Cerpen Mohammad Ilyas (Banjarmasin Post, 24 Desember 2017)

Pintu Belakang ilustrasi Rizali Rahman - Banjarmasin Post Group.jpg
Pintu Belakang ilustrasi Rizali Rahman/Banjarmasin Post Group

Pintu belakang rumah Monarie ada yang mengetuknya tiga kali. Ia bergegas mendekati pintu itu, dan membukanya. Ia melihat seorang laki-laki berbadan tegap berdiri memunggungi pintu. Sebentar kemudian Monarie menarik tangan laki-laki itu, dan mengajaknya masuk. Tangannya gemetar. Ia bergegas menutup kembali pintu rumahnya rapat-rapat dan menguncinya dari dalam.

Sementara di luar hujan masih belum reda. Sesekali petir menyambar sehabis keredep kilat memecah kegelapan. Monarie memanggil laki-laki itu dengan sebutan Maddasin. Begitu pula dengan tetangga-tetangganya, menyebut dengan panggilan yang sama. Dan, Maddasin dikenal sebagai pedagang sapi.

Monarie beranjak menuju jendela, lantas menarik gorden yang semula hanya ditutupnya separuh. Selanjutnya ia mematikan lampunya yang remang-remang itu. Ia pun mendekati Maddasin yang sejak tadi duduk di atas lincaknya yang tanpa kasur.

“Bagaimana kabar suamimu?” tanya Maddasin dengan suara berbisik.

“Entahlah,” jawabnya Monarie.

“Kamu pasti banyak tahu tentang Jakarta, kalau suamimu menceritakannya?”

“Dia tidak sempat bercerita padaku, sebab di sana katanya sangat sibuk. Tokonya dibuka selama dua puluh empat jam. Tidak ada waktu untuk ngobrol panjang. Dia hanya menelponku, kalau kebetulan mengirim uang, menanyakan masuk tidaknya.”

Maddasin dapat melihat wajah Monarie acuh di remang-remang. Juga didengarnya suara desah napasnya tidak sabar. Monarie segera merebahkan tubuhnya dan menarik pundak Maddasin, sampai mereka sama-sama terlentang di atas lincak yang dingin.

“Kamu tentu capek sehabis kerja seharian mencari sapi yang mau dijual,” bujuknya Monarie. “Tidurlah meski aku tak punya kasur, dan aku harap kamu betah rebahan di sini.”

Maddasin tiba-tiba mengurungkan niatnya saat mau menuruti ajakan Monarie. Dan, Maddasin seketika meloncat dari ranjang saat pintu rumah Monarie ada yang mengetuknya. Ia meringkuk di gelap pojok bawah ranjang.

Monarie  bangkit dari rebahannya. Sebelum beranjak menuju pintu, terlebih dahulu merapikan rambutnya yang acak-acakan. Kemudian dibukanya perlahan pintu itu. Di depan pintu anaknya berdiri dan meminta uang untuk membeli jajan.

“Malam-malam kamu mau jajan?” ucapnya Monarie. “Iya sudah, tunggu di sini sebentar, biar aku ambilkan dulu ke dalam.”

Tanpa banyak basa-basi, Monarie kembali masuk ke dalam dan menuju lemari yang terletak di pojok kamarnya. Dalam remang-remang tangannya meraba-raba lipatan baju yang sudah tersusun rapi, sesekali mengangkatnya susunan baju itu perlahan, dan kembali tangannya meraba-raba.

“Klak,” tiba-tiba lampu di kamar itu serentak menyala, dan Monarie tersentak kekagetan. Rupanya anaknya yang menghidupkan lampu. Buru-buru Monarie  menghampiri sakelar dekat anaknya berdiri, dan mematikan kembali lampunya. Anaknya yang semula berniat untuk membantunya, kini kebingungan dengan apa yang dilakukan Monarie.

“Sini kamu,” Monarie menjewer telinga anaknya, dan ditariknya keluar.

“Sejak kapan aku mengajarimu kacang?”

Anaknya tidak berani menjawab, ia hanya menunduk sambil memelinting-lintang ujung bajunya. Monarie terus mendesaknya dan terus menanyakannya dengan kata-kata yang sama.

“I… i… in… ini,” ucapnya anaknya gugup. “Ini kan rumah, Ibu!” lanjutnya setelah ia menelan ludahnya.

Sebagai hukuman bagi anaknya, Monarie tidak jadi memberinya uang. Ia menganggap anaknya telah melakukan kesalahan besar. Dengan mata berlinang, anaknya beranjak pergi, dan Monarie menyuruhnya untuk tidur di surau tempat ngajinya.

Kembali Monarie masuk ke dalam rumahnya dan memberi isyarat kepada Maddasin untuk keluar dari bawah ranjang itu.

Maddasin segera duduk di dekat Monarie. Ia mengatakan kalau malam sudah benar-benar larut. Ia pun pamit pulang pada Monarie.

Lepas dari pintu belakang rumah Monarie, Maddasin dengan mengendap-ngendap terus berjalan melewati pagar dan semak-semak yang rimbun.

