Cerpen Muhammad Giffari Arief (Haluan, 31 Desember 2017)

Bara Buku ilustrasi Haluan
Bara Buku ilustrasi Haluan

Buku itu dibakar tanpa sebab. Padahal buku itu tidak pernah membuat pembacanya menghunuskan belati ke dada, tidak. Tetapi, api menjadi hakim. Memutuskan: Buku itu harus lenyap. Hilang dan mati untuk selama-lamanya. Tidak ada yang protes. Tidak ada pembelaan atau asas praduga tak bersalah yang ditegakkan. Semua diam. Hening. Buku itu terpaku dalam geliatnya kala diselimuti bara api yang menelan lembar demi lembar halaman. Asap keluar dari nyala api, membubung tinggi menyentuh langit-langit. Sayang, asap dari nyala api itu tidak membawa kata-kata yang termaktub di dalamnya. Isi lenyap dan tak mengalir ke telaga di Surga, meski masih menjadi pertanyaan meruncing; Apakah surga menerima buku?

“Entahlah,” jawab Alex Sudoyono.

Aroma kematian dari buku yang terbakar itu menyesaki ruang makan. Alex hanya menganga setengah bodoh, menatap mangkuk kosong di meja makan. Agaknya, asap memenuhi mangkuk itu, membuatnya tampak bias berwarna. Ngangaan Alex tidak menunjukan kebingungan atau kebodohan yang teramat sangat. Kadang bagai tanda bahwa ia bahagia dan senang, telah menuntaskan tugas keramat yang seolah telah ia emban selama beribu-ribu tahun lamanya.

Tetapi, jika membicarakan hal yang keramat, Alex hanya bisa bingung, karena hal-hal keramat yang notabene selalu dikaitkan dengan hal-hal sinting, tidak masuk akal, dan merupakan kemunduran peradaban. Syahdan, mendadak Alex mulai mengubah persepsinya mengenai keramat. Ia tak lagi memandang keramat sebagai sesuatu di luar nalar, agaknya.

“Bukan begitu!” Alex menghardik diri sendiri saat ia tiba-tiba saja mencoba menerima kehadiran hal-hal keramat dalam pikirannya. Meskipun begitu, betapa pun rasionalnya Alex, ruang makan itu tetap menjadi saksi bahwa Alex dengan beringas melakukan hal-hal di luar akal sehat. Ruang makan itu penuh asap dari buku Mein Kampf. Sebenarnya, ia tidak benar-benar sadar sedang membakar buku.

“Aku tidak sedang berhalusinasi. Panca inderaku membayangkan seekor ikan yang aku tidak tahu dari spesies apa. Meski aku tidak tahu itu ikan apa, pastinya perutku setuju jika ikan tersebut lezat rasanya. Ikan itu ada di perpustakaan kecil di kamar. Dengan sigap, aku mengambilnya dan membakarnya untuk kemudian aku makan. Setelah kumakan, memang lezat rasanya,” Alex bicara sendiri, “Apakah aku sedang berhalusinasi dan melihat Mein Kampf sebagai ikan yang lezat?”

Meski Mein Kampf sudah dibakar dan Fasisme yang dipropagandakan Adolf Hitler dan Benito Mussolini sudah tiada selama puluhan tahun, Alex mendapati bahwa Fasisme ada di masa kini. Kini Fasisme hadir, katanya, dalam wujud seorang wanita. Benar atau tidak kenyataan itu, hanya sebuah kebetulan yang konon kebetulan juga berada di sebuah masa, dan masa tersebut adalah masa kini. Dan lagi, Alex juga tidak tahu persis apa itu Fasis. “Bodoh amat….,” katanya.

Maka malam itu, ruang tamu tidak menjadi tempat untuk Alex bersantap malam. Malam itu telah bernyanyi dan menunjukkan sebuah pertunjukan sarat makna. Alex sedang membersihkan serakan kertas dari buku yang ia bakar. Serakan kertas itu menghampar di lantai ruang makan, akibat dari kibasan kipas angin yang menerb angkannya kian kemari. Serta asap yang juga ikut diterbangkan. Tapi perut Alex terasa kenyang. Ikan yang ia makan tampak nyata karena mampu mengenyangkan perut. Saat waktu berdenting pada dua belas malam lebih empat menit, kasur jadi persinggahan terakhirnya sebelum menutup mata. Kemungkinan besar, ia hanya sementara menutup mata.

