Cerpen Artie Ahmad (Tribun Jabar, 24 Desember 2017)

Yang Menghancurkan Patung-patung di Kota Kami ilustrasi Yudixtag - Tribun Jabar.jpg
Yang Menghancurkan Patung-patung di Kota Kami ilustrasi Yudixtag/Tribun Jabar

SEBUAH pendulum dengan bandul bola besi besar bergoyang-goyang. Beberapa tali baja besar diikatkan ke kedua lengan dan kaki patung. Kami dipaksa melihat semua kejadian itu. Patung Tuanku Syam siap dihancurkan. Tanda cinta penduduk kota kepada pemimpin pertama kami itu akan dileburkan. Orang-orang yang datang dari Utara itu membawa misi celaka bagi kota kami. Konon, kata mereka itu, kota kami tak diberkati. Begitu banyak patung yang menghiasi sudut-sudut kota. Dari bibir dermaga, perempatan jalan, bahkan di pintu pasar, memang banyak pemanis patung-patung untuk menghiasi kota kami.

Patung Tuanku Syam sendiri diletakkan di tengah pusat kota. Patung setinggi lima belas meter, yang menggambarkan Tuanku Syam sedang membacakan nawacita tentang kebebasan kota kami. Patung Tuanku Syam sudah berdiri di pusat kota selama berpuluh-puluh tahun.

Kini, orang-orang dari Utara itu siap menghancurkannya. Entah bagaimana mulainya, orang-orang Utara itu merangsek masuk, dan menyebut diri mereka sebagai Pasukan Kebenaran. Mereka datang untuk menghancurkan patung-patung, yang mereka sebut sebagai berhala.

Kami, selama mendirikan patung, tak pernah sekali pun menganggap semua itu berhala. Tak ada warga kota yang mengultuskan patung-patung tersebut. Kami menganggap mereka layaknya benda pada umumnya. Hanya saja, kami terbiasa memandang semua patung itu dari segala arah. Termasuk patung Tuanku Syam.

Pendulum berbandul bola besi yang dikaitkan pada sebuah crane besar itu menghantam kepala patung Tuanku Syam dengan keras. Melihat kepala pemimpin kami yang bijak itu pecah berantakan, dada kami berdesir tak keruan. Tali-tali baja yang mengikat kedua tangan dan kaki ditarik menggunakan mesin penggulung tali. Seketika tali-tali itu menegang, menarik tangan dan kaki patung Tuanku Syam. Tak lama setelahnya, patung Tuanku Syam tumbang berdebam. Hancur berantakan. Kami semua tak bisa mengucapkan sepatah kata pun melihat kejadian-kejadian itu, bahkan Garu, yang berada di sebelahku, terlihat sedikit menggigil.

“Patung pemimpin kalian ini pantas dirobohkan! Patung Syam inilah yang membawa celaka di beberapa kota lain!” teriak salah satu pemimpin Pasukan Kebenaran, sesaat setelah patung Tuanku Syam roboh dan hancur berkeping-keping.

Kami semua terpana. Sejak kapan sebuah patung bisa melahirkan bala?

“Dari mana Anda tahu patung Tuanku Syam yang membawa celaka untuk kota lain?” balas seorang pemuda yang dari penampilannya, kemungkinan dia seorang aktivis muda.

“Dari sebuah ramalan. Patung yang menghadap ke Utara inilah pembawa celaka dan bala untuk kota Utara,” sahut pemimpin Pasukan Kebenaran dengan wajah garang.

“Apa? Jadi, hanya berlandaskan ramalan kalian menghancurkan sebuah patung? Bukankah katamu tadi tak baik mengultuskan sebuah patung? Kami tak mengultuskannya, dan ternyata hanya berlandaskan ramalan, toh. Manusia dengan standar ganda seperti kalian inilah yang membuat dunia bertambah busuk!”

Mendengar ucapan aktivis muda itu, beberapa anggota Pasukan Kebenaran segera ingin menangkapnya. Keadaan menjadi tak terkendali. Baku pukul pecah tak bisa dielakkan. Aku dan Garu menarik seorang Pasukan Kebenaran yang berbadan bongsor, dan membawanya ke semak-semak. Di sana kami melucuti senjata dan bajunya. Meski ternyata tak mudah mengalahkannya.

