Cerpen Sri Mutia (Rakyat Sumbar, 30-31 Desember 2017)

Kutub Mimpi ilustrasi Ani - Rakyat Sumbar.jpg
Kutub Mimpi ilustrasi Ani/Rakyat Sumbar

BERTEMU tak sesulit yang kaubayangkan. Jika dalam kehidupan nyata kau tak bisa mendekapnya, maka biarkan itu terjadi dalam mimpi. Simple bukan? Kau tak perlu mengukur berapa jauh jarak, pun berapa besar rindu yang kausimpan. Kau akan selalu berbagi senyum dengannya, lalu memadu kasih walau sekejap saja. Ya, walau hanya mimpi.

***

Di bawah pohon cemara dekat jalan, terlihat bayangan dua orang gadis sedang bicara. Tampak jelas, karena saat itu bola emas terdiam tepat di atas kepala. Mereka sepertinya bersekolah di tempat yang sama, dengan menggunakan seragam serupa, mereka melangsungkan pembicaraan dengan hangat.

“Aku tak percaya dengan mimpi dan aku pun tak pernah ingin bermimpi,” ujar salah seorang gadis yang duduk di tempat itu. “Bagaimana bisa? Kau harapan keluargamu, Hagel,” balas seorangnya lagi.

“Ya, aku memang harapan keluargaku, tapi aku bukanlah segalanya bagi mereka. Jika mereka mengharapkanku, kenapa mereka membuatku tak bisa bermimpi?” Gadis yang bernama Hagel itu menjelaskan alasannya begitu keras. Ia bahkan tak sengaja membangunkan seseorang yang sedari tadi menikmati dunia mimpi, tertidur, di belakang pohon cemara itu.

“Ada apa denganmu, gadis? Kau seakan tak bisa menghargaiku yang sedang memimpikan dunia penuh dengan penerimaan ini,” ucap lelaki itu.

“Hei, bukan aku yang membangunkanmu, tapi kau sendirilah yang terbangun. Lagian bagiku lebih baik kau bangun, jika tidak, kau akan terhibur dengan mimpi belakamu itu saja,” jelas gadis berambut pirang itu, sambil berlalu meninggalkan temannya serta lelaki tersebut.

“Aku Bima Antarka. Panggil saja Arka. Salah seorang pengamen di daerah ini. Ayahku sangat bermimpi untuk mendarat di Antartika, makanya aku diberi nama Antarka sebagai singkatan Antartika,” laki-laki itu memperkenalkan diri dengan ramah.

“Aku Selena Aurora, panggil Aurora saja,” balas gadis itu.

“Indah sekali namamu, Selena yang berarti bulan dan Aurora rangkaian warna di daerah kutub. Sungguh memesona jika dipadukan. Kau tahu? Aku tak ingin melewatkan perkenalan dengan siapa pun, jadi bolehkah aku mengenal temanmu yang galak itu juga?” pinta laki-laki itu.

“Dia Hagel, gadis cuek, dan mungkin gadis satu-satunya yang tak punya mimpi, pun mengalaminya. Entah apalah yang ia rasakan, sampai-sampai ia tak bisa bermimpi sedetik pun. Ayahnya terlalu mengatur hidupnya, jadi ia tak perlu untuk bermimipi karena itu akan sia-sia saja, katanya. Eh, maaf jika aku berlebihan,” gadis itu menghentikan penjelasannya. Tak menyangka akan menceritakan sikap Hagel, sahabatnya itu kepada orang yang belum kenal dekat dengannya.

“Aku lebih kenal dengan sikapnya dibanding wajahnya. Bagiku dia gadis unik bukan aneh. Hmm, bisakah kau membantuku?”

Gadis itu tertegun, lalu berkata, “Ya. Apa yang bisa kubantu?” tanyanya.

“Katakan padanya kalau aku pernah memimpikannya, dan suatu saat nanti, dia juga akan memimpikanku tanpa kupinta,” kata lelaki itu, kemudian berlalu. Langit mulai memamerkan cahaya jingga. Lampu jalanan sudah mulai hidup, pertanda senja itu sebentar lagi akan berganti hitam.