Di hari-hari berikut, semakin banyak buku yang Alex bakar. Sebelumnya, untuk diketahui, perpustakaan di tempat tinggal Alex tidak sekecil yang ia basabasikan. Alex tinggal di Apartemen, di lantai dua puluh, tepatnya di kamar empat-kosongtujuh. Sementara, kamar empatkosong-delapan dan empat-kosong-sembilan yang juga milik Alex, adalah dua kamar yang dihuni oleh buku-bukunya. Jika dihitung, total bukunya sekitar dua puluh tiga ribu. Setelah melakukan hal gila dalam sebulan terakhit, jumlah bukunya bisa dihitung dengan terkaan yang benar-benar tepat tanpa harus mengatakan sekitar.

Setiap hari Alex membakar delapan ratus buku di sebuah pulau kecil dekat apartemennya—apartemennya dekat dari pantai dan pantai tersebut dekat dari pulau kecil tersebut. Sebagai penutup hari, ia membakar satu buku di ruang makan dalam tempat tinggalnya. Memang ada sebuah kesintingan terjadi. Sahabat sekaligus adik kandungnya sendiri, Alek, perlahan mulai khawatir atas tindakan Alex.

“Kau mulai sakit jiwa sejak…,” tiba-tiba ucapan Alek dipotong, “Aku tidak sakit jiwa! Aku sehat dan aku normal. Hanya karena melakukan kebiasaan yang tidak umum, kau dengan mudah menghakimiku sakit jiwa!” jawab Alex.

“Terserah,” jawab Alek, pasrah.

Tiga puluh tahun sudah Alex sendiri. Bukan ‘sendiri’ sebagaimana sendiri pada umumnya. Bukannya tidak ada siapa-siapa, bukannya kesepian, bukannya individualis, atau bukannya terasing. Alex malah dikenal sebagai orang supel dalam pergaulan. Banyak bicara dan kadang mengkhotbahi orang dengan banyak omong kosong. Sering kelayap ke ujung-ujung dunia. Tampak memiliki energi berlimpah.

Sendiri yang Alex maksud juga bukan sendiri pada jiwa. Karena ia berkali-kali merasa tercerahkan. Baik dari buku, film, animasi, pengalaman hidup, atau pun dari kekasih yang sudah ia gonta-ganti lebih dari empat puluh kali. Kini, bersama kekasih keempat puluh satu, ia mantap untuk maju ke pelaminan. Tanpa satu pun hambatan. Angan-angan untuk menjalin bahtera rumah tangga bagai semakin nyata.

Sendiri yang Alex maksudkan masih misterius.

“Kamu tidak terbebani, kan?” Tanya Karelia Anggita, kekasih yang keempat puluh satu Alex. Karelia merasa bersalah dan menyadari sesuatu. Seminggu sebelum Alex membakar buku-buku, Karelia mengajak Alex ke rumahnya, yang berada tak jauh dari apartemen Alex. Karelia tinggal seorang diri di sana. Alex datang membawa ribuan pertanyaan saat berkunjung.

Mereka adalah lawan jenis. Berduaan pula di tempat sepi. “Semoga tidak. Tapi kalau pun iya, mungkin tidak apa-apa,” Alex membatin.

Rumah Karelia kecil, tapi dikelilingi taman yang luas. Seperti stepa indah, yang akan emakin indah dengan pepohonan. Tapi di sana hanya ada rerumputan dan bunga-bunga. Rumah Karelia seperti istana, karena selain taman, juga dilingkari tembok besar layaknya benteng, melingkar, seperti coloseum.

Bisu dan kaku. Hanya itu yang ada saat Alex dan Karelia berduaan di sana. Tak ada hal aneh yang terjadi. Tidak ada penghasut ketiga di sana. Di beranda, mereka duduk. Tidak bersitatap, tapi sepakat menatap kupu-kupu yang sama yang sedang berkelana di sana. Alex lalu mendobrak keheningan.

