Cerpen Jeli Manalu (Haluan, 24 Desember 2017)

Melayang Sebutir Cahaya ilustrasi Haluan
Melayang Sebutir Cahaya ilustrasi Istimewa

Butuh sepuluh menit bagimu untuk melepas pelukannya yang masih hangat. Kau memandangi matanya, mata itu tertidur dan tampak sangat nyenyak. Kaukecup lekas-lekas seperti pencuri, meski tadi kau tidak benar-benar ingat apakah merasakan denyutan halus di bagian kelopaknya karena pada saat itu ada angin yang menyeberang di antara kalian.

Kau lalu ke dapur menyiapkan makanan yang hanya disukai istrimu saat-saat ia sedang tidak enak badan. Ia memintamu memasaknya tadi malam sehabis kalian bercerita panjang dan ia sempat tertidur dengan kepala bertumpu di dadamu, dan saat terjaga ia berkata, “Kau masih ingat bagaimana warnanya ‘kan?” tanya istrimu, memastikan kau belum lupa tentang warna ikan itu nantinya.

Mengenai ikan arsik—ikan mas bumbu kuning dicampur kacang panjang, kucai, kecombrang yang dimasak hingga mongering—itu, warnanya harus kuning. Cabainya tidak banyak, kunyitnyalah yang perlu diperhatikan. Ia harus kuning pekat bak mekarnya bunga matahari. Bukan mirip lukisan yang warnanya sengaja dipucatkan atau kuning pada kulit yang akan tampak seperti orang mati, katanya. Aku tidak selera walau sekadar menyendoknya. Maka, kau menambahkan kunyit satu batang lagi.

Saat kau memukul-mukulnya di atas batu penggilingan, kau berhenti sejenak melihat istrimu apakah tidurnya terganggu. Nyatanya tidak. Ia masih di posisi ketika tadi kau meninggalkannya di atas kasur. Masih berselimut. Wajahnya mendongak. Kedua tangannya di sisi badan. Kakinya lurus. Tak sedikit pun bengkok. Pulas sekali tidur istriku, pikirmu. Kau kemudian gegas menghidupkan api kompor agar masakan itu matang sekitar dua jam lagi karena apinya dibuat kecil saja. Pelan-pelan saja, supaya tulangtulangnya lunak, dagingnya empuk, serta bumbu-bumbunya meresap.

Advertisements