Cerpen Adi Zamzam (Bali Post, 24 Desember 2017)

Lelaki yang Tinggal di Dalam Tanah ilustrasi Citra Sasmito - Bali Post
Lelaki yang Tinggal di Dalam Tanah ilustrasi Citra Sasmito/Bali Post

Kabut mengubah siang seperti senja beranjak malam. Benakku dihinggapi perasaan tak enak. Berisik yang tiba-tiba mengusik membuat dadaku berdenyar. Aku terpaksa keluar mobil demi memastikan rupa suara.

Betapa terkejutnya aku. Di tengah jalan yang membelah perbukitan aku terpana. Ribuan pohon tiba-tiba saja hidup, menganggukkan badan, seraya mengucap terima kasih kepadaku. Seseorang, yang entah dari mana datangnya, sudah berdiri di ujung jalan. Sosok misterius itu sekujur tubuhnya berupa tanah tanah!

“Kemarilah. Aku ingin berterima kasih kepadamu…” sosok itu turut mengangguk kepadaku.

“Terima kasih atas apa?”

Ia mendekat. Semakin dapat kulihat tubuhnya yang tanah. Sialnya, kedua kakiku tak bisa kugerakkan. Tubuhku gemetar, terdera ketakutan.

Entah mengapa kemudian aku berteriak memanggil almarhum kakekku. Namun istrikulah yang kemudian kudapati. Mengguncang bahu dengan wajah penuh tanya.

***

“Kabar dari keluarga Jono bagaimana, Mas?” istriku datang dengan segelas kopi nasgithel.

Aku hanya menyahut dengan dehaman kecil. Coba menghilangkan yang tiba-tiba mengganjal di tenggorokan. Lantas kubasahi dengan kopi hangat. Musibah yang terulang itu selalu saja membuatku kesulitan menelan sesuatu.

“Sesuai perintah Mas, uang santunan sudah kuserahkan lewat Pak Mijan. Aku belum dapat kabar apa pun,” ujarnya lagi.

Aku sebenarnya tak mau diingatkan dengan musibah itu. Apalagi jika kemudian teringat bahwa musibah itu terjadi setelah mimpi buruk yang belakangan sering meneror tidurku. Dua pekerjaku telah tertimpa longsoran tanah yang mereka gali sendiri.

Aku tak mau menampakkan kesedihan meski sebenarnya aku turut bersedih. Aku tak mau terlihat kalah di depan mereka yang pada dasarnya sudah tak menyukai apa yang kulakukan di desa itu. Mengingat segala kegigihan yang telah kulakukan demi melancarkan usaha. Dari berbaik-baik dengan para pemegang tampuk kekuasaan, para wakil rakyat tingkat kecamatan ataupun kabupaten, hingga dengan para warga sekitar yang membutuhkan pekerjaan.

Toh tak hanya aku yang kenyang. Para penadah kris dari penggilingan batu milikku, kebanyakan adalah para wakil rakyat. Dan mereka tahu dari mana aku mengambil bahan baku. Atau beberapa tetangga yang memperlihatkan kesinisan. Seolah pertambangan milikku sedikit banyak tak turut menyumbang napas buat mereka.

***

Di sebelah timur tanah kelahiranku perbukitan itu berada. Di dalam perutnya mengandung banyak batu, sementara tanahnya sangat baik untuk bahan batu bata dan genting. Di masa kecilku siapa pun bisa dengan mudah menemukan pisang, jambu biji, mangga, sawo, srikaya, sirsak, rambutan, atau bahkan durian yang tumbuh liar. Kakeklah yang kerap memarahi siapa pun yang menebas apa pun yang tumbuh di sana.

“Lelaki yang tinggal di dalam tanah?” pertanyaan ini muncul saat hari pertama cerita ajaib Kakek dituturkan.

“Iya. Dia akan marah jika kau merusak apa pun yang tumbuh di atasnya. Dialah yang bertugas menyediakan air bersih untuk akar-akar, menggemburkan tanah, menyimpan persediaan air, hingga menyelamatkan ikan-ikan dari kemarau dan melepaskannya kembali di puncak penghujan.”