Gadis bernama Aurora itu masih duduk di tempat yang sama. Ribuan pertanyaan menghantui pikirannya. Ia terheran. “Secepat itukah laki-laki menyukai wanita?” tanyanya. Sungguh membingungkan bagi gadis polos itu. “Huh, aneh sekali mereka berdua. Membuatku gila hari ini,” tambahnya lagi.

“Hei, Nak! Kaulah yang lebih aneh aku rasa. Anak sekolahan dari tadi sudah sampai di rumahnya, kenapa kau masih di jalanan dengan memakai seragam sekolahmu ini?” Lelaki pengemis itu mengejutkan Aurora.

“Rumahku di jalanan ini, Pak. Jadi tak perlu bergegas pulang seperti anak yang lain. Orang tuaku pengemis di sekitar jalanan ini juga, aku selalu menunggu mereka di sini, lalu kami pulang bersama-sama layaknya sebuah keluarga utuh dan bahagia,” jelasnya sopan pada lelaki itu.

“Aku sangat terkejut mendengar jawabanmu, kebanyakan anak muda saat ini tak mudah berkata jujur, mereka rela berbohong hanya karena secuil gengsi. Tapi aku tak menemukannya pada dirimu. Bolehkah aku tahu siapa namamu, Nak?” tanya lelaki setengah baya itu dengan penasaran.

“Aurora, Pak,” jawabnya. Setelah ia menyebutkan namanya, ia pamit kepada Bapak itu, karena orang tuanya telah terlihat di ujung jalan sana.

***

“Aurora! Sudahkah kau meyakinkan Hagel betapa pentingnya bermimpi?” ucap Ibu gadis itu.

“Sudah, Bu. Tapi ia masih tetap pada jawaban yang sama, dengan alasan ulah keluarganya,” jawab Aurora.

“Kalau seperti itu, bukankah kau juga akan menjadi sepertinya? Gadis tanpa mimpi dengan alasan orang tua miskin dan tak akan bisa membuat mimpinya menjadi nyata?” Ibu menatap anak gadisnya itu.

“Kalaulah benar karena hidup miskin ini membuatku tak bisa bermimpi, kenapa pelangi tetap hadir dan bersikeras memanjakan setiap mata yang melihatnya? Padahal saat itu langit masih kelabu? Begitupun denganku, Ibu. Hal yang terpenting dalam hidup ini adalah penerimaan atas hadiah dari yang Maha Pemberi. Duka maupun lara. Aku akan menjadi pelangi yang tetap berwarna indah bersama mimpiku, walau hidup kita penuh dengan warna kelabu.” Dilukisnya senyuman pada bibir tipisnya itu sambil meletakkan kepala ke atas pangkuan ibunya. Itulah Aurora, gadis yang berharap semua mimpinya menjadi nyata.

Suasana kota di pagi itu cukup ekstrem. Seseorang yang tertidur bisa saja terbangun dibuatnya. Begitupun Aurora, dengan alarm alami dari paduan suara alat transportasi di jalanan membuat mimpinya tak lagi bersambung. Setiap kali ia bangun, ia tak lagi mendapati wajah orang tuanya. Mereka telah berangkat kerja saat subuh menyapa.

Begitulah nasib Aurora, anak pengemis itu. Ia harus berusaha menjadi penulis handal agar bisa mendapatkan uang dari tulisannya, lalu ia akan merasa sangat kenyang jika ia bisa membeli roti untuk sarapan paginya.

Dengan sigap ia mandi, lalu berangkat ke sekolah. Di persimpangan jalan dekat lampu merah, ia berhenti tepat di sebuah toko koran yang berukuran kecil. Toko itu, tempat ia biasa memastikan karyanya diterbitkan atau tidak. Hari itu keberuntungan tak berpihak kepadanya. Ia harus berpuasa, karena karyanya tidak dimuat. Hal tersebut membuatnya tak bisa memperoleh uang untuk membeli roti pagi itu. Walau sebenarnya ia sedih, tapi ia tetap melukis senyuman di bibirnya itu. Seakan-akan tak ingin memberikan kesan sedang memikul beban yang berat bagi orang lain.

