Oleh Kak Ian (Padang Ekspres, 24 Desember 2017)

Kado untuk Emak di Hari Ibu ilustrasi Orta - Padang Ekspres
Kado untuk Emak di Hari Ibu ilustrasi Orta/Padang Ekspres

Sudah seminggu ini Bilal keluar masuk ke galeri Pak Rifki yang menjadi satu dengan rumahnya. Pak Rifki adalah seorang pelukis ibu kota. Seusai menyemir sepatu, barulah Bilal ke tempat itu.

Menyemir sepatu itulah pekerjaan Bilal sehari-hari seusai sepulang dari sekolah. Ia melakukan itu untuk membantu meringankan kebutuhan Emak yang seorang diri. Walaupun Emak sudah melarangnya menjadi penyemir sepatu. Tapi ia tetap kukuh untuk menjalaninya dan Emak pun akhirnya mengizinkannya. Lagi pula Bilal melakukan pekerjaan yang halal.

Bilal masih memiliki dua adik perempuan yang masih kecil-kecil. Namun ia tidak pernah mengeluh apapun yang dilakukannya. Apalagi sebagai anak tertua ia harus bisa mulai mandiri. Sayangnya, kegiatan apa yang dilakukan Bilal usai menyemir sepatu Emak tidak tahu. Bagi Emak terpenting ia selamat sampai di rumah. Akhirnya seperti biasa seusai menyemir sepatu Bilal ke tempat galeri melukis Pak Rifki. Ia ke tempat itu untuk belajar melukis dan hasilnya nanti akan diberikan pada Emak. Ia ingin melukis wajah Emak. Itu yang ia inginkan.

Bilal bisa mengenal Pak Rifki itu dari ketidaksengajaannya saat Bilal menawarkan semir sepatu di depan swalayan. Kebetulan saat itu lagi musim hujan, jalanan becek dan sepatu yang dikenakan Pak Rifki tampak kotor serta tidak terlihat lagi dengan warna asli sepatunya. Akhirnya Pak Rifki pun mengiyakan tawaran dari Bilal untuk disemir sepatunya itu.

Sejak itulah perkenalan Bilal dan Pak Rifki terjalin. Apalagi Pak Rifki sedang membutuhkan asisten untuk merapikan lukisan-lukisannya di galerinya yang cukup luas itu. Dan Bilal pun mengiyakan. Ia bersedia melakukannya itu jika seusai menyemir sepatu. Akhirnya sejak dari itulah Bilal membantu Pak Rifki sambil belajar melukis.

“Bagaimana tadi banyak pelanggannya?” tanya Pak Rifki.

“Seperti biasa, Om! Satu sampai lima pasang sepatu dapat aku semir,” jawab Bilal.

“Baguslah, terpenting banyak bersyukur apa yang kita dapati hari ini,” ungkap Pak Rifki.

“Sekarang kamu sudah siap belum menyelesaikan lukisan wajah Emakmu?” tanyanya lagi.

“Siap, Om!” Bilal menjawab semangat.

“Ya, sudah sekarang ambil peralatan melukis kamu. Nanti om kasih tahu cara mewarnai yang bagus untuk lukisan wajah Emakmu itu,” sebut Pak Rifki.

Hari itu Bilal akan menyelesaikan lukisan wajah Emak. Dengan dibantu Pak Rifki memberitahukan cara memadumadankan warna ke dalam lukisan dan Bilal pun mematuhinya. Tanpa tidak terasa senja pun tiba. Bilal harus sudah berada di rumah. Ia khawatir nanti Emak mencarinya.

“Sepertinya hari ini kita sudahi dulu ya, Lal. Sudah sore!” seru Pak Rifki. “Lagi pula sudah sempurna lukisan kamu ini. Besok tinggal dibawa saja,” tambahnya.

“Iya, om, tapi kalau untuk dibawa aku rasa belum. Karena aku ingin membawanya pas nanti Hari Ibu saja. Aku ingin memberikan untuk Emak di hari itu. Tidak apa-apa, kan. Om?” Bilal menjelaskan panjang lebar. Karena ia ingin melukis wajah Emak untuk diberikan pada Emak di Hari Ibu.

“Oh, tidak apa-apa. Bagus sekali itu. Mulia sekali hatimu, Lal,” puji Pak Rifki.

“Kalau begitu aku balik dulu ya, om. Terima kasih atas waktunya untuk hari ini,” ucap Bilal.

“Iya! Salam sama Emakmu ya,” ujar Pak Rifki.

“Iya, Om!” akhirnya Bilal meninggalkan Pak Rifki seorang diri di galerinya.

