, dan beberapa receh lembar rupiah yang hitung-hitung cukup untuk makan serta karcis bis. Tujuanku pulau Dewata, surganya pencinta selancar akan menjadi tujuan pelarian dan penyembuhan luka ini. Umurku mungkin mendekati 12 tahun atau kurang. aku sendiri tak tahu kapan dilahirkan dan itu sudah lama sekali.

Mabuk darat masih kurasakan di dada ini, mau muntah tapi tersendak di tenggorokan. Belum teriakan penjaja asongan bercampur petikan gitar, suara cempreng pengamen menambah bising di dalam bis. Rute yang kulalui masih panjang. Sebaiknya kubikin senyaman mungkin biarpun bau bacin itu masih berputar-putar di hidungku. Kucoba alihkan pandangan ke luar jendela. Jalan aspal riuh dengan beragam mobil dan truk saling adu kencang. Truk-truk pengangkut sembako jadi pemandangan unik saat ini. Bak kayu dicat warna-warni dengan motif menyilaukan mata. Diberikan karakter kata permainan airbrush yang kocak. Pernah sebuah truk warna kuning sedang menyalip bis ini di sampingku dengan tulisan, Aku Tak Lagi Menunggu Jandamu atau Cinta Ditolak, Masih Ada Perek Yang Lain. Tertawalah diriku di dalam hati, setidaknya menghiburku saat ini. Mata ini terserang kantuk berat, perlahan menutup berharap tatkala kubuka dan semua lenyap. Moga tak lagi seriuh kata, tapi sebisu kala.

***

Tak terasa diriku terlelap lama hingga iler menetes di sisi bibir. Sesuatu yang wangi pun membangunkan diriku. Hidung ini mengendus-endus asal bau ini. Begitu dekat dan tak jauh. Kelopak mata dikit demi dikit membuka mencari lebih. Kutengok di sampingku telah muncul seorang gadis perawan yang menawan. Ke mana perempuan gembul berbau pasar ikan itu? Apakah Tuhan mengabulkan doaku atau ada penyihir baik hati yang menukarnya? Kuperhatikan gadis belia ini. Tampilannya begitu menggoda. Semua mata lajang pria curi-curi padang, bahkan ada yang melotot seperti ini meloloskan pakaiannya.

Ia memakai kaos ketat berbau putih dengan motif Hello Kitty tepat di tengah buah dada yang menyembul ingin tumpah. Rok hitamnya juga begitu press body di atas lutut. Kaki putih yang jenjang berujung sepatu selop. Rambutnya hitam tergerai lurus di pundaknya jatuh menebar keharuman dan menukar udara di atas jadi segar. Matanya bulat lentik merayu dan bibir yang tipis bagai menawarkan diri untuk dikulum.

Gadis tak merasa risih dan kikuk, bahkan menebah resah terlihat sengaja agar dipelototi dan menelan ludah saat melihatnya. Bersikap sedikit menantang dengan membuka kaki di bawah roknya, mengangkang dan terlihat segitiga emasnya berwarna merah. Ah…., kenapa aku ini mendapati pemandangan itu dan terus melirik serasa ingin tahu apa isinya. Dan kenapa pula ada gejolak di selangkangan balik celanaku yang mulai mengembang. Tak tahu apa itu karena merasa belum akil baligh. Kucoba redakan meminum air sebanyak-banyaknya. Tak mengerti reaksi apa ini.

***

Bis ini terus melaju dengan beban berlebihan. Sebuah lubang menganga di depan tak sempat dihindari sang sopir karena gelap tanpa penerangan di sana. Badan bis sempat oleng ke kanan, hampir membentur pembatas jalan. Seluruh penumpang sempat terombang-ambing. Begitu juga kami di dalamnya. Gadis sebelahku juga ikut oleng ke tubuhku. Sengaja atau tidak sengaja, buah dadanya yang padat itu didaratkan ke mukaku hingga aku tersudut dekat jendela. Sebuah kejadian langka dan jarang-jarang. Ketidakstabilan bis itu membuat ia mencengkeram tangan dan pahaku untuk berpegangan.

