Cerpen Majenis Panggar Besi (Media Indonesia, 24 Desember 2017)

Salju-salju yang Berjatuhan di dalam Dadaku ilustrasi Pata Areadi - Media Indonesia.jpg
Salju-salju yang Berjatuhan di dalam Dadaku ilustrasi Pata Areadi/Media Indonesia

BELAKANGAN baru aku ketahui namanya Yolendra. Dia mengetuk pintu rumahku saat salju telah bertebaran di halaman. Di balik punggungnya aku melihat pohon-pohon yang meranggas, kontras dengan kesegaran pada air mukanya yang merah segar dan berbintik-bintik akibat sering terpapar sinar matahari.

Dia bertanya tentang alamat seseorang, yang untuk orang itulah dia membawa sebuah bingkisan. Sedikit tergagap aku menjawab bahwa orang itu adalah aku. Setelah tersenyum formal, dia mengatakan maksud kedatangannya. Tentang orang yang lain, yang mengutusnya untuk menyampaikan sebuah pesan kepadaku. Seseorang yang tengah berada di Hindia. Dan dengan tanpa beban, dia menambahkan bahwa orang tersebut berpesan, apabila ada sesuatu yang terjadi dengan dirinya, aku adalah orang pertama yang harus diberitahu.

Aku mengalihkan pandanganku darinya. Sedikit air mataku menitik di sudut kelopaknya. Perih. Tidak bisa tidak, dia pasti membawa kabar yang tidak baik tentang putraku. Aku sedikit limbung, kepalaku terasa demikian besar untuk leherku. Lalu lantai yang kupijak terlihat demikian jauh.

Salju di luar sana demikian menyilaukan, lonceng misa pagi berdentang, menghamburkan burung-burung ke udara. Seharusnya aku lekas menyilakan dia masuk, demi udara dingin Desember yang bergulung-gulung di luar sana. Tapi yang terjadi di antara kami hanyalah kesunyian yang demikian menyesakkan.

***

Putraku lahir saat salju berhamburan di luar jendela, dengan lagu-lagu natal menggelenyar merambati udara. Ayahnya harus menembus salju-salju dengan iringan lagu-lagu itu untuk sampai ke gereja kami yang terletak di ujung jalan.

Pintu besar itu berderit membuka setelah tiga kali ayahnya mengetuk. Pendeta mengajak ayahnya ke ruang baca, yang dilengkapi dengan perapian berbahan bakar batu bara. Di ruang yang hangat dan beraroma lylac itulah ayahnya mengutarakan maksud kedatangannya. Sambil memandang potret Do’a Bapa Kami yang tergantung pada dinding di belakang punggung Pendeta, ayahnya menceritakan tentang kelahiran putraku. Menambahkan tentang keinginannya untuk membaptisnya pada hari biasa, ayahnya ingin agar putraku dibaptis sendirian saja.

Pendeta menjawab dengan suara yang tak lebih dari dengungan lebah, bahwa itu bukanlah hal yang susah. Ia memilihkan hari Sabtu untuk pembaptisan putraku, pukul dua belas siang. Tersenyum dan melanjutkan dengan pertanyaan, siapa nama yang ingin ayah berikan padaku.

Sambil memutar-mutar topi dalam genggamannya, ayahnya menjawab bahwa ia telah menyiapkan sebuah nama tapi dia masih ragu. Kemudin ayahnya menyebut nama-nama paman yang akan menjadi wali putraku. Ayahnya mengakhiri kalimatnya dengan pertanyaan, adakah yang harus ia persiapkan sebelum Sabtu depan?

Pendeta menjawab tak ada, yang ia sambung dengan harapannya: semoga Tuhan menjadikan kelahiran putraku sebagai berkah untuk keluarga, lingkungan dan alam semesta. Ayahnya memindahkan beberapa gulden dari kantungnya ke tangan pendeta, lalu beranjak pergi. Letupan batu bara dalam perapian mengiringi kepergian ayahnya.

