Cerpen Dody Wardy Manula (Padang Ekspres, 24 Desember 2017)

Mahoni di Tengah Jati ilustrasi Orta - Padang Ekspres.jpg
Mahoni di Tengah Jati ilustrasi Orta/Padang Ekspres

Genap lima belas tahun Mahoni menghilang. Selama itu juga suara Kemuning ikut menghilang. Ia menyiksa diri dengan caranya sendiri. Hidup tanpa suara menyeretnya dalam pusaran kesepian. Bila petang menjelang, Kemuning mendaki bukit kapur berada di belakang rumah. Betis membengkak karena setiap hari melakukan pendakian. Tak ada ia temukan di puncak bukit kapur selain hamparan pohon jati. Di salah satu pohon ada tumpukan batu kapur. Kemuning duduk di sana sembari menangis tanpa isak. Lima belas tahun silam, di tempat itu Mahoni menunggu dirinya.

“Bila ibumu tidak setuju dengan hubungan kita, mari kita kawin lari.” Ucap Mahoni.

“Kita kawin lari ke mana.”

Ada ragu di mata Kemuning.

“Ke tempat di mana orang-orang tidak mengenal kita. Besok petang, aku menunggumu di sini.”

“Bagaimana kalau aku tidak datang.”

Keraguan semakin jelas di mata Kemuning. Ia sangat mencintai Mahoni. Tapi ia juga tidak sanggup meninggalkan ibu tanpa restu. Setelah ayahnya menikah lagi, hanya dirinya dimiliki ibu.

“Kalau kamu tidak datang, aku akan berubah menjadi pohon.”

Mahoni menatapnya pias. Kemuning tertawa melupakan sejenak kepedihan. Mahoni seorang penyair. Ia sangat pintar merangkai kata. Bagaimana mungkin manusia berubah menjadi pohon. Mereka tidak hidup di zaman purba.

“Bukankah yang seharusnya berubah jadi pohon adalah aku?”

Kemuning mendekatkan tubuh pada Mahoni. Tangan mereka menyatu. Kemuning merebahkan kepala di pundak lelaki berkulit hitam itu.

“Lelaki yang baik harus sanggup menanggung kesalahan kekasihnya sendiri.”

“Tapi itu tidak adil.”

“Bila tak ingin aku berubah jadi pohon, temui aku di sini besok petang.”

Mahoni mendekap tubuh Kemuning. Mengecup bibir basahnya hingga mereka nyaris lupa bernapas. Daun jati berguguran ditiup angin petang, jatuh menimpa tubuh mereka yang telah telanjang.

“Mari kita pulang, Bu!”

Kenangan di kepala Kemuning selalu berakhir pada sebuah panggilan. Seorang anak remaja kerap muncul di hamparan jati bila petang sudah beranjak gelap. Jati, demikian nama anak remaja itu. Nama itu diberikan nenek lantaran sang ibu teramat mencintai hamparan jati di belakang rumah. Jati memapah Kemuning menuruni bukit kapur. Tak ada menandingi kesedihan Jati. Sejak lahir, ia belum pernah mendengar suara ibu.

Hubungan antara ibu dan anak terjalin hanya melalui tatapan mata. Ada tembok kasat mata memisahkan mereka. Kemuning menyimpan rapat kenangan tentang Mahoni. Tak seorang pun boleh merampas kenangan itu. Walau kenangan itu selalu menghadirkan air mata. Andai waktu itu ia berani mengambil sikap, mungkin Mahoni tidak akan menghilang di antara pohon jati. Kemuning ketahuan ibu saat hendak kabur dari jendela kamar.

“Pergilah menemui lelaki itu. Tapi sebentar lagi warga akan menemukan mayat ibumu ini karena bunuh diri.”

Ibu menatap tajam dari pintu kamar. Kemuning urung melompat. Ia turun dari jendela dan tersungkur di hadapan ibu. Tangisnya pecah. Berharap ibu memberi restu padanya untuk menemui Mahoni. Hingga petang ditelan gelap, ibu tetap pada pendirian. Diam membisu bagai seonggok patung.

“Lelaki penyair adalah lelaki yang mencintai kata-kata lebih dari apa pun. Jangan mencintai Mahoni. Kamu akan menjadi urutan kedua dalam hidupnya. Cukup ibu merasakan itu.”