Seperti waktu dihentikan sejenak, aku dalam posisi terhimpit enak ini terekam dalam hitungan detik. Bau gadis perawan ini semerbak, terhirup laksana buah ceri. Bis itu mulai stabil dan mencoba berjalan perlahan. Gadis meminta maaf atas peristiwa yang baru saja terjadi. Aku hanya tertawa kecil menandakan untuk melupakannya karena hanya masalah kecil.

Guncangan mini itu membuat bis berjalan tersendat. Sang sopir memerintahkan kondektur untuk cek ban di luar. Kondektur berteriak bahwa ada ban pecah dan harus diganti segera. Akhirnya sopir menepi bis ke jalan. Seluruh penumpang disuruh keluar dulu untuk memudahkan perbaikan dan penggantian ban tesebut. Di tepi jalan tersebut terlihat remang, pencahayaan minim hanya lampu rumah warga yang masih menyala.

Semua penumpang keluar dan sebagian turun duduk di trotoar jalan. Ada yang merokok, mengunyah permen karet, mengutak-atik pager atau tiduran sebentar melepas penat. Begitu juga aku. Kucoba merenggang kaki tangan yang sudah kaku terjepit di sana. Menarik napas serta menggerakkan tangan hingga gemerentak tulang otot beradu.

Kuheran dari kerumunan penumpang di sana tak kulihat gadis sexy dengan rok ketat itu. Ke mana makhluk indah ciptaan Tuhan tersebut? Apakah ia sudah turun dan berganti kendaraan lain atau sedang pergi mencari makan? Aduh…, kenapa aku harus aku pikirkan. Lebih baik aku istirahat lebih dulu sambil menunggu duet sopir dan kondektur itu selesai. Kurebahkan tubuhku di rerumputan dengan tas ransel sebagai bantal, lelap terisap malam.

***

Panggilan alam sedang memanggilku. Air akan meluap di ujung kemaluan yang tak mau dikendalikan. Aku berjingkat untuk segera melepaskan syahwat satu ini. Celingak-celinguk tak kulihat toilet umum atau tempat aman meloloskan kencing ini. Apalagi kondisi tepi jalan di sana gelap gulita. Lampu jalan tampak tak berfungsi.

Peduli setan kataku. Aku harus mengeluarkan air seni ini sebelum terkena kencing batu. Aku sampai mengaduh-aduh, berlari kecil mencari semak-semak atau pohon yang bisa dikencingi. Sayangnya pandangan gelap itu mengganggu di depanku hingga aku memincingkan mata ini layaknya mata kucing. Tangan meraba tapi sial, kaki kiriku terantuk bongkahan batu yang tak kusadari dari tadi. Hal ini membuatku terjerembab jatuh menelungkup.

Bersamaan aku terjerembab, samar-samar disamping ada sesosok yang berdiri. Tubuh lencir berambut panjang, bau ini kukenal dan tak salah lagi gadis ranum itu. Tapi, mengapa ia tampak berdiri, menyingsing rok di atas pinggang dan mengeluarkan sesuatu. Ilustrasi air mancur muncul di sana. Intuisiku tak bekerja. Sketsa batang zakar beserta dua buahnya tersaji di hadapanku. Kulihat itu nyata, bukan ilusi yang disajikan seorang pesulap. Kupelototi tanpa kedip hingga tak lama terasa ada yang bergejolak diperutku.

Mual…

Pening…

Berkunang-kunang…

Muak…

Pusing…

Jijik….

Momen ganjil akan sulit kulupakan atau kuingat-ingat kembali dalam waktu lama, dan mengapa terjadi pada anak sekecil aku. Tak seharusnya terjadi. (*)

 

Kisaran, Juli 2017

*Penulis adalah travel writer, fotografer, dan entrepreneur lulusan Fakultas Ilmu Budaya Jurusan Ilmu Sejarah Universitas Airlangga (Unair).

Advertisements