Dengan perasaan aneh dan sedikit takut, aku kerap membayangkan seperti apa rupa dan bagaimana cara lelaki itu tinggal dan menjaga tanah. Apalagi ketika kemudian Kakek bilang lelaki itu tak hanya tinggal di bukit Sendang Perawan. Ia menjaga bumi ini dengan segenap kekuatannya.

Tapi…

“Banjir terjadi lantaran sungai penuh sampah, sementara hutan digunduli sehingga tanah tak lagi mampu menahan kadatangan air. Begitu juga dengan kekeringan, tsunami, gempa bumi, atau gunung meletus. Semuanya memiliki penyebab sendiri-sendiri,” bantahan Pak Parji begitu meyakinkan ketika aku bertanya di dalam kelas. Hingga teman-teman menjadikanku bahan ejekan setelahnya.

***

“Kira-kira kapan penggilingannya buka lagi, Pak?” lelaki itu tersenyum dengan ekspresi yang aneh. Dilipatnya uang pemberianku dengan kikuk setelah sempat keliru menyangka kausnya memiliki saku. Dia baru saja berhutang.

“Kalau misal penggilingan aku tutup, Pak Badrun kira-kira mau pindah kerja apa?”

“Jangan bercanda lah, Pak,” ia tersenyum lagi. Tapi lagi-lagi senyum itu menjadi seringai yang aneh. Tanah berjatuhan dari wajahnya.

Ketika lelaki itu membalikkan badan, tubuhnya semakin sempurna berubah tanah. Aku berniat memanggilnya kembali setelah beberapa langkah ia beranjak. Namun mulutku langsung mengunci tatkala tubuh itu tiba-tiba amblas ke tanah dan hanya menyisakan gunungan tanah.

Kukucek mata berkali-kali. Kepalaku pening. Halusinasi itu menguasaiku lagi. Kulihat Pak Badrun sudah jauh meninggalkanku.

“Mas, ziarahnya jam empat sore ya? Aku mau diajak Nani, ambil kue-kue pesanan dulu,” istriku menjawil. Kujawab dengan anggukan.

Sepanjang hari itu aku benar-benar memikirkan usaha apa kiranya yang manis untuk kujadikan pengganti usaha penggilingan batu. Ketika sampai di depan makam Kakek, istriku tercekat mendengar aneka ide yang berlompatan dari mulutku.

“Mas serius? Mas ini kenapa sih?”

Entah mengapa tangan kananku gemetar ketika menyentuh nisan Kakek. Meski cerita beliau terkesan tak masuk akal. Sudah dua kali mimpi buruk itu membawa kabar kematian. Mimpi itu seperti ingin mengabarkan sesuatu, dengan caranya sendiri. Kakek mungkin bisa menjelaskan arti mimpi itu. Karena itulah aku sering memanggilnya dalam mimpi. Sayangnya beliau tak pernah lagi muncul setelah mimpi-mimpi aneh itu bertamu.

***

Hari itu perasaan tak nyaman sudah sedemikian hebatnya membelitku. Bukan lantaran hari itu adalah pesta pernikahan Danar yang kemarin-kemarin juga turut memusuhi usahaku. Toh sekarang ia sudah diam dan acuh dengan segala pekerjaanku, setelah jatuhnya dua korban jiwa.

Apa yang menguasai kedua mataku sudah sedemikian hebatnya. Tak hanya satu dua sosok yang tiba-tiba menjadi manusia tanah, tapi semua. Tak terkecuali istri dan anak-anakku. Hanya bayanganku dalam cermin saja yang selamat dari halusinasi ini.

Aku berdiam di salah satu kursi di teras rumah, kehilangan gairah menggerakkan tubuh. Hilir-mudik orang-orang berubah menjadi iring-iringan mengerikan di mataku.

“Kapan penggilingannya buka lagi, Pak?” seorang lelaki tanah mendekatiku, dengan seringai yang aneh.