***

PENGHANCURAN patung-patung itu masih terjadi. Pasukan Kebenaran itu tak bisa dipukul mundur. Patung-patung di bibir dermaga mulai dihancurkan satu per satu. Seni yang berada pada setiap patung dianggap tak bemilai. Kami hanya bisa melihat penghancuran yang terjadi setiap hari. Keadaan kota menjadi tak seindah dulu lagi. Sisa material dari patung-patung yang dihancurkan berserakan di mana-mana. Seolah-olah memang sengaja dibiarkan begitu saja. Sebagai bukti bahwa mereka sudah melakukan hal yang semestinya. Menghancurkan patung-patung itu berdasarkan ramalan, dan menuduh seluruh warga kota mengultuskan patung-patung tersebut.

Setiap hari kami melihat pendulum berbandul bola besi bergoyang- goyang, lalu menghantam patung- patung yang dihancurkan. Aku dan Garu hanya melihat dari kejauhan. Salah satu patung yang dihancurkan karya terakhir ayahku. Patung seekor ikan julung-julung yang mengitari sebuah bunga teratai. Patung itu diselesaikan Ayah selama tiga bulan. Di sela sakit yang menggerogoti kesehatannya, Ayah dengan tekun menyelesaikan karya terakhimya. Selepas patung ikan julung-julung yang bercengkrama dengan bunga teratai itu dipasang di salah satu bibir dermaga, Ayah mengembuskan napas terakhir.

Tatkala melihat pendulum itu bergoyang-goyang di atas patung karya Ayah, dadaku berdegup. Hantaman keras di punggung patung dengan cepatnya menghancurkan patung itu. Air mataku terbit tak tertahankan. Sejak kematian ayah beberapa tahun lalu, aku tak pernah menangis lagi. Tapi ketika melihat patung karya ayah hancur berantakan, aku tak bisa menahan kelenjar air di mata. Tangisku pecah. Aku terisak-isak mengingat Ayah dan karya terakhirnya yang hancur berantakan.

“Sudahlah, Dalai. Mereka, kan, memang brengsek. Semua patung di kota ini dihancurkan. Entah kepuasan macam apa yang sedang mereka cari,” bisik Garu perlahan.

“Kenapa mereka harus menghancurkan patung-patung itu? Apa salahnya patung-patung hasil perajin di kota ini?” ujarku di sela tangis.

“Entahlah. Mungkin mereka iri lantaran kota mereka tak memiliki perajin patung,” jawab Garu. Kedua matanya masih mengawasi penghacuran-penghacuran patung itu dengan sedikit ngeri.

***

SEMUA patung sudah dihancurkan. Bahkan patung peninggalan sejarah di bukit sebelah Selatan kota juga dihancurkan. Bagi Pasukan Kebenaran, semua patung harus dirobohkan, tak peduli itu patung peninggalan sejarah atau bukan. Namun, ada satu patung yang disisakan. Patung yang seharusnya dihancurkan pertama kali jika mereka selurus apa yang selama ini mereka galakkan.

Rumah peninggalan Tuan Sorgum, seorang saudagar karpet mewah itu, berdiri kokoh. Sejak kedatangan Pasukan Kebenaran, Tuan Sorgum dan keluarganya memilih meninggalkan kota. Rumah besar Tuan Sorgum mereka ambil alih. Rumah besar dengan pagar tinggi itu sejak dulu memang mengundang perhatian. Bukan lantaran mewahnya rumah berpilar besar itu, melainkan patung yang didirikan Tuan Sorgum di halaman rumah. Patung Nadira Blooms. Seorang wanita penghibur idaman banyak lelaki.