Setiba di sekolah Hagel, teman akrabnya itu langsung mengejutkannya.

“Selamat pagi, Aurora! Ke kantin yuk! Biar aku yang bayar,” ajaknya.

“Tenang saja, hari ini aku tak melihat karyamu terlampir di koran rumahku. So, aku yakin kamu belum sarapan, bukan?” ucapnya lagi.

Aurora hanya terdiam dengan senyum kecil yang tetap ia pertahankan di bibirnya. Tak sempat ia menyahuti ajakan sahabatnya itu, Hagel langsung menarik tangannya.

Sesampainya di kantin, Hagel memesan roti panggang dengan saus cokelat. Saat menikmati hidangan tersebut Aurora memulai pembicaraan mengenai laki-laki yang berkenalan dengannya kemarin.

“Hagel, kamu tahu kan lelaki yang mendatangi kita kemarin? Namanya Arka. Oh, Iya dia minta tolong buat sampaikan sesuatu ke kamu. Katanya dia pernah memimpikanmu sebelumnya, dan nanti pasti kamu akan memimpikannya juga,” cerita gadis itu.

Dengan perasaan aneh Hagel menjawab, “Ha? Dia gila ya? Ketemu saja baru kemarin. Kok dia sudah mengenaliku? Dalam mimpi lagi. Aneh. Hm, sudahlah tak usah dipedulikan. Itu kan hanya mimpi. Oh, iya sepulang sekolah nanti kita makan ice cream di tempat kemarin, ya. Aku akan membelikannya untukmu,” ajaknya.

“Baiklah,” jawab Aurora singkat.

Kring… kring… kring…! Jam pelajaran berakhir. Secepat kilat siswa SMA Langit Impian berhamburan keluar. Begitupun Aurora dan Hagel. Tak ingin membuang waktu terlalu lama untuk hal yang menyenangkan itu. Mereka cepat-cepat menuju tempat kemarin untuk menghabiskan waktu memakan ice cream rasa berbeda.

“Kau sudah memimpikanku?” Tiba-tiba lelaki kemarin itu muncul lagi. Tersenyum dan mengambil tempat di antara kedua gadis itu.

“Aku tidak akan memimpikanmu, wahai Arka,” jawab Hagel.

“Baiklah kalau tak ingin memimpikanku, tapi bolehkah kita berteman?” tanya lelaki itu.

“Hmm, bisakah kau berjanji untuk tidak mengatakan mimpi lagi di dekatku?” pinta Hagel.

“Oke, aku akan mengingat itu. Sekarang kita bertiga teman, bukan?” Lelaki itu seperti berharap.

“Hmm, ya.” Hagel hanya mendehem, sedang Aurora tetap diam dan menikmati ice cream rasa cokelat strawbery di tangannya itu.

Tak ada yang kebetulan dalam hidup ini. Rezeki serta pertemuan itu telah dirancang seindah mungkin oleh sang pembuat cerita terbaik. Hari ini Aurora mendapatkan makan gratis sekaligus mendapatkan teman baru. Sejak pertemanan itu terjalin, mereka selalu bertemu setiap harinya. Warna-warni kebersamaan selalu menyelimuti pertemanan itu. Hingga suatu hari di kala mereka asyik tertawa di tempat biasa, ada seorang laki-laki yang menyampaikan pesan kepada Aurora yang berisi permintaan ibunya agar dia cepat pulang. Gadis yang memiliki pribadi patuh itu pun pamit kepada kedua sahabatnya, dan berlalu.

