Cerpen Sri Lima Ratna Ndari (Analisa, 24 Desember 2017)

Sayur Daun Ubi Tumbuk ilustrasi Renjaya Siahaan - Analisa.jpg
Sayur Daun Ubi Tumbuk ilustrasi Renjaya Siahaan/Analisa

MOLO matua sogot au, ho do manarihon au.

Molo matinggang au inang, ho do namanogu-nogu au

Bila aku besok tua, kau yang memperhatikanku

Kalau aku terpeleset nak, kaulah yang menuntun aku.

Bunda Sofia hanya memiliki satu putri, yang berumur 12 tahun dan duduk di kelas 2 SLTP. Lagu Boru Panggoaran tentang orang tua yang hanya memiliki satu harapan di hari tuanya. Lagu sangat menyentuh hati perempuan empat puluh tahunan itu. Tak pelak air mata sering menetes bila mengingat boru-nya. Kini telah beranjak dewasa dan semakin jarang mendapat perhatiannya sebab kesibukan pekerjaan.

Tambah lagi, surat pemutusan kontrak yang diluncurkan Provinsi tanpa alasan. Membuat perempuan sarjana Bahasa Inggris itu semakin sering di kantor, karena menjadi korban kebijakan pimpinan yang dinilai tidak adil.

“Hasil evaluasi kinerja kita selama ini A. Keaktifan di lapangan juga A. Pendidikan tidak ada masalah, TOR juga sudah terpenuhi. Jadi apa lagi penyebabnya?” tanya Bunda Sofia pada sesama rekan yang bernasib sama di ruangan rapat.

Kontrak seharusnya berakhir pada 31 Desember. Akan diperpanjang satu tahun ke depan, justru diubah pihak Provinsi dengan pemutusan hubungan kerja mulai 1 November. Berarti 2 bulan lebih awal dari perjanjian tugas di bulan Januari tahun 2016.

“Kita ke Medan aja. Ke kantor pusat. Langsung kita tanyakkan. Gimana, bunda?” tanya Rossi, seorang gadis dengan usia 25-an. Panggilan ‘Bunda Sofia’ pertama kali terucap darinya dan dengan cepat diikuti oleh yang lain.

“Kawan-kawan dari Kabupaten lain kabarnya langsung bergerak hari ini. Kita merapat aja supaya ramai. Gak berjuang sendiri-sendiri,” usul Kiky.

“Oke. Besok kita bergerak. Enggak ada salahnya kita bawak jugak berkas-berkas pendukung. Seperti CV, rekomendasi pengalaman kerja dan hasil evaluasi kinerja,” jawab Darius berubah serius. Semua setuju pada usulnya. Dinilai lebih paham hukum karena dia memang sarjana hukum.

Bunda Sofia sebagai yang tertua menunjuk beberapa orang menjadi kordinator dalam rangka keberangkatan ke Medan. Sekaligus menyusun agenda yang akan dilakukan.

 

Ho do borukku, tappuk ni ate atekki

Ho do borukku, Tappuk ni pusu pusukki

(Kau anakku perempuan, yang di hatiku yang paling dalam.

Kau anakku perempuan, yang ada di dalam hidupku.)

 

Sofia menendang-nendang batu kerikil pecah yang berserakan di jalan akibat proyek pelebaran jalan Pemkot Pematangsiantar. Tak dihiraukannya debu memenuhi udara sekitar. Berulang kali klakson kendaraan mengejutkan langkahnya, memaksa ABG berseragam putih biru itu untuk menepi.

“Huh!”

Hanya itu perkataan yang keluar dari bibirnya. Sepertinya dia malas menyapa dan tak ingin cepat sampai ke rumah. Sudah dua hari ini di meja makan tak terhidang makanan kesukaannya. Sayur daun ubi tumbuk dan ikan teri disambal dengan kacang tanah goreng. Padahal dia sudah berulang kali meminta bunda untuk memasakkannya.

“Bunda repot, Nak, sayur bayam aja ya? Besok-besok bunda masakkan kalok udah sempat,” jawab bunda waktu Sofia mengungkapkan keinginannya. Apa bunda gak tau aku gak sukak bayam?! Rutuknya marah.