Dari cerita dijelaskan bahwa nama Nadira Blooms ini bukan nama sebenamya. Nama samaran untuk mengaburkan identitasnya sebagai wanita penghibur. Konon, banyak lelaki yang rela mengeluarkan banyak uang untuk bermalam dengan Nadira Blooms. Salah satu laki-laki yang dikatakan beruntung adalah Tuan Sorgum. Dia mengaku pernah menghabiskan beberapa malam dengan Nadira Blooms. Oleh sebab itu, Tuan Sorgum tak bisa melupakan perempuan molek itu.

Tapi beberapa tahun yang lalu, terdengar kabar bahwa Nadira Blooms menghilang. Lebih mengguncang lagi, ketika kabar ditemukannya Nadira Blooms bukanlah kabar gembira. Wanita penghibur itu ditemukan sudah tewas di sebuah rumah sewaan di kota Barat Daya. Leher Nadira Blooms dijerat menggunakan tali nilon. Kabar kematian sang primadona menggegerkan seluruh warga kota. Tuan Sorgum bahkan rela menutup tokonya selama seminggu untuk berkabung dan menghadiri pemakaman Nadira Blooms di kota Barat Daya. Sampai usai pemakaman, tak ada seorang pun yang tahu siapa yang tega membunuh wanita penghibur itu. Penyewa terakhir Nadira Blooms tidak terdeteksi.

Ternyata duka yang dirasakan Tuan Sorgum sangat dalam. Tak berselang lama setelah upacara kematian Nadira Blooms berlalu, sebuah patung setinggi tiga meter dibawa Tuan Sorgum ke rumahnya. Patung Nadira Blooms yang molek. Aurat wanita penghibur itu nyaris terpampang tak tertutup. Hanya bagian dada dan kemaluan yang tertutup dengan kedua tangan Nadira serta selembar kain yang menjuntai. Pahatan patung itu sangat halus dan mengundang perhatian banyak orang. Konon, perajin patung itu pernah menghabiskan satu malam dengan Nadira Blooms.

Tatkala semua patung sudah dihancurkan, yang tersisa hanya patung Nadira Blooms. Anehnya, Pasukan Kebenaran terlihat begitu memujanya. Bahkan yang lebih mencengangkan pada suatu hari mereka berbondong-bondong memindahkan patung Nadira Blooms ke pusat kota untuk menggantikan patung Tuanku Syam. Dalam hati kami memberontak, bagaimana bisa patung wanita setengah nudis itu menggantikan Tuanku Syam. Mereka menggotong patung Nadira Blooms dengan bersukacita, seakan yang dibopong patung seorang wanita suci. Betapa bobroknya mental mereka itu.

“Hal paling bedebah adalah membiarkan anak-anak dan warga kota bebas menikmati patung wanita setengah nudis!”desisku jengkel di samping Garu.

Selama Pasukan Kebenaran menduduki kota kami, aku begitu hafal dengan beberapa anggota pasukan yang berjaga. Mereka sering aku lihat tertidur di waktu-waktu tertentu. Bodohnya sikap sigap seolah tak mereka miliki. Senjata dan sebagainya digeletakkan begitu saja di meja. Benar saja, siang itu aku berhasil mencuri dua buah peledak yang diletakkan begitu saja di antara senjata-senjata milik anggota Pasukan Kebenaran yang sedang lena. Garu terlihat cemas, tapi aku memastikan ideku akan berhasil.

Tengah malam kami berdua harus mengendap-endap. Jam malam diberlakukan. Kami harus sangat berhati-hati. Patung Nadira Blooms yang menggiurkan berdiri di hadapanku, dengan cepat aku bergerak. Meledakkan patung Nadira Blooms adalah ide terbaik yang aku miliki. Benar saja, tak lama setelah patung wanita penghibur itu hancur berkeping- keping, para anggota Pasukan Kebenaran menangis tersedu-sedu melihat patung Nadira Blooms hancur. Dari tempat persembunyian, aku dan Garu tertawa terbahak-bahak melihat orang-orang yang konon mengajarkan keberadaban itu menangisi sebuah benda yang terlahir dari “kebiadaban”.

 

ARTIE AHMAD, lahir di Salatiga, 21 November 1994. Saat ini berdomisili di Salatiga.

Advertisements