Anehnya, sejak hari itu Aurora tak lagi terlihat batang hidungnya di sekolah. Karena rasa penasaran Hagel tak lagi tertahan, ia pun pergi menemui Aurora ke rumahnya. Namun sayang, ia tak menemukan seorang pun ada di rumah kecil itu. Saat yang bersamaan Hagel pun mengingat Arka. Ia membutuhkan teman untuk bercerita. Lalu, pergilah ia menemui Arka. Diungkapkannya semua rasa gundah yang ia punya, sedang Arka menjadi pendengar dan sedikit pemberi perhatian pada Hagel. Setiap hari Hagel dan Arka tetap bertemu dan berbagi cerita. Pada akhirnya gadis itu mengungkapkan kalau ia sudah memimpikan Arka. Entah perasaan apakah yang ia miliki sekarang, sahabat atau cintakah?

“Bukankah sudah kukatakan kau akan memimpikanku juga,” ejek Arka. Hagel pun merasa lega, ternyata ia sudah bisa menikmati mimpi seperti yang dikatakan Aurora dulu. Namun, ia belum merasa seutuhnya bahagia karena mimpi itu belum ia dapati di kehidupan nyata. Ia belum memiliki cintanya Arka.

***

Langit biru kini telah terlihat kembali. Setelah hujan yang konser beberapa hari lalu. Walau begitu, Hagel tetap merasa sedih, karena sahabatnya tak kunjung datang untuk menyampaikan kabarnya lagi.

“Hagel! Apa kabar?” sapa seseorang yang tak lain itu Aurora. Hagel tak bisa menahan rasa rindunya, ia langsung memeluk sahabatnya itu.

“Ke mana saja kamu? Kau tahu, aku sudah bisa bermimipi. Ya, bermimpi tentangmu, dan hari ini mimpiku telah ada di dunia nyata. Bermimpi itu enak sekali ya?” jelasnya dengan gembira.

“Ibuku sakit, Gel. Jadi aku harus menjaganya. Kemarin saat kau ke rumahku, aku tahu itu. Aku ada di dalam rumah. Tapi aku tak ingin kau merasa cemas, makanya aku tak menyahut. Oh, iya bagaimana dengan Arka?” tanya Aurora.

“Dia juga sangat merindukanmu. Ra, kamu tahu tidak, aku juga telah memimpikan Arka. Perkataannya benar. Kok bisa ya? Entahlah, mungkin aku jatuh cinta padanya,” kelihatannya Hagel sangat berharap Arka mencintainya.

Aurora memeluk sahabatnya yang telah bisa bermimpi itu.

“Aku harus pulang duluan, Gel. Hari ini aku hanya meminta izin ke sekolah untuk libur beberapa waktu,” jelas Aurora sambil melepaskan pelukannya.

Sebenarnya Hagel belum puas melepas kerinduannya, tapi ia juga tak mau merepotkan Aurora, karena Aurora harus merawat ibunya. “Baiklah. Titip salam buat ibumu, ya?” ucap Hagel. Aurora hanya mengangguk dan berlalu.

Sebelum pulang ke rumahnya, Aurora menyempatkan diri untuk menikmati waktunya di tempat biasa. Ia menangis, karena sungguh dari awal ia telah menyukai Arka. Tapi apa boleh buat, itu sudah menjadi mimpi sahabatnya, Hagel. Ia tak mau membuat Hagel menjadi gadis yang tak mempunyai mimpi lagi. Setidaknya dari hal itu Hagel bisa bermimpi yang lebih indah, dan membuatnya lebih terarah nantinya. Itulah yang terbesit dalam pikiran gadis itu.

“Aurora! Senang bertemu denganmu kembali. Aku sudah mengetahui semuanya dari Hagel. Kau tahu, aku sangat merindukanmu,” ucap Arka yang mendekati Aurora.

“Iya, terima kasih sudah merindukanku,” jawab Aurora polos.

“Kau tahu Aurora, kau sudah berhasil menjadi teman terbaik untuk Hagel, kau telah membuatnya bermimipi, dan kau juga telah berhasil memenangkan hatiku, karena kau telah membuatku selalu bermimpi tentangmu. Aku sangat menyukai pribadimu. Kau masih ingat bukan, bapak yang menyapamu waktu langit mulai menghitam awal kita bertemu? Dia ayahku. Dia selalu mengharapkanmu ada dalam hidupku, begitupun keingananku,” jelas Arka sambil memegang tangan Aurora.