“Ibu jangan menyalahkan profesi penyair. Ayah yang brengsek meninggalkan kita demi seorang janda.”

Wajah ibu mendadak merah bagai bisul mau pecah. Kebencian pada suami yang seorang penyair kembali mengoyak luka lama. Syair-syairnya pernah membuat seorang janda tergila-gila. Ia terjebak dalam hubungan terlarang. Tak bisa mengelak ketika janda itu datang dengan perut membuncit.

“Sifat penyair sama saja. Mulai sekarang lupakan Mahoni. Perempuan harus pintar penyimpan kesedihan tanpa harus bicara.”

Ibu hilang di balik pintu kamar. Keesokan hari, Kemuning berlari menjejaki batu kapur belakang rumah, berharap bisa menemukan Mahoni duduk ditumpukan batu di bawah pohon jati tempat mereka biasa bersantai menikmati pergantian petang. Mahoni tidak ada di sana. Kemuning mengira kalau Mahoni telah pulang. Ia datangi rumah Mahoni. Ibunya bilang Mahoni belum turun dari bukit kapur sejak kemarin petang. Benarkah Mahoni telah berubah jadi pohon? Tidak mungkin. Pasti Mahoni pergi sendirian ke tempat di mana orang-orang tidak mengenalnya.

Kemuning menjadi murung. Setiap petang pergi ke bukit kapur berharap Mahoni muncul menjemput. Kemuning mengingat perkataan ibu. Perempuan harus pintar menyimpan kesedihan tanpa harus bicara. Mulai saat itu, Kemuning hidup tanpa kata. Membiarkan dirinya terjebak dalam kebisuan. Perut Kemuning mulai membuncit. Bibit Mahoni yang ditanam di bawah pohon jati mulai tumbuh dan berakar. Jati tumbuh dalam dunia sunyi. Tanpa nyanyian nina bobo dari bibir seorang ibu. Seiring umur bertambah, kepedihan itu kian meraja. Ruang hatinya dipenuhi ribuan tanya. Mengapa ibu tak pernah bicara. Apa yang ibu cari di hamparan jati. Di mana sosok ayah yang menyamaikan benih di rahim ibu.

***

Dalam kelas, guru Bahasa Indonesia menyuruh anak didiknya mengarang tentang ibu dan ayah. Jati terpaku menatap kertas yang masih kosong, bingung harus menulis apa. Ia malu menulis kisah ibu yang membisu selama puluhan tahun dan betah duduk di hamparan pohon jati setiap petang. Jati tidak mengenal sosok ayah Hanya Kemuning yang tahu siapa penyebar benih itu. Namun Kemuning terlalu setia pada kebisuan. Jati tidak tega mengusik ibu dengan pertanyaan itu. Jam pelajaran Bahasa Indonesia hampir berakhir. Kertas Jati masih kosong.

“Jati! Bila masih mau mengikuti pelajaran Bahasa Indonesia lekas kerjakan tugasmu.” Ucap ibu guru dengan tatapan penuh amarah. Wanita itu tidak cocok menjadi guru. Wajahnya garang seperti debt colector. Bel berbunyi. Jati mengumpulkan tugas dengan tatapan ketakutan. Hanya bisa menulis dua kalimat pendek. Ibu guru bertampang debt colector pasti akan marah bila nanti membaca tugasnya.

Ibuku bagai seonggok batu kapur yang menyukai kebisuan.

Sedangkan ayahku laksana angin yang tak pernah bisa kulihat dan kusentuh.

Itu isi tugas Jati ditulis bersamaan dengan bunyi bel.

***

Jati mendapati ibu sedang memasak bubur. Meski mereka tak pernah bicara, ia merasa ibu sangat menyayangi dirinya. Kemuning tidak pernah membiarkan Jati kekurangan apa pun. Rela menjadi penambang batu kapur untuk memenuhi kebutuhan mereka setiap hari.

Kemuning selalu mendukung apa yang dilakukan anaknya. Ketika Jati masuk klub bola, Kemuning rela menjual kain jarik peninggalan ibunya demi membeli sepatu bola. Namun Kemuning tidak mengijinkan Jati ketika ingin ikut lomba baca puisi di hari guru. Jati terpaksa mengundurkan diri karena tak tega melihat ibu berderai air mata. Tak ada guna bertanya mengapa ibu melarang. Kemuning masih setia dalam kebisuan.