“Mengenai permintaan orang tuamu,” baru empat kata Alex bicara, Karelia memotongnya, “Jangan dihiraukan! Kamu tidak perlu meladeninya. Kemarin bulan Oktober. Di bulan itu, ayahku biasa bertingkah sinting. Aku takut kamu jadi gila, atau mati!” Karelia berang dan sedikit cemas.

Kecemasan Karelia bukan tanpa alasan. Setiap bulan Oktober, tahun berapa pun itu, dan siapa pun diktaktor yang tengah berkuasa saat itu, ayahnya selalu bertindak sedikit sinting, bahkan cenderung sangat sinting pada tiga hari yang lalu, saat Karelia mempertemukan Alex dengan ayahnya. Dengan penuh bahagia.

“Tolong kau panggil semua orang yang umurnya tua darimu dengan sebutan layaknya kau memanggil yang lebih muda darimu! Sementara yang lebih muda darimu, kebalikannya!” pinta ayah Karelia pada Alex.

“Maaf, om. Maksudnya apa?” Alex kebingungan.

“Otakmu terlalu kecil! Jadi, biarkan aku jelaskan. Jika kau biasa memanggil kakekmu dengan menyematkan kata ‘Kek’ sebelum namanya atau kau hanya memanggilnya ‘Kek’ atau ‘Kakek’ atau apa pun itu yang sejenis, maka hentikanlah. Panggil saja namanya langsung, atau panggilan sebaya, atau bahkan panggilan yang kurang ajar sebagaimana kau bersama temanmu!”

“Lalu untuk yang lebih muda?”

“Kebalikannya!” jawab tegas Ayah Karelia.

Tiga hari setelahnya, saat mengundang Alex ke rumah yang ia tempati sendiri itu, Karelia mengutarakan keinginan agar Alex tidak melakukan perintah ayahnya. Tapi, Alex hanya bisu. Alex tidak bicara sekalimat pun. Karelia tahu, Alex begitu terbebani. Sayang, Karelia tidak benar-benar tahu isi hati Alex.

Maka setelah itu, entah mungkin karena beban dari permintaan Ayah Karelia, ia mulai sering membakar buku. Dua puluh tiga ribu koleksi bukunya langsung menyusut selama sebulan. Hingga akhir April, hanya lima belas buku yang tersisa. Semua orang bingung atas tindakan Alex membakar bukunya. Karelia, Alek, semuanya. Namun tidak ada yang berani bertanya mengapa ia membakar buku. Semua orang hanya melarang, mencegah, dan menghardik, tanpa mau tahu mengapa ia membakar buku.

Sebenarnya, memang, Alex pun tidak mengetahui sebab apa ia membakar buku itu. Tapi yang pasti, inspirasi membakar buku justru muncul saat Alex melihat Karelia menangis. Meneteskan air mata, terisak-isak, dan meraungraung sejadi-jadinya. Saat itu, ketika mereka saling diam di beranda rumah, Karelia mendapat telepo. “Karelia, ayah meninggal.”

Karelia ulung dalam menyembunyikan kesedihan. Hari pertama setelah ayahnya meninggal, kedua, ketiga, dan satu minggu. Alex menjadi aneh, menjadi sering membakar buku. Hingga akhirnya Karelia memberanikan diri bertanya.

“Apa alasanmu membakar semua buku ini?”

“Aku hanya merasa bersalah karena waktu itu aku membiarkanmu menagis. Padahal dalam hati, sejak pertama kali bertemu denganmu, aku bersumpah: Aku tidak akan membiarkanmu menangis, dan akan menjagamu. Kau membuktikan, bahwa Fasisme tidak hadir dalam wujud seorang wanita, tapi Fasisme hadir kala seorang pria kecolongan dan membuat kekasihnya menangis,” jawab Alex.

Karelia kembali menangis setelah mendengar penjelasan Alex. Ia roboh ke pelukan lelaki itu.

 

*MUHAMMAD GIFFARI ARIEF, lahir 10 Juli 1998 di Padang. Mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas. Aktif menulis cerpen dan puisi di komunitas-komunitas siber

Advertisements