Gadis itu sangat terkejut dan bertanya, “Lalu, bagaimana dengan Hagel? Bukankah kau mencintainya? Bahkan kau sudah memimpikannya sebelum kenal dekat dengannya?”

Arka langsung tersenyum.

“Itu bohong. Sebenarnya aku hanya melakukan permintaanmu padanya kala itu. Aku mencoba bermimpi tentang dunia dan penerimaannya terhadap takdir, lalu kubayangkan seseorang dengan wajah Hagel menerimaku menjadi sahabatnya dan membantumu untuk membuatnya bisa bermimipi,” jelas Arka lagi.

Udara seakan terhenti bagi Hagel, ia tak tahan mendengar penjelasan lelaki yang dicintainya itu. Ia berlari, tak sengaja ia menginjak kaleng minuman dan membuat Aurora sadar akan kehadirannya. Hagel terus berlari, sedang Aurora spontan mengejarnya.

Kedua gadis itu berkejaran, saat Hagel melintasi jalan dan sudah sampai ke seberang, Aurora masih berada di bibir jalan. Mobil-mobil itu sangat egois, mereka tak memberikan pejalan kaki masa untuk menyeberang. Aurora tak mempedulikan hal tersebut, ia melanjutkan langkah kakinya. Tiba-tiba ia terhenti, lalu tumbang dan terdampar ke bibir jalan kembali. Darahlah yang mewarnai pertemuan kali ini.

Sejak itu, Hagel benar-benar tak bisa bertemu dengan Aurora dan Arka lagi. Mereka sama-sama pergi. Aurora pergi ke dunia lain sedang Arka pergi ke kampung ayahnya untuk menenangkan diri. Di sana ia mengikuti setiap acara motivasi. Sengaja ia ikuti, agar tak selalu berada dalam keterpurukannya. Setelah kepergian Aurora, Arka benar-benar tak bisa bermimpi. Kalau pun ia bermimpi, kepergian Auroralah yang selalu hadir di mimpinya itu. Ia begitu tersiksa.

Suatu hari, kampung tempat yang ia diami mengadakan acara motivasi hidup tentang meraih mimpi. Seperti biasanya Arka mengikuti motivasi tersebut. Ia menyimak segala hal yang dikatakan ustaz saat motivasi itu berlangsung. Pada akhir sesi, biasanya selalu dibuka sesi tanya jawab. Maka bertanyalah ia, “Ustaz, apabila Ustaz mempunyai mimpi, apakah yang akan Ustaz lakukan?”

Sang ustadz menjawab, “Saya akan meraihnya sekuat hati.” Keesokan hari setelah acara motivasi, hebohlah semua warga kampung itu. Mereka menemukan mayat seorang laki-laki tergantung di atas pohon, yang tak lain itu adalah Arka. Hal yang lebih mengejutkan lagi, di lehernya ia gantungakan tulisan yang berisi ungkapan terima kasih kepada ustad karena telah memberinya jalan untuk merealitakan mimpinya itu, tak lain bertemu dengan Auroranya yang telah pergi.

Tak hanya rezeki dan pertemuan. Perpisahan juga hal yang kebetulan jika dibayangkan. Hanya saja berpisah, jauh terasa lebih sulit dibanding bertemu. Mimpi. Hanya mimpilah yang dapat memberi kita ruang untuk bertemu kembali. Bermimpilah! Mimpikan aku, maka kita akan selalu bertemu walau tak saling memiliki lagi. Mimpikan juga masa depanmu, mana tahu itu lebih baik untuk kau miliki daripada aku. Karena skenario-Nya akan tetap menjadi yang terbaik. Bermimpilah.

Dari Arka

Selembar tulisan tertempel di batang pohon tempat pertama kali pertemuan terjalin. (*)

 

SRI MUTIA, MAN Gunung Padang Panjang.

Advertisements