Saat Bilal meninggalkan Pak Rifki tiba-tiba mata pelukis itu pun berkaca-kaca. Ia melihat Bilal seperti cermin dirinya di masa lalu.

Akhirnya hari yang ditunggu Bilal pun tiba. Hari Ibu kini sudah di depan mata. Tapi seperti biasa ia harus menyemir sepatu dulu untuk mendapatkan uang tambahan membeli kue agar Emak bisa tersenyum bangga padanya. Apalagi hari itu ia ingin memberikan kejutan pada Emak kalau dirinya bisa melukis wajah Emak di atas kanvas.

Namun saat hari istimewa itu tiba Bilal tidak bisa memberikannya secara langsung pada Emak. Saat ia ingin lari terburu-buru agar cepat sampai menuju ke galeri Pak Rifki sebuah sedan menabrak Bilal hingga ia tidak sadar diri.

Saat Bilal sadarkan diri ia sudah di rumah sakit. Ia hanya gegar otak biasa dan patah tulang ringan di kaki nanti juga akan sembuh seiring waktu. Tapi bukan itu yang disedihkannya. Ia tidak bisa memberikan lukisan itu pada Emak secara langsung. Ia hanya bisa menangis dari balik batal putih.

“Bagaimana keadaan kamu sekarang, Lal? Maaf, Om baru datang menjenguk kamu,” ujar Pak Rifki setiba di kamar rawat Bilal. “Tapi om datang tidak sendiri lho. Lihat saja nanti ya,” ucap Pak Rifki.

Saat Pak Rifki berkata seperti itu Bilal langsung menyeka matanya dengan baju rawat yang menempel di tubuhnya. Ia tidak ingin orang yang menemui dirinya tahu kalau ia sedang bersedih. Ia menjadi penasaran. Siapakah orang itu?

“Nah, ini dia yang om maksudkan…,” lanjut Pak Rifki sambil membuka pintu kamar rawat memberi kejutan pada Bilal.

Ternyata Pak Rifki membawa Emak dan kedua adik Bilal. Bilal yang mengetahuinya pun kembali meratap. Ia sangat rindu pada Emak. Karena di Hari Ibu itu ia tidak bisa berbuat apa-apa. Tapi ia malah ada di rumah sakit. Padahal ia ingin memberikan kejutan berupa lukisan berwajah Emak yang dilukisnya sendiri selama seminggu itu. Tapi tidak menjadi kenyataannya.

“Terima kasih ya, Nak. Emak terharu sekali sama kamu. Walaupun Emak tidak bisa baca tulis tapi sudah bahagia kamu bisa memberikan sesuatu yang berarti pada Emak,” ujar Emak.

“Maksud Emak, apa?” tanya Bilal belum memahami apa yang dimaksudkan Emak.

“Ini Om bawa lukisan kamu. Om yang sudah memberitahukan Emak kamu langsung,” timpal Pak Rifki sebelum Emak menjelaskannya.

Lagi-lagi Bilal terharu kembali. Ternyata Pak Rifki bukan saja guru melukisnya tapi juga seorang malaikat penolong baginya selama ini. Pak Rifki begitu baik dengan Bilal beserta keluarganya. Bilal benar-benar bahagia sekali.

“Terima kasih ya Om atas kebaikannya selama ini.”

“Iya, sama-sama. Sekarang kamu rayakan dulu ya Hari Ibu ini bersama Emak dan kedua adikmu. Untuk itu Om pamit dulu. Lagi pula akhirnya kesampaian juga kan. Oya, kuenya Om ganti dengan yang baru. Karena kue yang kamu beli sudah hancur. He-he,” hibur Pak Rifki.

Bilal saat itu tidak bisa berkata-kata lagi pada Pak Rifki. Karena guru melukisnya itu terlalu banyak kebaikan yang diberikan padanya. Dan Bilal berharap di Hari Ibu ini selain ia bisa memberikan lukisan pada Emak juga memohon pada Sang Khalik agar Pak Rifki selalu menjadi malaikat penolong untuk dirinya dan keluarganya.

“Terima kasih sekali lagi Pak Rifki. Semoga Allah bersama orang-orang yang selalu membahagiakan orang lain seperti Pak Rifki.”

Begitulah doa di Hari Ibu yang dirapalkan dari mulut kecil Bilal penuh khidmat dan penuh keikhlasan. (*)

 

CATATAN:

Untuk halaman ini, redaksi menerima cerpen. Redaksi berhak mengedit karya tanpa bermaksud mengubah isi. Kirim ke email : ceriapadek@gmail.com

Advertisements