***

Sesampainya Maddasin di depan rumahnya, tiba-tiba hatinya berdebar, ia mulai berpikiran lain ketika melihat pintu rumahnya sedikit terbuka. Sebab, istrinya mempunyai kebiasaan menutup rapat pintu saat malam.

Maddasin begegas menuju kandang sapinya sebelum masuk ke dalam rumahnya. Segera, arit yang terselip di celah anyaman bambu diambilnya dan digenggamnya erat-erat.

Perlahan-lahan Maddasin melangkah menuju kamar istrinya. Diam-diam ia menangkap suara istrinya yang tengah mengobrol lirih dengan laki-laki. Kini Maddasin dadanya terasa sesak, tangannya gemetar dan keringatan. Ia pandangi arit yang digenggamnya dengan pandangan terbelalak, giginya geretak-geretak menahan geram.

Tanpa ada rasa ragu sedikitpun, Maddasin menendang dan mendorong pintu kamar istrinya keras-keras sehingga pintu itu seketika terbuka. Kemarahan Maddasin semakin membuncah ketika dilihatnya ada laki-laki yang berlindung di balik punggung istrinya. Laki- laki itu ketakutan saat Maddasin menghampirinya.

“Tunggu, mau apa kamu?” tanya istrinya

“Dasar perempuan gadungan! Pelacur!” cacinya Maddasin pada istrinya. Ia terus mendekati laki- laki itu dengan desah napas yang berangsur-angsur. Sementara istrinya terus berhadap-hadapan dengan Maddasin sehingga laki-laki itu terus terlindungi.

Pada saat laki-laki itu hendak melarikan diri, saat itu pula Maddasin menyebatkan aritnya dan mengenai pundak laki-laki itu. Darah segar memuncrat kuyup membasahi bajunya dan setelah sesaat mengerang, laki-laki itu terkulai tak bernyawa.

“Kamu selingkuh dengan anak kecil, Perempuan sundal!” ucapnya Maddasin geram.

“Bajingan!” tanggapnya istrinya dengan isak tangis iba sambil menatap laki-laki yang sudah tak bernyawa itu. “Kamu tahu? Ini anak Monarie, perempuan selingkuhanmu itu! Dia ke sini memberitahuku, kalau kamu ada di sana. Owh, kasihan anak ini! Setelah dia dimarahi ibunya, harus mengakhiri hidupnya pula, itu pun di tangan orang yang sama; sama-sama berhati iblis.”

“Cukuuup!” bentak Maddasin dengan napas tambah berangsur-angsur. “Kalau kamu kasihan sama dia, aku pun kasihan sama kamu! Maka sekarang biar kuantar kamu untuk menyusul anak kecil itu.”

“Bajingan kamu!” ujar istri Maddasin. Ia berjalan mundur mendekati pintu. Istri Maddasin meronta-ronta membuka pintunya yang sudah dikunci itu, sementara Maddasin terus mendekat dengan senyum dingin.

“Tolong! Tolong! Tolong!” teriaknya

Mbah Saliman yang hendak memutar qiroah di Masjid, terpemnjat saat mendengar suara minta tolong. Ia pun membangunkan warga yang lain, yang biasa salat subuh berjamaah di masjid itu. Kemudain berbondong-bondong menuju suara yang meminta tolong itu.

Akhirnya Mbah Saliman dan para jamaah masjid berhenti di depan halaman Maddasin. “Dengar!” ucapnya Mbah Saliman, tangannya sambil menunjuk rumah Maddasin. “Rupanya suara yang minta tolong itu dari sini sumbernya. Mari kita mendekat,” ajaknya Mbah Saliman.

Segera didengarnya pertengkaran Maddasin dengan istrinya. Beberapa orang jamaah masjid mengatakan, kenapa pintunya tidak didobrak saja. Tapi, sebagian orang berpendapat sebaiknya jangan, sebab pertengkaran di dalam berumah tangga itu sudah biasa.

Di masjid, beduk sudah ditabuh dan adzan segera dikumandangkan. Sementara dari dalam rumah Maddasin, sudah tidak didengarnya lagi pertengkaran. Para jamaah masjid pun bubar bersama-sama. Mbah Saliman ke masjid untuk melaksanakan salat subuh berjamaah.

Selesai salat, Mbah Saliman mematikan lampu kemudain menutup semua pintu masjid. Saat menuruni tangga masjid, tiba-tiba salah satu jamaah menghampirinya dengan napas terengah-engah.

“Ada apa?” tanya Mbah Saliman.

“Anu, Mbah! Saya disuruh memberi pengumuman oleh Pak RT.”

“La, iya pengumuman apa?”

“Ini, istri Maddasin meninggal, Mbah. Saya disuruh memberi pengumuman agar warga di kampung ini tahu.”

“Innalillahi,” ujarnya Mbah Saliman sambil geleng-geleng. (*)

 

Mohammad Ilyas, lahir di Sumenep, Madura. Saat ini tercatat sebagai Mahasiswa UIN Sunan Kali Yogyakarta, dan menimba ilmu di PP. Ibnu Sina Godean Yogyakarta.

Advertisements