Sesampainya di rumah, dia melepas sepatu dan meletakkan tas sekolah asal-asalan. Berlalu tanpa menyapa ayah yang terheran-heran.

“Kenapa cemberut terus boru ayah?”

Sofia tidak menjawab.

“Karena gak diajak bunda ke Medan?”

Sofia tak bergeming. Baru menyadari kalau dari pulang sekolah tidak ada masakan bunda di atas meja makan. Hanya nasi goreng sisa sarapan tadi pagi.

“Memangnya Bunda ke Medan ya, Yah?”

“Iya. Tadi pagi sebelum subuh udah berangkat.”

“Kok Sofia gak tau?”

“Orang tidur aja, ya gak tau lah.”

“Berarti tadi pagi waktu berangkat sekolah, bunda udah gak di rumah?” sesal remaja itu menyadari kekeliruannya.

“Bunda lagi repot, nak. Urusannya banyak,” ujar ayah.

“Urusan apa?”

Ayah menceritakan masalah pekerjaan yang sedang dialami bunda.

“Ayah… kenapa baru cerita sekarang? Kenapa gak kasih tau?”

Boru ayah biasanya lebih duluan tau dari pada ayah kalok bunda punya masalah.”

“Biasanya… kenapa sekarang beda?”

“Bunda gak mau membuat borunya kepikiran di saat tengah ujian mid semester.”

Sofia menyeka air mata yang tiba-tiba tumpah. Rasa bersalah menggayutinya. Pantasan bunda terlihat berlipat kali lebih sibuk dan tak banyak bicara. Lebih awal bangun setiap malam untuk sholat tahajjud. Sering Sofia diam-diam mendengar isak bunda di antara doa-doanya.

‘Bunda…maafin Sofia yang tidak mengerti permasalahan yang sedang bunda alami’ bunyi sms yangdikirimnya pada bunda.

Bunda Sofia menyerahkan toa pada Darius. Dia baru saja selesai berorasi mewakili pekerja dari kabupaten Simalungun. Darius mengoper pengeras suara tersebut kepada Daniel, orator dari kabupaten Nias Selatan.

Hari semakin siang. Sebentar lagi matahari akan membakar jiwa. Bunda Sofia menatap pendemo sambil mengusung spanduk bertuliskan tuntutan kejelasan kontrak pada pihak terkait. Peluh dan keluh tumpah jadi satu. Ada secuil pesimis mencuat di hati perempuan itu. Jumlah mereka hanya berkisar 100-an orang. Tidak cukup banyak untuk sebuah aksi demo.

Teriakan mereka tak begitu memekakkan telinga, tak cukup menggetarkan hati. Meskipun menggunakan toa, suara mereka tidak mungkin terdengar, hingga ke puncak gedung dimana ruangan Pimpinan berada. Mungkin dia pergi makan siang ke luar, acuhkan para bawahan dengan segala tuntutannya.

Suara orator terdengar mulai serak. Yel-yel penyemangat semakin samar. Kalah oleh deru dan desing knalpot kendaraan yang lalu lalang di depan kantor. Tak jua satupun para pejabat berwenang yang perduli.

Wajah-wajah lelah dan penuh harap tergambar jelas di sana. Mereka datang dari lokasi tugas yang berjauhan. Tersebar di seluruh pelosok propinsi yang memiliki Danau terindah dan terluas di dunia. Berbeda suku, agama dan latar belakang pendidikan. Mereka memiliki tujuan yang sama. Memperjuangkan nasib sebagai pekerja yang dikontrak dalam sebuah program pemberdayaan.

Suara adzhan dzuhur membuyarkan pandangan perempuan itu. Hanya Allah tempat mengadu dan harapan satu-satunya. Dia yakin Allah akan menolong hamba-Nya yang meminta dan mengharap.

Selesai dzuhur, pintu kantor terbuka. Mereka bersedia mediasi dan dua orang utusan diperbolehkan menemui pimpinan. Bunda Sofia dan Darius dipilih melalui voting kilat.

Doa dan dzikir terus dilafazkannya untuk menenangkan hati yang bergemuruh. Beberapa lelaki yang diperkenalkan sebagai pejabat kepala seksi telah duduk di kursi masing-masing. Setelah basa-basi pembuka pembicaraan, mereka dipersilahkan menyatakan aspirasi.