Jati duduk di kursi makan sembari menatap ibu menuangkan santan ke dalam periuk. Aroma kacang dan gula jawa menyatu di udara. Hari ini, Jati ingin marah. Tugas Bahasa Indonesia tak mampu ia selesaikan menggerogoti hatinya. Terlalu banyak rahasia ibu simpan. Jati menjadi tak mengenal siapa pun. Tak mengenal nenek, ibu, ayah, juga dirinya.

“Ibu bisa bicara atau benar-benar bisu?”

Jati memberanikan diri menanyakan hal itu. Tepekur menatap permukaan meja. Kemuning berhenti mengaduk bubur. Sejenak menatap Jati masih menunduk.

“Di mana ayahku, Bu?”

Kemuning kembali menatap Jati tanpa bisa bersuara. Jati masih menunduk. Tidak tega melihat perubahan wajah ibunya.

“Aku akan menebangi pohon jati itu bila ibu tidak memberi tahu.”

Kemuning menghampiri Jati. Kepala menggeleng sembari berderai air mata. Bagaimana mengenang Mahoni bila pohon jati ditebang. Jati mengambil parang, lalu berlari ke belakang rumah menuju bukit kapur. Kemuning mengejar. Tapi langkahnya kalah cepat.

Kemuning tertinggal jauh di belakang. Mungkin Jati telah sampai di puncak bukit. Semoga Jati tidak sungguh-sungguh dengan ucapannya. Kemuning mendaki bukit kapur dengan sisa tenaga. Apa akan Kemuning katakan pada Jati. Ia sendiri tidak tahu di mana Mahoni. Haruskah mengakhiri semuanya? Berhenti menyiksa diri dengan kebisuan dan berhenti mengunjungi hamparan jati? Itu sama saja mengkhianati cintanya pada Mahoni. Masih berharap suatu hari nanti Mahoni datang dan menemukan dirinya duduk di bawah pohon jati. Barangkali Mahoni tersesat tidak tahu jalan pulang. Lima belas tahun berpisah, mungkin Mahoni lupa jalan menuju hamparan jati. Bila pohon jati ditebang, Mahoni akan kehilangan tanda untuk kembali.

Kemuning mematung di pinggir bukit. Tidak percaya bila anaknya sekalap itu. Lima batang pohon jati telah tumbang. Bila tidak dihentikan, Jati akan menebang semua. Kemuning menghampiri dan menarik tangan anaknya agar segera berhenti. Namun Jati mendorong tubuh Kemuning hingga terjerembab. Cukup sudah ia hidup dalam ribuan tanya. Jati ingin seperti anak-anak lain. Bisa bercerita dengan ibunya. Menyanyikan lagu happy birthday saat ia ulang tahun. Mengajaknya jalan-jalan saat liburan. Jati bosan harus menjemput ibu ke atas bukit setiap petang.

“Tidak akan berhenti sebelum ibu memberi tahu di mana ayahku.” Teriak Jati. Parang miliknya belum berhenti menancap di batang pohon. Tidak jauh dari mereka, ada sebatang pohon dililit belukar hingga menutupi seluruh daun. Jati mengibaskan parang. Belukar luruh ke tanah. Pohon yang tersembunyi di balik belukar kelihatan.

Kemuning menatap pohon itu. Seketika tangisnya pecah. Jati berhenti mengibaskan parang. Ini pertama kali mendengar suara tangis ibu. Batang pohon itu mengingatkan Kemuning pada tubuh tegap Jati. Ranting-rantingnya sangat mirip dengan jemari Jati. Pun daunnya tidak ada beda dengan rambut Jati.

“Bicaralah, Bu! Di mana ayahku.”

Jati tersungkur. Tubuhnya kelelahan. Pipinya dipenuhi air mata. Jati akan menyelesaikan tugas Bahasa Indonesia itu andai ibu memberitahu di mana ayahnya.

“Dia ayahmu, Nak!” Ujar Kemuning sembari menunjuk pohon itu.

“Itu hanya pohon mahoni, Bu!”

“Dia memang ayahmu.”

Jati menanggap ibu telah gila. Setiap ditanya di mana ayahnya, Kemuning selalu menunjuk pohon mahoni yang mereka temukan itu. Lima belas tahun menunggu. Ternyata Mahoni berada didekatnya. Mahoni tidak pernah pergi. Ia benar-benar telah berubah menjadi pohon mahoni. (*)

Advertisements