Maka terhitung sejak hari Sabtu yang bersalju itu, putraku menetapkan kehidupan dalam iman kristen. Menjadi domba yang menjalani hari dengan sepenuh rasa syukur atas berkat dari Sang Gembala. Putraku melalui masa kecil dengan menghafal beberapa bait Psalm, serta sedikit belajar Revelasi, buku Daniel, Genesis, Samuel dan Exodus. Selain kitab, putraku juga suka meyanyikan kidung-kidung ceria. Lalu waktu terus melaju, salju telah berulang bertemu salju. Kemudian putraku telah sampai dimana kidung cerianya telah berganti menjadi Kidung Jemaat.

Bertahun-tahun kemudian, pendeta mendengarkan keributan di luar jendela ruang bacanya. Ia beranjak ke pintu, membukanya dan menemukan ayahnya dengan beberapa orang yang turut menyertai. Pendeta tersenyum sebelum menyilahkan masuk dan kemudian bertanya tentang perihal apa yang ayahnya bawa.

Ayahnya berbicara dengan keriangan yang jelas-jelas tak mampu ia sembunyikan. Tentang maksud kedatangannya adalah supaya pendeta sudi mengumumkan pernikahan putraku. Beberapa kalimat ayah selanjutnya saling berbalasan dengan apa yang pendeta ucapkan, yang diakhiri dengan: rasanya baru kemarin kita melakukan pembaptisan.

Ayahnya memperkenalkan bahwa orang-orang yang menyertainya adalah keluarga dari pihak perempuan, pendeta mencatat nama-nama mereka yang hadir dalam sebuah buku kecil yang ia ambil dari dalam laci. Ayahnya memindahkan beberapa gulden dari dompetnya ke meja, yang ditanggapi oleh pendeta bahwa itu terlalu banyak. Pendeta menegaskan bahwa ia hanya perlu sepersepuluhnya saja. Ayahnya tersenyum dan menggenggam tangan pendeta, sambil berbisik: Dia putraku satu-satunya. Bulan depan ia akan pulang dari Hindia, aku mau merayakan ini tidak dengan cara yang sederhana. Karena ini adalah hal terakhir yang bisa aku lakukan untuknya sebagai orang tua. Ayahnya mengakhiri bisikan dengan wajah tersenyum.

Pendeta tak lagi menyanggah omongan ayahnya, ia hanya memindahkan semua gulden dari meja ke dalam lacinya.

***

Salju di luar jendela masih berjatuhan. Bungkusan yang dibawa Yolendra tergeletak di meja, tak terjamah. Sebelum pergi, Yolendra menawarkan adakah yang bisa ia lakukan. Aku menjawab ada, suamiku ada di ruang tengah, harus ada yang memberitahu dia tentang putra kami, tapi rasanya aku tidak cukup kuat untuk itu.

Dia bertanya apakah aku akan baik-baik saja, aku menjawab tidak. Dia bilang aku boleh menangis, tak perlu ditegar-tegarkan. Lalu dia menambahkan bahwa dia juga seorang ayah dan tahu bagaimana rasanya kehilangan. Aku menjawab, aku seorang ibu yang bukan sekali ini saja harus merasakan kehilangan. Dan aku sudah lama tidak menangis.

Yolendra berlalu untuk menemui suamiku. Salju masih berhamburan di luar jendela. Bulan depan putraku pulang dari Hindia. Belum genap seminggu yang lalu suamiku mendatangi pendeta untuk mengumumkan pernikahannya. Lalu hari ini, datang Yolendra yang lain, membawa kabar tentang Yolendra putraku, yang telah gugur di negeri yang jauh. Lagu-lagu natal menggelenyar merambati udara, aku berdo’a dalam hati: Semoga selama dalam tugasnya, putraku benar-benar bisa menjadi domba yang mendatangkan berkat bagi sesama. Dari tempatku berdiri terdengar obrolan Yolendra dan suamiku di ruang tengah.

“Maukah kau menceritakan kepadaku bagaimana kejadiannya?”