“Bukannya sawah Pak Ipin sekarang sedang butuh banyak tenaga?” kubalik pertanyaan yang seolah ingin meledek. Puncak penghujan adalah masa tidur semua penggilingan batu milikku—seiring dengan masa liburnya proyek-proyek Pemerintah. Meskipun ada beberapa orang yang kadang masih nekat menggali tanah, menabung pekerjaan kepadaku.

“Tahun depan aku akan mengeruk sawah yang sebelah timur, Pak. Airnya susah.”

“Para tetangganya enggak akan marah tho?”

Dia malah tertawa, “Suka atau enggak suka itu kan hal biasa tho, Pak?”

Dia terus saja berbicara. Sementara aku semakin tak menginginkan percakapan itu. Kupangkas kalimat menjadi pendek-pendek agar dia tahu aku benar-benar sedang tak menginginkan percakapan ini. Tapi rupanya dia sedang menunggui istrinya yang baru saja keluar dari ruang tamu setelah setengah jam berlalu. Dan sepasang manusia tanah itu kemudian meninggalkan pesta setelah mengucap pamit kepadaku.

Aku menghitung detik demi detiknya. Menunggu adegan ganjil yang sudah aku hafal lantaran sudah berkali terjadi. Namun belum sempat dua sosok itu amblas ke dalam tanah, tiba-tiba telingaku mendengar teriakan bernada panik.

Aku buru-buru menyusul beberapa orang yang lari berhamburan. Mataku kemudian menemukan itu, dari arah pertambangan milikku. Aku bisa melihat sebagian bukit Sendang Perawan yang telah hilang. Dan longsoran itu—dengan membawa segala yang ada padanya, sedang meluncur deras ke arah kami!

Aku berteriak memanggil ketiga anakku. Istriku tergopoh keluar dengan raut penuh tanya. Suasana semakin kacau. Pesta berubah jadi arena mengerikan. Aku sempat berpikir bahwa ini adalah bagian dari halusinasi itu, betapa pun istriku kalap menarik-narik lenganku dan akhirnya lari entah ke mana.

Aku sempat melihat si bungsu dalam gendongan Danar. Aku coba mengejar mereka setelah sadar bahwa ini memang kenyataan. Hanya dalam sekejap semuanya berubah jadi lautan lumpur.

Aku coba membebaskan diri. Tapi tanah telanjur menelanku. Mula-mula sebatas pinggang, dada, leher, menghimpit dan melilit seolah ingin menjadikanku manusia tanah.

“Tolooong…!” teriakku berkali-kali, dengan segala harap, entah kepada siapa. Hingga akhirnya kupejamkan kedua mata, menyambut rupa ajal.

Aku sudah tak lagi berharap ketika ada sesuatu yang menyentuhku. Entah apa atau siapa itu yang melakukannya. Seperti ada tangan yang mendorong kedua kakiku ke atas hingga kedua mataku bisa kembali menemukan cahaya. Aku terengah di antara himpitan tanah. Di batas kesadaran, kulihat seseorang muncul dari balik kelopak mataku. Sekujur tubuhnya tanah!

“Jika dia sudah marah, tak ada siapa pun yang dapat menolaknya,” ujar sosok misterius itu, mencuri kalimat Kakek.

Aku curiga bahwa dia memang Kakek. Tapi saat perih di sekujur tubuh mengembalikan sebagian kesadaran, aku mulai sangsi dengan dugaan sendiri. Tentu saja dia bukan Kakek!

Apakah dia yang menyelamatkanku tadi? Benarkah itu sosoknya? Mengapa dia menyelamatkanku?

Aku berteriak-teriak memanggil Kakek. Air mataku leleh. Penyesalanku terlambat. Semuanya telanjur terkubur tanah. Hanya tersisa janji-janji dalam hatiku sendiri. Janji-janji yang terlambat pula. Bahwa aku mesti memperbaiki semua. Terutama diriku sendiri.*

 

Kalinyamatan-Jepara 2015-2016

Advertisements