Bunda Sofia memperhatikan dada kanan pakaian dinas mereka yang tercantum nama lengkap dengan berbagai titel kesarjanaan. Pendidikan tinggi sejatinya menjadikan seseorang pintar secara akademik dan spiritual. Tau mempergunakan ilmunya untuk kemanfaatan diri sendiri dan orang lain.

Pembicaan mereka semakin alot. Darius dengan hukum-hukum ketenagakerjaannya. Bunda dengan teknik bicara yang lembut, namun tegas berusaha membuka nurani para pejabat tersebut. Akhirnya mereka bersedia menginput ulang data para pekerja sesuai dengan rekomendasi pengalaman kerja.

“Apa yang Bunda bilang di dalam tadi? Kok lama kali Bun?” tanya Lina begitu Bunda Sofia dan Darius kembali menemui rekan-rekan pendemo. Rossi dan Kiky antusias mendekat.

“Ada kesalahan dalam menginput data pengalaman kerja kita, makanya kena pemutusan kontrak. Karena dianggap tidak sesuai dengan TOR, Term Of Recruitment.”

“Aku gak pernah memasukkan pengalamanku 0 tahun. Ada filenya di flahdiskku!” berang Lina yang paling banyak punya pengalaman kerja.

“Aku jugak!” Darius menambahi diamini oleh yang lain.

“Evaluasi kinerja kita juga bagus semua. Gak ada yang jelek. Hanya pengalaman yang tertulis 0 tahun. Entah siapa yang menginput data tersebut,” ujar Bunda Sofia lagi.

Wajah mereka memerah menahan emosi. Dugaan adanya manipulasi data, tidak bisa mereka buktikan secara nyata.

“Jadi, sampai kapan kita harus menunggu keputusan diperpanjang atau tidaknya!” tanya Kiky dan Rossi bersamaan.

“Kalau soal itu tidak ada disebutkan tadi. Hanya disuruh menunggu. Sabar, hingga batas waktu yang tidak bisa dipastikan,” jawab Bunda.

“Iya, sampai kapan!” Daniel dan kawan-kawan dari Nias mulai berang.

“Berapa persen pulak kemungkinannya!”

“Kata mereka sih 80% kemungkinan bagi yang telah menyerahkan data pengalaman kerja minimal 3 tahun untuk Diploma. Dua tahun untuk sarjana penuh, serta 5 tahun untuk SMA sederajat,” terang Darius yang dibalas anggukan oleh Bunda Sofia.

Tiba-tiba entah siapa yang memulai, batu-batu terlempar ke arah gedung bercat putuh itu. Suara kaca pecah beruntun memenuhi udara. Situasi berubah kacau dan tak terarah.

***

Sofia memetik daun ubi yang banyak tumbuh di sekeliling rumah. Memetik biji cempokak yang masih muda seperti yang sering dilakukan Bunda. Ayah mengajarinya menumbuk daun ubi dan cempokak dengan alu. Menghaluskan bawang merah, bawang putih, cabai merah dan udang kering. Mengupas kelapa, memarut serta memerasnya, hingga menghasilkan santan untuk kuah sayur daun ubi.

Sofia memasak santan hingga matang. Dimasukkannya bumbu-bumbu. Setelah itu barulah daun ubi yang sudah dihaluskan sambil terus diaduk agar santan tidak pecah.

“Ayah rasain asinnya. Sofia gak tau,” ucap Sofia sambil mengaduk sayur di dalam panci dengan menggunakan sudip kayu. Ayah menyendokkan sedikit kuah ke telapak kanannya.

“Mantab!” ucap Ayah sambil mengacungkan jempol. Sofia tersenyum puas. Memasak daun ubi menjadi sayur yang lezat sangat membutuhkan waktu dan tenaga yang lumayan banyak. Pantas Bunda tidak sempat. Remaja itu tidak cemberut lagi, puas telah bisa memasak sendiri makanan kesukaannya. Bunda pasti senang pada kejutan ini.

 

Pematangsiantar, November 2016

 

Boru= anak perempuan

Boru panggoaran= anak perempuan yang menjadi sebutan orangtuanya

Boru sasada= anak perempuan tunggal.

Alu = serupa lesung dari kayu

Cempokak = rimbang (sejenis tanaman).

Advertisements