“Hari itu Letnan Yolendra dijadwalkan meninggalkan Payakumbuh dan berlayar dari Sumatra Barat ke Batavia. Paginya, letnan sedang sibuk di pemukiman warga di daerah Pasar Ibuh,” lalu dengan cepat menambahkan, “Pasar Ibuh adalah suatu nama daerah di wilayah Kota Payakumbuh. Sumatra Barat.” Kemudian dia melanjutkan, “Ada seorang wanita yang dilaporkan hilang pada malam sebelumnya. Kami tidak tahu ada hubungan apa antara letnan dan perempuan yang dilaporkan hilang itu. Letnan langsung menuju ke lokasi saat mendengar kabar bahwa perempuan yang hilang itu telah meninggal dan jasadnya ditemukan di tepi sungai Batang Agam. Di tempat di mana jenazah ditemukan, letnan segera memeriksa lengan kiri perempuan itu, rupanya perempuan itu mengenakan gelang yang sama dengan yang letnan pakai. Semuanya terjadi dengan demikian cepat, tanpa dapat kami mencegahnya: letnan mencabut pistol di pinggangnya dan menembak kepalanya sendiri.”

Aku menatap kosong pada potret di atas perapian. Aku tengah berdiri di atas pasir yang aman dari jilatan ombak, memandang suamiku menggendong Yolendra berjalan perlahan ke arah laut. Langit berwarna pastel, dipantulkan oleh air laut dan pasir basah. Aku tidak dapat mengingat kapan foto itu diambil. Mungkin beberapa saat sebelum aku mengandung untuk ke dua kalinya.

Ketidakmampuanku mengingat detil-detil kecil semacam ini, entah mengapa tak lagi terlalu mengganggu. Sama halnya aku telah lupa kapan terakhir kali memimpikan Yolendra. Tahun depan umurku akan memasuki angka enam puluh delapan tahun, dan sepertinya masih lama lagi aku baru bisa menyusul Yolendra. Aku merasa yakin bahwa ajalnya masih jauh. Memikirkan hal ini, terkadang aku dipenuhi perasaan marah kepada Yolendra. Bagaimana mungkin dia bisa memilih mati secepat dan semudah itu?

Salju berjatuhan di halaman. Putraku telah meninggal tanpa sempat aku mengucapkan kata selamat tinggal yang pantas untuknya. Aku bahkan tidak bisa memberikan air mataku untuknya, sungguh anak yang malang. Anakku telah tiada, akan tetapi kenangan akan dirinya akan tetap hidup di dalam diriku. Dan sekarang, setelah kepergiannya aku harus menanggung kenangan ini sendirian.

Aku merasakan salju-salju berjatuhan di dalam dadaku, menebarkan hawa dingin dan menumbuhkan hal-hal yang sama sekali tak aku inginkan. Aku tak tahu, ingatan tentang putraku akan tumbuh menjadi apa di dalam di kemudian hari. Yang aku tahu adalah dia telah membawa sebagian dari diriku bersama kepergiannya.

Di dapur, ketel air menjerit-jerit tanpa ada niatku untuk mematikan api kompor. Aku masih ingat hari pedih ketika ayahku tiada. Bagaimana hari itu aku menghujani diriku dengan air mataku sendiri. Ingin rasanya aku dilanda emosi semacam itu, tapi saat ini yang aku rasakan hanyalah kekosongan. Hujan salju di luar jendela benar-benar mempercepat kelam. Lagu-lagu natal menggelenyar merambati udara. Oh malam suci, oh Tuhan kami. Tiada betarti hidupku ini, sampai tempatku perlu kau datangi.

 

Majenis Panggar Besi, terlahir di Banyuwangi. Kumpulan cerita pendek termutakhirnya adalah Hari Anjing-Anjing Menghilang (Diva Press 2017).

 

Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, ketik sebanyak 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media massa lain. Kirim e-mail ke cerpenmi@mediaindonesia.com

Advertisements